Jejak Takdir

Jejak Takdir
Menjadi Tamu


__ADS_3

"Dia akan datang, Bu, beberapa hari lagi. Seperti yang kubilang, dia dan Raka akan mampir untuk makan siang di hari Sabtu."


"Aku tahu kamu bisa diandalkan, gadis kecilku." Ibu mencubit senang hidung bangir Saras.


"Tapi, kenapa Ibu memilih makan siang untuk merayakan ulang tahun ayah kali ini?" Tanya Saras.


"Itu, bukankah kamu bilang dia harus pergi lebih awal?"


"Ya, dia harus berangkat kerja sekitar jam empat sore."


“Sedang berlibur?”


"Dia bekerja pada hari Sabtu agar dia bisa mendapat libur akhir tahun dengan tenang bersamaku, aku rasa. Dia seorang camat, lho. Bukan berarti mereka bisa membiarkan semua orang mengambil cuti itu dengan leluasa."


"Kamu terdengar sombong dan mengada-ada." Cibir ibu.


"Aku hanya bercanda. Dia ada rapat di hari Senin, dan itu butuh persiapan. Dia akan langsung menuju langsung ke kantornya sepulang dari sini." Jelas Saras.


"Jadi siapa yang akan mengawasi Raka setelah itu?" Tanya ibu.


"Baiklah. Aku mungkin akan menawarkan untuk dia meninggalkan Raka di sini. Raka akan mulai mengantuk setelah pukul tujuh dan bisa tertidur lelap pada pukul setengah delapan, dan mungkin dia akan membawanya pulang saat itu."


"Begitu awal?"


"Ya, jadwalnya sudah cukup teratur sepanjang hari. Jangan khawatir. Kami akan tetap berada di sini sepanjang siang ke sore.”


"Kamu benar," ucap ibu. "Hanya saja aku sedikit lelah dengan semua ini."


“Jangan khawatir, Bu. Ibu sudah mengerjakan ini dengan sangat baik, aku yakin ngga akan ada yang salah.”


...🔹🔹🔹💠🔹🔹🔹...


"Apa akan ada anak-anak lain di sana?" Raka bertanya.


"Aku ngga tahu," jawab Garin. "Mungkin ada."


"Laki-laki atau perempuan?"


"Aku ngga tahu."


"Yah... berapa umur mereka?"


Garin menggelengkan kepalanya. "Seperti yang kubilang, aku ngga tahu. Aku bahkan ngga yakin akan ada anak-anak lain di sana, sejujurnya. Aku lupa bertanya."


Raka mengerutkan alisnya. "Tetapi jika aku satu-satunya anak, apa yang akan aku lakukan di sana?"


“Menonton pertandingan sepak bola di TV bersamaku?”


"Itu membosankan."


Garin meraih putranya, menggesernya ke kursi depan hingga dia dekat.


"Yah, lagipula, kita ngga akan berada di sana sepanjang hari, karena aku harus bekerja. Tapi kita harus berkunjung setidaknya sebentar. Maksudku, mereka cukup baik untuk mengundang kita, dan tentu saja kita harus datang. Ngga sopan kalau kita langsung pergi setelah makan. Tapi mungkin kita bisa berbincang-bincang, jalan-jalan di halaman atau apalah."


"Dengan bu Saras?"


"Jika kamu ingin dia datang menemanimu."


"Oke." Dia berhenti, kepalanya menoleh ke arah jendela. Mereka meluncur melewati rerimbunan pohon Tabebuya Impetiginosa. "Ayah... menurutmu kita akan makan chocolate cake atau tumpeng nasi kuning nanti?"


"Umm... Aku rasa itu cake, mungkin dalam rasa yang ngga bisa kita duga."


"Apa akan seperti cake buatan Ayah?" Tanya Raka lagi.


"Aku yakin sekali. Kenapa?" Garin menatap putranya sekilas.


"Apakah rasanya akan lucu? Seperti tahun lalu?"


“Apakah kamu mengatakan kamu ngga menyukai masakanku?”


"Menurutku rasanya lucu."

__ADS_1


"Aku pikir ngga begitu."


"Bagiku, itu benar-benar lucu."


"Mungkin mereka juru masak yang lebih baik daripada aku."


"Aku harap begitu."


"Apakah kamu sedang berusaha merendahkan hasil masakan ayah?"


Raka menyeringai. "Semacam itu. Tapi rasanya lucu, lho."


