Jejak Takdir

Jejak Takdir
Ketegangan Malam


__ADS_3

"Jadi, gimana kabar kalian berdua, Oo wow, kamu bersama pak camat ternyata, ya? Aku sedikit ngga menduga kebetulan ini. Kamu wanita cantik yang menarik dan dia bapak camat kami yang terhormat, dan mari aku tebak..., kalian sedang berkencan, kan!?"


Saras merasa tegang secara otomatis atas pertanyaan Alex Numan. Sementra itu saudara dari laki-laki dari Alex, pria berambut panjang dan bertato itu berdiri tepat di belakangnya, di tangannya dia memegang sebotol bhir, matanya sayu.


Alex memberi hormat palsu pada Saras, dan Saras melangkah sedikit menjauh dari Alex, dan bergerak mendekati Garin.


"Dan gimana kabarmu, Pak Camat? Senang melihatmu lagi di sini."


Garin mengikuti pandangan Alex ke arah Saras tanpa memperdulikan sapaan pria itu.


"Itu adalah orang yang aku katakan padamu tadi," bisik Saras.


Alex mengangkat alisnya mendengar itu, tapi dia tidak berkata apa-apa.


"Apa yang kamu inginkan, Alex?" tanya Garin dengan waspada, mengingat apa yang dikatakan Sutrisno padanya.


"Aku ngga menginginkan apa-apa, santai aja Pak camat," jawab Alex. "Aku hanya ingin mengucapkan hai untuk nona Dina."


Garin berbalik. "Mau pergi ke bar?" tanyanya pada Saras.


"Tentu," sahut Saras.


"Iya, ya..... silakan, silahakn saja. Aku ngga ingin menghalangi kalian untuk berkencan," kata Alex. "Kamu punya gadis yang baik, pergilah ke sana," katanya. “Sepertinya kamu sudah menemukan seseorang yang baru.”


Garin tersentak, dan Saras melihat betapa menyakitkannya komentar itu. Garin membuka mulutnya untuk menjawab, tapi tidak ada kata yang keluar. Tangannya mengepal kuat, tapi kemudian dia malah menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah Saras.


"Ayo pergi," katanya. Nada suaranya mencerminkan kemarahan yang belum pernah Saras dengar sebelumnya.


"Oya, ngomong-ngomong," tambah Alex. "Semua urusan yang berhubungan dengan Bara, Jangan terlalu khawatir tentang hal itu, oke? Aku memintanya untuk bersikap lunak padamu."


Kerumunan orang, yang merasakan adanya masalah, mulai berkumpul di sekitar mereka. Garin menatap tajam ke arah Alex, yang membalas tatapannya tanpa bergerak. Sementara saudaranya sudah menyingkir, seolah bersiap melompat atau lari jika diperlukan.


"Ayo pergi," kata Saras sedikit lebih tegas, berusaha sekuat tenaga agar hal yang lebih tidak terjadi. Dia menggandeng lengan Garin dan menariknya. "Ayo... aku mohon, Garin," pintanya.


Itu sudah cukup untuk menarik perhatiannya. Saras meraih jaket mereka di kursi, menyimpannya di bawah lengan saat dia menarik Garin melewati kerumunan. Seiring perginya Saras dan Garin, kerumunan membubarkan diri dan kembali pada apa yang mereka tinggalkan sebelumnya.

__ADS_1


Tentu saja diantara mereka dapat dengan mudah mengenali sosok Garin sebagai seorang camat Gajakarta. Dan Saras sangat menyadari itu.


Dan semenit kemudian mereka sudah berada di luar. Garin melepaskan tangan Saras dari lengannya, marah pada Alex, marah pada dirinya sendiri karena hampir kehilangan kendali, dan ia berjalan menuju jalan raya. Saras mengikuti beberapa langkah di belakang, berhenti sejenak untuk mengenakan jaketnya.


"Garin... tunggu..."


Butuh beberapa saat hingga kata-kata itu meresap, dan Garin akhirnya berhenti, memandang ke tanah. Saat Saras mendekat sambil mengulurkan jaketnya, Garin seperti tidak menyadarinya.


"Aku minta maaf tentang kejadian di dalam," katanya, tidak mampu menatap mata wanita dihadapannya itu.


"Kamu ngga melakukan hal yang salah, Garin," katanya. Ketika Garin tidak bergeming, Saras mendekat.


