
Garin baru saja keluar dari kamar mandi ketika dia mendengar telepon berdering.
Sebelumnya, dia sudah membuatkan sarapan untuk Raka dan mengantarnya ke sekolah, tapi alih-alih berjalan-jalan di rumah, dia malah merangkak kembali ke tempat tidur, untuk tidur beberapa jam lagi.
Walaupun dia tidak berhasil tidur sebanyak yang ia rencanakan, setidaknya dia bisa tertidur sebentar.
Dia akan bekerja dari siang hingga jam delapan malam untuk hari itu, dan dia menantikan malam yang santai setelahnya. Sebuah hari yang telah dia rancang sedemikian rupa.
Raka akan pergi, dia pergi ke bioskop bersama Jones, dan Saras menawarkan diri untuk mampir kerumah Garin agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
Panggilan telepon akan mengubah semua itu.
Garin mengambil handuk dan mengikatkannya di pinggang, menjawab telepon yang terus berdering setelah panggilan pertemanya gagal dia terima.
Sutrisno ada di ujung sana. Setelah berbasa-basi, Sutrisno langsung ke pokok permasalahan.
"Sebaiknya kamu ke kantor sekarang," katanya.
"Kenapa, ada apa?" tanya Garin.
"Polisi membawa Amar Ulah tadi malam, kamu tahu itu, bukan?"
"Ya, benar." jawab Garin dengan kening berkerut.
"Dia mengatakan bahwa dia melihatmu semalam." ucap Sutrisno.
"Oh... tentang itu. Aku kebetulan lewat dan menyapa polisi yang sedang bertugas dan melihat dia di sana. Apakah ada masalah?" tanya Garin.
“Aku belum yakin. Seberapa cepat kamu bisa tiba di sini?” tanya Sutrisno.
Garin tidak yakin apa pendapatnya tentang hal itu, dan dia juga tidak benar-benar memahami nada yang digunakan Sutrisno.
"Aku baru saja selesai mandi. Mungkin setengah jam?" jawab Garin.
"Saat kamu sampai, pastikan kamu mengabariku, aku akan keruanganmu untuk berbicara. Aku akan menunggu." ucap Sutrisno.
"Apa ngga bisa kamu setidaknya memberitahuku apa maksud dari kesibukan ini?"
Ada jeda panjang di seberang sana.
“Datanglah ke sini secepat mungkin. Nanti kita bicara lagi." tutup Sutrisno.
Setelah panggilan berakhir, dengan rasa penasaran di kepala, Garin berpakaian. Selang beberapa saat kemudian dia telah berada di tempat biasa mobilnya terparkir saat di kantor.
__ADS_1
"Jadi, tentang apa semua ini?" Garin bertanya.
Begitu dia tiba, Sutrisno menariknya ke kantor dan menutup pintu di belakangnya.
"Ceritakan padaku tentang tadi malam." ucap Sutrisno.
"Dengan Amar Ulah, maksudmu?"
“Mulailah dari awal.” pinta Sutrisno.
"Um... saat itu sudah lewat tengah malam, aku merasa sedikit lapar setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, jadi aku keluar untuk membeli nasi goreng kebuli di ujung jalan dari Restoran Kebuli Kebul--kamu tahu, kan? Yang di dekat Alpamidi."
Sutrisno mengangguk, menyilangkan tangannya. "Lanjutkan," katanya.
"Hanya menunggu sebentar untuk dapat beberapa kotak nasi gorengku. Saat itu sepi, dan aku tahu tempat itu akan segera tutup. Sekitar jam dua pagi, dalam perjalan aku kembali melihat petugas yang aku kenal, jadi aku berhenti untuk menyapanya dan berbagi nasi goreng, dan itu adalah hal baik yang aku lakukan. Saat itulah aku mengetahui bahwa ada Amar Ulah di snaa yang dihentikan karena berulah lagi. Hanya itu saja dan aku segera pulang ke rumah." Garin menarik kedua bahunya.
Sutrisno tidak berkata apa-apa, tapi matanya tidak pernah lepas dari Garin. "Ada yang lain?"
"Ngga ada. Apa ada masalah dengan Amar Ulah atau polisi semalam? Apa ada yang terluka atau semacamnya?" desak Garin.
