
Tiba-tiba saja lampu tengah ruangan perlahan padam, dan dari atas panggung muncul lima orang wanita yang membawa sesuatu di atas meja dan terselimuti kain hitam.
Ini adalah waktu yang di tunggu oleh penyelenggara acara, yaitu pelelangan barang antik dimana uang hasil dari pelelangan akan diberikan kepada badan pengembang teknologi sains.
Seorang pembawa acara berjalan keluar...
"Ladies and gentlemen, terimakasih sudah hadir di acara penggalangan dana di Astolfo tower ini.... Baiklah tanpa perlu berbasa-basi, kami akan mulai pelelangan barang antik."
Barang pertama yang muncul di meja pelelangan adalah sebuah sendok perak tua kusam dan sedikit berkarat dengan banyak ukiran di bagian gagangnya.
"Jika tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian beranggapan bahwa sendok ini hanya barang bekas... Itu memang tidak salah, bahkan tepat sekali, tapi yang jadi pertanyaan adalah bekas dari siapa ?. Tentu kalian mengenal sosok Leonardo da Vinci yang sangat terkenal akan kejeniusannya membuat suatu karya seni. Dan sendok ini adalah salah satunya." Pembawa acara benar-benar membuat semua orang untuk terkagum-kagum.
Semua orang mengangguk-anggukkan kepala tidak lazim, entah apa mereka paham soal karya seni atau hanya sekedar berpura-pura kagum agar tidak dikira norak.
Tapi begitulah cara mereka untuk bisa bersaing.
"Kita buka harga dengan 500.000 dollar." Pembawa acara memulai pelelangan.
Satu orang mengangkat tangan... "Lima ratus lima puluh ribu."
Orang lain ikut-ikutan..."Tujuh ratus ribu."
"Delapan ratus tujuh puluh."
"Ternyata di tempat ini ada banyak orang yang tahu kualitas, siapa lagi yang berani membayar lebih dari delapan ratus tujuh puluh ribu dollar." Tersenyum lebar pembawa acara karena semua itu seperti yang di rencanakan.
"Satu juta dua ratus ribu...."
Askar tahu kelicikan panitia pelaksana pelelangan ini, dimana mereka menempatkan beberapa orang untuk menaikan harga sendok bekas itu.
Bagi para orang kaya yang begitu antusias menunjukkan diri dengan uang mereka, tentu keinginan bersaing dan tidak mau kalah dari orang lain, menjadi sasaran empuk.
Bahkan jika mereka membeli sepatu di pasar loak seharga 10 dollar kemudian di tempatkan dalam pelelangan orang kaya, dan menyatakan bahwa sepatu itu bekas presiden George Washington. Mereka sudah mendapat keuntungan jutaan Dollar.
__ADS_1
Semua akan terus berlanjut, hingga tidak ada lagi orang yang menaikkan harga.
Tapi semua itu tidak Askar pedulikan, terserah untuk mereka menghambur-hamburkan uang, karena perhatian Askar sekarang tertuju kepada satu lelaki yang berjalan dari kejauhan melihat Edward.
Lampu redup di dalam ruangan tentu membuat semua orang hanya fokus ke arah benda-benda tidak berguna di atas podium, sehingga di saat itulah para Assassin yang mungkin memiliki misi membunuh Edward menjalankan rencana mereka.
Bagi para Assassin yang sudah mempunyai banyak jam terbang serta pengalaman mumpuni, merasakan kehadiran musuh dengan niat jahat terbilang mudah. Bahkan ditempat gelap dan juga ramai seperti sekarang.
Kecuali jika lawan yang harus Askar hadapi sama-sama Assassin tingkat tinggi. Itu jelas sangat sulit, dimana mereka mampu menyembunyikan tanpa sedikitpun di sadari oleh orang lain.
"Rea kau tetaplah disini, jangan pergi kemana pun...." Ucap Askar.
"Kau mau kemana Askar." Balas Rea bertanya.
"Kau tahu aku di sini untuk kerja sambilan, jadi sekarang saatnya aku harus bekerja."
"Baiklah."
Berjalan melewati setiap orang yang ada di sekitarnya tanpa suara, setiap langkah seakan menunjukkan betapa lincah gerakan Askar sehingga tidak satu pun kontak fisik antara dirinya dengan para tamu.
