
Bulan mulai bergerak naik perlahan di malam hari, bersinar kuning dan kemudian mendekati jingga saat mencapai garis atap ruang pameran Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang tampak menjulang kokoh, perhentian pertama mereka dalam perjalanan tour dunia satwa melata dan bunga anggrek.
Bangunan itu bergaya Victoria kuno berlantai dua dengan dinding lebar dan melingkar yang sangat membutuhkan lukisan. Di teras, sekelompok kecil orang berkumpul saat dua wanita, berpakaian safari berdiri dengan leher yang dikelilingi seekor ular bewara kuning pucat dan berukuran sebesar paha pak erte, mereka menyajikan beberapa keterampilan interaksi dengan hewan melata itu. Para penonton menyimak dengan antusias.
Seorang pria yang diduga telah didorong-dorong dan terpaksa maju oleh teman-temannya menjadi peraga pertama dalam kisah kecelakaan lilitan ular besar dan penanganannya.
Ular yang kelihatan pemalas itu, menggeliat tidak sepenuh hati di sebelah tangan pria yang mulai berkeringat dingin itu. Perlahan si ular merambati tubuhnya menuju leher.
"Tenang, ngga akan ada ciuman atau pelukan erat sanca selama kamu ngga bergwrak secara tiba-tiba dan berlebihan."
Wanita dengan pakaian safari berusaha menenangkan pria yang kakinya mulai goyah itu dengan menepuk pelan bahu sang pria dan memintanya untuk bernapas perlahan hingga merasa santai.
Garin menahan tawa gelinya menyaksikan situasi itu, tidak..., Sebenarnya dia sedang berimajinasi lebih jika saja pria peraga itu tiba-tiba tidak bisa menahan laju urinnya karena desakan rasa takut. Itu tentu akan jadi cerita semua orang untuk dibawa pulang dan akan diceritakan berulang di hari-hari berikutnya.
Disela keasikan menonton Saras dan Garin teralihkan ketika pintu kaca ruang pameran bergeser terbuka, dari dalam terdengar samar-samar suara primata muda dan decitan-dicitan kecil dari kandang.
Jeritan ketakutan dari simpanse yang bulunya ditarik seorang gadis kecil berambut Dora dan derit pintu kandang yang dibuka dan ditutup, juga gumaman kerumunan dan tawa pelan pengunjung .
__ADS_1
Tiba-tiba kedua wanita berbaju safari berjalan sambil menundukkan kepala, lampu di teras dari ruang pameran cukup redup malam itu.
--sosok panjang pucat dengan bercak kuning yang cantik bergerak meliuk-liuk pelan ke arah kaki Saras dan Garin berada.
Salah seorang wanita itu memberi isyarat agak Garin atau Saras untuk tidak bersuara atau bergerak. Jangan panik, itu kodenya.
Ketika hewan panjang pemalas itu bergerak semakin dekat, Saras secara naluriah bergerak ke arah Garin, setengah berbalik ke arahnya saat dia meraih lengan Garin dengan cengkeraman yang mengejutkan pria itu.
Dari dekat, rambutnya tampak lembut, dan meskipun warnanya sedikit berbeda dengan rambut Maudy, Garin teringat bagaimana rasanya menyisir rambut Maudy dengan jari-jarinya saat mereka berbaring bersama di malam hari.
Semenit kemudian, saat kedua petugas itu menggumamkan kata-kata pada si bulat panjang, hewan itu berhenti bergerak dan dengan patuh kembali ke pelukan kedua penjaga itu dan dibawa pergi menjauh.
Selama beberapa jam berikutnya, Garin dan Saras mengunjungi sejumlah ruang pameran. Mereka diundang masuk untuk tur singkat ke beberapa tempat, di tempat lain mereka berdiri di serambi atau dihibur di taman dengan cerita tentang sejarah tanamam atau asal usul hewan.
Garin pernah mengikuti tur ini sebelumnya sebagai seorang camat, dan saat mereka berjalan dari stan ke stan, Garin menyarankan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi dan menceritakan kisah-kisah tentang tanaman dan hewan endemik yang bukan bagian dari pameran tahun ini.
Mereka berjalan menyusuri trotoar semen yang retak, saling bergumam, menikmati malam. Perlahan, kerumunan orang mulai berkurang dan beberapa ruang pamer mulai ditutup menjelang pukul sepuluh malam itu.
__ADS_1
Ketika Saras bertanya apakah dia siap untuk makan malam, Garin menggelengkan kepalanya."Masih ada satu perhentian lagi," katanya. Dia menuntun Saras ke jalan, memegang tangannya, dengan lembut menyentuhkan ibu jarinya ke tangan wanita itu.
Dari salah satu pohon kenari yang menjulang tinggi, terdengar suara burung hantu berseru saat mereka lewat, lalu terdiam lagi. Di depan, sekelompok orang berpakaian satwa sedang masuk ke dalam taman umum.
Di sudut, Garin menunjuk ke arah sebuah rumah besar berlantai dua, rumah yang sepi dari keramaian seperti yang diharapkannya. Jendela-jendelanya besar dan hitam, seolah tertutup dari dalam. Penerangan hanya diberikan oleh belasan lilin yang berjajar di pagar teras dan bangku kayu kecil di dekat pintu depan.
Di samping bangku itu duduk seorang wanita tua di kursi goyang, kakinya ditutupi selimut. Dalam cahaya yang menakutkan, dia tampak seperti manekin, rambutnya putih dan menipis, tubuhnya lemah dan rapuh. Kulitnya tampak bening di bawah kerlap-kerlip lilin, dan wajahnya berkerut dalam, seperti pecahan kaca cangkir porselen tua.
Garin dan Saras duduk di ayunan teras sementara wanita tua itu mengamati mereka.
"Halo, nyonya Baby Cilawagi," Garin berkata pelan, "apakah penontonmu ramai malam ini?"
"Sama seperti event-event sebelumnya," jawab Baby Cilawagi. Suaranya serak, seperti suara perokok seumur hidup. "Kamu tahu bagaimana kelanjutannya kan, Pak Camat?" Dia memicingkan mata ke arah Garin, seolah mencoba melihatnya dari kejauhan.
"Jadi, kamu pernah mendengar kisah The Birds, bukan?" Ucap wanita tua itu.
"Aku pikir dia harus mendengarnya," jawab Garin serius sembari menunjuk kearah Saras.
__ADS_1
Untuk sesaat, mata Baby Cilawagi tampak berbinar, dan dia meraih cangkir teh yang ada di sampingnya.
Garin menyelipkan lengannya ke bahu Saras, menariknya mendekat. Saras merasa dirinya rileks di bawah sentuhan pria di sisinya itu. Selalu senyaman itu bersamanya. Saras mengulum senyum.