
"Apa kamu menikmati pertandingannya?" Garin bertanya. Dia mengantar Saras ke mobilnya sementara Raka mengantri di konter makanan ringan bersama teman-temannya.
Pertandingan tersebut dimenangkan oleh tim Raka, dan setelah pertandingan, Raka berlari ke arah Saras untuk menanyakan apakah dia melihat golnya. Ketika dia menjawab ya, Raka berseri-seri dan memeluknya sebelum bergegas bergabung dengan teman-temannya.
Anehnya, Garin diabaikan begitu saja, meskipun fakta bahwa Raka menyukai Saras--dan sebaliknya--membuat Garin merasa sangat puas.
"tadi itu menyenangkan," akunya. "Tapi aku menyesal tadi datang agak terlambat untuk menonton pertandingannya."
Di bawah sinar matahari sore, kulitnya bersinar di balik warna kecokelatan yang masih dibawanya dari sisa musim liburan dibawah cahaya matahari tropis. Garin dapat menebak bahwa wanita itu menghabiskan waktu liburnya di wilayah pantai yang hangat.
"Ngga apa-apa. Raka keliatan senang kamu muncul." Dia meliriknya ke samping. "Jadi, apa agendamu setelah dari sini?"
"Aku akan menemui ibuku untuk makan malam di pusat kota."
"Di mana?"
"Saung Ayam Geprek Ceu' Sully? Itu adalah tempat makan kecil ngga jauh dari tempat tinggalku."
"Aku tahu tempatnya. Bagus sekali."
Mereka mencapai mobil Saras, Honda CR-V putih, dan Saras mulai mengobrak-abrik tas tangannya untuk mencari kunci, sementara Garin diam-diam memperhatikan setiap gerakannya.
Dengan kacamata hitam yang bertengger rapi di hidungnya, dia lebih terlihat seperti gadis kota daripada seseorang guru.
Ditambah lagi dengan celana jeans pendek dengan warna biru pudar dan kaki panjangnya, menambahkan sentuhan modern pada penampilannya, jauh dari citra seorang guru dan dia jelas tidak terlihat seperti guru Garin mana pun yang pernah menemani masa pendidikannya hingga tumbuh dewasa.
Di belakang mereka, sebuah MPV berwarna hitam mulai mundur. Sopir itu melambai dan Garin membalasnya tepat ketika Saras mendongak lagi.
"Kamu kenal dia?"
“Ini kota kecil. Kayanya aku kenal semua orang di sini deh.”
"Itu pasti melegakan bagi seorang camat."
"Kadang-kadang iya, kadang ngga juga. Kalau kamu punya rahasia, ini bukan tempat yang tepat untukmu, itu sudah pasti."
Untuk sesaat, Saras bertanya-tanya apakah pria itu sedang membicarakan dirinya sendiri. Sebelum dia sempat memikirkan hal itu, Garin melanjutkan.
“Hei, aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi atas semua yang kamu lakukan untuk Raka.”
“Kamu ngga perlu berterima kasih padaku setiap kali kamu melihatku.”
__ADS_1
"Aku tahu. Hanya saja aku melihat perubahan besar pada diri Raka beberapa minggu terakhir ini."
"Aku juga melihat itu. Dia mengejar ketinggalan dengan cukup cepat, bahkan lebih cepat dari yang aku kira. Dia sebenarnya mulai membaca dengan suara keras di kelas minggu ini."
“Aku ngga terkejut dengan hal itu. Raka punya guru yang baik.”
Yang mengejutkan Garin, Saras malah tersipu.
“Dia juga punya ayah yang baik.”
Dia menyukainya.
Dan dia menyukai tatapan yang diberikan wanita itu ketika dia mengucapkan kata-katanya.
Seolah tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya, Saras memainkan kunci ditangannya. Tidak lama kemudian dia memilih satu anak kunci dan membuka pintu depan mobil. Saat dia membuka pintu, Garin mundur sedikit, memberi ruang untuknya.
"Jadi, menurutmu berapa lama lagi Raka harus tetap tinggal sepulang sekolah?" Garin mencoba bertanya.
Terus berbicara. Jangan biarkan dia pergi dulu, pikirnya.
