Jejak Takdir

Jejak Takdir
Perseteruan


__ADS_3

"Jadi, apa kita hanya akan duduk-duduk seperti dua pria yang ngga punya tujuan di sini, atau kamu punya alasan lain yang ingin kamu sampaikan?"


"Sebenarnya, ini pekerjaanku. Tapi aku harus membuatmu berpikir benar dulu supaya kamu ngga terburu-buru dalam mengambil tindakan."


"Pembicaraan tentang apa ini?"


Saat Garin bertanya, pramusaji menurunkan dua piring pecel ayam dengan sambal dan sayuran mentah di sampingnya, pesanan mereka yang biasa, dan Sutrisno menggunakan momen itu untuk menenangkan pikirannya. Dia menambahkan lebih banyak jeruk nipis ke sambal dan sedikit merica ke selada dan kolnya.


Setelah mempertimbangkan lalu memutuskan bahwa tidak ada cara mudah untuk mengatakannya, dia mulai mengungkapkan permasalahannya.


"Bara Putranto memutuskan untuk membatalkan tuntutan terhadap Alex Numan."


Bara Putranto adalah jaksa penuntut umum di Gajakarta. Dia telah berbicara dengan Sutrisno tadi pagi dan menawarkan untuk memberitahu Garin, tetapi Sutrisno telah memutuskan mungkin akan lebih baik jika dia yang menangani Garin.


Garin menatapnya. "Apa?"


"Kasusnya akan ditutup. Niko Kurniawan tiba-tiba mendadak amnesia tentang apa yang terjadi."


"Tapi aku ada di sana—"


"Kamu sampai di sana setelah upaya tangkap tangan itu terjadi. Kamu ngga melihatnya dari awal."


"Tapi aku udah nyerahin cukup banyak bukti tentang seluruh kejanggalan yang ditemukan dalam rencana anggaran beberapa tahun belakangan."


"Aku tahu, aku tahu... Tapi apa yang harus Bara lakuin? Niko itu bersumpah dan menyatakan, sistem e-budgeting telah berjalan dengan baik dan dipastikan jika tidak ada niat korupsi di dalamnya. Dia bilang dia bingung di hari penangkapan itu, tapi sekarang setelah pikirannya jernih, dia mengingat semuanya."


Garin tiba-tiba kehilangan nafsu makannya, dia mendorong piringnya ke samping. "Dari sekian dana yang dicairkan, sebagian besar tidak ada bukti SPJ-nya, kamu pasti juga sudah tahu itu dan—"


Sutrisno menggelengkan kepalanya. "Aku tahu itu menyakitkan buat kamu, tapi apa gunanya? Kamu tahu sebanyak apa kerabat dan saudara laki-laki Alex yang ada di departemen kita. Mereka nyaris mengisi setiap lini dan mereka dengan mudah juga mengatakan bahwa tidak terjadi penyelewengan apapun—dan siapa tahu, mungkin merekalah yang benar-benar melakukannya. Tanpa kesaksian Niko, pilihan apa yang dimiliki Bara? Selain itu, kamu tahu Alex. Dia akan melakukan hal lain—beri Bara waktu."

__ADS_1


"Itulah yang aku khawatirkan."


Garin dan Alex Numan memiliki sejarah panjang di antara mereka. Konflik bermula ketika Garin pertama kali menjadi calon camat delapan tahun sebelumnya.


Dia telah menangkap Aryo Numan, ayah dari Alex, karena penyerangan ketika dia melempari kediaman Garin dan terekam CCTV. Aryo telah menghabiskan waktu di penjara untuk itu—meskipun tidak selama yang seharusnya dia dapatkan—dan selama bertahun-tahun, dua dari lima putranya telah menghabiskan waktu di penjara juga untuk pelanggaran mulai dari perdagangan narkoba hingga provokasi massa dan kasus korupsi dana kampanye.


Bagi Garin, Alex menimbulkan bahaya terbesar hanya karena dia yang paling cerdas.


Garin menduga Alex lebih dari sekadar penjahat kelas teri seperti anggota keluarganya yang lain. Untuk satu hal, dia tidak terlihat seperti itu. Tidak seperti dua saudara laki-lakinya, dia menghindari tato dan memotong pendek rambutnya serta berpenampilan elegan, ada kalanya dia benar-benar melakukan blusukan hingga sudut kecamatan, memberikan bantuan langsung bahkan turun ke sungai untuk melihat permasalahan di sana. Dia tidak terlihat seperti penjahat, tetapi penampilannya menipu.


Namanya secara longgar dikaitkan dengan berbagai kejahatan, dan sebagian penduduk kota pendukung Garin sering berspekulasi bahwa dialah yang mengarahkan aliran narkoba ke Gajakarta, meskipun Garin tidak memiliki cara untuk membuktikannya. Semua penggerebekan dan upaya tangkap tangan mereka tidak membuahkan hasil, membuat Garin frustrasi.


