
Amar Ulah, pada usia setengah baya, hidung lebar, dahi miring ke belakang, dan dagu yang sepertinya berhenti tumbuh sebelum seluruh tubuhnya berhenti tumbuh.
Ia menyisir rambutnya ke belakang hingga menutupi seluruh kepalanya, dengan bantuan sisir bergigi jarang yang selalu ia bawa.
Amar adalah seorang pecandu alkohol.
Namun, dia bukan tipe pecandu alkohol yang minum setiap malam. Amar adalah tipe pecandu alkohol yang tangannya gemetar di pagi hari sebelum meminum minuman pertamanya di hari itu, yang biasanya dia habiskan jauh sebelum kebanyakan orang berangkat kerja.
Meskipun dia menyukai Heiineken, dia jarang punya cukup uang untuk membeli apa pun selain minuman beralkohol termurah, Ciiu yang dia minum per botol.
Dari mana dia mendapat uang, dia tidak suka mengatakannya, tapi selain minuman keras dan uang sewa rumah, dia tidak butuh banyak uang untuk hal lainnya.
Jika Amar memiliki sifat yang bisa dihargai, itu adalah kemampuannya untuk membuat dirinya tak terlihat, dan akibatnya, dia punya cara untuk memahami hal-hal tentang orang lain.
Ketika dia minum, dia tidak bersuara atau mengganggu, tetapi ekspresi normalnya, mata setengah tertutup, mulut terbuka—membuatnya terlihat seperti seseorang yang jauh lebih mabuk daripada seharusnya.
Karena itu, orang-orang mengucapkan dan berbicara hal apapun di hadapannya.
Hal-hal yang seharusnya mereka simpan sendiri.
Amar Ulah menghasilkan sedikit uang yang dia dapat dari hasil tip polisi padanya.
Tidak semuanya. Hanya yang mana dia bisa tetap anonim dan masih bisa mendapatkan uang. Hanya polisi tertentu yang berkenan menjaga rahasianya, di mana dia tidak perlu bersaksi.
Penjahat, yang Amar tahu, mereka punya cara untuk menyimpan dendam, dan jika sampai mereka tahu siapa yang telah mengantarkan mereka pada permasalahan hukum, mereka tidak akan membiarkanya begitu saja. Jadi, Amar cukup tahu bagaimana untuk berhati-hati dengan hal itu.
Dia pernah mendekam di penjara, satu kali saat berusia awal dua puluhan karena pencurian kecil-kecilan di warung Uni dan dua kali saat berusia tiga puluhan karena kepemilikan gaanja.
Namun, kali ketiga dia kembali kebalik jeruji besi, dia berubah.
Pada saat itu, kecanduan alkoholnya sudah parah, dan dia menghabiskan minggu pertama dengan melawan withdrawal syndrome yang paling parah dan paling menderita dari yang bisa dibayangkan. Dia gemetar, muntah, berkeringat dingin dan ketika dia menutup matanya, dia melihat monster.
Dia juga hampir mati, meski bukan karena withdrawal syndromenya. Tetapi karena setelah beberapa hari mendengarkan Amar menjerit dan mengerang, pria lain di sel itu memukulinya hingga dia pingsan, sehingga dia bisa tidur.
Kejadian itu membuat Amar menghabiskan tiga minggu di rumah sakit dan mendapatkan pembebasan bersyarat karena petugas yang bersimpati atas apa yang telah dia lalui.
Amar Ulah tidak perlu menyelesaikan tahun dimana dia masih seharusnya menjalani hukuman di penjara, dia ditempatkan dalam masa percobaan dan diminta melapor secara berkala. Dan dia juga diperingatkan bahwa jika dia meminum atau menggunakan narkoba, hukumannya akan diberlakukan kembali.
Bayangan akan mengalami withdrawal syndrome, ditambah dengan pemukulan, membuat Amar sangat takut untuk kembali ke penjara.
Namun bagi Amar, tidak mungkin menghadapi hidup dengan tenang. Pada awalnya, dia berhati-hati untuk minum hanya dalam privasi rumahnya. Namun seiring berjalannya waktu, dia mulai bertemu dengan beberapa teman untuk minum lagi sambil tetap bersikap low profile.
