
Ini adalah Sabtu yang indah dan pusat kota dipenuhi oleh orang-orang yang merayakan Festival Kemerdekaan, dan ibu ingin menghabiskan hari itu menelusuri stand makanan dan toko-toko antik di sepanjang jalan, juga tentu ia ingin menonton pertandingan-pertandingan langka yang hanya terjadi sekali setahun dalam festival.
Karena Kim ingin menonton pertandingan sepak bola antara Persib Bandung vs Barito Putra, Saras menawarkan diri untuk menemani ibunya.
Kim telah menjadi pendukung setia klub sepakbola dengan julukan Maung Bandung, ia akan mengikuti setiap laga tim kesayangannya itu di berbagai kesempatan, baik melalui televisi maupun menonton pertandingan langsung. Walau di tiga laga sebelumnya, Maung Bandung selalu gagal meraih kemenangan dan hanya bisa bermain imbang, hal itu tidak mengurangi kecintaan Kim pada tim asuhan Bojan Hodak itu.
Saras berpikir untuk memberikan waktu yang Kim butuhkan, dia dan ibu mungkin bisa menghabiskan waktu yang menyenangkan di luar.
Ketika mereka berjalan kaki sambil berbicara, Saras berhenti di salah satu stand makanan dan memesan 2 cup Tteokbokki yang terlihat merah, berasap dan membuat air liurnya nyaris tumpah.
"Dimana kamu pada hari Jumat?" tanya ibunya.
Ibunya menyandarkan tubuhnya lebih dekat sambil mengagumi makanan Korea yang berderet-deret di depan wajahnya. "Apakah kamu menghabiskan malam di apartemenmu?"
"Ya. Mengapa?"
"Karena aku menelepon beberapa kali dan teleponmu hanya berdering."
"Aku menyetel mode diam."
"Iya, benar. Aku kira kamu mungkin bersama seseorang."
"Seseorang? Siapa?"
Ibunya mengangkat bahu. "Aku ngga tahu, seseorang saja."
Saat mereka berbicara, Saras mulai mencicipi makanan pedas di tanganya. Mereka kembali melanjutkan berjalan menyusuri setiap tempat yang terlihat memiliki kegiatan menarik.
Dari kejauhan, terlihat sebuah tiang tinggi dengan banyak hadiah bergelantungan di atasnya. Diantaranya sebuah sepeda, televisi layar datar, dan beberapa buah daster dengan corak meriah yang melambai-lambai tertiup angin tampak paling menarik perhatian pengunjung. Saras dan ibunya memutuskan untuk berjalan mendekat ke sana.
Beberapa pemuda tampak sedang bersiap-siap untuk memanjat saat Saras dan ibunya tiba. Dan Saras mengenal beberapa wajah dan nama diantara mereka.
__ADS_1
Panitia mulai berteriak kencang pada hitungan, semua peserta bersiap untuk memanjat. Suasana terasa semakin meriah. Saras dan ibu pun mulai menyemangati dengan bertepuk tangan dan berteriak.
"Mamang Kosim, semangat manggggggggggg!" teriak seorang wanita yang terlihat seusia dengan Saras.
"Mas Saktiiii aku padamuuuuuuuuu!" teriak seorang wanita lain yang Saras ingat dia bernama Amoy.
Saras tersenyum geli mendapati Amoy yang terus melompat-lompat kecil menyemangati pria yang berprofesi sebagai tukang pangkas rambut itu sembari memegangi perutnya yang membuncit.
"Ingaat ya masssss, aku maunya tiviiiiiiiii, aku ngga mau sepeda atau setrikaan, aku maunya tiviii.... Pokoknya tiviiiiiiiiii..." teriak wanita itu lagi pada suaminya yang tengah besusah payah memanjat tiang licin yang berlumur minyak dan air itu.
Terlihat pria bernama Sakti itu mengacungkan satu jempolnya sebagai tanda bahwa ia mendengarkan kata-kata istrinya.
"Wooooiii Bang Saktiiiiiiii, anak Jin nitip daster lima, tolong ambilin yaaaaaaaa," teriak seorang gadis muda bewajah manis dari kerumunan.
Saras kerap melintasi rumah gadis itu saat menuju ke sekolah, dan mendapati gadis itu beberapa kali sedang menjemur pakaian, menyapu halaman, memanjat pohon mangga, mengecat pagar, memperbaiki genteng yang rusak, menggali sumur, dan banyak lagi kesibukan lain yang gadis itu lakukan setiap kali Saras melintas. Dia seorang gadis yang rajin membantu ibu, demikian penilaian Saras pada gadis berkerudung itu.
