
Rea barulah mendengar jika dirinya memiliki saudara lelaki, bahkan sejak kecil dia selalu bertanya-tanya tentang wajah sang ibu, namun tidak ada satu foto pun yang tampak di dinding seperti keluarga pada umumnya.
Tapi Neil, teman karib dari Dirgan jelas mengatakan jika dia mengenal sosok ibu yang bernama Hana dan juga saudara lelakinya, Noe.
Sehingga Rea berpikir, jika sang ayah sengaja merahasiakan sesuatu di balik keanehan dalam keluarga Mavendra.
Hingga lamunan Rea ketika memikirkan banyak hal tentang ayahnya itu di bangunkan oleh seseorang yang tiba-tiba muncul.
"Rea... Sungguh kebetulan yang luar biasa kita bisa bertemu di tempat ini." Sapa seseorang dengan senyuman bodoh tanpa punya malu.
Tapi tanda tanya besar muncul di wajah Rea...."Siapa yah ?."
"Aku, Edward, bukankah beberapa hari lalu kita sudah berkenalan." Lelaki itu benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti meski sudah di tolak.
"Maaf, aku memang tidak pandai mengingat wajah seseorang."
"Itu bukan masalah, jadi apa yang kau lakukan disini Rea." Edward merasa penasaran.
Dia tidak tahu apa pun soal Rea, tapi ketika tahu jika seseorang berada di acara yang hanya dipenuhi oleh para konglomerat, tentu dia adalah salah satunya.
"Hanya sekedar menemani ayahku untuk melihat kesombongan para manusia saat menghambur-hamburkan uang demi benda tidak berguna." Jawab Rea dengan malas.
"Perjelasanmu terlalu jujur Rea. Tapi itu tidak buruk. Aku suka." Tersenyum Edward memberi tanggapan.
"Aku pikir kau menyukai apa pun. Bahkan jika itu seekor sapi yang di beri Make-up."
Selagi Rea yang cukup malas menanggapi perkataan Edward. Dirgan kembali bersama Neil setelah menyelesaikan percakapan mereka dari tempat lain.
Tapi sikap Neil terlihat kesal ketika mengarahkan pandangan kepada Edward, itu tidak seperti Edward berbuat salah kepada Neil, melainkan kemarahan karena dua orang ini saling berhubungan.q
"Pergi kemana saja kau Ed." Keras Neil membentak Edward.
"Ayah...."
Neil menepuk kepalanya serasa pusing...."Sudah ayah katakan untuk tidak pergi kemana pun, tapi kau selalu saja seenaknya sendiri."
"Ayah, kita sedang berada di acara penting, jadi aku ingin menyapa beberapa orang untuk berkenalan." Jawab Edward tidak peduli.
"Pernahkah kau berpikir untuk bersikap sopan kepada aku yang menjadi ayahmu ini."
"Jangan terlalu emosi ayah, ingat darah tinggi mu." Balas Edward.
__ADS_1
"Kaulah yang membuatku darah tinggi."
Neil Swalldwon, ayah dari Edward, menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan untuk melepas semua emosi yang sudah terkumpul di kepalanya.
"Ah... Rea, dia adalah putraku, Edward, harusnya kalian saling kenal, dia juga bersekolah di universitas Harvard." Neil pun mengenalkan seseorang yang tidak Rea harapkan.
"Jika paman mengatakan saling kenal, itu tidak juga, karena bidang studi aku dan putra anda jelas berbeda, tapi ya... kami berkenalan kemarin, meskipun aku sudah lupa." Jawab Rea masih menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan.
"Harusnya kau mengingatku Rea, itu akan menjadi keberuntungan jika kita bisa akrab."
"Tidak ada keberuntungan bagi ku, berkenalan dengan orang yang tidak bisa menjaga ucapannya." Keras Rea memberi pernyataan.
"Apa kau tersinggung ?."
"Apa perlu aku menjawabnya." Itu karena tatapan mata Rea yang melihat Edward jijik sudah menjadi jawaban.
Melihat sikap anaknya penuh emosi, Dirgan menepuk pundak Rea pelan, itu cukup efektif untuk membuat dia sedikit lebih tenang.
Dirgan pun berkata...."Kau harus bisa menahan dirimu Rea, karena bagaimanapun nantinya, kau dan Edward akan bertunangan."
Mendengar ucapan ayahnya itu seakan menjadi sambaran petir diatas kepala Rea, dia mulai tertawa meski pun tidak ada hal lucu untuk dia pahami.
