
Askar dan Ryan tidak bisa melawan perkataan dari Pak Ergad, bukan berarti mereka takut atau pun tidak mampu menghadapinya.
Hanya saja, tindakan pak Ergad memang selayaknya seorang security, seorang petugas keamanan yang harus melaksanakan kewajiban demi keharmonisan tempat asrama di wilayah penjagaannya.
"Aku tahu kau itu ingin masuk dan bicara kepada Nona Rea untuk meluruskan kesalahpahaman, dan juga aku pun tahu kau hanya melakukan tugas sebagai bodyguard selagi mendapat imbalan kenaikan gaji." Pak Ergad bicara selagi berjalan memutari Askar dan Ryan.
Kemudian berhenti diantara mereka berdua dengan maksud untuk menengahi masalah jika terjadi perkelahian antara keduanya.
"Tapi tetap saja, di sini wilayahku, aku yang di berikan amanah untuk menjaga keamanan asrama ini, tidak bisa membiarkan kalian berdua berkelahi, kalian mengerti."
Askar yang mengetahui ucapan pak Ergad mengangguk paham, sedangkan Ryan yang notabenenya masih belum banyak menghafal kosakata dalam kamus terjemahan bahasa Indonesia - Inggris hanya tahu saat Pak Ergad bertanya ...'You understand'
"Yes, i am understand." Jawab Ryan.
"Ok, jadi sekarang kalian pergi. Sebelum aku turun tangan untuk menendang pantat kalian berdua." Tegas ucapan Pak Ergad.
Askar menyerah untuk sekarang, dia tidak bisa bertindak nekad untuk memaksakan Rea berbicara secara langsung, meski pun hal ini di luar dugaan.
Ada alasan kenapa Askar tidak memberitahu rahasianya sebagai Noe kepada Rea di waktu sekarang, yaitu Askar khawatir soal kemungkinan terburuk, jika orang-orang di keluarga Mavendra yang mencari dokumen tentang kejahatan mereka terhadap Keluarga Sanghinan menemukan Askar.
Tentu mereka semua akan melakukan segala cara untuk mendapat dokumen barang bukti di tangan Askar, karena hidup mati bisnis keluarga Mavendra dipastikan terancam.
Untuk sekarang, Askar tetap ingin memulai rencana 'Berita Viral' keburukan orang-orang itu, hingga saham keluarga Mavendra turun dan dia bisa menyelinap masuk di rencana awal.
Alesa menatap Noe ragu-ragu, sedikit hati dia merasa bersalah karena tindakannya sudah membuat Askar bingung.
"Maafkan aku...." Ucap Alesa lirih.
Askar melihat Alesa yang menyesal, dia menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan dengan sedikit senyum di wajahnya.
"Sudahlah, tidak apa-apa Al... Aku memang berpikir untuk memberitahu Rea tentang rahasia ini, jadi tidak ada bedanya antara dia tahu sekarang atau pun nanti." Askar hanya mencari alasan agar Alesa tidak merasa bersalah.
"Tapi, aku membuatmu dalam masalah."
"Aku sudah terbiasa dengan masalah di dalam hidup, dan ini bukan pertama kalinya." Jawab Askar sedikit tersenyum.
Alesa tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya..."Tetap saja, aku kemari hanya menambah masalah untukmu, Noe."
"Jika kau berpikir seperti itu, apa perlu aku antarkan kau ke bandara dan membelikan tiket pulang."
Cepat tangan Alesa menarik Askar..."Aku masih ingin disini."
"Aku tahu, jadi jangan murung, kau tidak terlihat cantik, Al."
Askar membawa Alesa naik ke lantai atas apartemen tempatnya tinggal, namun di depan pintu itu, sudah ada seseorang sedang duduk berjongkok seperti menunggu kehadiran mereka pulang.
__ADS_1
Melihat Askar dan Alesa datang, dia segera berdiri dan mendekat dengan wajah ditekuk penuh rasa kesal.... "Sebenarnya apa yang kalian lakukan, aku sudah menunggu di sini lebih dari dua jam."
"Aku tidak menyuruhmu untuk menunggu kami, jadi itu salahmu sendiri, Eli." Balas Askar.
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu kepada orang yang sudah mengantar tunangan mu." Elissa menjawab dengan sombong.
"Ok, sekarang Alesa sudah di sini, dan kau bisa pulang."
"Tega sekali kau Askar, setidaknya biarkan aku masuk dan mendapat segelas teh hangat."
"Kau terlalu banyak meminta, sungguh menyusahkan." Keluh Askar.
"Hanya segelas teh, itu tidak seperti kau harus mengambilnya langsung ke atas gunung."
"Baiklah, aku mengerti jadi jangan ribut, kau hanya akan mengganggu tetangga." Jawab Askar.
