
Askar pun menyadari betapa hebatnya lelaki nama Shadow yang dia lawan sekarang, meski berhasil melepas satu tendangan keras hingga membuatnya terlempar, tapi itu belum cukup untuk menang.
Lelaki itu kembali bangkit, mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya, dan tersenyum lebar cukup aneh.
"Aku baru pertama kali menghadapi lawan yang mampu membaca arah serangan ku." Ucapnya santai.
"Terimakasih atas pujiannya, tapi itu tidak berarti apa pun, karena sekarang kita adalah musuh bukan teman."
"Ya mungkin kau benar, tapi jika boleh tahu, siapa namamu."
"Kau cukup sopan untuk seorang Assassin, aku tidak membencinya... Baiklah, aku Askar dan dia..." Tunjuk Askar ke arah Elissa.
Tapi shadow menghentikan ucapan Askar...."Tidak perlu, aku kenal siapa dia"
"Baguslah, mungkin kau bisa akrab dengannya." Ucap Askar.
"Aku tidak yakin soal itu...." Jawab Shadow dengan senyum mengejek.
Shadow kembali menyerang, langkah kakinya cepat tidak bersuara dan saat dia menerobos bayang-bayang, sosoknya lenyap tanpa bisa di ketahui dimana akan muncul.
Kemampuan untuk memanipulasi sudut pandang seseorang. Seakan apa yang orang lain lihat, dia benar-benar menghilang, tapi pada kenyataannya, shadow mengalihkan titik fokus dari persepsi mereka. Askar mengetahui trik ini, dimana Shadow membuat mereka tidak menyadari bahwa dirinya memanfaatkan kontras cahaya dan kegelapan untuk menyamar penampilan dari pandangan mata lawan.
Tapi melawan seorang Assassin kelas atas yang tidak memiliki suara langkah kaki, atau pun dengan mudahnya menyembunyikan aura kehadiran, ini jelas menjadi perlawanan cukup sulit.
Secara refleks Askar menggeser tubuhnya, dia bisa merasakan ada sesuatu sedang mendekat dari belakang, namun setelah dia memastikan sekitar, sosok shadow masih belum muncul.
Jika dalam situasi sekarang Askar tidak bisa fokus dan kurang konsentrasi, bisa dipastikan shadow itu akan muncul dari sudut mana pun untuk menancapkan pisau kepada Askar dengan mudah.
"Apa kau terlalu takut berhadapan satu lawan satu secara jantan...." Ucap Askar.
Secara sengaja Askar memancing Shadow untuk bicara, namun tidak ada jawaban. Dia mungkin sadar kalau ada sedikit saja sudah terdengar, itu akan membuat Askar mengetahui arah tempatnya bersembunyi.
Askar mulai mengatur nafas perlahan, menguatkan setiap indra di tubuhnya agar semakin sensitif. Tepat ketika ada satu gerakan kecil yang dirasakan datang dari arah samping kiri, tidak ada keraguan bagi Askar memberi serangan balasan dengan lemparan pisau lurus.
__ADS_1
Namun apa yang Askar dapatkan bukan Shadow, itu hanya setumpuk kardus bekas sebagai pengalih perhatian untuk Askar menyerang ke arah sana.
Hingga saat Askar menyadari jika tepat di sisi sebelah kanan shadow sudah siap menusuknya di perut. Namun dia tidak menyia-nyiakan kesempatan menangkap Shadow, meski pun itu ada di dalam kondisi berbahaya.
Akselerasi otak membuat segala sesuatu yang di lihat menjadi lebih lambat. Adrenalin jantung berdetak semakin kuat untuk mempercepat gerak tubuhnya.
Hanya dalam sepersekian detik sebelum pisau di tangan shadow menancap kulit, gerak tubuh Askar bergeser, seakan hal itu mustahil dilakukan oleh manusia biasa.
Shadow gagal, tapi Askar lah yang kini menangkapnya, tangan terkunci dan kaki di injak, hingga tidak mungkin untuk shadow lagi menyembunyikan diri.
"Mustahil, bagaimana mungkin...."
Tanpa bisa menerima kenyataan dan tanpa bisa lagi menghindar, satu pukulan telak di lepaskan Askar menghantam kepala Askar hingga terdengar suara retakan dari tulang leher yang mungkin patah.
