
Selama beberapa hari berikutnya, Saras dan Garin menghabiskan semua waktu luang mereka bersama—bukan hanya untuk kencan, tetapi juga di sekitar rumah.
Raka, terlihat mempermasalahkan kehadiran Saras yang semakin intens, sederhana saja membiarkan pertanyaannya terlupakan untuk sementara waktu. Di kamarnya, ia menunjukkan koleksi kartu UNOnya kepada Saras, bercerita tentang memancing, dan mengajarnya cara melempar umpan. Terkadang, dia akan mengejutkan dengan meraih tangan gurunya itu saat ia ingin menunjukkan sesuatu yang baru.
Garin memperhatikan semuanya dari kejauhan, dia mengerti bahwa Raka perlu mencari tahu dengan pasti di mana posisi Saras dalam dunianya dan bagaimana perasaannya terhadap wanita itu.
Mengingat Saras bukanlah orang asing bagi Raka membuat hubungan keduanya lebih mudah akrab. Namun, Garin tidak bisa menyembunyikan rasa leganya melihat mereka berdua begitu baik berkomunikasi.
Memasuki libur setelah ujian di tengah semester, mereka pergi ke pantai dan menghabiskan sore hari mengumpulkan kerang-kerang, lalu pergi bersenang-senang dengan berkeliling mengendarai sepeda. Raka bergabung dengan sekelompok teman, sementara Saras dan Garin mengikutinya dengan berjalan santai sembari menikmati ombak.
Tentu saja, Nursy banyak bertanya kepada Saras di sekolah setelah kabar menyebar di kota. Wanita bertubuh ulala itu bahkan memiliki waktu untuk menyebarkan berita hangat mengenai Saras dan Garin sampai ke mang Andre yang tengah sibuk tapi harus menyimaknya sembari mengatur arus keluar masuk kendaraan di jam sibuk sekolah. Ya, itu gosip pagi. Mereka telah memulainya sekitar 10 menit sebelum gerbang benar-benar dibuka.
Begitu juga dengan Sutrisno, ia sempat bertanya langsung pada Garin tentang berita tersebut. "Aku rasa aku benar-benar mencintainya, ," kata Garin dengan tulus, dan meskipun Sutrisno, yang berasal dari kalangan tua, bertanya-tanya apakah semuanya berjalan terlalu cepat, ia tetap menghampiri Garin dan mengundang keduanya makan malam.
Mengenai Garin dan Saras, hubungan mereka berkembang dengan intensitas seperti dalam mimpi. Ketika mereka berpisah, mereka sangat merindukan kehadiran satu sama lain, ketika bersama, mereka ingin lebih banyak waktu bersama. Mereka bertemu untuk makan siang, berbicara di telepon, dan berkencan kapan pun mereka memiliki waktu tenang bersama.
Meskipun Garin memberikan perhatian kepada Saras, dia juga memastikan untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin sendirian dengan Raka. Saras juga berusaha sebaik mungkin untuk menjaga segala sesuatu agar tetap normal bagi Raka.
Ketika dia duduk bersama Raka di kelas setelah sekolah, dia memastikan untuk memperlakukannya dengan cara yang sama seperti sebelumnya, sebagai seorang siswa yang membutuhkan bantuan.
Saras kadang-kadang melihat Raka berhenti sejenak dalam pekerjaannya untuk memperhatikan dirinya dengan penuh spekulasi, maka Saras pun tidak akan menekannya lebih lanjut. Dan membiarkan pria kecil itu menemukan tujuannya kembali.
Pada pertengahan November, Saras mulai mengurangi jumlah hari yang mengharuskan Raka untuk tinggal setelah jam sekolah dari tiga hari menjadi satu .
Untuk sebagian besar, dia telah mengejar ketinggalannya, dia berkinerja baik dalam membaca dan mengeja, dan meskipun dia membutuhkan sedikit bantuan lebih dalam matematika, Saras berpikir satu hari dalam seminggu seharusnya cukup.
Malam itu, Garin dan Saras membawa Raka keluar makan pizza sebagai semacam perayaan. Dan putra camat Gajakarta itu terlihat cukup gembira. Dia bahkan mengundang sahabatnya, Jones.
