
Keesokan hari.
"Hai, Ayah!"
Mendengar suara putranya, Garin menyingkirkan topi capingnya sedikit ke atas dan menengadah ke arah Raka berdiri. Mereka berada di halaman, menyapu daun-daun kering dari pohon mangga yang sedang berbunga tahun ini.
"Ya?"
"Aku minta maaf karena ngga jadi nonton Upin Ipin the Movie dengan Ayah malam tadi. Aku benar-benar lupa itu kemarin dan baru ingat pagi ini. Apa Ayah marah padaku?"
Garin tersenyum. "Ngga. Ayah sama sekali ngga marah."
"Apa Ayah ingin kita menonton itu sekarang?"
Garin menggelengkan kepala. "Mungkin ngga sekarang, aku dengar ada ada film yang lebih baik."
"Oya, apa itu?
"Wonka!"
"Wow Wonka! kita harus menonton itu, Yah"
"Ya, kamu harus sedikit bersabar. Ayah rasa pertengahan Oktober itu akan ada di Cinema."
"Baiklah, aku akan coba untuk sabar."
"Hahaha, sayang sekali Ayahmu ini ngga punya kemampuan untuk mengatur industri film."
"Aku senang Ayah ngga lebih sibuk dari yang ada sekarang."
"Aku juga senang bisa memiliki lebih banyak waktu bersama pria tampan kecil seperti kamu."
"Apa Ayah benar-benar berpikir aku ini tampan?"
"Tentu, kamu bisa lihat hidung kita sangat mirip. Hanya orang tampan yang memiliki hidung seperti kita."
" Ya, kelihatannya hidung ini berhasil membuat kita tampan. Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
Garin meletakkan sapunya, melepaskan topi, dan mengusap keningnya dengan punggung tangan. "Sebenarnya, Ayah berpikir untuk ketemuan dengan bu Saras malam ini."
"Lagi?"
Garin berpikir seberapa banyak yang seharusnya dia katakan saat ini. "Kami memiliki beberapa hal untuk dibicarakan, yaa.... semalam ada pembicaraan menarik diantara kami."
Apa yang akan Ayah dan bu Saras lakukan ?"
"Kami berencana untuk makan malam. Berbicara. Jalan-jalan."
"Itu aja?"
__ADS_1
"Kurang lebih."
"Kedengarannya ngebosanin."
"Ayah rasa kamu harus ada di sana untuk tau keseruannya."
Raka memikirkan hal itu sejenak. "Apa ini kencan lagi, Yah?"
"Mirip."
"Oh." Dia mengangguk lalu membuang muka. "Aku rasa itu artinya kamu menyukai dia, kan?"
Garin mendekati Raka, merendahkan dirinya hingga sejajar dengan mata putranya. "Dia dan aku hanya berteman saat ini, itu saja."
Raka sepertinya mempertimbangkan ucapan ayahnya cukup lama. Garin menggendong dan memeluk, meremas lengannya lembut. "Aku mencintaimu, Jagoan" katanya.
"Aku juga mencintaimu, Ayah."
"Kamu anak yang baik."
"Aku tahu."
Garin tertawa dan berdiri, menurunkan Raka dan meraih sapunya lagi.
"Hai Ayah!"
"Ya?"
"Apa yang ingin kamu makan?"
"Bisa kita pergi ke McDonald's?"
"Ide bagus. Kita sudah lama ngga pergi ke sana."
"Boleh aku memesan Happy Meal?"
“Hmm, apa menurutmu kamu ngga sedikit ketuaan untuk makan itu?”
"Umurku baru tujuh, Ayah."
"Oh, benar juga," katanya seolah-olah dia sudah lupa. "Ayo, kita masuk ke dalam dan mandi."
Mereka berjalan menuju rumah, dan Garin merangkul Raka. Setelah beberapa langkah, Raka mendongak.
"Hai ayah!"
"Ya?"
Raka berjalan diam beberapa langkah.