"Bukan, ini bukan tentang itu." ucap Sutrisno.
Lalu ada apa?
Garin berpikir sejenak. "Ngga ada. Dia tahu siapa aku, tapi aku bisa pastikan bahwa dia sama sekali ngga ada mengatakan apapun bahkan dia ngga memanggil namaku......" Garin terdiam, mencoba mengingat apakah ada hal lain.
"Apa dia bertingkah aneh menurutmu?"
"Kelihatannya ngga seperti itu... hanya sekedar diluar saja, kamu tahu dia sering bermasalah dengan minuman, kan?"
"Hah... ," gumam Sutrisno, dan dia tampak melamun lagi.
"Ayo, Sutrisno, ceritakan padaku apa yang terjadi." Pinta Garin.
Sutrisno menghela napas. "Dia bilang dia ingin bicara denganmu."
Garin menunggu, mengetahui masih ada lagi yang akan diucapkan Sutrisno selanjutnya.
"Dia hanya ingin berbicara langsung denganmu. Dia bilang dia punya informasi."
Garin juga mengetahui sejarah Amar Ulah. "Dan?"
"Dia ngga mau mengatakan apapun pada polisi atau padaku. Tapi dia bilang ini masalah hidup dan mati."
__ADS_1
Setelah perbincangan itu, selang setengah jam kemudian Garin dan Sutrisno telah berada di tempat dimana Amar di tahan.
Setelah izin khusus ia dapatkan, Garin bertemu dengan Amar langsung di ruang penahanannya.
Garin menatap Amar melalui jeruji, mengira pria itu tampak hampir di ambang kematian. Seperti pecandu alkohol kronis lainnya, kulitnya berwarna kuning pucat. Tangannya gemetar, dan keringat mengucur dari dahinya.
Sambil duduk di ranjangnya, dia tanpa sadar menggaruk-garuk lengannya selama berjam-jam, dan Garin bisa melihat garis-garis merah, berlumuran darah, seperti garis-garis lipstik yang dioleskan anak kecil di lengan pria itu.
Garin menarik kursi dan duduk ke depan, sikunya disandarkan pada lutut.
"Kamu ingin berbicara denganku?" Suara Garin.
Amar menoleh saat mendengar suaranya.
Dia tidak menyadari kedatangan Garin, dan sepertinya butuh beberapa saat baginya untuk fokus. Dia menyeka bibir atasnya dan mengangguk.
"Pak Camat."
Garin mencondongkan tubuh ke depan. "Apa yang ingin kamu bicarakan denganku, Amar? Wakilku cukup gugup di lantai atas. Dia bilang kamu memberitahunya bahwa kamu punya informasi untukku."
"Kenapa kamu membiarkan polisi itu membawaku kesini tadi malam?" Amar bertanya. "Aku ngga melukai siapa pun." Dia berkata seolah-olah apa yang terjadi padanya adalah akibat pengabaian Garin semalam.
"Kamu mabuk semalam. Dan kamu berada di jalanan. Itu kejahatan." Balas Garin dengan tenang.
"Tapi kamu kan bisa mengatakan sesuatu semalam agar aku ngga di tahan." Amar berbicara dengan menyeka bulir keringat yang terus mengalir membasahi dahinya.
Garin mencoba mencari tahu ke mana arah Amar dengan semua ini.
"Aku ngga punya wewenang untuk itu," katanya jujur. "Dan jika hanya itu yang ingin kamu bicarakan denganku, aku ngga ada waktu, ada hal lain yang lebih penting untuk aku lakukan."
Garin berpura-pura berdiri dari kursinya dan melangkah menyusuri koridor.
"Tunggu," cegah Amar.
Garin berhenti dan berbalik. "Ya?"
"Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu, Pak."
"Kamu bilang pada Sutrisno, ini masalah hidup dan mati." Garin langsung menuju poinnya.
Amar menyeka kening dan bibirnya lagi. "Aku ngga bisa kembali ke penjara. Aku—-aku benar-benar ngga ingin berada di sini, kamu harus menolongku , Pak. Aku dalam masa percobaan." Ucapnya dengan bergetar.
"Itulah yang terjadi. Kamu melanggar hukum, kamu masuk penjara. Apa kamu ngga pernah mempelajarinya?"
__ADS_1