
Beberapa jam sebelumnya....
Sudut pandang Ryan....
Ketika Ryan melakukan kegiatan malam seperti biasa hingga hitungan 479 push up, suara alarm lokasi keberadaan Rea berbunyi yang berada di luar zona pantauan berbunyi.
Sebagai seorang bodyguard dengan tanggung jawab untuk selalu memastikan keselamatan Rea, Ryan tidak mungkin menghiraukan alarm itu.
Sehingga Ryan bergegas keluar dan mulai mengikuti Rea dari belakang, mengingat kejadian yang membuat Rea syok saat siang tadi. Tentu dia menganggap bahwa saat ini majikannya hanya ingin mencari udara segar untuk memperbaiki suasana.
Namun siapa sangka, jika Rea memasuki tempat khusus orang dewasa 18+, sebuah Club malam bernama After Night dan tetap saja Ryan masih memantau agar tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada majikannya itu.
Dan benar saja, dari kejauhan Ryan seorang bartender memberi segelas minuman berwarna kepada Rea, kecurigaan mulai muncul dalam benaknya. Dimana hampir mustahil orang asing menawarkan sebuah minuman secara cuma-cuma.
Berpikir....'Sepertinya lelaki itu tahu jika Rea sedang dalam kondisi bingung, sehingga dia coba memanfaatkan situasi dan mencari keuntungan secara komersial.'
Bagi seorang mantan anggota militer, tidak ada yang namanya berbaik sangka kepada orang asing, segala sesuatu tentu memiliki alasan, sehingga Ryan harus berpikir kritis dengan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
'Bisa juga, lelaki itu merencanakan hal-hal buruk dengan minuman yang dia berikan, aku tidak boleh lengah.' pikiran Ryan entah kemana.
'Mungkin aku harus menghentikan Rea sebelum dia meminumnya.'
Tapi baru beberapa langkah maju ke depan, satu wanita datang menghampiri Rea, dan itu juga membuat Ryan berhenti.
Sebuah perbincangan antara Rea dan wanita berpakaian minimalis terlihat cukup akrab, namun untuk dua Minggu pekerjaannya menjadi bodyguard yang menjaga Rea, dia belum pernah melihat wanita itu.
Tidak ada hal mencurigakan kepada Rea, namun karena suara musik yang cukup keras membuat Ryan tidak mendengar perkataan dari mereka berdua.
Lepas wanita itu pergi, Rea kembali menikmati minuman dalam satu tegukan habis, namun satu gelas lagi datang sama seperti pesanan sebelumnya.
Melihat kondisi Rea yang seperti sudah tidak seperti dirinya sendiri, Ryan segera memintanya untuk berhenti minum. Tidak tahu jika minum seperti jus jeruk berwarna kuning orange itu mengandung alkohol cukup tinggi.
Jelas saja, karena Rea tidak kuat untuk minum sesuatu dengan kadar alkohol cukup tinggi.
Secara langsung Ryan menunjukkan rasa marah kepada Bartender. Wajah bartender bingung, karena dia tidak merasa sudah melakukan hal yang salah.
"I'm sorry sir, I don't know what you're talking about." Jawabnya melihat ke arah Ryan dengan aneh.
Ryan juga bingung untuk memahami perkataan bartender, hanya ucapan 'I don't know' itu sudah menunjukan bahwa dia tidak tahu.
Segera dari balik jas Ryan mengeluarkan kamus besar terjemahan bahasa Inggris Indonesia 100 milyar.
Merangkai beberapa kata dari dalam kamus, Ryan berusaha untuk bicara...
__ADS_1
"You, you...you mi.. mixed alcohol in this drink." Jawab Ryan.
"yes it is like that."
Kepala Ryan menggeleng tidak jelas, bartender pun bingung untuk seorang manusia yang datang ke Club malam dan marah karena minuman beralkohol.
Ketika Ryan ingin membawa Rea untuk keluar, bartender pun kembali memanggil.
"Mister, This lady has not paid for her order yet."
"What ?."
"Hmmm money, money." Ucapnya dengan isyarat.
Untuk kata itu Ryan paham... Tanpa perlu ragu dan peduli soal harga, Ryan mengeluarkan seratus dollar yang dia taruh ke atas meja.
Tidak lupa pula, Ryan mengambil struk pembelian, karena menjadi jaminan agar uangnya dikembalikan setelah Rea sadar nanti.
*******
Ryan menggendong Rea di punggung untuk keluar dari Club.
Tidak sulit untuk Ryan membawa satu atau dua orang dengan satu tangan, terlebih Rea bukan wanita yang kelebihan berat badan, bahkan jika harus dibandingkan dengan sekarung beras 50 kg, mungkin keduanya hampir sama saja.