__ADS_1
“Aku ngga apa-apa kalau Ayah menyukai dia.”
Garin menunduk karena terkejut. "Dia?"
"Ya, ibu Saraswati" ucap Raka serius. "Karena menurutku dia menyukai Ayah."
Seperti mendapatkan restu dari seorang ayah, sejak percakapan dengan Raka pagi itu Garin semakin rajin bertemu dengan Saras.
Perasaan mereka semakin kuat seiring semakin seringnya mereka bertemu.
Sepanjang bulan Oktober mereka berkencan sebanyak setengah lusin, itu tanpa menghitung saat dia bertemu dengan Saras sepulang sekolah.
Mereka bisa mengobrol selama berjam-jam, pria yang sendirian itu menggandeng tangan wanita yang juga masih sendirian itu setiap kali mereka berjalan, dan meskipun hubungan mereka belum menjadi hubungan fisik, tetap saja ada unsur sensual dalam percakapan mereka yang tidak dapat disangkal oleh keduanya.
Kencan dua orang dewasa adalah mustahil untuk tidak memasukkan unsur dewasa dalam candaaan dan obrolan mereka.
Tapi Garin belum memiliki cukup keberanian untuk aksi dewasa lainnya. Dan Saras, dia pasti seorang wanita yang tabah.
Hari itu, Garin dan Saras sepakat untuk kencam yang sedikit berbeda. Mereka memutuskan untuk bergabung dalam permainan Squid Game manusia sesungguhnya.
Mereka mendaftarkan diri pada acara yang dipandu oleh pembawa acara yang agak terkenal sedikit, BluJoker.
Keduanya menggunakan kostum bewaerna hijau dengan angka sebagai identitas peserta. Garin mendapatkan angka 009 dan Saras 010.
Pada tahap pertama mereka mendapatkan tantangan dalam sesi 'Lampu hijau, Lampu Merah' dengan aturan ketika BluJoker meneriakkan 'Lampu Hijau' maka semua peserta berusaha berlari secepat mungkin ke arah garis finish dan ketika BluJoker meneriakkan 'Lampu Merah' maka semua peserta harus berhenti dan diam seperti patung. Garin yang terlambat berhenti akhirnya dinyatakan mati di tahap pertama itu.
Saras, dengan keberuntungan yang tidak biasa, secara mengejutkan berhasil lolos hingga ke tahap akhir yaitu menuju hadiah utama sepuluh juta poin. Pada tahap itu Saras harus memilih antara angka genap atau angka ganjil yang akan menjadi tangga penentu menuju sepuluh juta poinnya.
Tahap pertama berjalan sempurna, begitu juga pada beberapa tahap selanjutnya. Namun, ketika BluJoker memberinya pilihan apakah akan maju ke tahap sepuluh juta atau berhenti dengan membawa pulang delapan juta poin, Saras membuat pilihan yang salah. Dengan itu permainan berakhir dan Saras pulang tanpa membawa hasil.
Sepanjang perjalanan pulang Garin berusaha menghibur Saras yang berniat menceburkan dirinya ke danau karena merasa kecewa.
"Kalau kamu berniat menceburkan diri ke danau ajak aku sekalian." goda Garin.
"Dengan senang hati." jawab Saras ketus.
"Baiklah, hmm.. Aku harus membuat sebuah pesan yang jelas untuk Raka agar dia ngga menyalahkanku." Garin melirik wanita yang sedang memainkan kukunya sendiri itu.
Saat itulah Saras berbalik menatapnya. "Jahat, jadi kamu akan menulis kalau aku yang membuat dia jadi sendirian?"
"Ya, aku harus jujur tentunya." Garin mengedikkan bahu.
"Sebelum itu bagaimana kalau kita memberinya sebuah keluarga lengkap lagi?" ucap Saras.
Ngiiitttttt....
Garin menginjak rem sedalam-dalamnya. Rahangnya hampir jatuh mendengar kata-kata wanita disampingnya itu.
"Kamu serius?"
__ADS_1