Sedikit terpaksa untuk membawa Elissa masuk kedalam apartemennya, karena bisa saja suasana hati Alesa tidak nyaman saat harus bersama dengan wanita asing.
Lain dari anggapan Askar ...
Elissa bisa melihat bagaimana kedekatan Alesa kepada Askar, jika dia pikir Alesa akan mendominasi Askar dengan sifat kecemburuan keras tapi di sisi lelaki itu, dia tak ubahnya seperti seekor kucing yang ingin bermanja-manja.
Tapi melihat kedalam ekspresi Elissa berubah menjadi rumit... "Wah... Ini jauh lebih berantakan dari terakhir saat aku datang kemari."
Alesa menoleh dengan kejutan..."Kau menginap disini."
"Jangan khawatirkan apa pun Al, Elissa menginap karena sudah terlalu malam untuk pulang, dan juga saat itu kondisinya mabuk, jadi aku pikir untuk membiarkannya tidur di sini." Askar angkat bicara agar Alesa tidak salah paham.
Elissa merasa lega karena Askar memberi dukungan dalam bentuk alasan yang logis...."Ya itu benar, tentu Askar sebagai lelaki sejati tidak membiarkan ku pulang sendirian saat malam, bisa saja ada orang jahat coba melukaiku."
Tentu membuat masalah dengan anak dari keluarga Cortez akan menjadikan pekerjaan Elissa di guild 'Alba Dorata' terancam selesai.
"Sebaliknya, aku khawatir jika kau yang melukai orang-orang jahat di jalan saat mabuk." Balas Askar mengkonfirmasi alasannya.
"Seenaknya sendiri kau bicara, memang kau pikir aku wanita apaan."
"Apa yang aku katakan memang benar, kau jelas lebih kuat dari pada penjahat kelas teri di jalan." Jawab Askar.
"Terserah kau saja."
Ada empat tumpuk koper yang tergeletak di lantai, begitu juga dengan bermacam-macam sisa bungkus makanan tergeletak di sebelah tong sampah.
Alesa yang tidak peduli hanya mengikuti Askar ke arah dapur untuk membuat teh seperti keinginan Elissa.
"Apa kau berniat untuk pergi ?."
__ADS_1
"Tidak juga, aku akan tetap tinggal di sini sampai Rea lulus. Sekitar dua bulan lagi." Jawab Askar.
"Lalu kenapa kau memiliki banyak koper."
"Kau tidak perlu tahu dan jangan sentuh apa pun." Askar memberi peringatan keras.
Tapi Elissa tidak peduli, dia coba membuka satu koper yang tergeletak di lantai, dan matanya tidak bisa berkedip, bahkan segera menutup kembali karena terkejut.
"Mataku terasa sakit, melihat sesuatu yang berkilauan di dalam koper ini." Ucap Elissa gemetar.
"Sudah aku katakan jangan sentuh apa pun, tapi kau sembarangan membuka tas milik orang."
"Itu tidak penting sekarang."
"Bagiku itu penting."
"Darimana kau mendapat emas batangan sebanyak ini." Elissa ingin tahu.
"Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan mu."
Askar meletakkan secangkir teh di depan Elissa... "Cepat kau habiskan teh mu dan segera pergi."
"Apa salah jika aku ingin tahu, buku kiat sukses apa yang kau baca hingga memiliki emas satu koper."
Askar menjawab pertanyaan Elissa dengan isyarat..."Harusnya kau tahu apa yang orang seperti kita lakukan untuk mendapat banyak uang."
"Ok, ok, aku tidak akan bertanya apa pun."
Elissa beralih ke tempat Alesa, dimana dia sedang menikmati waktu untuk merebahkan diri di atas pangkuan Askar.
"Nona Alesa, berapa lama kau akan di Amerika."
Alesa pun menjawab sedikit malas..."Hmmm aku tidak tahu, Minggu depan juga aku harus masuk kuliah."
"Apa kau tidak berpikir untuk pindah kuliah di sini."
"Tidak, karena Noe mengatakan dia sebentar lagi akan pulang, jadi aku tetap di Indonesia. Ngomong-ngomong soal kuliah, apa yang kau lakukan saat pulang nanti Noe."
"Aku bisa saja kuliah atau pun bekerja."
"Bukankah kau berhenti di kelas dua SMA, bagaimana mungkin kau melanjutkan untuk kuliah."
"Aku hanya berhenti di Indonesia, tapi melanjutkan studi di Amerika, meski pun aku akan menjadi junior mu saat kuliah nanti." Jawab Askar.
Semua sangat mudah untuk Askar, dimana dia cukup meminta bantuan dari guild untuk memalsukan semua berkas ijazah atau pun hal-hal yang diperlukan dalam masuk universitas.
__ADS_1
Namun Askar sendiri tidak mengharapkan apa pun untuk kuliah, kecuali bertujuan sebagai tempatnya bersembunyi dari orang-orang keluarga Mavendra.