
Bisa dikatakan Daniel juga bukan orang sembarangan, dia termasuk sebagai anak konglomerat pemilik rumah sakit di kota Boston dan sekitarnya.
Meski begitu Prilaku yang memang jelas menggambarkan sikap sombong sebagai anak orang kaya, berasa terbang ke langit tapi tidak sadar bahwa kaki masih menapak di bumi. Dia salah karena coba mencari masalah dengan Rea.
Memang benar, jika tidak ada yang tahu tentang latar belakang Rea di kampus, hanya dianggap sebagai orang luar dan datang ke Harvard untuk belajar.
Sepak terjang bisnis keluarga Mavendra di negara paman Sam memang tidak diketahui oleh masyarakat umum. Dimana keluarga Mavendra tidak mendirikan perusahaan atau memproduksi barang-barang di Amerika.
Pergerakan bisnis keluarga Mavendra adalah pemberian bantuan keuangan atau juga pembelian saham-saham di beberapa perusahaan di Amerika, sehingga tidak banyak orang tahu, kecuali partner bisnis mereka.
Karena itu, Daniel tidak pernah menganggap bahwa Rea adalah sosok penting dan mungkin mudah untuk dia rayu dengan kekayaan yang keluarganya miliki.
"Lepaskan dia, jangan khawatirkan apa pun, dia tidak akan berbuat nekad, kalau dia tahu sedang berhadapan dengan siapa." Ucap Rea kepada Ryan.
Ryan menuruti apa yang Rea perintahkan, dia melepas Daniel untuk berdiri.
Merasa tidak terima karena ada banyak Mahasiswa melihatnya di permalukan oleh orang yang melindungi Rea, Daniel melepas jaket dan mengepalkan tinjunya seperti ingin berduel.
"Nona apa perlu aku menghajarnya sekalian." Tanya Ryan.
"Sebenarnya aku ingin kau melakukan itu, tapi jika dia mengadu ke orang tuanya, jelas akan menjadi hal merepotkan."
"Come on, I'm ready to kick your ***." Ucap Daniel dengan sikap menantang.
(Datanglah aku siap menendang pa*ntat mu.)
"Apa yang dia katakan nona." Tanya kembali Ryan karena tidak tahu artinya.
"Dia bilang, kau sangat tampan, aku menyukaimu. Jika kau mau, kita bisa pergi berdua untuk menikmati malam bersama." Balas Rea memberi translate.
Ryan terkejut, sebagai lelaki yang masih sehat jasmani dan rohani, mendengar terjemahan dari Rea, itu membuatnya tidak nyaman.
"Apa benar begitu ?."
"Ya kurang lebih."
"Aku merasa jika dia hanya sedikit bicara, tapi kenapa artinya panjang sekali." Kata Ryan kurang yakin.
"Jika kau tidak percaya, terjemahan sendiri dengan kamus yang kau bawa."
Daniel merasa di abaikan dan kembali bicara...."Don't talk too much, or you're afraid to fight me"
__ADS_1
(Jangan banyak bicara, atau kau memang takut untuk melawanku.)
Ryan merasa jijik dengan Daniel..."Sepertinya tidak perlu, aku tidak ingin dekat-dekat lelaki macam dia."
"Baguslah, aku akan pergi. Aku tidak ingin membuat Askar menunggu."
"Bagaimana dengan dia." Tunjuk Ryan kepada Daniel.
"Kau urus saja, terserah kau mau melakukan apa, aku tidak peduli selama kau tidak membunuhnya." Balas rea yang pergi begitu saja.
Ryan pun tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengan lelaki, jadi dia berniat mengikuti Rea untuk ikut pergi.
Tapi dari belakang Daniel melepas satu pukulan lurus yang mengarah ke kepala Ryan namun itu mudah untuknya menghindar.
"Maaf kawan, aku tidak tertarik dengan percintaan sesama lelaki, aku masih normal, jadi jangan memaksaku." Ucap Ryan dengan wajah rumit.
Tanpa peduli dengan keramaian orang-orang yang melihat mereka berdua sekarang, Daniel bergerak maju melepas pukulan-pukulan jap lurus, meskipun itu percuma.
Hingga Ryan tidak punya pilihan lain. Ketika pukulan Daniel datang, dia segera mengambil pergelangan tangan dan memutar tubuh Daniel untuk dibantingnya keras ke lantai.
