
Rea membuka mata saat mendengar suara bising alarm meliuk-liuk di telinga. berusaha untuk bangkit dari ranjang, namun rasa pusing di kepala membuat Rea tidak nyaman.
"Apa yang terjadi." Ucap Rea selagi memijat kening.
Semua terasa samar, apa yang dia ingat saat terakhir sebelum melupakan semua adalah percakapan dengan Fio dan meneguk habis cocktail Apricot in the Act dari bartender.
Tapi melihat sekeliling ruangan yang tampak asing, dia pun bertanya kepada dirinya sendiri...."Dimana aku sekarang, ini bukan kamar ku."
Ada pun suara lain terdengar jelas tepat di arah sampingnya. Itu berasal dari seorang manusia yang sedang tertidur dan mendengkur keras dengan mulut menganga lebar.
Terkejut Rea dan seketika itu juga menendang lelaki yang masih tidur nyenyak hingga jatuh..."Apa yang kau lakukan di sini."
Ryan jatuh dan itu cukup membuatnya terbangun meski pun terasa sakit dengan kepala membentur lantai.
"Nona Rea, apa kau tidak bisa sedikit lembut untuk membangun ku." Ryan berdiri dan memperlihatkan tubuh tanpa tertutupi kain kecuali celana bokser motif bunga-bunga.
"Ken... Kenapa kau ada disini dan juga tidak menggunakan baju, apa yang kau ... Kau... Si*alan." Rea panik, segera saja mengambil apa pun di sekitarnya kemudian dia lempar.
Ryan menangkap satu persatu barang dan mencoba bicara ..."Tunggu nona, aku bisa jelaskan, jangan marah dulu... Dan kau tidak boleh merusak properti hotel kita harus ganti rugi nanti."
"Hotel, ini hotel !!!... Kini aku tahu kau memiliki niat busuk kepadaku, kau membawaku kemari untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh, aku yakin itu..."
Tetap Ryan berusaha meluruskan salah paham ini...."Tolong jangan salah sangka, aku punya alasan yang jelas, itu karena....."
Rea segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja...."Tidak usah bicara omong kosong, ini jelas tindakan kriminal as... As... As*usila, aku akan telpon polisi sekarang, dan aku pastikan kau di tangkap, pidana seumur hidup."
Cepat tangan Ryan mengambil ponsel di tangan Rea...."Nona, dengar dulu penjelasan ku, setelah itu terserah kau mau bicara apa."
"Kembalikan, jangan main-main denganku, kau mencari masalah dengan orang yang salah."
Ryan sedikit kesal karena Rea seenaknya sendiri menuduh, sedangkan dia tidak mau mendengar penjelasan dari orang lain. Hingga Rea mengambil lampu tidur dan siap menimpuk Ryan tanpa ragu.
Ryan tidak menghindar, dan menerima langsung lemparan lampu tidur dengan tangkapan sempurna. Bukan seperti dia adalah lelaki gentleman yang tidak mau menghindar namun, jika lampu tidur itu pecah maka kerugian harus di tanggung oleh mereka.
Tidak bisa lagi menahan diri, Ryan mendekat dan mengambil tangan Rea untuk diangkat ke atas.
__ADS_1
"Lepaskan aku, kau si*alan beraninya dengan wanita dasar tidak tahu malu, kau..... " Rea tidak bisa diam.
Sebelum Rea melanjutkan ocehan yang tidak tahu kapan harus berhenti, Ryan menutup mulutnya dengan satu tangan agar dia diam. Tapi tetap saja, mencoba untuk memberontak, hingga beberapa menit menunggu, akhirnya Rea sudah lelah dan tenang.
"Nona tolong dengarkan aku, sebentar saja, sepuluh menit, tidak lima menit cukup." Ucap Ryan menatap tajam.
Rea mengangguk.
"Bagus... Pertama, kau mabuk, kedua, aku yang membawamu keluar dari Club itu, ketiga, aku tidak bisa membawamu pulang karena jam malam sudah berakhir, terlebih dengan keadaan kau mabuk, itu akan menjadi masalah nantinya, sehingga aku memilih untuk menyewa hotel. Ke empat, aku tidak menggunakan pakaian karena kotor oleh mu*tahan mu. Ke empat, kau tidak membiarkanku untuk pergi, sehingga mau tidak mau aku harus tidur di ranjang bersama mu. Dan ke lima, ini adalah salahmu, aku korban asal tuduh. Apa kau paham." Ryan meminta konfirmasi.
