Jejak Takdir

Jejak Takdir
Dulu


__ADS_3

“Untuk Maudy... aku hanya berharap dia ada di sana, di rumah kami saat aku pulang kerja, atau terbangun di sampingnya, atau melihatnya di dapur, di halaman.... di mana pun.


Meskipun kami ngga punya banyak waktu, ada sesuatu yang istimewa saat mengetahui bahwa dia selalu ada untukku, berada di sana jika aku membutuhkannya.


Kami sudah cukup lama menikah untuk melewati semua tahapan yang dilalui oleh orang yang menikah... yang baik, yang ngga begitu baik, bahkan yang buruk--dan kami akan tetap menjalani semua yang mungkin akan berhasil bagi kami berdua.


Kami berdua masih muda ketika kami memulai kehidupan pernikahan, dan kami mengenal orang-orang yang menikah pada waktu yang sama dengan kami. Setelah tujuh tahun, banyak teman yang bercerai dan beberapa sudah menikah lagi ."


Garin berbalik dari sungai dan merubah posisinya berhadapan dengan Saras. “ Tapi kami berhasil. Bagiku itu sesuatu yang aku banggakan, karena aku tahu betapa langkanya hal itu. Aku ngga pernah menyesali kenyataan bahwa aku sudah menikahinya. Ngga pernah menyesali itu sedikit pun."


Garin berdeham pelan.


"Kami dulu bisa menghabiskan berjam-jam hanya berbicara tentang segala hal, atau tentang hal-hal yang ngga berarti. Hal-hal yang ngga begitu penting.


Dia suka buku, komik dan novel online dan dia biasa menceritakan semua cerita yang sedang dia baca, dan dia melakukannya dengan cara yang membuatku ingin membacanya juga.


Aku ingat dia suka membaca di tempat tidur dan terkadang aku akan terbangun di tengah malam dan dia sudah tertidur pulas dengan ponsel masih menyala. Aku bangun dan meraih ponselnya untuk menutup aplikasi Manga toon yang dia buka dan mematikannya.


Itu terjadi lebih sering setelah Raka lahir - dia sering merasa lelah, tetapi bahkan pada saat itu, dia punya cara untuk bertindak seolah-olah dia ngga lelah. Dia luar biasa dalam mengasuh Raka.


Aku ingat ketika Raka mulai mencoba berjalan. Dia baru sekitar tujuh bulan, yang jauh lebih awal dari biasanya. Maksudku, dia bahkan belum bisa merangkak, tapi dia ingin berjalan. Maudy menghabiskan berminggu-minggu berjalan di seluruh rumah dengan tubuh membungkuk agar Raka bisa memegang jari-jarinya, hanya karena Raka suka itu.


Dia akan merasakan sangat nyeri menjelang waktu istirahat dan itu hingga membuat dia akan kesulitan bergerak keesokan harinya, kecuali jika aku memberinya pijatan. Tapi, kamu tau.....,"


Dia berhenti, menatap mata Saras.


"Dia ngga pernah mengeluh tentang hal itu. Seolah itu memang hal yang harus dia lakukan. Dia sering bilang padaku bahwa dia ingin memiliki tiga anak, tetapi setelah Raka, aku terus mencari alasan bahwa itu bukan waktu yang tepat, sampai akhirnya dia bersikeras mengambil keputusan.

__ADS_1


Dia ingin Raka memiliki seorang saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan, dan aku sadar bahwa aku juga ingin itu.


Aku tahu dari pengalamanku sendiri bagaimana sulitnya menjadi anak tunggal, dan aku berharap aku mendengarkan dia lebih awal."


Saras menelan ludahnya sebelum meremas lengan Garin lembut sebagai bentuk dukungan "Maudy terdengar hebat."


Di sungai, sebuah kapal pukat sedang berjalan menaiki saluran, mesinnya berdengung. Ketika angin sepoi-sepoi bertiup ke arahnya, Garin menangkap sedikit aroma shampoo strawberry dari TBS yang dia gunakan.