"Aku belum yakin. Tapi itu pasti sebentar lagi. Kenapa? Apa kamu mau mulai menguranginya sedikit?"
"Oh, bukan," sahut Garin segera. "Aku hanya penasaran."
"Oke," akhirnya Saras berkata. "Kami akan terus melanjutkan kegiatan seperti sekarang dan melihat bagaimana kinerjanya di bulan berikutnya. Apakah begitu ngga apa-apa?"
Bulan Lainnya! Dia akan terus menemuinya setidaknya selama itu. Bagus! Sorak Garin dalam hati.
"Kedengarannya seperti sebuah agenda yang bagus untuk melihat kemajuan Raka," Garin menyetujui.
Untuk waktu yang lama tak satu pun dari mereka mengatakan apa pun, dan dalam keheningan Saras melirik arloji di tangannya. "Umm baiklah, aku agak terlambat," katanya meminta maaf, dan Garin mengangguk.
"Aku tahu--kamu harus pergi," katanya, walau dalam hatinya ia tidak ingin wanita itu pergi dulu. Dia ingin terus berbicara. Dia ingin mempelajari semua yang dia bisa tentangnya.
Yang sebenarnya ia maksud adalah sudah waktunya mengajak wanita itu kencaan.
Dan jangan takut kali ini. Ngga perlu menutup telepon, ngga perlu membuang kesempatan.
Gerak cepat!
Tangkap kesempatannya!
__ADS_1
Jadilah seorang pria!
Lakukanlah!
Garin menguatkan dirinya, tahu dia sudah siap... tapi... tapi... bagaimana dia harus melakukannya?
Ya Tuhan, sudah lama sekali dia tidak berada dalam situasi seperti ini. Haruskah dia menyarankan makan malam atau makan siang? Atau mungkin film? Atau...?
Saat Saras mulai memasuki mobilnya, pikirannya memilah dan mencari dengan panik, mencoba mencari cara untuk memperpanjang waktu agar tetap bersamanya lebih lama lagi untuk mencari tahu hal apapun.
"Umm, tunggu... sebelum kamu pergi.... bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Garin berseru.
"Tentu." Saras menatapnya dengan heran.
Garin memasukkan tangannya ke dalam saku celana, merasakan kupu-kupu kecil di perutnya, merasakan tujuh belas lagi. Dia membuat gerakan menelan.
"Jadi...," dia memulai. Pikirannya berpacu, roda-roda kecil itu berputar untuk mendapatkan segala yang berharga dari kepalanya.
"Ya?" Saras tahu secara naluriah apa yang akan terjadi.
Garin menarik napas dalam-dalam dan mengatakan hal pertama dan satu-satunya yang terlintas dalam pikirannya.
"Bagaimana kabar kipas anginnya?"
Saras menatapnya, tergambar ekspresi bingung di wajahnya begitu kentara. “Kipas angin?” dia mengulangi.
Garin merasa seperti baru saja menelan banyak sekali aspal. Kipas angin? Apa yang dia pikirkan? Kipas angin? Apa hanya itu yang bisa dia pikirkan?
Seolah-olah otaknya tiba-tiba pergi berlibur entah kemana, tapi demi harga dirinya, dia tidak bisa berhenti....
"Ya. Kamu ingat kan... kipas angin yang aku berikan padamu untuk di pasang di kelas itu."
"Oh, ya..., kipas anginnya baik-baik aja sejauh ini," jawab Saras tidak yakin.
“Karena aku bisa membelikanmu yang baru jika kamu ngga menyukai kipasnya. Atau jika anak-anak tidak begitu menyukai warnanya”
Saras mengulurkan tangan untuk menyentuh lengan Garin, ekspresi kekhawatiran di wajahnya. "Apakah kamu baik - baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Gadin serius. "Aku hanya ingin memastikan kamu dan murid-murid di sana senang dan menyukai kipas anginnya."
"Kamu memilih kipas yang bagus, sangat oke." Ujar Saras sembari menaikkan ibu jarinya.
__ADS_1
"Bagus," balas Garin nyaris bergumam, berharap dan berdoa sambaran petir tiba-tiba menyambar dari langit dan membunuhnya di tempat.