Dan Rea pun mengangguk.
Semua sudah Ryan jelaskan, kini perlahan dia coba membuka tangan yang menutupi mulut Rea. Siap sedia menutup mulutnya lagi, mana kala Rea akan menjerit dan semakin menggila hingga membuat tamu di kamar lain menganggapnya sedang melakukan tindak kejahatan.
Rea tetap diam, dia tidak lagi memberontak atau pun menjerit-jerit seperti orang gila.
"Kalau begitu, kenapa pakaianku berbeda." Tangan Rea sudah siap mengambil sesuatu sebagai senjata.
Ryan tersenyum kaku...."Tahan, tahan, aku bisa menjelaskannya."
"Saat aku mandi dan membersihkan diri, kau tiba-tiba saja masuk hingga membuat pakaianmu basah, nona."
"Jadi kau yang mengganti pakaianku."
"Memang siapa lagi, jika kau tidur dengan pakaian basah, itu akan membuatmu sakit." Balas Ryan.
"Tapi sama saja, kau sudah melihatnya, aku sudah ternodai dengan mata busuk mu."
"Tenang saja nona, aku mengganti pakaianmu dengan mata tertutup. Jika kau tidak percaya, aku bisa melakukannya lagi."
"Itu tidak perlu. Untuk kali ini aku maafkan, bagaimana pun juga semua terjadi karena salahku."
Terhembus nafas panjang...."Syukurlah nona sadar."
Tiba-tiba saja tatapan mata Rea kembali melihat Ryan dengan tajam dan juga mengancam.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang kita lupakan itu, aku akan menganggap bahwa semua tidak pernah terjadi."
"Tunggu dulu nona, jika ini tidak pernah terjadi, lalu bagaimana dengan uangku, aku sudah membayar minuman yang nona pesan dan biaya cek in di hotel."
"Itu urusanmu, kau sendiri yang berinisiatif melakukannya."
"Tidak mungkin, itu semua adalah uang gaji ku dua Minggu... Jika tahu kalau nona tidak mau mengganti uang ku, harusnya aku membiarkan nona tidur di jalan."
"Ok, ok, aku mengerti, jangan khawatirkan apa pun, aku akan mengganti semuanya."
"Seharusnya memang begitu."
Menyelesaikan semua urusan dari kesalahpahaman antara mereka berdua, kini Ryan terbebas untuk segala tuduhan yang membuatnya terlihat seperti seorang penjahat dan keduanya pun memutuskan segera cek out dari hotel.
Beranjak keluar, suasana hati Rea masih belum bisa dikatakan baik-baik saja. Wajahnya tergambar jelas menyembunyikan kekesalan karena mengalami kejadian aneh seperti sekarang.
"Aku katakan sekali lagi, jangan pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun."
"Tenang saja nona, aku adalah orang yang selalu menjaga rahasia."
Tapi dilihat oleh mereka berdua, Askar sudah berdiri di sebelah mobil hitam yang berada tepat di pintu keluar hotel, seakan memang Askar sedang menunggu mereka datang.
Ekspresi Rea berubah drastis, wajahnya yang kesal dan marah, kini menjadi murung tertunduk lemas saat tahu, jika Askar ada di hadapan mereka.
Rea ragu-ragu, dia masih belum berani menemui Askar dengan status sebagai seorang saudara. Tapi Ryan tidak membiarkan Rea untuk bersembunyi, secara paksa Ryan menarik tangan Rea dan berjalan mendekat.
"Rea, aku ingin bicara dan menjelaskan semuanya sekarang." Ucap Askar.
"Tapi aku tidak bisa." Balas Rea merasa enggan dengan suasana di dekat Askar.
Askar mungkin paham dengan perubahan sikap Rea dan dia coba bicara..."Jangan bicara seperti itu, karena apa yang aku ingin katakan adalah tentang tujuanku terhadap keluarga Mavendra."
"Baiklah...." Rea berusaha kuat.
Mereka segera masuk kedalam mobil dan Askar membawa keduanya pergi ke suatu tempat untuk bisa menjelaskan semua yang terjadi dalam hidup Askar.
__ADS_1