Belakangan, dia mulai meremehkan keberuntungannya. Dia mulai minum dalam perjalanan menemui mereka, botolnya ditutupi dengan kantong kertas coklat atau disembunyikan dibalik pakaiannya.
Tak lama kemudian, dia mulai mabuk ke mana pun dia pergi, dan meskipun mungkin ada sedikit sinyal peringatan di otaknya, yang memberitahunya untuk berhati-hati, tapi dia terlalu gila untuk mendengarkannya.
Tetap saja, segalanya mungkin akan baik-baik saja, seandainya dia tidak meminjam sepeda ibunya untuk keluar malam itu. Dia tidak memiliki uang, namun dia tetap pergi dengan bersepeda untuk menemui beberapa temannya di sebuah bar kumuh, yang terletak di jalan berkerikil di luar batas kota.
Di sana, dia minum lebih banyak dari yang seharusnya dan sekitar jam dua pagi dia berjalan terhuyung-huyung menuju sepedanya. Dia berhasil keluar dari area parkir tanpa menabrak kendaraan lain, dan entah bagaimana dia juga berhasil mengendarai sepedanya menuju ke arah rumah.
Namun beberapa kilo meter kemudian, dia melihat lampu biru berkedip di belakangnya.
Seorang polisi yang mengendarai motor bergerak mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Ternyata kamu lagi, Pak Amar!" Polisi itu berseru, mendekat perlahan. Seperti kebanyakan polisi, dia mengenal Amar dari jejak rekamnya. Polisi itu mengamati gerak gerik Amar.
"Oh, hei, Pak Poilisi." Kata-kata itu keluar dengan tidak jelas.
"Apa kamu mabuk lagi?" Polisi itu bertanya.
"Ah ngga dong Pak..... Ngga... Aku ngga mabuk sama sekali." Amar menatap polisi itu dengan goyah. “Aku baru pulang dari mengunjungi beberapa teman.”
"Kamu yakin tentang itu? Kamu yakin ngga minum-minum?" tanya polisi itu meyakinkan.
"Iya Pak, aku sangat sadar saat ini." sahut Amar.
"Kamu mengkonsumsi obat-obatan?" tanyanya lagi.
"Ngga Pak, ngga. Bukan, aku ngga pernah mengkonsumsi itu lagi." jawab Amar.
"Kamu mengendarai sepeda dengan berbelok-belok di sepanjang jalan." ucap polisi itu.
"Hanya lelah." Seolah ingin menyampaikan maksudnya, dia mendekatkan satu tangan ke mulutnya dan menguap.
Polisi itu bisa mencium bau minuman keras di napasnya saat dia menghembuskan napas.
"Ah, ayolah... Ngaku aja, kamu udah minum berapa banyak malam ini?"
"Ngga, pak, beneran." elak Amar.
"Aku perlu melihat apa kamu berbicara jujur, sekarang aku akan membawa kamu dan sepedamu untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Oke, sekarang Kamu benar-benar terlihat mabuk, karena yang aku tahu pemakai sepeda memang ngga membutuhkan SIM."
Polisi itu turun dari motornya dan menghubungi seseorang melalui alat komunikasinya, kemudian dia mengarahkan senternya ke arah Amar. "Aku ingin kamu turun dari sepedamu sekarang dan berjalan lurus."
Amar tampak terkejut karena polisi tidak mempercayainya. "Untuk apa?"
"Tolong lakukan saja." perintah polisi.
“Kamu ngga akan menangkapku, kan?”
"Ayolah, jangan membuat ini lebih sulit dari yang seharusnya." balas polisi.
Amar sepertinya berdebat tentang apa yang harus dilakukan, meskipun dia sadar, dia lebih mabuk dari biasanya. Alih-alih bergerak, dia malah menatap polisi itu berlama-lama.
Saat itulah Garin lewat. Dia menurunkan kaca jendela dan berhenti untuk sekedar menyapa polisi itu.
"Selamat malam, Pak!" polisi itu memberi salam hormat pada Garin saat melihat kehadirannya.
"Ya." Garin mengangguk singkat.
"Apa dia Amr Ulah?" tanya Garin pada polisi.
