
Semua yang Askar alami selama hidup bersama sang ibu di dalam rumah kecil kumuh itu diceritakan kepada Rea.
Bagaimana dia harus bekerja banting tulang menjadi kuli angkut barang di toko sembako semoga jaya di pasar Hipli. Perundungan yang dia alami oleh teman kelasnya setiap hari kecuali Sabtu dan Minggu karena itu hari libur. Hingga perihal ekonomi serba kurang dan berharap bantuan pemerintah demi memberi sedikit keringanan secara komersial.
Rea bisa membayangkan bagaimana semua yang Askar alami untuk merawat sang ibu di kondisi depresi berat seorang diri. Ada kegelisahan jika saja, dia berada di posisi seperti Askar. Entah bagaimana Rea harus mengatasinya.
Meski begitu, beberapa hal tidak Askar ceritakan, seperti kejadian supranatural di kehidupan yang lain. Hingga membawa Askar kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semua penyesalan itu.
Tapi bagi seorang manusia yang sudah mengabdikan diri dalam ilmu pengetahuan di dunia nyata, cerita tentang kehidupan kedua, renkarnasi dan kembali ke Masa Lalu, dianggap sebagai cerita dongeng. Itu hanya khayalan.
"Aku masih bisa selamat, dan aku memutuskan untuk bersembunyi di negara ini dengan bantuan nyonya Salma dari keluarga Cortez. Sekaligus memastikan bahwa kau baik-baik saja, Rea." Jawab Askar yang menunjukkan senyum lega kepada sosok penting di depan mata.
Rea terkejut dengan satu nama yang Askar sebutkan..."Keluarga Cortez ?, kenapa kau bisa mengenal keluarga konglomerat itu ?."
Cukup rumit untuk Askar ceritakan secara terperinci..."Hmmm bisa aku katakan kalau, wanita yang kau lihat bersama denganku sebelumnya. dia adalah Alesa, putri kepala keluarga Cortez yang menjadi tunangan ku."
"Hah !!!?, Kenapa ?, Bagaimana mungkin ?, Apa yang terjadi ?." Semakin Rea terkejut dan tidak bisa memahami perkataan Askar.
"Jika kau bertanya seperti itu, aku sendiri juga bingung."
"Tapi, tapi, tapi... Aku merasa ini seperti sebuah Drakor ketika orang miskin yang bisa membuat putri konglomerat jatuh cinta." Balas Rea seakan tidak mau percaya.
"Dari pada Drakor, aku lebih merasa ini seperti sinetron rahasia ilahi." Balas Askar tersenyum pahit.
Secara logika memang tidak bisa diterima, jika ada wanita dari keluarga terpandang yang jatuh cinta dengan lelaki miskin seperti Askar. Tapi Rea melupakan sesuatu yang sangat penting untuk menjawab pernyataan itu.
'Tunggu, bukankah aku juga sama...' Pikirnya.
Rea barulah sadar, bahwa apa yang dia anggap sebagai kejadian di luar logika, ternyata terjadi kepada dirinya sendiri.
Gambaran tentang seorang wanita dari putri kepala keluarga Mavendra, sosok terpandang dan juga menjadi ahli waris keluarga di masa depan, jatuh cinta dengan seorang cleaning servis. Meski pada akhirnya dia adalah kakaknya sendiri.
Jika harus di beri judul untuk menjadi sebuah sinetron maka 'Aku jatuh cinta dengan cleaning servis yang juga saudara ku sendiri.' rumit bukan buatan, tapi nyata terjadi.
Kembali ke topik pembicaraan mereka....
__ADS_1
Rea yang sedikit menerima Askar sebagai saudaranya sendiri, kini cukup berani untuk melihat langsung ke arah berhadapan.
"Apa yang akan kau lakukan kepada mereka ?." Tanya Rea serius.
"Tentu saja, aku ingin orang-orang di keluarga Mavendra yang sudah membuat hidup ibu kita sengsara, merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali-kali lipat lebih pedih." Tidak ada keraguan di mata Askar.
"Tapi ayah tidak terlibat dengan kejahatan mereka, ayah selama ini berusaha menjagaku agar terhindar dari masalah di keluarga Mavendra."
Askar menggelengkan kepala..."Aku tahu itu Rea, hanya saja, ayah tetap menjadi salah satu alasan kepada ibu harus menderita.... Dia lebih memilih untuk diam, tanpa mau melawan saudaranya sendiri, demi menyelamatkan anak dan istrinya.."
"Ya aku paham kenapa kau sangat membenci ayah, tapi kenyataannya saat ini, ayah juga sedang berusaha menyingkirkan orang-orang di keluarga Mavendra yang pernah terlibat." Rea coba menjelaskan.