__ADS_1
Namun belakangan, saat menidurkan Raka, Garin memperhatikan putranya tampak lebih pendiam dari biasanya.
"Kenapa wajahnya murung begitu, jagoan?" Tanya Garin pada suatu malam.
"Aku merasa agak sedih." Jawab Raka.
"Kenapa?" Selidik Garin.
"Karena...," katanya singkat, "aku ngga perlu sering-sering tinggal di kelas setelah jam sepulang sekolah."
"Tadinya Ayah berpikir kamu ngga suka tinggal dan harus melanjutkan pelajaranmu sepulang sekolah." Memperlihatkan keterkejutan kecil dalam intonasinya.
"Awalnya aku memang begitu, tapi sekarang aku menyukainya."ujar Raka.
"Oya?"
Dia mengangguk. "Bu Saras membuatku merasa istimewa."
Saras telah berada dalam hati Raka, itu kesimpulan yang Garin dapat.
Garin dan Saras duduk di tangga depan, menyaksikan Raka dan Jones melompat-lompat riang diatas trampolin di area bermain anak yang tersedia. Kaki Saras ditarik rapat dan dia memeluknya dengan erat.
"Gimana di sekolah, apa mereka masih terus menanyakan hal yang sama padamu?" Garin memulai pembicaraan santai meeka.
"Ya, tapi itu udah banyak mereda dari sebelumnya." Jawab Saras.
Dia menggoyangkan lututnya beberapa kali. "Nursy bahkan pernah mendatangi Raka di jam makan siang dan menanyainya banyak hal seputar kita." Adu Saras.
__ADS_1
"Itu sudah tabiatnya, tapi pada dasarnya dia hanya penasaran," ujar Garin meredakan.
"Aku rasa Nursy akan memilki karir yang bagus jika dia bekerja dibidang entertainment." Ucap Saras.
"Maksudmu sebagai host gosip atau admin berita gosip seperti akun Lambe-lambean?" Garin terkekeh.
"Aku harap ngga, karena aku ngga bisa ngebayangin betapa semangatnya dia untuk bangun di pagi hari dan pulang ke rumah terlalu larut. Dan aku yakin kamu adalah topik utama di beberapa konten yang akan dia tulis." Saras terkekeh membayangkan kesibukan rekannya di sekolah itu.
"Seandainya dia adalah seorang penulis novel, mungkin itu akan lebih aman untuk kita, dia ngga akan menulis kisah kita secara terang-terangan." Garin berandai-andai.
"Apa akan ada yang tertarik membaca kisah percintaan seperti kita ini?" Tanya Saras.
"Ah, aku akan memborong seluruh novel karangan Nursy, jika ngga ada orang lain yang berkenan membaca kisah yang dia tulis."
Mereka berdua terus memperbincangkan hal-hal yang mungkin sampai tak mungkin sembari menikmati hari yang beranjak malam.
Garin menawarkan Saras untuk berkunjung malam itu ke rumahnya. Ini pertama kalinya bagi Saras untuk berada di rumahh Garin pada malam hari. Selama mereka berkencan, malam-malam mereka lebih banyak dihabiskan di apartemen Saras.
Diperjalanan pulang Raka sudah lebih dahulu tertidur. Saat Saras mencoba untuk menggendong Raka ketika mereka sampai, Garin mencegahnya. "Dia berat, biar aku aja."
Saras kemudian membantu membuka pintu hingga ke kamar Raka, dan mengikuti Garin saat ia membaringkan Raka di tempat tidurnya.
Pria itu mengecup kening putranya sebelum meninggalkannya. Saras ingin melakukannya juga, tapi ia tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukan.
Saat Garin bergerak keluar ia mengikutinya begitu saja.
Garin bergerak ke arah kamar tidur diikuti Saras dibelakangnya. Saat Garin mulai melepas kaos polo yang ia pakai, Saras tersadar, dan berbalik hendak keluar dengan gugup. Tapi belum sempat ia melangkah, Garin menahannya. "Tetap di sini."
__ADS_1
Jantung Saras berdetak lebih cepat dari biasanya, saat ia di dorong pelan Garin untuk duduk di ranjang. Ini yang pertama kalinya.
Dan fakta bahwa ia berada di kamar dan ranjang, dimana Garin dan Maudy tidur dulu.