Mustahil untuk Daniel bangkit lagi, dimana bisa dipastikan benturan tubuhnya di lantai membuat punggung itu keseleo.
*******
Berdiri dua orang di dekat mobil yang terparkir di pinggiran jalan, dua buah foto di tangan mereka dan mata terus mengawasi setiap orang saat keluar masuk gerbang kampus.
Tentu tidak akan ada orang curiga dengan tindakan mereka, dimana tiga orang itu sudah berkamuflase menggunakan baju santai dan berakting selayaknya masyarakat biasa.
Namun kenyataannya mereka adalah anggota mafia sedang mencari dua wanita sesuai wajah dari foto yang di berikan oleh atasan.
"Kita sudah disini lebih dari tiga jam dan masih belum menemukan dua wanita ini." Keluh satu orang selagi membuang rokok yang dia hisap.
"Meski begitu, kita tidak bisa mengeluh, kita di gaji untuk melaksanakan perintah para atasan dan jadi bersabarlah, Reg." Jawab satu teman yang lain.
"Aku tahu itu Jhon, tapi tetap saja, mencari seseorang jauh lebih sulit daripada harus beradu tembak dengan kelompok mafia lain." Balasnya Regurd merasa tidak senang.
"Setidaknya pekerjaan kita sekarang tidak perlu bertaruh nyawa."
Hingga tidak berselang lama, penantian mereka untuk mencari wanita di dalam foto akhirnya mendapat hasil. Dia pun muncul sendirian tanpa ada teman bersamanya.
Satu lelaki berulang kali memastikan, dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan jelas sekali tidak ada kekeliruan.
__ADS_1
"Tidak salah lagi, dia wanita yang ada di foto ini, dia bernama Rea."
"Jadi apa kita akan menculiknya sekarang atau nanti."
"Jangan sekarang itu akan jadi masalah, ada banyak orang yang melihat. Kita ikuti kemana dia akan pergi." Jhon menjawab dengan rencananya.
"Baiklah kalau begitu."
Berjalan santai yang berada tepat di belakang Rea dengan jarak cukup jauh, diantara keramaian orang-orang di jalan Quincy, tidak mungkin bagi siapa pun akan sadar jika mereka sedang di ikuti.
"Bukankah mengikuti seseorang seperti ini, hanya dilakukan oleh para penculik saja."
"Kenapa kau komplain itu sekarang, dan juga tidak ada bedanya kita dengan para penculik, sama-sama melakukan hal yang tidak baik." Balas Jhon sedikit muak untuk sikap dari Regurd.
"Bagiku berbeda, aku menjadi anggota kelompok mafia di keluarga Walker karena ingin mendedikasikan diri untuk hidup penuh tantangan, sedangkan para penculik hanya mencari keuntungan saat ada kesempatan." Kata Regurd.
"Tapi para penculik juga menjadi pekerjaan yang menantang, terlebih saat kau di kejar oleh polisi."
Selagi dua orang saling berbincang, di barisan mereka sudah bertambah satu orang asing yang ikut berjalan saling bersebelahan.
"Good morning, sir." Senyum lelaki itu menyapa.
"Morning." Balas mereka meski terasa tidak wajar.
Mencoba untuk bersikap biasa dan sedikit khawatir jika orang ke tiga itu mendengar apa yang sedang mereka bicarakan tentang penculikan.
Sejenak berjalan saling beriringan, mengikuti mereka bertiga tanpa alasan dan tiba-tiba berhenti ketika wanita incaran mereka juga sedang berhenti.
"Oi, kenapa dia mengikuti kita. Apa dia tahu rencana kita ?." Jhon bertanya bingung.
"Itu tidak mungkin, aku rasa ini hanya kebetulan."
Kembali mereka saling melihat dan lelaki yang ada di samping pun tersenyum seperti orang bodoh.
"Good morning sir."
"Morning." Balas kembali mereka dengan senyum terpaksa.
Saling berbisik... "Ini jelas tidak baik, sepertinya lelaki ini sengaja mengikuti kita."
"Kau benar, kita pergi saja."
__ADS_1
Merasa tidak nyaman untuk sikap lelaki itu, ketiganya seketika berbelok arah dan membatalkan rencana.