
Di dalam kamar saat tengah malam...
Rea masih terjaga di depan laptop selagi mengerjakan tugas laporan, namun jari-jari yang sebelumnya bergerak cepat menekan satu demi satu huruf dalam Keyboard seketika berhenti.
Di pikiran Rea sekarang, terngiang-ngiang perkataan Ryan, dimana anggapan bahwa dirinya dan Askar sangatlah mirip seperti saudara, bukan tentang fisik tapi sifat mereka berdua.
Awalnya Rea tidak perduli soal itu, beranggapan jika ucapan Ryan hanya sebatas tebakan semata, tapi kini Rea merasakan banyak kejanggalan terjadi setelah dia mengenal sosok Askar lebih dekat.
"Rea kau belum tidur...." Ucap Anna yang terbangun.
"Aku ingin menyelesaikan laporan sekarang, karena Minggu depan aku harus presentasi." Jawab Rea tersenyum kecil.
"Ini sudah tengah malam, jangan terlalu memaksakan dirimu."
"Aku tahu, jangan khawatir Anna.... Oh iya, bagaimana menurut mu soal perkataan Ryan siang tadi." Rea bertanya untuk hal lain.
Anna yang masih setengah sadar merasa bingung..."Perkataan Ryan ?."
"Saat dia mengatakan kalau aku dan Askar mirip seperti saudara."
Anna beranjak dari tempat tidurnya, mengambil kursi untuk duduk di sebelah Rea dan menunjukkan tatapan mata serius.
"Memang tidak ada bukti apa pun, tapi aku rasa jika perkataan Ryan ada benarnya."
"Kenapa seperti itu... bukankah aneh jika kami saudara, menurut perkataan ayahku. Nama kakak laki-lakiku adalah Noe, sedangkan dia bernama Askar." Rea coba membantah.
"Aku tidak bermaksud membuatmu bingung Rea, tapi apa yang aku lihat dari perhatian Askar kepadamu tidaklah seperti lelaki dengan perempuan, melainkan sesama saudara yang ingin di lindungi." Anna bisa melihat itu dari sudut pandangnya sendiri.
Namun Rea masih belum sepenuhnya yakin..."Tapi itu juga bisa dikarenakan oleh Askar yang sudah memiliki istri, sehingga dia tidak bisa memberikan perhatian khusus kepadaku."
Kini Anna cukup rumit untuk menjawabnya, seakan ragu-ragu..."Aku sudah mencari tahu kebenaran soal Askar kepada semua orang yang dia kenal, ternyata dia belum menikah."
"Apa kau serius ?." Tanya Rea terkejut.
"Ya aku serius, dan bisa jadi alasan kenapa Askar tidak bisa menerima cintamu karena kau adalah adiknya."
__ADS_1
Rea memikirkan perkataan Anna dengan serius, karena hatinya tidak bisa menerima kenyataan, bahwa lelaki yang dia cintai sekarang adalah saudaranya sendiri.
Dan itu juga membuat Rea sadar, bahwa selama ini rasa tertarik kepada Askar, dimana semua berbeda dari caranya melihat setiap lelaki karena ikatan darah.
"Jika itu aku, aku tidak perduli meski Askar adalah kakakku, karena hukum di sini melegalkan pernikahan sesama saudara." Anna hanya tidak ingin Rea menyesal.
"Meski kau bilang begitu, ini terasa aneh, aku tidak pernah berpikir dengan segala kemungkinan, bahwa Askar adalah kakakku."
Rea yang tidak pernah tahu seperti apa cinta, tentu menganggap bahwa keinginan untuk mendapat perhatian dari Askar adalah bagian dari cinta di harinya.
Anna sadar Rea sekarang dalam kondisi bingung...."Lalu ?, Apa yang akan kau lakukan selanjutnya Rea. Berhenti atau terus lanjut tanpa peduli siapa Askar sebenarnya."
"Aku tidak tahu... Tapi aku benar-benar berharap bahwa aku tetap ingin mendapatkan Askar." Balas Rea.
Anna kembali menguap setelah mendengar semua curahan hati dari Rea tentang keraguan di dalam urusan asmara. Tentu sebagai sahabat dekat, Anna menjadi pendengar yang baik dan pemberi solusi untuk masalah Rea.
