Janji Dari Masa Lalu

Janji Dari Masa Lalu
Teman lama


__ADS_3

Astolfo tower, sebuah hotel dengan gedung pencakar langit di pusat kota Boston, tempat ini juga yang sekarang menjadi lokasi pertemuan bagi tamu-tamu undangan di acara penggalangan dana.


Tentu tujuan orang-orang di balik acara penggalangan dana itu adalah sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan yang nantinya akan membantu umat manusia menuju masa depan yang lebih baik.


Penggalangan dana di sini bukan seperti meminta sumbangan secara cuma-cuma kepada setiap tamu melalui kotak keliling. Tapi sebuah pelelangan barang antik, karya seni fenomenal atau pun benda-benda peninggalan bersejarah yang sengaja di jual untuk mendapat suntikan biaya penelitian.


Tapi di sisi lain, para orang kaya, konglomerat dan semua orang yang menjadi bagian dalam undangan itu hanya ingin menampakkan diri dan memamerkan kekayaan mereka.


Tentu orang-orang di acara itu tidak akan ragu saling bersaing untuk menaikkan harga dari setiap barang-barang di dalam pelelangan, meski pun yang mereka dapat hanya sebuah ****** ***** bekas di gunakan oleh Madonna, tapi bisa menjadi jutaan Dollar karena tidak mau kalah dari orang lain.


Askar dan Elissa turun dari mobil dan menyerahkan kunci mobilnya kepada tukang parkir, keduanya saling bergandengan tangan untuk berjalan di atas karpet merah saat memasuki gedung pertemuan.


Tanda pengenal palsu yang Askar dan Elissa buat menyatakan bahwa mereka berdua kini bertindak sebagai pasangan suami istri dari keluarga Wolfson, pengusaha sukses yang bergerak di bidang farmasi dan jasa kesehatan. Itu menjadi sekenario jika ada orang lain mengajak mereka berbincang-bincang soal bisnis.


Tidak ada kesulitan bagi Askar untuk berpura-pura menjadi orang lain, karena selama ini pun dia sudah menyamar dan semua berjalan dengan lancar.


Melangkah masuk ketika penjaga pintu mengantarkan mereka menuju dalam aula, tempat penggalan dana di hotel Astolfo tower memiliki ornamen bernuansa abad pertengahan, patung-patung yang di pahat oleh seniman terkenal dan juga lukisan classic dari Robert Montherwell beraliran Ekspresionisme dan Abstraksionisme.


Tapi tidak perlulah di jelaskan lebih detail soal lukisan Abstraksionisme itu, karena apa yang di lihat oleh Askar hanya bentuk gambaran bukit-bukit kotak dengan sisi kiri memiliki renda warna warni dan sisi kanan memiliki banyak titik-titik hitam pecah ibarat letusan kembang api, di potong garis merah lurus dari setiap ujungnya.


Entah apa makna dari lukisan itu, mungkin hanya tuhan dan Robert Montherwell saja yang tahu.


Di dalam aula pertemuan sudah penuh dengan para tamu undangan, mereka saling mengobrol dan membahas harga outfit yang digunakan. Tapi Askar dan Elissa segera mencari subjek untuk mereka lindungi sekarang.


Edward Swalldwon, lelaki itu sedang menikmati anggur basi yang terpanjang di tengah aula. Hadir bersama dengan para wanita untuk mencari perhatian, karena memang, meski sulit di terima tapi dia terbilang cukup tampan.


Tentu semua akan mudah mendapat perhatian dari para wanita, ketika mereka good looking, dan juga anak orang kaya.


"Jadi apa yang kita lakukan sekarang ?." Tanya Askar.


"Tetap di sini dan memantau keadaan." Jawab Elissa.

__ADS_1


"Eh itu membosankan...."


"Memang kau ingin apa ?."


Askar memiliki tujuan lain...."Apa kau mau menyia-nyiakan waktu untuk lelaki sombong seperti dia, sedangkan di sekitar kita ada banyak makanan mahal secara gratis."


"Terserah apa yang kau ingin lakukan, tapi ingat kita harus menjaga Bocah itu tanpa ada hilang satu pun anggota badannya."


"Aku mengerti, jangan khawatir." Santai Askar menjawab.