Kembali Saras memfokuskan pandangannya pada para laki-laki yang saling berebut menaiki tiang. Sesekali saat mereka terpeleset dan jatuh, Saras tak kuasa menahan tawa walau dalam hatinya takut berdosa. Tapi semua orang melakukannya. Saras dan ibunya pun larut dalam kemeriahan suasana.
Itu adalah hari yang benar-benar menyenangkan, dan mungkin memang begitu, jika bukan karena sakit perut yang sangat parah yang kemudian datang menyerangnya setelah menyantap seblak di mangkuk ke tiga.
Dia merasa perlu memberitahu ibunya bahwa dia tidak merasa baik-baik saja, tapi dia tidak ingin membuat ibunya khawatir. Atau kemungkinan yang lebih parah ibunya mungkin akan menyeretnya untuk memeriksakan diri ke dokter.
"Bu, aku mungkin perlu istirahat sebentar. Aku merasa sedikit sakit perut," kata Saras dengan suara lemah saat rasa melilit diperutnya semakin tidak tertahankan.
Ibunya langsung cemas. "Apa yang terjadi? Apa yang bisa aku lakukan?"
Saras mencoba tersenyum dan menggelengkan kepala. "Ngga, ngga apa-apa. Aku hanya butuh sedikit istirahat."
Ibunya meraih lengan Saras dengan penuh perhatian. "Aku akan bawa kamu pulang. Kamu bisa berbaring sejenak."
Tidak tahan dengan rasa sakit perut yang semakin parah, Saras setuju. Mereka meninggalkan festival dan pergi ke rumah.
__ADS_1
Ketika mereka tiba di rumah, Saras segera berlari menuju kamar kecil, sedikit merasa lega setelahnya walau gejolak diperutnya masih terasa. Dia kemudian berbaring di tempat tidur dan menutup mata. Ibunya mengurusinya dengan penuh kasih, membawakan air putih dan handuk dingin untuk ditempelkan di perutnya.
Beberapa jam kemudian, Saras terbangun dari tidur. Meskipun sakit perutnya masih terasa, itu sudah lebih baik daripada sebelumnya. Dia duduk dan melihat sekitar, melihat ibunya duduk di sisi tempat tidur.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Sayang?" tanya ibunya dengan lembut.
Saras merenung sejenak. "Masih ada sedikit rasa melilit, tapi sudah lebih baik."
Ibunya tersenyum. "Baiklah. Aku sudah membuatkan sup hangat untukmu. Mungkin akan membantu meredakan sakit perutmu."
Saras merasa bersyukur memiliki ibu yang begitu perhatian. Meskipun mereka memiliki perbedaan dalam memandang beberapa hal, ibunya selalu ada untuknya.
Saat ibunya pergi ke dapur untuk mengambil sup, Saras merenung tentang pernikahan mantan suaminya yang akan datang. Meskipun dia merasa terganggu oleh kabar itu, dia juga merasa kesal pada dirinya sendiri karena merasa terganggu. Dia ingin melupakan semuanya dan menjalani hidupnya tanpa merasa terpengaruh.
Saras tahu bahwa bijaksana untuk tetap menyimpan masa lalu di tempat terkucil dalam kepalanya dan memfokuskan diri pada masa depannya. Dia telah melewati masa sulit dan perpisahan dengan mantan suaminya. Meskipun perasaannya masih ada, dia harus berjuang melawan emosi tersebut.
Ibunya kembali dengan sup hangat.
"Kamu mau aku suapi?"
"Aku suap sendiri aja, Bu."
"Baiklah kalau begitu, pegang mangkuknya hati-hati, aku akan keruangan lain. Panggil ibu kalau kamu membutuhkan sesuatu."
"Tentu," jawab Saras.
Saras merasa bersyukur atas dukungan dan kasih sayang yang selalu diberikan wanita yang telah melahirkannya itu. Dia mulai menyantap perlahan sup hangat dari mangkuk. Benar-benar membuatnya merasa lebih baik dari sebelumnya, bahkan perasaannya.
Meskipun rasa sakit dan kebingungannya masih ada, Saras tahu bahwa dia memiliki kemampuan untuk menghadapinya. Dengan dukungan ibu dan keluarga kecil mereka dan tekadnya sendiri, dia bisa bangkit dan melanjutkan hidupnya dengan semangat baru.
Kim pernah mengatakan padanya, bahwa menderita kekalahan itu tidak apa-apa, tapi kita harus selalu siap untuk laga-laga selanjutnya dengan tekat untuk menang.
__ADS_1