"Tapi Rea....." Tiba-tiba saja tubuh Anna jatuh dari kursi.
"Hei Anna apa kau terlalu mengantuk." Tanya Rea yang membantunya untuk berdiri.
"Harusnya kau beritahu aku, jika kau ingin... Ti.... Dur...." Rea pun ikut jatuh tidak sadarkan diri.
Dari balik bayang-bayang gelapnya kamar, tiga sosok manusia berjubah serba hitam menampakkan diri mereka menggunakan masker gas.
Nyatanya Rea dan Anna tidak sadar karena gas tidur yang di sebarkan oleh tiga orang itu ke seluruh gedung ruangan melewati ventilasi udara.
Memberikan kode kepada dua orang temannya untuk membawa Anna dan Rea pergi.
**********
Di kamar tamu wilayah asrama lelaki.
Meski jam sudah menunjukkan pukul 00.23 dini hari, Ryan masih belum tertidur, dia melakukan olahraga malam yang dimana sudah menjadi rutinitas sehari-hari selama di kamp anggota militer Donahue.
Tubuh Ryan dipenuhi banyak bekas luka yang sudah mengering dari belakang punggung hingga depan dada, puluhan sayatan seakan menjadi bukti bahwa dia telah melewati bermacam pertempuran selama hidupnya.
__ADS_1
Tapi karena semua luka yang dia dapatkan dari musuh-musuhnya itulah Ryan dijuluki sebagai prajurit abadi, dimana mustahil bagi manusia normal mampu bertahan dengan kesakitan yang dia alami.
"498, 499, 500....."
Selesai untuk Ryan menghitung jumlah push up yang harusnya mencapai lima ratus, barulah dia berdiri dan mengambil botol minum dan menghabiskan semua isinya dalam sekali teguk.
Kepulan uap panas keluar dari keringat di tubuh Ryan, semua itu disebabkan oleh udara malam yang masih dingin.
"Sekarang aku merasa hangat, jadi aku bisa tidur dengan nyenyak." Ucap Ryan sendiri.
Namun baru saja Ryan membenamkan diri di dalam selimut, suara nyaring terdengar dari jam tangan yang dia letakan di atas meja.
Itu adalah tanda alarm yang ditunjukkan ketika objek menekan tombol sensor bahaya. Namun ini berbeda, dimana terdapat sebuah kalimat yang menunjukkan jika Objek berada di luar zona pengawasan.
"Ini sudah terlalu malam jika nona Rea ingin pergi keluar." Pikir Ryan.
Karena sudah menjadi kewajiban bagi Ryan untuk tetap mengawasi Rea. Segera saja Ryan mengambil pakaian yang tergeletak di kursi, dia berjalan keluar mengikuti petunjuk arah tempat Rea sekarang.
Namun titik keberadaan Rea bergerak sangat cepat, tidak seperti dia sedang berlari atau semacamnya, Ryan merasa khawatir jika terjadi sesuatu.
Melompat keluar dari gerbang asrama dan melihat sekitar. Namun petunjuk lokasi keberadaan Rea nyatanya ada di dalam sebuah mobil yang bersikap untuk pergi.
Ryan segera berlari mengejar dan berusaha keras mengangkat bagian belakang agar tidak bisa berjalan.
Orang-orang di dalam merasa takjub dengan tindakan Ryan...."Siapa manusia itu, bagaimana mungkin mengangkat mobil ini dengan tangan kosong."
"Kau pergi keluar, bunuh dia, jangan sampai misi kita ini gagal." Perintah satu orang lain.
"Baik pak."
Seseorang keluar untuk melepas tembakan langsung ke arah Ryan, mau tidak mau dia harus menghindari pelurunya. Namun ketika pegangan tangannya lepas, mobil itu sudah tancap gas dengan kecepatan tinggi.
Dan di arah lain, seseorang melompat turun dari atas gedung tiga lantai.
Dia adalah Askar dimana seketika itu juga melepas tembakan ke arah mobil hitam dan membuat satu ban pecah, tapi itu menghentikan laju mobil yang terombang-ambing hingga menghantam dinding toko.
__ADS_1