
"Apa aku sudah memakai gaun yang tepat?" Saras bertanya.
"Ya, itu gaun yang sempurna." Jawab Garin.
"Baiklah, sebentar..." Saras pergi ke lemari, mengingat kata-kata ibunya di pesan, walau berharap dia tidak mendengarkannya. Saras benci kedinginan, dan dia adalah salah satu orang yang mudah masuk angin. Namun alih-alih memilih "yang besar, panjang, dan hitam" yang akan membuatnya tetap hangat, dia memilih jaket tipis yang serasi dengan gaunnya, sesuatu yang akan membuat ibunya mengangguk penuh penghargaan. Berkelas.
Ketika dia memakainya, Garin memandangnya seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak tahu caranya.
"Apa ada yang salah?" Saras bertanya sambil memakai jaketnya.
"Yah...di luar agak dingin dan berangin. Kamu yakin ngga ingin sesuatu yang lebih hangat?"
"Kamu ngga keberatan?"
"Kenapa aku keberatan?"
Saras kemudian dengan senang hati mengganti jaket (yang besar dan panjang berwarna hitam yang dikatakan ibunya sebagai jubah Batman), dan Garin membantunya mengenakan itu.
Sesaat kemudian, setelah mengunci pintu depan, mereka berjalan menuruni tangga. Begitu Saras melangkah keluar, suhu udara terasa menusuk di pipinya dan dia secara naluriah membenamkan tangannya ke dalam saku.
"Lihat kan, di sini sangat berangin untuk jaketmu yang lain."
"Ya, kamu benar," katanya sambil tersenyum penuh syukur. “Tapi ini ngga cocok dengan apa yang kupakai.”
"Aku lebih suka kamu merasa nyaman. Lagi pula, yang ini cocok untuk kamu."
Arghh... kamu dengar itu ibu!? Dia menyukainya.
Mereka mulai berjalan menuju parkiran, beberapa langkah kemudian sesuatu yang mengejutkan bagi dirinya sendiri dan Garin, Saras mengeluarkan tangan kirinya dari saku jaket dan melingkarkannya ke lengan Garin. Membuat pria itu menoleh seketika, dan Saras berusaha untuk tidak membalas tatapannya.
Garin membukakan pintu mobil untuk Saras dan mempersilahkannya untuk masuk dan duduk, lalu mengitari mobil menuju kursi kemudi.
"Ini akan memakan waktu sekitar dua puluh menit perjalan untuk sampai ke sana," jelas Garin.
"Jadi," kata Saras, "biarkan aku bercerita tentang ibuku."
Beberapa menit kemudian, Garin tidak bisa menahan tawa. "Dia terdengar hebat."
"Mudah bagimu untuk mengatakannya. Dia bukan ibumu."
"Itu hanya caranya menunjukkan kepadamu bahwa dia mencintaimu."
"Aku tahu. Tapi akan lebih mudah kalau dia ngga selalu terlalu khawatir. Kadang-kadang aku pikir dia melakukannya dengan sengaja hanya untuk membuatku kesal."
__ADS_1
Meski terlihat bercerita dengan kesan jengkel, Saras tampak sangat bersinar dalam terpaan cahaya lampu jalanan yang baru saja mulai menyala dan melintas masuk, Garin memperhatikannya.
Tepat dua puluh menit kemudian, mobil telah terparkir di area parkir Café Gajakarta.
Cafe Gajakarta adalah salah satu tempat terbaik di kota. Kafe yang sudah beroperasi sejak tahun 1993 dengan gaya bangunan kolonial dan menyajikan hidangan yang sangat autentik.
Dulunya, bangunan Cafe Gajakarta digunakan untuk penginapan, seiring berjalannya waktu bangunan tersebut dibeli oleh seorang keturunan Prancis yang tinggal di daerah kecamatan Gajakarta di mana fungsi bangunan dirubahnya menjadi restoran sampai sekarang.
Cafe Gajakarta mempertahankan suasana di dalam restoran tetap seperti awal mula restoran tersebut beroperasi, getaran kolonial tetap terasa, ditambah pelayanan bintang lima dan juga hidangan yang lezat. Salah satu makanan yang menjadi favorit di sana adalah Rujak Kepiting, yaitu daging kepiting cangkang biru yang disajikan dengan irisan buah mangga dan saus rujak yang nikmat.
Saras dan Garin duduk di sudut dekat jendela. Ada beberapa meja lainnya, dan meskipun hampir semuanya terisi, orang-orang berbicara dengan suara pelan.
"Kamu memilih tempat yang bagus," puji Saras.
"Ya, ini salah satu yang terbaik yang dimiliki Gajakarta, aku rasa setiap harus ke sini, setidaknya satu kali dalam seumur hidup. Kamu mungkin bisa mengajak keluargamu ke sini."