Melihat Askar mampu menjatuhkan Shadow, Elissa benar-benar tidak bisa percaya meski itu ada di depan mata.
"Ini menakjubkan, kau mengalahkan seorang shadow... Kau gila Askar." Begitu heboh Elissa atas kemenangan Askar.
"Kau tidak sopan mengatakan jika aku orang gila."
"Jika dia mampu membunuh seratus musuh sendirian, maka aku bisa membunuh seratus satu orang, aku hanya sedikit lebih hebat saja." Jawab Askar tersenyum sendiri.
Namun ekspresi wajah Elissa berubah..."Aku benar-benar benci mendengar kau merendah diri Askar."
"Sudah menjadi kebiasaan, jadi jangan heran."
Kini Elissa mengeluh...."Baiklah, untuk sekarang kita pergi dari sini, aku tidak sabar mendapat rating bintang satu dari pelanggan karena perbuatan mu."
Ini jelas menjadi pelanggaran untuk Askar karena sudah memukul Edward, namun yang bertanggung jawab adalah Elissa dimana dia membawa Askar sebagai bagian dalam misi penjagaan Edward.
"Maaf kalau begitu, kau bisa memotong bagianku sebagai kompensasi."
"Itu tidak perlu, seperti yang kau katakan, aku hanya harus menjelaskan bahwa memang kesalahan ada di Edward."
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf..."
Belum sempat Askar dan Elissa membawa Edward keluar, dari belakang Cardness menodongkan senjata ke arah mereka.
"Aku tidak bisa membiarkan kalian pergi membawa Edward, aku harus membunuhnya, jika tidak maka hidupku akan hancur." Ancam Cardness.
"Tenanglah, turunkan senjatamu, aku memang tidak berhak mengatakan jika tujuanmu itu salah, bahkan jika aku tahu masalah yang kau hadapi, aku akan memberi dukungan tanpa ragu. Hanya saja...."
Suara tembakan meletus dan peluru melesat lurus melewati kepala Askar. Itu bukan lagi sekedar ancaman, dia sudah dia sudah putus asa, entah siapa pun yang menghalanginya, tidak ada keraguan untuk membunuh mereka.
"Aku tidak butuh dengan rasa iba mu, aku hanya ingin membalaskan dendam ini meksipun aku akan mati."
Sekali lagi tembakan dari Cardness datang namun Askar menghindar dengan mudah, dimana sesaat kemudian langkah maju hingga berada sedekat mungkin untuk menghentikan tembakan ke tiga.
Bukan hal sulit mengalahkan seorang amatir yang baru kemarin sore belajar menembak, hingga ketika Cardness di jatuhkan, Askar tidak memiliki niat untuk membunuhnya.
"Hanya karena seorang wanita manusia akan berubah, ya aku pun sama seperti mu, tapi untuk mu sekarang semua percuma saja... Pikirkan baik-baik dan lakukan pembalasan Dendam mu itu dengan benar." Askar coba memberi nasihat.
Cardness tidak lagi bisa melawan, bahkan untuk sekedar bicara tersamarkan oleh suara tangis.
Sebelum pergi Askar kembali bicara...."Aku akan mengatakan kepada Edward, jika kau sudah tewas terbunuh, jadi tidak mungkin dia akan mencari mu."
Elissa tidak menganggap siapa pun untuk di kasihani, jika mereka menjadi pengganggu misi, tanpa sedikitpun keraguan dia akan membunuhnya.
Askar membawa Edward yang sudah tidak sadarkan diri, dan Elissa pun datang mengikutinya dari belakang.
"Aku pikir kau bukan orang baik yang akan memberi motivasi kepada orang lain." Ucap Elissa.
Namun senyum Askar begitu getir...."Dia mengingatkanku pada diriku di masa lalu."
"Benarkah...."
"Ya, aku tidak menjadi orang baik atau pun motivasi, karena aku sendiri memiliki dendam yang ingin di tuntaskan." Tambah oleh Askar.
__ADS_1
Elissa memang tidak tahu siapa sebenarnya sosok Askar, namun melihat bagaimana sorot mata itu di tunjukan, dia merasakan sesuatu tekad kuat yang mustahil goyah.