Mobil terus melaju hingga akhirnya Garin dan Raka berhenti di depan sebuah rumah bata berlantai dua dan parkir di dekat pagar. Rumput halamannya memiliki ciri-ciri seseorang yang senang berkebun. Bunga krisan ditanam di sepanjang jalan setapak, gypsophila disebarkan di sekitar pangkal pohon, dan Bougenville dalam warna bervariasi ditanam dalam jarak-jarak yang diperhitungkan.


Saras membuka tirai dan melambai dari dalam rumah. Sesaat kemudian, dia membuka pintu depan.


"Wow, kamu terlihat mengesankan," katanya.


Tangan Garin tanpa sadar meraih dasinya. "Terima kasih."


"Aku sedang berbicara dengan Raka," katanya sambil mengedipkan mata, dan Raka menatap ayahnya dengan ekspresi penuh kemenangan.


Dia mengenakan celana panjang biru tua dan kemeja putih dan tampak cukup bersih untuk datang ke acara ulang tahun dan rencana untuk melanjutkan kegiatan di kantor ayahnya nanti. Dia memeluk Saras sekilas.


Dari belakang punggungnya, Saras mengeluarkan satu set mobil hot wheels, yang dia berikan kepada Raka.


"Untuk apa ini?" Raka bertanya.


“Aku hanya ingin kamu punya sesuatu untuk dimainkan selagi kamu di sini,” katanya.


"Kamu menyukai ini?" Tanya Saras.


Raka menatap kotak itu. "Ini bagus! Ayah... lihat." Dia mengangkat kotak itu ke udara.


"Ya, itu bagus. Apakah kamu sudah mengucapkan terima kasih?"


“Terima kasih, Bu Saras.”


Begitu Garin mendekat, Saras berdiri lagi dan menyapanya dengan ciuman. "Aku hanya bercanda lho. Kamu juga terlihat tampan. Aku ngga terbiasa melihatmu mengenakan jas dan dasi di tengah hari." Dia meraba kerahnya sedikit. "Aku bisa mulai terbiasa dengan hal ini segera."


“Terima kasih, Bu Saras,” katanya sambil menirukan putranya. "Kamu sendiri terlihat cukup baik."


Dan Saras selalu melakukannya selalu di mata Garin. Malah, semakin lama dia mengenalnya, dia terlihat semakin cantik, tidak peduli apa yang dia kenakan.


"Kamu siap masuk ke dalam?" dia bertanya.


"Kapan pun kamu ingin kami berada di sana," jawab Garin.


"Bagaimana denganmu, Raka?"


"Apa ada anak lain di sini?" tanya Raka.


"Ngga ada. Maafkan aku. Hanya sekelompok orang dewasa. Tapi mereka sangat baik, dan mereka udah ngga sabar untuk bertemu dengan kamu."


Raka mengangguk dan matanya beralih ke kotak itu lagi. "Bolehkah aku membukanya sekarang?"


"Jika kamu mau. Itu milikmu, jadi kamu bisa membukanya kapan pun kamu mau." Jawab Saras.


"Jadi aku juga bisa bermain dengan mobil-mobil ini di luar?"


"Tentu," kata Saras. "Itulah sebabnya aku mendapatkannya agar kamu--"


"Tetapi pertama-tama," Garin menambahkan, memotong pembicaraan, "kamu harus masuk ke dalam dan menemui semua orang. Dan jika kamu kembali keluar untuk bermain, aku ngga ingin kamu menjadi kotor sebelum makan siang kita."


"Oke," Raka langsung menyetujuinya, dan dari raut wajahnya, sepertinya dia yakin dirinya akan tetap bersih.


Namun, Garin tidak punya ilusi. Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, bermain di tanah di luar? Tidak mungkin, tapi mudah-mudahan dia tidak menjadi terlalu kotor.


"Baiklah kalau begitu," kata Saras. "Ayo kita masuk. Tapi ada satu kata peringatan..."


"Apakah ini tentang ibumu?" Tebak Garin.

__ADS_1


Saras tersenyum. "Bagaimana kamu tahu?"


"Jangan khawatir. Aku akan bersikap terbaik, dan Raka juga akan melakukannya, kan?"


Raka mengangguk tanpa melihat ke atas.


Saras meraih tangan Garin dan mendekat ke telinganya. “Bukan kalian berdua yang aku khawatirkan.”


Dan mereka pun melangkah ke dalam.


