Jejak Takdir

Jejak Takdir
Adakah Yang Terlewatkan?


__ADS_3

Butuh waktu hampir sepuluh menit untuk menghubungi Cian Putrianto.


"Heri Panoo? Ya, dia masih di sini," jawab Cian.


Sutrisno sedang mencoret-coret kertas di depannya. "Aku perlu bicara dengannya."


"Bisnis resmi?"


"Bisa dibilang begitu."


“Oke, itu ngga ada masalah dari sini. Kapan kamu berencana untuk datang, Pak?”


“Apa mungkin untuk sore ini?”


"Secepat itu ya? Pasti serius."


"Ya, begitulah."


"Baiklah. Aku akan mengirimkan kabar untuk dia bahwa kamu akan datang. Menurutmu jam berapa kamu akan tiba?"


Charlie memeriksa arlojinya. Jam sebelas lewat sedikit. Jika dia melewatkan makan siang, dia bisa sampai di sana pada sore hari.


"Bagaimana kalau jam dua?"


"Baiklah. Aku rasa kamu memerlukan tempat untuk berbicara berdua dengannya."


“Jika itu mungkin.”


"Ngga masalah. Sampai jumpa nanti."


Charlie menutup telepon, dan ketika dia hendak mengambil jaketnya, Rayi mengintip ke dalam.


"Apa kamu akan pergi ke sana, Pak?" Tanya Rayi.


"Harus," jawab Sutrisno.


"Oya, saat kamu sedang menelepon tadi, Cantika Saviero menelepon. Dia bilang dia perlu bicara denganmu."


Pengacara Alex Numan.

__ADS_1


Sutrisno menggelengkan kepalanya. "Kalau dia menelepon lagi, katakan padanya aku akan kembali sekitar pukul enam atau lebih. Nanti dia bisa menghubungiku."


Rayi menyeret kakinya. " Tapi dia bilang itu penting. Itu ngga bisa ditunda lagi."


"Pengacara. Jika mereka ingin bicara, itu penting. Jika dia perlu menghubungi mereka, lain ceritanya." gerutu Sutrisno.


"Apa dia ada mengatakan tentang hal apa itu?" tanya Sutrisno.


"Dia ngga mengatakan hal seperti itu. Tapi dia terdengar marah." jelas Rayi.


Tentu saja dia marah. Kliennya berada di balik jeruji besi dan belum dituntut. Tidak masalah-- Sutrisno dan polisi punya hak menahannya untuk saat ini. Namun, jam terus berdetak. Sutrisno tidak akan menunda apa yang seharusnya segera.


"Aku ngga punya waktu untuk berurusan dengan dia sekarang. Suruh dia menelepon lagi nanti." perintahnya.


Rayi mengangguk, bibirnya menyatu. Sepertinya masih ada lagi yang ingin dia katakan.


"Ada yang lain?" Tanya Sutrisno.


"Beberapa menit kemudian dari telepon sebelumnya, kepala polisi juga menelepon. Dia perlu bicara denganmu juga. Katanya ini mendesak." jawab Rayi.


Sutrisno mengenakan jaketnya sambil berpikir, Tentu saja. Di hari seperti ini, apa lagi yang bisa dia harapkan?


"Tapi--" jawab Rayi ragu-ragu.


"Lakukan saja, Rayi. Aku ngga punya waktu untuk berdebat." tegas Sutrisno.


Kemudian, setelah beberapa saat. "Suruh Paijo datang ke sini sebentar. Aku punya sesuatu yang harus dia urus."


Ekspresi Rayi menunjukkan dengan jelas bahwa dia tidak menyukai keputusan Sutrisno, tapi dia melakukan apa yang diperintahkan. Paijo Bin Paijah, seorang kepercayaan Sutrisno, datang ke kantor.


"Aku ingin kamu mencari Amar Ulah untukku. Dan aku ingin kamu mengawasinya."


