
Di dalam kamarnya, Askar sedang memperhatikan benda bulat kecil seperti sebuah kancing namun terbuat dari emas dan memiliki ukiran sebagai simbol.
Askar tidak merasa aneh atau bertanya-tanya tentang benda apa yang dia pegang sekarang. Karena dia sendiri tahu, apa yang di pegang nya berasal dari Assassin itu adalah sebuah lencana guild dimana tempat mereka mengambil misi untuk penculikan Rea.
Siapa yang menyangka dari sekian banyak guild di negara Amerika ini, Tiga Assassin itu berada di bawah naungan Guild Alba Dorata, tentu Askar tahu kemana harus pergi sekarang, kalau bukan ke tempatnya langsung.
"Aku akan mencari tahu kebenarannya." Pikir Askar.
Askar beranjak keluar dan pergi meninggalkan apartment.
*******
Di dalam ruang manager Club 'Alba Dorata'..
Seorang wanita, tidak... Lelaki yang berubah wujud menjadi wanita cantik sedang duduk dengan satu kaki di atas, di depannya ada tiga lelaki yang masih sibuk untuk melihat lembar demi lembar laporan kegiatan guild.
Ini adalah rutinitas bulanan, dimana Selamet atau yang lebih di kenal Sela, merangkum semua hasil dari misi para Assassin di bawah naungan guild mereka.
Satu orang mulai memberi suara dengan membaca kertas di tangan..."Untuk satu bulan terakhir, permintaan dari orang-orang bisa di selesaikan sebesar 80%, itu artinya hanya sedikit kesalahan yang membuat Assassin di guild kita gagal."
Sela menganggukkan kepalanya perlahan..."Tidak buruk."
"Itu benar nona Sela, hanya saja, jika dibandingkan dengan guild Head Dragon, milik Su Gong, kita masih tertinggal." Balasnya.
"Ya mau bagaimana lagi. Itu adalah guild dari China mereka benar-benar memberi banyak promo dan diskon untuk setiap pengajuan misi, meski begitu persentase keberhasilan guild mereka masih lebih rendah dari kita." Sela setuju namun memberi tanggapan lain.
"Apa perlu kita melakukan cara yang sama. Nona Sela." Orang lain pun angkat bicara.
Sela tertarik...."Misalnya seperti apa ?."
"Bagaimana jika... Setiap orang yang mengajukan tiga misi kepada kita, maka akan mendapat potongan harga di misi ke tiga." Itu yang dia katakan.
"Terdengar cukup bagus, biar aku catat untuk aku ajukan kepada Nyonya Salma. Apa ada lagi." Balas Sela.
Orang ketiga pun ingin ambil bagian... "Atau mungkin kita bisa memberi pelayanan khusus."
"Pelayan seperti apa yang kau maksud." Kembali Sela bertanya.
__ADS_1
"Satu kali pengajuan misi mereka akan mendapat bingkisan, atau mungkin sebuah kupon yang akan di undi untuk memenangkan hadiah." Jawabnya.
Sela menunjukkan senyum menawan..."Itu juga boleh, ide-ide kalian berdua cukup menjanjikan, tapi aku masih harus memberi laporan sebelum menyetujuinya."
Meski pun Sela menjabat sebagai manajer di Club 'Alba Dorata' namun semua keputusan masihlah harus di setujui oleh Sela, selaku pemilik dari Club 'Alba Dorata'.
"Apa ada satu lagi...." Sela mengajukan pertanyaan.
Sebelum orang ketiga membuka suara untuk memberi pendapat, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dengan keras, dan satu sosok berjalan masuk tanpa permisi.
Sela terkejut..."Askar ...."
Sela melihat kehadiran Askar di penuhi aura kuat seperti seorang depkolektor ingin menagih hutang yang sudah nunggak 10 bulan tanpa kejelasan.
Askar hanya berdiri diam, menatap ke setiap orang di sekitarnya. Sela seakan paham.
"Kalian bertiga keluarlah terlebih dahulu, aku akan bicara secara pribadi dengan Askar." Ucap Rea memerintah ketiga bawahannya.
Tidak ada penolakan..."Baik nona."
Bahkan dari bawah meja kerja Sela, dia sudah bersiap dengan Shotgun jika Askar coba mencari masalah dan membahayakan nyawa.
"Askar ada perlu apa kau datang kemari." Tanya Sela ramah.
Tanpa basa basi Askar melempar tiga keping benda bulat berwarna emas di atas meja Sela...."Aku mengambil tiga lencana ini dari para Assassin yang coba menculik adikku Rea."