"Jadi, ini dia!" Ibunya Saras menangis ketika dia keluar dari dapur.


Saras menyenggol Garin. Mengikuti tatapan matanya, Garin terkejut melihat ibunya sama sekali tidak mirip putrinya. Jika Saras berambut hitam kecoklatan, rambut ibunya mulai memutih seolah-olah pernah menjadi begitu hitam sebelumnya, jika Saras tinggi dan kurus, ibunya berpenampilan lebih keibuan.


Dan sementara Saras tampak meluncur ketika dia berjalan, ibunya tampak hampir terpental ketika dia mendekati mereka. Dia mengenakan celemek putih di atas gaun birunya dan mengulurkan tangannya saat dia mendekat, seolah menyapa teman-teman yang sudah lama hilang. "Aku sudah banyak mendengar tentang kalian berdua!"


Ibunya memeluk Garin dan melakukan hal yang sama pada Raka, bahkan sebelum Saras melakukan perkenalan resmi. “Aku sangat senang kamu bisa datang! Kami'... Itu... Rumahku penuh, seperti yang bisa kalian lihat, tapi kalian berdua adalah tamu kehormatan." Dia tampak agak pusing.


"Apa itu tamu kehormatan?" Raka bertanya.


“Itu artinya semua orang sudah menunggumu.” Saras membantu memberi jawaban.


"Benarkah?" Tanya Raka ragu.


"Ya, ya." Jawab ibunya Saras.


“Mereka bahkan tidak mengenalku,” kata Raka polos, sambil memandang sekeliling ruangan, merasakan tatapan orang asing tertuju padanya. Garin meletakkan tangannya di bahu Raka, menenangkannya.


"Senang bertemu denganmu, Bu. Dan terima kasih sudah menerima kami." Ucap Garin.


"Oh, dengan senang hati." Ibunya terkikik.


“Kami senang kamu bisa datang. Dan aku tahu Saras juga senang.” sambungnya.


"Ibu . . ." Protes Saras.


"Ya, ibu memang benar, kan? Kamu ngga ada alasan untuk menyangkalnya."


Ibunya Saras mengalihkan perhatiannya ke Garin dan Raka, berbicara dan cekikikan selama beberapa menit berikutnya. Ketika dia akhirnya selesai, dia mulai memperkenalkan mereka kepada kakek-nenek, serta kerabat Saras lainnya, yang semuanya berjumlah sekitar selusin orang.


Garin berjabat tangan, Raka mengikuti arahannya, dan Saras meringis melihat cara ibunya terus memperkenalkan Garin. "Ini teman Saras," katanya, tapi nada bicaranya--campuran antara kebanggaan dan persetujuan keibuan--tidak menimbulkan keraguan apa pun yang sebenarnya ia maksudkan. Ketika mereka selesai, ibunya tampak hampir kelelahan karena penampilan mereka.


Dia mengalihkan perhatiannya kembali ke Garin. "Sekarang, aku bisa membuatkanmu minum apa?"


"Bagaimana kalau teh, apa itu akan merepotkan ibu?" Ucap Garin berbasa-basi.


"Satu teh lagi. Dan bagaimana denganmu, Raka? Kami punya susu kotak atau minuman kaleng bersoda yang aman untuk anak berusia tujuh tahun."


"Minuman kaleng." Raka menentukan pilihan dengan cepat


"Biarkan aku membantumu menyipakan itu semua, Bu," kata Saras sambil memegang lengan ibunya.


"Sepertinya aku juga perlu minum."


Dalam perjalanan ke dapur, ibunya berseri-seri. "Oh, Saras... aku turut berbahagia untukmu."


"Terima kasih."


"Dia kelihatannya luar biasa. Senyumannya manis sekali. Dia tampak seperti seseorang yang bisa kamu percayai."


"Aku tahu."


"Dan anak laki-lakinya itu sayang."


"Ya ibu...."


"Di mana Ayah?" Saras bertanya beberapa menit kemudian. Ibunya akhirnya cukup tenang untuk mengalihkan perhatiannya kembali ke persiapan makan siangnya.


"Aku menyuruh dia dan Kim ke mini market Alpa beberapa menit yang lalu," jawab ibu. "Kita membutuhkan banyak biskuit dan roti lagi dan sejumlah minuman. Karena aku ngga yakin apa kita punya cukup semua itu."


Saras membuka oven dan memeriksa deretan muffin coklat, aromanya tercium ke seluruh dapur.

__ADS_1


__ADS_2