"Mmm...kurasa kamu benar," kata Saras.
Garin tersenyum. "Yah, setidaknya keluargamu ada bersamamu. Seperti yang kubilang saat kita pertama kali bertemu, aku bahkan jarang berbicara dengan ayahku lagi."
"Dimana dia sekarang?" Tanya Saras.
"Aku ngga tahu dengan pasti. Aku mendapatkan panggilan telepon beberapa bulan yang lalu dari Serawak, Malaysia, tapi aku ngga tahu apakah dia masih di sana. Dia biasanya ngga tinggal di satu tempat terlalu lama, dia jarang menelepon, dan sangat jarang berhasil kembali ke kota ini. Dia sudah bertahun-tahun ngga bertemu denganku atau Raka."
"Dia memang memang begitu. Seringkali, aku mendapat kesan dia ngga suka kami ada di sini."
"Kami?"
"Aku dan ibuku."
"Bukankah dia mencintai ibumu?"
"Aku ngga punya jawaban untuk itu."
"Oh ayolah...."
"Aku serius. Dari kisah yang aku dengar mereka menikah di usia yang terbilang muda, dan sejujurnya aku ngga bisa mengatakan bahwa mereka memang ditakdirkan untuk satu sama lain. Mereka menjadi sangat panas dan dingin--suatu hari mereka saling jatuh cinta, dan keesokan harinya dia sedang melemparkan pakaian ibuku ke halaman depan dan menyuruhnya untuk ngga pernah kembali. Dan ketika wanita itu meninggal, dia langsung mengambil tindakan dan pergi secepat yang dia bisa. Berhenti dari pekerjaannya, menjual rumah, membeli kendaraan baru, dan memberitahuku bahwa dia akan melihat dunia."
Saras mengerutkan kening. “Itu agak kurang biasa.”
"Ya, dia memang agak luar biasa. Aku tahu kamu akam terkejut dengan kisah ini, tapi kamu harus bertemu dengannya untuk mengetahui apa yang aku bicarakan." Garin menggelengkan kepalanya sedikit.
“Bagaimana ibumu meninggal?” Saras bertanya dengan lembut.
__ADS_1
Ekspresi aneh dan tertutup terlintas di wajahnya, dan Saras langsung menyesal mengungkitnya. Dia mencondongkan tubuh ke depan. "Maaf, itu ngga sopan. Seharusnya aku ngga bertanya."
"Ngga apa-apa," kata Garin pelan. "Aku ngga keberatan. Itu terjadi sudah lama sekali, jadi ngga sulit untuk membicarakannya. Hanya saja aku sudah bertahun-tahun ngga membicarakannya. Aku ngga ingat kapan terakhir kali ada yang bertanya tentang ibuku."
Garin mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja tanpa sadar sebelum duduk sedikit lebih tegak. Dia berbicara tanpa basa-basi, seolah-olah dia sedang berbicara tentang seseorang yang tidak dia kenal. Sarah mengenali nadanya: Begitulah cara dia berbicara tentang Aldi sekarang.
"Ibuku mulai merasakan sakit di perutnya. Kadang-kadang, dia bahkan ngga bisa tidur di malam hari. Jauh di lubuk hatinya, aku rasa dia tahu betapa seriusnya penyakit itu, dan saat dia akhirnya pergi ke dokter, kankernya sudah pada stadium akhir." menyebar ke pankreas dan hatinya. Ngga ada yang bisa dilakukan siapa pun. Dia meninggal kurang dari tiga minggu kemudian."
"Maaf," kata Saras, tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Aku juga," katanya. "Aku pikir kamu akan menyukainya jika kalian bisa bertemu."
"Aku yakin itu." Timpal Saras.
Mereka disela oleh pelayan saat dia mendekati meja dan menerima pesanan minuman mereka. Seolah diberi isyarat, Saras dan Garin meraih menu dan membacanya dengan cepat.
"Jadi, apa yang bagus?" Saras bertanya.
"Semuanya, sungguh."
“Ngga ada rekomendasi khusus?”
"Aku mungkin akan memesan soto."
"Mengapa hal itu ngga mengejutkanku?"
Garin mendongak. "Kamu ngga menyukai makanan berkuah?"
"Bukan itu maksudku sama sekali. Kamu hanya ngga menganggapku sebagai orang yang punya selera autentik." Saras menutup menunya.
"Jadi, apa yang kamu dapat?"
Dia tersenyum. " Soto Betawi dengan nasi."
"Lumpia dan Bitter Ballen sebagai hidangan pembuka!" Tambah Garin.
"Es cendol," Saras menimpali.
"Dan kopi Gayo."
" Bawakan juga Poffertjes untuk hidangan penutup," pinta Saras.
Garin menutup menunya dan mendorongnya ke sisi meja.
__ADS_1
Saras mengatur menunya di atas buku menu Garin.