Jejak Takdir

Jejak Takdir
Undangan


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Aku masih ngga ngerti kenapa aku belum memiliki kesempatan untuk bertemu dengan dia."


Saras dan ibunya berada di toko serba ada, berjalan menyusuri lorong dan mengisi kereta belanja dengan semua yang mereka butuhkan.


Saras melihat, sepertinya kali ini ibunya berencana memberi makan beberapa lusin orang setidaknya selama seminggu. Dua kereta belanja berukuran besar terisi penuh.


"Apa kamu mau mencoba mengundang dia dalam acara ulang tahun Ayahmu? Aku pikir itu kesempatan yang bagus, tapi akan lebih bagus lagi kalau kamu bisa membawanya pulang sebelum hari itu." Ibunya terus bernegosiasi.


"Aku belum bisa menjamin dia akan bersedia datang, Bu," ujar Saras.


"Oya, aku dengar ayahmu akan mengundang tukang cukur langganannya dalam ulang tahunnya besok. Kamu tahu, tukang cukur itu memiliki hari ulang tahun yang sama dengan ayahmu!" ibu berbicara sembari mengumpulkan semua buah kalengan yang ia temui.


"Aku pernah sekali menemani Garin dan Raka memotong rambutnya di sana." ucap Saras dengan mengingat-ingat.


"Eh, benarkah?" ibu tiba-tiba menjadi semakin antusias.


Tangannya bahkan dengan semakin sigap meraih setiap barang yang ia lewati.


"Hmm... Seingatku begitu. Dia pernah pernah bilang bahwa itu adalah tempat cukur yang cukup populer di sini, dan dia sudah menjadi langganannya sejak lama," jelas Saras.


"Keberuntunganku! Berjanjilah kamu akan mencari cara untuk membawanya ke rumah kita, aku akan menyiapkan pesta ayahmu dan pesta tukang cukur itu." ibu terlihat berkali-kali lipat bersemangat dan mulai mendorong keretanya menuju meja kasir.


"Aku akan mencoba." jawab Saras sekenanya.


Ibu tiba-tiba menghentikan laju keretanya. "Ngga bisa, kamu ngga boleh hanya sekedar mencoba.. Bagaimanapun caranya kamu harus bisa mengundang dia untuk datang ke rumah."


"Tapi—–,"


"Ngga boleh ada tapi, eeee...., tapi bukannya dia akan lebih nyaman kalau dia datang sebelum itu ya? Jadi kita bisa punya kesempatan untuk saling mengenal?” ibu terlihat mempertimbangkan.


"Ibu akan punya banyak waktu untuk mengenal dia, Bu. Ibu kan tahu bagaimana suasana perayaan di setiap ulang tahun ayah."


"Tapi dengan adanya orang lain di sekitar, ngga mungkin dia bisa berkunjung seperti yang aku inginkan." ibu terlihat memijat keningnya.

__ADS_1


"Ibu bisa mengatur semuanya, mari kita selesaikan belanjaan ini dan aku akan pergi menemuinya setelah ini," ucap Saras.


"Itu ide bagus, ayo.. Bantu aku, cepat, cepat!"


...•••••••||°||•••••••...


"Apa kamu ingin menghabiskan malam Sabtu bersama Raka dan aku?" Garin bertanya.


"Ada sesuatu yang ingin kamu ajukan sebagai menunya?" Saras balik mengajukan penawaran.


Garin menggeleng. "Ngga ada, karena aku harus bekerja malam itu, tapi kita bisa makan lebih awal, dan aku rasa kita bisa memesan makanan secara online kalau kamu tidak punya rencana lain. Atau pilihan lainnya kita bisa menunda itu ke malam Minggu yang lebih santai."


"Aku ngga bisa untuk malam Minggu. Adikku pulang dari kampus dan ibuku sedang membuatkan makan malam besar untuk merayakan ulang tahun ayah. Dia mengundang banyak orang--bibi, paman, sepupu, kakek-nenek, dan beberapa kenalan dan juga tukang cukur. Jadi aku mungkin ngga bisa leluasa dihari itu." Jelas Saras.


Garin mengangguk kecil. "Kelihatannya akan jadi malam sibuk."


"Aku akan terlalu pengertian jika aku menyuruh ibuku untuk mengabaikanku saja." Gurau Saras.


"Hehhe... Aku rasa dia ngga akan melakukannya." Garin mengusal pelan puncak kepala Saras.


"Kenapa ngga?"


"Kenapa ngga!?" Saras mengulanginya dengan terkejut.


"Aku pikir kamu yang belum siap untuk itu." Garin mengedipkan mata.


"Errr.... hanya ngga ingin membuatmu takut."


Garin menatap Saras sesaat. "Dia ngga mungkin seburuk itu, kan?"


"Jangan terlalu yakin. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa bergabung dengan kami untuk merayakan ulang tahun ayah. Dengan begitu, kita bisa menghabiskan waktu dan kuenya bersama."ucap Saras.


"Kamu yakin ingin mengajakku datang? Tapi sepertinya rumahmu sudah penuh."


"Apa kamu bercanda? Bertambah beberapa orang lagi ngga akan ada bedanya. Lagi pula, dengan cara itu kamu bisa bertemu seluruh klan. Kecuali, tentu saja, kamu juga belum siap untuk itu." Tantang Saras.

__ADS_1


"Aku siap." Tantangan disanggupi.


"Kalau begitu kamu akan datang?" Saras memastikan.


"Rencanakan itu." Sahut Garin.


"Bagus. Tapi dengar, jika ibuku mulai menanyakan beberapa pertanyaan aneh, ingatlah bahwa aku mirip dengan ayahku, oke?" Saras mengajukan ibu jarinya.


"Kita akan lihat itu nanti," kekeh Garin.


"Kamu akan tau itu," cibir Saras.


"Baiklah, umm... Aku ada beberapa pekerjaan yang harus dilanjutkan di sini, aku harap kamu ngga keberatan." Garin menepuk tumpukan kertas di sampingnya.


"Tentu aja, aku akan menyeduh teh untuk menemanimu," Saras bergerak bangkit.


"Ide bagus." Garin tersenyum.


"Tapi—–." Garin menggantung tangganya di udara.


"Ya?"


"Ngggg..... Ngga jadi."


Saras berkedip tujuh kali.


Garin sedang meraih tumpukan kertas teratas saat tiba-tiba bibir lembut dan basah Saras menjalari tengkuk dan telinganya. Garin membeku seketika, matanya terpejam.


Dia melakukannya dengan lihai, wanita itu merapatkan tubuhnya dipunggung Garin, tangannya liar menyentuh tubuh dan wajah Garin yang perlahan terasa memanas.


Dan sebuah kecupan lembut di bawah telinganya. "Hukumanmu," bisik Saras di sana.


Dengan itu segera ia bangkit dan berlari kecil menuju dapur.


Garin menelungkupkan tubuhnya di atas meja dengan tangan terulur kedepan. "Kejam." katanya lirih.

__ADS_1


__ADS_2