Alex juga menyimpan dendam.


Garin tidak sepenuhnya mengerti sampai setelah Raka lahir. Dia menangkap saudara laki-laki ketiga Alex setelah kerusuhan pecah di depan kantor kecamatan dihari pengangkatan Garin.


Batu itu hampir mengenai mereka, dan pecahan kaca menggores pipi Raka. Meskipun dia tidak dapat membuktikannya, Garin tahu bahwa Alex entah bagaimana bertanggung jawab, dan Garin muncul di kompleks Numan, deretan cluster mewah di pinggir Gajakarta—dengan tiga anggota Reskrim Polsek setempat, senjata ditarik. Keluarga Numan keluar dengan damai dan, tanpa sepatah kata pun, mengulurkan tangan untuk diborgol dan dibawa masuk ke mobil.


Pada akhirnya, tidak ada tuntutan yang diajukan karena kurangnya bukti. Garin sangat marah, dan setelah Aryo dibebaskan, dia menghadapi Bara Putranto di luar kantornya. Mereka berdebat dan hampir bertengkar sebelum Garin akhirnya diseret.


Di tahun-tahun berikutnya, ada hal-hal lain, upaya pemukulan saat Garin turun ke keramaian, kebakaran misterius di garasi Garin, insiden yang lebih mirip dengan lelucon remaja. Tapi sekali lagi, tanpa saksi, Garin tidak bisa berbuat apa-apa.


Sejak kematian Maudy, keadaan relatif tenang.


Sampai penangkapan terakhir.


Sutrisno mendongak dari makanannya, ekspresinya serius. "Dengar, kamu dan aku sama-sama tahu dia sangat bersalah, tapi jangan berpikir untuk menangani ini sendiri. Kamu ngga ingin hal ini memanas kaya sebelumnya, kan... Kamu harus mikirin Raka sekarang, dan kamu ga selalu ada di sana untuk menjaganya. Ya, walau kita secara diam-diam tetap mengirimkan orang untuk mengawasi anakmu, tapi keteledoran bisa aja terjadi."


Garin memandang ke luar jendela saat Sutrisno melanjutkan.

__ADS_1


"Begini— kita tahu dia akan melakukan sesuatu yang bodoh lagi, dan jika ada kasus, aku akan menjadi orang pertama yang menanganinya. Kamu tahu itu. Tapi jangan cari masalah—dia berita buruk. Jadi tetap di sini, jauh darinya."


Garin masih tidak menanggapi.


"Lepasin, kamu ngerti?" Sutrisno sekarang berbicara bukan hanya sebagai teman, tapi juga sebagai orang yang memiliki kuasa di partai.


"Kenapa kamu ngasih tahu aku ini?"


"Aku baru aja ngasih tahu kamu alasannya."


Garin menatap Sutrisno lama sekali.


"Gini, Bro... Alex bilang kamu agak kasar saat hadir di lokasi penangkapannya, dan dia mengajukan pengaduan—"


Garin membanting tangannya ke meja, suaranya bergema di seluruh restoran. Orang-orang di meja sebelah melompat dan menoleh untuk menatap, tapi Garin tidak menyadarinya.


"Itu omong kosong—-"


Sutrisno mengangkat tangannya untuk menghentikannya. "Astaga, aku tahu itu, dan aku juga bilang itu ke Bara, dan Bara ngga akan ngambil tindakan apapun terkait itu. Tapi kamu dan dia bukan teman baik, dan dia tahu kaya apa kamu kalau sedang marah, jadi kamu harus bisa ngemdaliin diri juga."


"Jadi apa yang harus aku lakukan kalau aku menemukan lagi Alex melakukan kejahatan? Nengok ke arah lain?"


"Astaga, jangan—jangan bodoh. Aku akan memukul kepalamu kalau kamu ngelakuin itu. Jaga jarak aja untuk sementara, sampai semua ini mereda, kecuali ngga ada pilihan lain. Aku ngasih tahu kamu ini demi kebaikanmu sendiri, oke?"


Butuh beberapa saat sebelum Garin akhirnya menghela nafas. "Baik," jawabnya.


Namun, saat dia berbicara, dia tahu bahwa dia dan Alex belum selesai satu sama lain. Masih ada dendam yang terpendam dan masalah yang belum terselesaikan. Garin menyadari bahwa, meskipun dia akan berusaha menjaga jarak untuk sementara waktu seperti yang diminta Sutrisno, pertemuan selanjutnya dengan Alex bisa menjadi pemicu konfrontasi lebih lanjut.


Dalam keheningan, Sutrisno menatap sahabatnya itu penuh perhatian. "Garin, aku tahu apa yang kamu rasain. Tapi ingat, ada banyak cara untuk nanganin masalah ini. Biarkan hukum bekerja, dan jangan berbuat apa yang bisa merusak karirmu dan masa depan Raka."

__ADS_1


__ADS_2