Paijo tampak sedikit tidak yakin dengan apa yang diminta untuk dilakukannya. "Apa kamu ingin aku membawanya ke sini, Pak?"


"Bukan," kata Sutrisno. "Temukan saja dia untukku. Dan awasi dia. Tapi jangan biarkan dia tahu kamu ada di sana."


"Untuk berapa lama, Pak?" tanyanya.


"Aku akan kembali sekitar pukul enam, jadi setidaknya sampai saat itu tiba."

__ADS_1


"Baiklah, itu hampir setengah hari kerja."


"Aku tahu."


"Apa aku harus membuat laporan pertelepon secara teratur nantinya?" Paijo mematikan.


"Jangan. Tugasmu hari ini adalah mendapatkan dan mengawasi Amar Ulah. Aku yang akan menelepon dan menghubungimu jika aku membutuhkan informasi darimu."


"Baiklah, dimengerti!"


Dengan itu Sutrisno dan Paijo bergerak keluar dari kantornya dengan tujuan masing-masing.


Sementara Rayi harus menangani sisanya. Hari yang memuakkan dari seorang sekretaris adalah ketika harus menampung kekesalan orang lain untuk orang lain dan dia harus tetap terdengar profesional.


Sementara itu, Garin tidak langsung pulang setelah meninggalkan kantor. Sebaliknya, dia berkeliling kota, berpindah dari satu belokan ke belokan berikutnya, melewati jalanan Gajakarta secara sembarangan.


Dia tidak berkonsentrasi pada rutenya, tetapi didorong oleh naluri, dia segera menemukan dirinya mendekati lengkungan batu kapur di Pemakaman Gajakarta Memorial Park.


Dia memarkir mobilnya dan keluar, lalu berjalan melewati batu nisan, menuju makam Maudy.


Ditempelkan pada marmer kecil, terdapat sekumpulan bunga, kering dan layu, seolah-olah bunga tersebut baru ditempatkan di sana beberapa minggu yang lalu.


Tapi selalu ada bunga di sana, tidak peduli kapan pun dia berkunjung. Bunga-bunga tanpa nama atau kartu, tapi Garin paham bahwa kartu tidak diperlukan.


Dulu, Maudy disukai oleh hampir semua yang mengenalnya. Garin tidak menilai itu hanya karena dia adalah istrinya. Tapi, itu adalah bagian dari testimoni orang-orang yang pernah bersentuhan langsung dengan Maudy semasa hidupnya.


Beberapa hari setelah pemakaman Maudy, seorang wanita paruh baya datang ke rumah Garin. Wanita itu membawa setumpuk mawar yang baru saja dipetik.


Wanita itu berkata bahwa Maudy adalah pelanggan tetapnya. Dia kerap datang ke tempatku biasa berjualan untuk membeli semua sisa bunga yang belum laku terjual jika ada. Itu menyelamatkan hariku, sehingga aku memiliki cukup uang untuk berjualan dihari berikutnya. Dia selalu begitu. Bahkan aku tidak yakin apa yang bisa dia lakukan dengan semua bunga-bunga itu.


Yang Garin tahu, dia rumah mereka selalu ada beberapa tumpukan bunga segar dalam vas di tiap ruangan. Maudy mencintai hal-hal yang indah.


Dan setelah kepergiannya, Garin baru mengerti hal lainnya, bahwa Maudy tidak hanya mencintai bunga-bunga itu untuk dirinya, tetapi dia telah membagikan cintanya dengan caranya sendiri pada orang-orang yang membutuhkannya.


Banyak pengakuan-pengakuan justru datang setelah kepergiannya.


Teman-temannya berkata, senyumnya begitu hangat, caranya mendengar, caranya berbicara, caranya bergerak. Dan tentu saja kleponnya yang melegenda.


Maudy, bahkan dalam kematian, masih dicintai.

__ADS_1


__ADS_2