"Hanya karena satu orang, bisa membuatmu seperti ini." Ucap Ryan sedang menyinggung Rea.
"Aku tidak ingin pulang, aku... aku ... Ingin mut*ah... Rasanya mual sekali."
"Nona, tunggu, tunggu..." Ryan panik
Tapi semua terlambat saat Rea tidak bisa menahan rasa mual yang sampai di ujung tenggorokan....(Hoeeeekkkkk)
"Ya ampun, aduh...."
Rea kembali tenang, menyandarkan tubuhnya di punggung Ryan.
"Kenapa hidupku selalu tidak baik-baik saja." Ucap Rea mengeluh.
"Tolong jangan bercerita tentang hidup untuk sekarang, aku merasa tidak nyaman dengan bajuku ini."
"Orang-orang menganggap bahwa semua yang aku inginkan sangatlah mudah, tapi kenyataannya aku tidak pernah mendapat apa pun seperti keinginan ku sendiri."
Ryan tidak benar-benar tahu kehidupan apa yang Rea miliki, melihat kekayaan dari seorang keturunan di keluarga Mavendra membuat siapa pun akan iri.
__ADS_1
Tapi sekarang, melihat bagaimana Rea begitu murung saat bercerita tentang hidupnya sendiri, Ryan sadar apa yang dia miliki, meski pun dia adalah putri dari keluarga konglomerat Indonesia, atau pun pendidikan yang menunjang masa depan cerah, itu tidak membuat Rea bahagia.
"Nona, setiap manusia memiliki porsinya masing-masing di dalam hidup, masalah pasti ada, sebaik apa pun kita menghindari masalah, itu akan datang tanpa permisi, tapi aku yakin semua akan baik-baik saja."
"Kau bicara apa...."
"Menyesal aku sudah memberi kata-kata bijak."
"Kepalaku pusing, perutku mual.... Aku.. aku ingin mut*ah."
"Nona tunggu."
(Hoekkkkkk)
Jika dibandingkan dengan perjalanan hidup Ryan yang sebatang kara, tanpa sanak saudara dan ditelantarkan oleh masyarakat. Ketika di asuh oleh pemerintah dan masuk kedalam akademi militer menjadi salah satu rasa syukur.
Meski berat dengan segala bentuk pelatihan yang keras, tapi Ryan tidak perlu lagi kelaparan dan tidur di dalam gubuk tanpa selimut.
Hingga dia memutuskan untuk berhenti, dan kembali kedalam masyarakat, semua tidaklah berubah menjadi lebih baik. Kehidupan masyarakat bahkan lebih keras dari pelatihan militer yang Askar jalani.
Setiap manusia dipaksa mengikuti keinginan mayoritas, tidak bisa mereka menolak, karena jika itu terjadi maka, mereka akan di singkirkan.
Di dalam kondisi Rea yang mabuk seperti sekarang, Ryan tidak mungkin membawanya kembali ke asrama. Dimana Rea tidak berhenti mengoceh sehingga menyelinap masuk tanpa ketahuan oleh penjaga asrama adalah hal mustahil.
Sehingga Ryan mencari hotel termurah untuk membiarkan Rea beristirahat. Tidak akan ada yang bertanya kenapa dia membawa wanita mabuk ke dalam hotel.
Resepsionis hanya menjalankan tugas untuk menyediakan layanan cek in dan cek out bagi para pelanggan.
Setelah Ryan mendapat kamar segera saja dia membawa Rea masuk dan meletakkan di atas ranjang.
"Meski pun ini yang termurah, tapi tetap saja, satu malam sama dengan satu Minggu gaji ku." Keluh Ryan melihat sisa dalam dompet yang hanya beberapa lembar saja.
Lupakan soal itu, karena untuknya sekarang adalah membersihkan diri dimana aroma tidak sedap dari isi perut majikannya yang keluar secara paksa membuat siapa pun merasa pusing.
Dan baru saja Ryan berniat untuk pergi ke kamar mandi, tangan Rea menghentikannya.
"Jangan pergi...." Ucap Rea
Ragu-ragu untuk Ryan melihat ke belakang...."Nona aku harus membersihkan badan, ini terasa tidak nyaman."
"Kau sudah lama pergi, dan kemudian datang untuk membuatku jatuh cinta, tapi kenapa .... Semuanya jadi seperti ini."
"Huh ?." Mendengar ucapan Rea tidak sinkron dengan jawabannya.
__ADS_1
Ryan pun menoleh karena merasa ada yang aneh dari jawaban Rea itu, dan memang benar saja. Jika saat ini, dia masih dalam kondisi belum sadar, merasa bodoh karena berharap hal lain dari wanita yang sedang mabuk.