Seakan tanpa perlu ragu, tanpa perlu menahan diri, satu demi satu hidangan yang tersedia di atas meja prasmanan, Askar cicipi.


"Ah... Untung saja aku tidak makan sebelum datang kemari."


Di tempat ini Daging Wagyu super A5 pun hanya menjadi cemilan, Sembikiya queen strawberries yang perbiji bisa untuk cicilan motor ada banyak dan tergeletak begitu saja.


Askar sedikit menyesal.... "Harusnya aku bawa kantong plastik."


Di sisi lain....


Rea berdiri diam di sebelah ayahnya, Dirgan Mavendra memang terkenal di kalangan para konglomerat lain karena cukup jarang jajaran orang kaya di negara Indonesia akan menjadi tamu undangan di dalam acara penting.


Tapi memang jika Keluarga Mavendra memiliki koneksi besar di banyak negara, termasuk setiap negara bagian Amerika. Sehingga tidak aneh ketika orang-orang di sekitarnya begitu sopan kepada Dirgan.


Hingga satu orang bertubuh buntal datang dan menepuk pundak Dirgan dan memeluknya secara akrab. Rea tidak tertarik untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Neil, ini dia putri ku, Rea." Dirgan memperkenalkan kepada Rea.


"Mengejutkan sekali, kau sudah besar Rea, terakhir kali aku melihatmu saat kau lahir dan sudah tujuh belas tahun berlalu, siapa sangka kau tumbuh menjadi wanita yang cantik seperti ibumu." Kata Neil begitu akrab jika sekedar teman bisnis saja.


Tentu Rea terkejut...."Paman, apa kau mengenal ibuku ?."

__ADS_1


"Ya ... Tentu saja, kedua orang tuamu adalah teman satu kampus ku dulu, dan ayah mu ini benar-benar lelaki keras kepala yang tidak pernah menyerah mengejar cintanya kepada ibumu." Neil tertawa selagi bercerita.


Dirgan tersenyum pahit, meski itu menjadi cerita nostalgia indah untuk mereka kenang, tapi seakan dia tidak ingin mengingat apa yang terjadi kepada istrinya.


"Ketika aku mendengar kabar jika Hana tewas karena kecelakaan, aku sangat menyesal tidak bisa datang ke pemakannya saat itu."


"Tidak apa Neil, semua sudah berlalu jadi kita tidak mungkin menyesal." Jawab Dirgan yang tersenyum lemas.


Tapi Neil melirik ke segala arah dan dia merasa aneh...."Dirgan, jadi apa kau tidak membawa putra mu, Noe...."


Dirgan terkejut, tapi dia tidak bisa menghapus perkataan Neil yang sudah di dengar oleh Rea. Tapi segera Dirgan membawa Neil untuk berbicara di tempat lain.


Neil merasa aneh dengan sikap Dirgan, dia seakan tidak ingin membicarakan soal Hana atau pun Noe di depan Rea.


Dirgan menunjukkan wajah serius...."Soal mereka berdua, menurut hasil dari kepolisian saat itu, Noe dan Hana tewas..."


"Maaf, aku tidak tahu, aku turut berduka."


"Ini belum selesai, kau harusnya tahu, kekacauan yang terjadi di dalam keluarga Mavendra saat itu... Aku masih tidak percaya jika Noe dan Hana tewas karena kecelakaan."


"Apa kau mengganggap jika semua yang terjadi ada sangkut pautnya dengan keluarga Mavendra." Neil cukup cerdas menebak jalan pikiran Dirgan.


"Ya itu benar Neil.... Mereka membuat laporan palsu soal kematian Hana dan Noe. tapi dua tahun lalu, aku melihatnya sendiri, jika Noe masih hidup." Kata Dirgan.


"Lantas apa yang kau lakukan."


"Aku tidak mungkin membawa Noe kembali untuk sekarang, orang-orang yang menginginkan kekuasaan keluarga Mavendra akan melakukan segala cara demi membunuh Noe. Sehingga aku belum bisa membawanya kembali."


"Itu berat untukmu Dirgan."


"Lebih dari berat, ini sangat menyiksa. meskipun aku seorang kepala keluarga, menyingkirkan mereka tetaplah mustahil, semua bukti kejahatan keluarga Mavendra puluhan tahun silam telah hilang bersama dengan Hana." Jawab Dirgan penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2