Jejak Takdir

Jejak Takdir
Janji


__ADS_3

Tetap saja, pidatonya berhasil -- "Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya, bahkan jika itu berarti harus menghabiskan sisa malam dan menggunakan senter." Mungkin saja rencananya berjalan lancar jika dia sudah menceritakannya sebelum turun dari tempat tidur pagi itu. Namun, sayangnya, dia tidak melakukannya.


Saat dia tiba di rumah, Maudy sudah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan yang perlu dilakukan Garin.


Halamannya sudah dipangkas rapi, jalan setapaknya ditata dengan apik, dan dia menanam beberapa bunga pansy yang dikenal cukup popular hingga pernah muncul dalam buku karangan Shakespeare. Garin tahu pekerjaan ini pasti memakan waktu berjam-jam, dan mengatakan bahwa dia marah hanyalah meremehkan perasaannya.


Nyatanya, marah saja tidak cukup untuk menggambarkan perasaan istrinya itu. Ada sesuatu di luar kekesalannya, seperti perbedaan antara korek api yang menyala dan kebakaran hutan yang mengamuk. Dan dia tahu itu. Beberapa kali selama bertahun-tahun pernikahan mereka, dia telah melihat tatapan itu, tapi hanya dalam momen-momen tertentu.


Dia menelan dan berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, "Hei, Sayang," dengan rasa malu, "maaf ya, aku terlambat banget. Tadi kami tiba-tiba saja lupa waktu." Saat dia bersiap untuk memulai pidatonya, tiba-tiba Maudy berbalik dan berkata dari balik bahunya.


"Aku mau pergi jogging. Kamu bisa mengurus ini, kan?"


Dia sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk menyapu rumput dari jalan setapak dan carport, alat pemotong rumput dan sapu sudah ada di halaman.


Garin cukup tahu diri untuk tidak menanggapi.


Setelah dia masuk ke dalam untuk berganti pakaian, Garin mengambil kotak pendingin ikan dari belakang mobil dan membawanya ke dapur.


Dia mengeluarkan beberapa ekor ikan mujair dari kotak es ketika Maudy keluar dari kamar tidur.


"Aku baru aja akan membersihkan ikan-ikan ini...," dia memulai, dan Maudy mengatupkan rahangnya.


"Bagaimana dengan melakukan apa yang aku minta?"


"Aku akan— umm, maksudku, biarkan aku menyelesaikannya ini dulu supaya ikan-ikan ini ngga rusak."


Maudy memutar matanya. "Lupain aja. Aku akan melakukannya saat kembali nanti."


Nada martir.


Garin tidak tahan dengan itu. "Aku akan melakukannya," katanya. "Aku sudah bilang akan melakukannya, kan?"


"Sama kaya' kamu berjanji akan menyelesaikan rumput dan membersihkan halaman sebelum pergi memancing?"


Garin seharusnya hanya menggigit bibir dan tetap diam. Iya, dia memang menghabiskan hari untuk memancing daripada bekerja di sekitar rumah, iya, dia telah mengecewakan Maudy.

__ADS_1


Tapi secara keseluruhan, itu bukan masalah besar, kan? Lagipula, hanya urusan saudara dan ipar perempuannya. Bukankah ini bukan hal besar yang harus dipermasalahkan secara berlebihan? "Lagian bukan seorang presiden yang akan datang berkunjung. Jadi ngga ada alasan untuk bersikap irasional tentang semuanya."


Ya, seharusnya dia memilih untuk diam saja. Dari cara Maudy memandangnya setelah dia mengatakan itu, mungkin akan lebih baik untuk tidak bertindak berlebihan.


Ketika Maudy keluar dengan membanting pintu, Garin mendengar jendela berderak.


Namun, begitu Maudy pergi sejenak, dia menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan, dan dia menyesali apa yang telah dia lakukan. Dia sadar bahwa dia telah bersikap kasar dan seharusnya tidak berkata begitu.


Namun, dia tidak akan mendapatkan kesempatan untuk mengatakan bahwa dia menyesal.


🍂


•


•


"Masih merokok, ya?"


Supri Sutrisno, wakil camat Gajakarta, melihat ke seberang meja tepat saat Garin menarik tempat duduknya.