"Siap, benar Pak, dia Amar Ulah," jawab polisi itu sigap.
"Oo ya, kayanya dia mengacaukan dirinya lagi," ucap Garin.
__ADS_1
Polisi itu tersenyum. "Ya, dia kelihatan demikian, Pak."
"Oke, apa kamu mau nasi goreng? Kebetulan aku membeli lebih," Garin menyodorkan sekotak nasi goreng pada polisi dan kemudian berpamitan untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
"Ayo." Polisi itu kembali pada Amar Ulah yang masih menatap mobil Garin yang menjauh.
Meskipun polisi mengulurkan tangannya, Amar hanya menggelengkan kepalanya, seolah mencoba memberi tahu polisi bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia bisa melakukannya sendiri.
Namun, ternyata turun dari sepedanya lebih sulit daripada yang diperkirakan Amar. Saat dia mencoba mengangkat salah satu kakinya, Amar malah terjatuh dan langsung pingsan.
Amar terbangun dengan menggigil keesokan paginya, benar-benar tenggelam dalam kondisinya. Yang dia tahu hanyalah bahwa dia berada di balik jeruji besi, dan kesadaran itu membuat pikirannya berputar-putar karena ketakutan yang melumpuhkan.
Sedikit demi sedikit, sebagian malam itu kembali padanya secara perlahan. Dia ingat pergi ke bar menaiki sepeda dan minum bersama teman-temannya. . . setelah itu, semuanya cukup berkabut hingga dia melihat gambar lampu berkedip.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, dia pun mengungkap fakta bahwa polisi telah membawanya masuk.
Namun, Amar memikirkan hal-hal yang lebih penting daripada apa yang terjadi malam sebelumnya, dan pikirannya berpusat pada cara terbaik untuk menghindari kembali ke penjara. Pikiran itu mendatangkan butiran keringat ke dahi dan bibir atasnya.
Dia tidak boleh kembali di penjara. Mustahil. Dia akan mati di sana. Dia mengetahui itu dengan kepastian mutlak.
Tapi dia telah berada di sana. Rasa takut semakin menjernihkan pikirannya, dan selama beberapa menit berikutnya, yang bisa dia pikirkan hanyalah hal-hal yang tidak bisa dia hadapi lagi.
Penjara.
Pemukulan.
Mimpi buruk.
Gemetar dan muntah.
Kematian.
Dia berdiri dengan gemetar dari tempat tidur dan menggunakan dinding untuk keseimbangan. Dia terhuyung ke jeruji, melihat ke koridor. Tiga sel lainnya sudah ditempati, tapi sepertinya tak seorang pun tahu apakah polisi penjaga ada di sana.
Ketika dia bertanya, dia disuruh tutup mulut dua kali, orang ketiga bahkan tidak menjawab sama sekali.
Ini adalah hidupnya untuk beberapa tahun ke depan.
Dia tidak cukup naif untuk percaya bahwa mereka akan melepaskannya, dia juga tidak mempunyai ilusi bahwa pembela umum akan melakukan hal yang baik.
Masa percobaannya cukup jelas dengan fakta bahwa pelanggaran apa pun akan berakibat pada penahanan wajib, dan karena rekor sebelumnya, tidak mungkin kali ini dia dapat lolos lagi. Tidak mungkin.
Memohon belas kasihan tidak akan berhasil, memohon pengampunan sama saja seperti meludahi angin. Dia akan membusuk di penjara sampai kasusnya terungkap, dan kemudian, ketika dia kalah, mereka akan membuang kuncinya.
Dia mengangkat tangannya untuk menyeka dahinya dan tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu. Apa pun untuk menghindari nasib yang pasti menantinya.
Pikirannya mulai berdetak lebih cepat, tertatih-tatih dan patah, namun tetap saja semakin cepat.
Satu-satunya harapannya, satu-satunya hal yang dapat membantunya, adalah memutar balik waktu dan membatalkan penangkapan yang dilakukan pada malam sebelumnya.
Namun, bagaimana dia bisa melakukan itu?
Kamu memiliki informasi, sedikit suara menjawab dari dalam kepalanya.
__ADS_1