Rea sudah mendengar langsung dari ayahnya, jika dia memang menyesal karena sudah membuat istri dan anaknya mengalami kejadian tragis. Tapi karena itu juga, dia berusaha memperbaiki semua.
"Itu percuma Rea, apa yang ayah lakukan tidak ada artinya, jika kau tahu apa yang orang-orang di keluarga Mavendra miliki sekarang, hanya sebagian kecil dari harta yang mereka sembunyikan. Meski perusahaan Mavendra bangkrut, itu tidak akan membuat mereka jatuh miskin."
Tapi memang benar, kekayaan dari harta kerajaan Majapahit sangatlah banyak, dikatakan dalam arsip sejarah lama Indonesia. Kerajaan Majapahit memiliki kekayaan yang setara dengan separuh pulau Jawa.
Dan dari tiga keluarga yang menyembunyikan harta kerajaan Majapahit itu, kini semua berada tangan di keluarga Mavendra.
"Soal seperti apa endingnya, kau tidak perlu tahu Rea, yang jelas untuk langkah pertama, aku akan mengambil sebagian saham dari perusahaan Mavendra." Jawab Askar.
Semua persiapan sudah Askar buat dengan hati-hati, tidak akan ada kesalahan untuk kedua kalinya yang membuat dia harus kehilangan apa pun lagi.
"Jika memang ada sesuatu yang bisa aku bantu, aku akan coba melakukannya." Rea menawarkan diri.
Tapi jelas Askar menolak ..."Tidak perlu, biar aku saja yang melakukan pembalasan dendam ini."
Rea tidak bisa menerima jawaban Askar saat menolak bantuannya. Dengan kekesalan di hati karena terlibat di dalam masalah rumit yang membuat hidup mereka berdua berantakan.
Rea keras memukul meja seakan menggambarkan suasana hatinya. Bahkan itu membuat lelaki bertubuh besar yang sedang membersihkan lantai terkejut.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu. Kau sudah banyak menanggung beban, meski sekarang aku masih merasa asing untuk menganggap hubungan kita sebagai saudara, tapi tetap saja, kita berdua adalah keluarga."
Askar merasa terpojok, karena siapa sangka, Rea yang sebelumnya bicara penuh keragu-raguan dan lebih banyak menunduk, kini mengeluarkan pendapat dengan suara lantang.
__ADS_1
"Aku tidak ingin menjadi orang yang tidak berguna, hanya bisa diam, hanya bisa melihat ketika saudara ku sendirian berjuang setengah mati." Keras suara Rea mengeluarkan isi hatinya.
"Tapi aku tidak ingin kau terlibat di dalam masalah, ini adalah demi keselamatan mu Rea." Jawab Askar sedikit takut.
Merasa De Javu dari jawaban Askar, dimana dia pun mendapat jawaban yang sama dari seseorang...."Kau dan ayah sama saja, menganggap aku seperti anak kecil yang hanya bisa menuruti keinginan kalian."
"Tidak bukan seperti itu."
Sekali lagi Rea memukul meja..."Lupakan, jika memang kau tidak ingin melibatkan aku di masalah ini, maka aku akan melakukannya dengan caraku sendiri."
Rea tidak ingin mendengar apa pun lagi dari perkataan Askar. Dia segera berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Askar tanpa mengucap satu kata pun untuk berpamitan.
Ryan melihat majikannya pergi, dia pun segera mengikuti dari belakang. Tapi belum sempat dia membuka pintu, Askar berbicara dengan memanggil namanya.
"Ryan, tolong jaga Rea, apa pun yang terjadi." Ucap Askar dengan permintaan.
Dia bisa melihat ketulusan di wajah Askar .."Tentu saja akan aku lakukan, karena ini sudah menjadi pekerjaan ku."
"Terimakasih."
Rea yang sudah menunggu di luar menatap Ryan dengan perasaan kesal. Tapi Ryan tersenyum sedikit senang ketika berjalan lebih mendekat.
"Apa ?." Ucap Rea tidak senang dengan senyum yang ditunjukkan oleh Ryan.
"Tidak bukan apa-apa nona, hanya saja aku berpikir nona sudah kembali ke pengaturan pabrik." Balas Ryan yang masih tersenyum.
"Apa maksudmu ?, Kau menganggap jika sifat ku ini menyusahkan."
Terkejut karena Rea salah sangka...."Loh kok begitu... Tidak, tidak, nona, aku lebih senang ketika melihat nona yang selalu marah-marah dan keras kepala, dari pada murung seperti orang kebingungan."
"Jangan banyak bicara, sekarang kau cepat cari taksi untuk kita pulang."
"Ok." Jawab Ryan lemas.
Dia segera pergi ke pinggiran jalan untuk memanggil satu taksi seperti yang majikannya inginkan.
__ADS_1