Untuk beberapa saat mereka berdiri dalam keheningan yang bersahabat, kenyamanan dari kehadiran satu sama lain menyelimuti mereka seperti selimut hangat di kegelapan.


Sekarang sudah larut. Saatnya untuk menyebutnya dini hari. Meskipun dia berharap bisa membuat malam ini bertahan selamanya, dia tahu dia tidak bisa. Nenek Win mengharapkan dia pulang paling lambat pada tengah malam.


“Kita harus pergi,” ucap Garin.


Lima belas menit kemudian, di luar gedungnya, Saras melepaskan lengannya dari tangan Garin agar dia bisa mencari kuncinya.


"Aku bersenang-senang malam ini," katanya pada Garin.


"Dan sampai jumpa besok?" Tanya Saras.


Butuh beberapa detik sebelum Garin ingat bahwa Saras akan pergi ke pertandingan Raka. "Jangan lupa--itu dimulai jam sembilan."


“Apa kamu sudah tahu dimana kita harus duduk nanti?” tanya Saras.


"Aku ngga tahu, tapi begitu kami berada di sana. Aku akan menjaga satu tempat duduk untukmu sampai kamu datang." Garin tersenyum kilat.


Dalam jeda singkat berikutnya, Saras mengira Garin mungkin akan mencoba menciumnya, namun Garin mengejutkannya dengan mundur selangkah.

__ADS_1


"Baiklah... ini sudah sangat larut, aku harus pergi..." pamitnya.


"Aku tahu," ucap Saras, senang sekaligus kecewa karena dia berharap Garin akan mencoba melakukan sesuatu. "Baiklah, kalau begitu berkendaralah dengan aman, hati-hati di jalan. Sampai jumpa besok."


"Sampai jumpa besok."


Sebelum berbalik, Garin teringat sesuatu dan dia menghentikan gerakannya.


Membuat harapan kecil kembali menyapa Saras yang mencoba berdiri sealami mungkin.


"Umm, apa kamu ingin aku menunggu kamu untuk naik lebih dulu? Tanya Garin kembali dengan canggung.


"Oh, ngga apa-apa.. kamu duluan, aku akan naik setelahnya. Jawab Saras dengan menahan kecewa kembali, namun di dalam hati sekaligus menertawakan perasaannya sendiri.


Dengan itu Garin kembali berpamitan.


Saras memperhatikan ketika Garin berjalan dan berbelok menuju sedan berwarna hitam dan membuka pintunya, lalu menyelinap ke belakang kemudi. Dia melambai untuk terakhir kalinya sebelum menyalakan mesin.


Saras berdiri di sisi tangga menatap lampu belakangnya sampai lama setelah dia pergi.


"Lumayan, permulaan yang cukup baik," ucapnya sebelum melangkah menaiki anak tangga.


Saras melepas sepatunya untuk mengurangi suara saat ia berjalan, ini sudah terlalu larut untuk membuat seseorang terjaga.


Setelah memutar anak kuncinya berulang, Saras melangkah masuk kedalam ruangannya. Duduk di sofa dan membuka tas tangannya untuk sekedar memeriksa ponsel yang tidak ia sentuh sama sekali selama berada di luar tadi. Dia sengaja membuat mode diam menyala untuk mengatasi gangguan. Dan.... Seperti yang telah dia perkirakan, setidaknya ada seratus atau seribu pesan masuk dari nomor ibunya.


Dengan takzim, Saras meletakkan ponselnya di atas meja. "Maafkan aku ibu, aku akan membaca pesan-pesanmu besok setelah aku bangun, tentu aja jika aku sempat dan tidak melupakannya."

__ADS_1


Lalu dia berjalan menjauh dan meninggalkan ponsel itu sendirian di atas meja.


Sekarang dia bisa merasakan penat pada kaki dan tumitnya. "Hmm, apa dia baik dalam memijat?" Saras membayangkan.


__ADS_2