Tapi dua jari di tangan kanan Askar menusuk tepat di ulu hati orang itu, rasa sakit luar biasa membuatnya tidak sadarkan diri.
"Maaf tuan, tolong beri temanku jalan, dia mabuk berat... Permisi, permisi ..."
Askar membawa orang itu ke pojok ruangan dan melemparkan begitu saja seperti sedang membuang sampah.
Dari tempat lain.... Elissa pun sudah mengamankan seseorang yang dipastikan berniat mencelakai Edward Snowden. Tapi mereka tidaklah satu atau dua orang, Elissa memberikan kode tangan.
Dimana artinya ada lebih dari lima orang yang masih berkeliaran di sekitar para tamu undangan untuk memastikan kondisi sekitar tetap kondusif dan rencana mereka berjalan lancar.
Jika terjadi keributan di tengah acara, tentu akan membuat semua tamu melakukan tindakan untuk menyelamatkan diri, entah mereka akan memanggil pengawal atau mengeluarkan senjata.
Mencegah kekacauan itu, Askar atau pun pada Assassin yang mencoba membunuh Edward, tentu melakukan misi mereka secara diam-diam.
__ADS_1
Elissa dan Askar kembali bergerak dalam keramaian para tamu, tapi dengan jumlah musuh yang cukup banyak tentu tidak menjadi pekerjaan mudah.
Hingga tersisa dua orang.... Kali ini, Askar tidak bisa menemukan keberadaan dua Assassin yang bersembunyi di balik keramaian.
"Askar, sepertinya dua orang yang tersisa ini, memiliki pengalaman cukup tinggi." Ucap Elissa merasa kesulitan.
"Ya kau benar.... Sebaiknya, kita berada di dekat Edward untuk menjaganya dari pada harus mencari mereka berdua."
"Itu satu-satunya pilihan."
Askar sudah mempersiapkan diri dengan senjata dibalik jasnya, dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari orang-orang di sekitarnya. Satu saja kesalahan, tentu akan mudah bagi musuh membunuh Edward.
Hingga sebuah pisau datang mengarah ke perut Askar tanpa di ketahui darimana asalnya, tapi refleks tangan Askar mampu menghentikan serangan dengan mudah.
Orang itu sudah menyadari bahwa ada yang mengganggu rencana mereka. Hanya saja bukan Askar yang menemukan mereka, tapi mereka sendiri secara sukarela datang untuk menyapa.
Askar tersenyum mengejek.
Menarik paksa pergelangan tangan dan memutar ke atas. Orang itu memberi perlawanan, melepas pisau untuk jatuh, kemudian diambil oleh tangan kiri. Serangan lain di lepaskan ke arah pinggang kiri Askar.
Menganggap jika tidak ada kesempatan bagi lawan menghindar, hingga Askar menggeser posisi tubuhnya sehingga membuat serangan itu meleset.
Semua dilakukan secara diam-diam, tanpa ada satu orang pun menyadari jika mereka berdua saling beradu serangan, bahkan dianggap sedang berdansa itu tidaklah aneh.
Pertarungan antara Askar dan satu Assassin itu cukup sengit, bertukar serangan demi serangan, saling menghindar dan mencari kesempatan untuk bisa mengalahkan lawan.
Tapi Askar jelas tidak memberi kemuliaan untuk musuh yang harus dia hadapi, tidak ada satu luka pun membekas dari setiap serangan pisau itu. Hingga Askar benar-benar menjatuhkan tubuh lawan ke lantai.
"Siapa kau sebenarnya...." Lelaki itu bertanya dengan senyum yang rumit.
"Aku ?, Apa perlu aku menjawab pertanyaan mu."
"Sebagai seorang Assassin, tidak banyak yang bisa mengalahkan ku, tapi kau benar-benar mampu membuatku kesulitan."
__ADS_1
"Kau terlalu tinggi memberi pujian, aku hanya sedikit lebih hebat dari yang kau kira." Askar cukup lihai dalam merendahkan diri.
Tanpa pikir panjang lagi, Askar mematahkan leher lelaki itu dan segera pingsan di tempat.