Tentu Sela kenal dengan tiga lencana yang dilemparkan Askar ke atas meja. Karena bagaimanapun setiap guild memiliki simbol mereka sendiri sebagai lambang dan angka-angka untuk memberi identitas kepada Assassin dibawah naungan Guild mereka.
"Bukankah ini milik, Salfo, Sean dan Jordan." Ucapnya.
"Aku tahu kau mengenal mereka."
"Ya tentu saja, karena nomor yang ada di lencana ini adalah milik mereka."
Raut wajah kesal Askar tidak berubah..."Kalau begitu semua akan mudah untuk aku jelaskan... Tiga Assassin yang kau sebutkan itu sudah mencari masalah denganku."
Sela tentu ingat tentang misi yang ketiga Assassin nya itu terima, sebuah pengantaran paket dalam bentuk manusia kepada seseorang dan dia adalah salah satu kelompok mafia besar di kota Boston ini.
__ADS_1
"Masalah ?, Apa yang kau maksudkan. Mereka bertiga hanya menjalankan misi seperti biasa." Balas Sela.
"Namun misi yang mereka lakukan adalah menculik Rea, adikku..." Askar mengatakan kejadian itu.
Tentu Sela tidak tahu soal adiknya Askar, karena dia hanya bertugas sebagai penanggung jawab atas misi dari pelanggan. Sedangkan siapa wanita bernama Rea, tidak ada yang tahu asal usulnya.
"Ok baiklah, aku mengerti, apa yang kau inginkan." Tanya Sela.
"Bagus kalau kau mengerti, aku tidak akan mencari keributan di sini, tapi katakan siapa yang mengajukan misi ini." Jawab Askar menatap tajam dan semakin dekat di wajah sela.
"Askar harusnya kau tahu ini adalah bisnis, tidak peduli kau siapa dan apa yang kau inginkan, aku tetap tidak bisa memberikan informasi pelanggan kami kepadamu. Bahkan jika kau berbuat onar di sini, aku bisa mengirimkan para Eksekutor untuk menangkap mu." Balas Sela coba tetap tenang.
Meski pun terasa dengan jelas ancaman Askar membuat Sela gemetar. Dia sendiri tahu seberapa berbahaya Askar.
Askar tersenyum mengejek..."Sela, apa kau pikir para eksekutor itu mampu melawanku ?."
"Kau memaksaku yang bukan siapa-siapa ini Askar, harusnya kau mengerti akan posisiku. Kau membuatku sulit, karena bagaimana pun aturan tetap aturan, apa kau mau melawan peraturan yang sudah di buat sepuluh kursi dewan tertinggi." Jawab Sela.
"Entah itu kursi dewan, kursi panas, kursi miring dan kursi-kursi lainnya, jika ini menyangkut adikku, aku siap melawan siapa pun." Askar tidak ragu sedikitpun.
Sela jelas melihat keteguhan hati Askar, tapi dia pun berada di posisi sulit, kemarahan Askar tidak bisa dihentikan hanya dengan kata-kata saja, bahkan juga tindakan pun akan menjadi percuma.
Askar memang tidak terikat dalam guild, tapi kemampuannya jelas luar biasa, melampaui para Assassin tingkat tinggi yang memiliki pengalaman berpuluh-puluh tahun.
"Tetap saja Askar, rahasia pelanggan adalah aturan dewan tertinggi dan kami tidak bisa melanggar aturan, keluarga Cortez adalah salah satu dari sepuluh dewan tertinggi, apa kau ingin mencoreng nama mereka. Sedangkan nyonya Salma sudah banyak membantumu." Sela coba memberi tahu Askar secara langsung.
Ketika dia mendengar nama Salma di sebutkan oleh Sela, wajah Askar kini berubah menjadi ragu-ragu. Dia bukanlah orang yang akan melupakan kebaikan dari Salma.
Persembunyian di Amerika, penyediaan tempat, sedikit bantuan uang dan juga segala informasi tentang keluarga Mavendra yang dia dapatkan dari kekuatan keluarga Cortez, adalah bantuan besar untuk Askar bayar kembali.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya apa pun lagi soal orang itu, tapi aku akan mencari informasi tentangnya dengan caraku sendiri." Ucap Askar .
Sela tersenyum sendiri...."Baguslah kalau kau mengerti Askar."
Askar berjalan keluar dari dalam ruangan, Sela pun menghembuskan nafas lega cukup panjang, setelah dia harus bertahan dengan aura mengancam yang ditunjukkan kepadanya.
Sedikit memijat kening..."Aku merasa kasihan dengan para mafia itu karena sudah membuat seorang Askar marah, sungguh tidak beruntung."
__ADS_1
Kemarahan seorang Askar adalah ketakutan yang tidak bisa Sela sembunyikan.