Sutrisno mengangkat tangannya. "Aku tahu, aku tahu—kamu udah bilang itu padaku berkali-kali. Hei, ngga apa-apa jika ingin menipu dirimu sendiri, Pak. Tapi kalau jadi kamu, aku akan mastikan untuk matiin rokokku di asbak sebelum seseorang memergokiku."


Garin tertawa. Sutrisno adalah salah satu dari sedikit orang di kota yang masih memperlakukannya dengan cara yang sama seperti biasanya. Mereka sudah berteman selama bertahun-tahun; Sutrisno adalah orang yang menyarankan agar Garin menjadi camat, dan dia memberikan dukungan penuh agar Garin mendapatkan posisinya sekarang.


Sutrisno lebih tua, dia akan berusia lima puluh lima tahun pada bulan Maret mendatang, dan rambutnya beruban. Berat badannya naik 18 kilo dalam beberapa tahun terakhir, hampir semuanya berada di sekitar pinggangnya. Dia bukan tipe petinggi yang mengintimidasi orang yang melihatnya, tetapi dia tanggap dan rajin serta memiliki cara untuk mencapai tujuan yang dia butuhkan.


Dalam dua pemilihan terakhir, tidak ada yang mau repot-repot mencalonkan diri melawan usungannya. Dan persahabatan Garin dan Supri Sutrisno adalah unik.


"Aku ngga akan mampir," kata Garin, "kecuali kamu berhenti ngelontarin tuduhan konyol ini."


Mereka sedang duduk di sebuah bilik di sudut, dan pramusaji, yang dikejutkan oleh kerumunan tamu saat makan siang, menurunkan satu teko teh manis dan dua gelas es dalam perjalanan ke meja berikutnya.


Garin menuangkan teh dan mendorong gelas Sutrisno ke arahnya.


"Nursy bakalan kecewa," kata Sutrisno.

__ADS_1


"Kamu tau dia akan kehabisan alasan untuk ngedeketin kamu kalau kamu ngga membawa Raka sesekali untuk nemuin dia." Sutrisno menyesap dari gelas. "Jadi, kamu berharap bisa bertemu dengan Saras hari ini?"


Garin mendongak. "Siapa?"


"Guru Raka."


"Apa istrimu yang bilang itu semua ke kamu?"


Sutrisno menyeringai. Istrinya bekerja di sekolah di kantor kepala sekolah dan sepertinya mengetahui semua yang terjadi di sekolah itu. "Tentu aja."


"Siapa namanya tadi?"


"Nursy," kata Sutrisno serius.


Garin melihat ke seberang meja dengan pandangan sebal, dan Sutrisno berpura-pura tidak mengerti. "Oh—maksudmu gurunya? Saras. Namanya Saraswati."


Garin minum. "Apakah dia guru yang baik?" Dia bertanya.


"Aku rasa begitu. Nursy bercerita pada istriku, dia bilang Saras guru yang hebat dan anak-anak menyukainya, tapi kemudian kamu pasti juga bisa menebak kalau Nursy itu akan menganggap semua orang hebat."


Dia berhenti sejenak dan mencondongkan tubuh ke depan seolah bersiap untuk menceritakan sebuah rahasia. "Tapi istriku bilang bahwa Saras menarik. Seorang yang berpenampilan menarik, kalau kamu bisa ngerti maksudku, Pak."


"Apa hubungannya dengan sesuatu?" tanya Garin.


"Dia juga mengatakan bahwa dia lajang."


"Dan?"


"Dan ngga ada lagi." Sutrisno merobek sebungkus gula dan menambahkannya ke tehnya yang sudah dimaniskan. Dia mengangkat bahu. "Aku hanya ngasih tau kamu apa yang dikatakan istriku dan Nursy."


"Yah, bagus," kata Garin. "Aku menghargai itu. Aku ngga tahu bagaimana aku bisa melewati hari ini tanpa evaluasi terbaru dari Nursy."


"Oh, tenang saja, Garin. Kamu juga tahu kan, kalau dia selalu mencarimu dan nanyain kabar kamu."


"Tolong sampaikan ke dia bahwa aku baik-baik aja."

__ADS_1


"Astaga, aku tahu itu. Tapi Nursy mencemaskan kamu. Karena dia tahu kamu juga merokok, tahu!?"


__ADS_2