"Apa kamu baik-baik aja?" dia bertanya dengan lembut.


"Ya... aku baik-baik aja." Suaranya sangat rendah sehingga Saras hampir tidak mendengarnya.


Untuk sesaat, dia tampak persis seperti Raka ketika Saras memberinya terlalu banyak tugas untuk dikerjakan.


"Kamu kelihatannya ngga baik-baik aja. Sebenarnya, kamu terlihat sangat buruk.” ucap Saras lagi.


Meskipun masih dengan menyimpan kemarahan, Garin tertawa pelan. "Terima kasih banyak."


Sebelum pria itu sempat membalas ucapannya, Saras kembali berkata. "Aku rasa ini udah terlalu malam untuk kita berjalan atau berlari pulang."


Garin kembali tersentak. "Owh, maaf... itu, umm... ayo kita kembali ke parkiran," ucapnya salah tingkah.


Garin melangkah melewati Saras dan berjalan mendahuluinya beberapa langkah, dan berhenti ketika dia menyadari bahwa Saras tidak mengikuti langkahnya.


Saras benar-benar menikmati senyuman di wajah kikuk pria itu. Lalu kemudian ia bergegas mendekat. Melingkari lengan Garin dengan tangannya, menuju area parkir.


Setelah mereka memasuki mobil dan kemudian mobil mulai menapaki jalan raya, Saras memecah kesunyian.


"Boleh aku bertanya ada apa di sana tadi?"


Setelah beberapa saat, Garin mengangkat bahu. “Ceritanya panjang.”

__ADS_1


“Biasanya begitu.” timpal Saras.


Mereka kembali diam beberapa saat, hanya suara deru kendaraan satu-satunya yang terdengar di jalanan.


"Kami punya sejarah," Garin akhirnya menjelaskan. "Ngga terlalu bagus."


"Aku menangkap bagian itu, tapi aku ngga tahu apa penilaian ku tepat" ucap Saras.


Garin tidak menanggapi.


"Dengar, jika kamu memilih untuk ngga membicarakannya, aku akan mengerti..."


Ini menawarkan Garin jalan keluar dari pembicaraan yang mungkin sulit untuk dia ungkapkan.


Saras kemudian mengatur posisi kursinya dan memasukkan tangannya ke dalam saku lalu menutup matanya untuk waktu yang lama.


Dan kembali membuka matanya saat ia merasakan mobil melambat. Garin menepikan mobilnya.


Selama beberapa menit berikutnya, dia memberi tahu Saras segalanya--tentang perseteruan selama bertahun-tahun, vandalisme di dalam dan sekitar rumahnya, luka di pipi Raka, berakhir dengan penangkapan terakhir dan bahkan peringatan Sutrisno. Saat dia berbicara, Saras mendengarkan dengan tenang.


Ketika Garin selesai, dia menatapnya. "Maaf aku menghentikanmu," katanya pelan. "Seharusnya aku membiarkan kamu menghajarnya hingga babak belur."


"Ngga apa-apa, aku senang kamu melakukannya. Dia ngga layak." Garin mengulas senyum singkat di wajahnya.


Mobil kembali bergerak, mereka melewati toko-toko yang telah tutup sepenuhnya. Itu mendekati pukul satu dini hari, keheningan, seolah-olah mereka berada di kuburan.


Begitu Garin dan Saras mendekati tepi sungai, mereka kembali berhenti untuk menatap air sungai berwarna tar yang mengalir perlahan di depan mereka. Air menghantam batu kapur di sepanjang tepi sungai dengan ritme yang stabil.


"Ceritakan padaku tentang Maudy," Saras akhirnya kembali memecah keheningan yang menyelimuti mereka.


"Maaf?"


“Aku ingin tahu seperti apa dia,” ucap Saras jujur. "Dia adalah bagian besar dari dirimu, tapi aku ngga tahu apa-apa tentang dia."


Sesaat kemudian, Garin menggelengkan kepalanya. "Aku ngga tahu harus mulai dari mana."

__ADS_1


"Yah... apa yang paling kamu rindukan darinya?" Tanya Saras.


Di seberang sungai, lebih dari satu kilometer jauhnya, mereka bisa melihat kerlap-kerlip lampu teras dan juga lampu dari ruang apartemen milik Saras, titik-titik terang di kejauhan yang tampak menggantung di udara seperti kunang-kunang di malam.


__ADS_2