"Tunggu, tidak biasanya ayah bercanda." Rea bingung.
..."
Rea tertawa pahit dan merasa sedang di permainkan sekarang, sia yang sudah hidup untuk segala hal seperti keinginan sang ayah tanpa terpikir untuk menolak. Kini Rea jelas tidak lagi mau menerimanya.
"Perjodohan, ini lucu apa ayah tidak pernah berpikir bagaimana perasaan ku sekarang."
"Ayah tahu apa yang terbaik untukmu Rea." Jawaban klise dari orang tua pada umumnya saat merasa paling benar di dalam hidup orang lain.
"Ayah tidak tahu apa pun, ayah hanya mementingkan apa yang penting dalam keluarga Mavendra saja, sedangkan aku...." Pahit wajah Rea merasa kecewa.
"Rea kau harus tahu, semua yang ayah lakukan itu adalah untuk mu."
Keras tangan Rea mengepal dan tanpa peduli orang lain di sekitar, dia langsung saja membanting gelas yang ada ditangannya.
"Aku tidak peduli jika harus belajar jauh dari rumah, aku juga tidak peduli jika ayah tidak mau memperhatikan ku. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku ayah, aku tidak mau menuruti keinginan ayah ini. Aku yang akan menentukan siapa jodohku." Ucap Rea menuangkan isi hatinya dan pergi begitu saja.
"Rea... Tunggu." Panggil Dirgan keras.
__ADS_1
Hanya saja, Rea tidak peduli lenyap di dalam kerumunan manusia untuk menyembunyikan diri.
Dirgan memang sadar keputusan yang dia ambil sangatlah egois, sebuah perjodohan hanya akan menyakiti Rea.
Tapi bagi Dirgan itu semua demi melindungi Rea. Ketika Rea terpisah dengan keluarga Mavendra dan berada di tempat keluarga Swalldwon, tentu dia akan terhindar dari semua masalah.
*******
Dari sisi bagian belakang, Askar masih menikmati sajian, namun tidak lepas pula untuk terus mengawasi setiap manusia di sekitar Edward Swalldwon. Tanpa sengaja dia melihat seseorang yang jelas Askar kenal.
Rea, dan juga satu orang lain, Dirgan Mavendra, geram tangan Askar seperti ingin mengambil pisau buah yang ada di atas meja prasmanan.
Cepat Askar menghilangkan emosi dan niat membunuh yang tiba-tiba saja hadir. Karena untuk sekarang tujuannya bukanlah soal Dirgan Mavendra, melainkan Edward Swalldwon.
Tapi tidak lama setelah percakapan yang mereka lakukan, Rea pergi dari tempat itu, wajah penuh emosi dan ada setitik air mata menetes membasahi pipinya.
Askar merasa khawatir, dia pun mengejar, tepat sebelum Rea melangkah keluar dari tempat pertemuan, Askar menarik tangannya untuk berhenti.
Rea berbalik dan melihat sosok lelaki yang tidak pernah terpikir akan dia temui di tempat ini.... "Askar."
"Apa yang terjadi denganmu." Tanya Askar.
Rea menghapus sisa air mata di pipi dan coba bersikap tenang ... "Bukan apa-apa, hanya ada debu yang masuk ke mataku."
Askar tentu sadar jika itu hanya sebuah kepura-puraan untuk menyembunyikan sesuatu yang dia alami.
"Jangan berbohong Rea, Apa ada seseorang yang membuatmu menangis, katakan biar aku menghajar mereka."
Senyum yang Rea tunjukan dilihat oleh Askar begitu terpaksa...."Aku tidak berbohong, lagian kenapa kau ada disini ?."
"Hmmm kerja sambilan, ya seperti itulah kira-kira." Jawab Askar apa adanya.
Tapi melihat ke tangan Askar yang sedang membawa setumpuk makan di atas piring, tentu saja tidak seperti dia sedang melakukan pekerjaan.
"Apa kau mau ?." Askar menawarkan Sembikiya queen strawberries kepada Rea.
"Tidak, aku bosan dengan itu."
"Memang seberapa sering kau memakan benda mahal ini."
"Hampir setiap hari..." Jawab Rea tertawa kecil.
__ADS_1
Seperti yang diharapkan dari keluarga konglomerat, sepuluh biji Sembikiya queen strawberries setara dengan harga motor bebek keluaran terbaru, tidak membuat Rea tertarik.