
🌜Kebahagiaan itu terputus-putus seperti bulan purnama.
Hampir setiap hari kita lupa mencari bulan di langit,
Di hari lain kita mencarinya dan menemukan separuhnya,
Berkali-kali juga kita tidak menemukannya,
Hingga suatu hari, secara tidak sengaja, kita mengawasi langit, dan ada!
Bulat dan penuh misteri...🎑
...••••••••••°°°••••••••••...
Jadi, gimana? Apa kamu menyukainya sejauh ini?" tanya Nursy.
Saat itu hari Senin, Nursy serta Saras sedang duduk di meja piknik di luar, meja yang sama yang dikunjungi Garin dan Saras bulan sebelumnya.
Nursy membeli makan siang berupa nasi dan soto balung dari rumah makan Cak Andre untuk mereka berdua , yang menurut Nursy merupakan soto balung terlezat se Gajakarta atau mungkin sedunia.
"Ini akan memberi kita kesempatan untuk beristirahat dan mengobrol santai, saling mengenal lebih jauh" katanya sambil membuka kemasan soto dan kertas pembungkus nasi.
Meskipun ini bukan pertama kalinya mereka berkesempatan untuk "mengobrol", seperti yang dikatakan Nursy, percakapan mereka biasanya relatif singkat dan tidak bersifat pribadi seperti: di mana perbekalan disimpan, dengan siapa dia perlu diajak bicara untuk mendapatkan beberapa barang, hal-hal seperti itu.
Tentu saja, Nursy juga adalah orang yang pertama kali ditanyai Saras tentang Raka dan Garin, dan karena dia tahu Nursy dekat dengan mereka, dia juga memahami bahwa makan siang ini adalah upaya Nursy untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Maksudmu tentang bekerja di sekolah? Hmm... Gak berbeda dengan kelas yang aku ikuti di Cijengkol, tapi aku menyukainya."
"Kamu bekerja di pusat kota, kan?"
"Ya, aku bekerja di pusat kota Cijengkol selama empat tahun."
"Gimana di sana?"
Saras membuka bungkus nasinya. "Ngga seheboh yang mungkin kamu bayangkan. Anak-anak tetaplah anak-anak, ngga peduli dari mana mereka berasal, terutama ketika mereka masih kecil. Lingkungan sekitar mungkin sulit dan sibuk bagi oranag dewasa, tetapi kamu akan terbiasa dan belajar untuk berhati-hati. Aku ngga pernah mendapat masalah sama sekali. Dan orang-orang yang bekerja denganku sangat hebat."
“Bagaimana kamu bisa sampai memutuskan untuk bekerja sebagai guru di sana? Apa mantan suamimu juga seorang guru?”
"Ngga," jawabnya singkat.
Nursy melihat rasa sakit di mata Saras sejenak, tapi secepat dia menyadarinya, rasa sakit itu hilang.
__ADS_1
Saras membuka kaleng pocari miliknya. "Dia bankir investasi. Atau... aku ngga tahu apa yang dia lakukan akhir-akhir ini. Perceraian kami ngga sepenuhnya baik, kalau kamu mengerti maksudku."
"Aku menyesal mendengarnya," ujar Nursy, "dan aku lebih menyesal lagi karena telah mengungkitnya, maafkan aku."
“Ngga apa-apa. Kamu juga ngga tahu.” Dia berhenti sebelum membentuk senyuman malas.
"Atau kamu sekarang sedang mencoba mencari tahu atau sudah pernah mencari itu sebelumnya?" Saras bertanya.
Mata Nursy melebar. "Ngga, aku ngga tahu."
Saras memandangnya penuh harap.
"Beneran," kata Nursy lagi.
"Kalau pun iya juga ngga apa-apa kok."
Nursy sedikit bergeser di kursinya. "Yah, mungkin aku memang mendengar beberapa hal," akunya malu-malu, dan Saras tertawa.
"Aku udah menebak begitu. Hal pertama yang diberitahu padaku ketika aku pindah ke sini adalah kamu tahu semua yang terjadi di sekitar sini. Kamu adalah ibu dunia dalam berita."
"Aku ngga tahu segalanya," kata Nursy, berpura-pura marah.
"Tapi meskipun aku mungkin pernah dengar tentang kamu, aku ngga akan membeberkan semua yang aku tahu. Kalau seseorang menyuruh ku menyimpan sesuatu untuk diriku sendiri, aku akan melakukannya." Dia mengetuk telinganya dengan jarinya dan merendahkan suaranya.
"Apakah kamu mengatakan ini supaya aku percaya padamu?"
"Tentu saja," katanya. Dia melihat sekeliling, lalu bersandar di seberang meja. "Sekarang kamu boleh ceritakan apapun tentang dirimu, dijamin aman."
Saras menyeringai dan Nursy melambaikan tangan sambil melanjutkan. "Aku bercanda, tentu saja. Dan di masa depan, karena kita memang bekerja bersama--ingatlah bahwa perasaanku ngga akan terluka jika kamu memberitahuku bahwa aku sudah bertindak terlalu jauh. Terkadang aku melontarkan pertanyaan tanpa benar-benar berpikir, tapi aku ngga melakukannya untuk menyakiti orang lain. Aku benar-benar ngga pernah berniat buruk pada siapapun."
"Cukup adil," kata Saras puas.
Nursy mengambil balung pada sotonya dan mulai menghisapnya kuat-kuat. "Dan karena kamu masih tergolong baru di kota ini dan kita belum terlalu mengenal satu sama lain, aku ngga akan menanyakan apa pun yang mungkin terkesan terlalu pribadi."
"Aku menghargai itu."
"Lagi pula, itu bukan urusanku."
Saras terbahak.
Mereka berdua kemudian mulai menyantap hidangan makan siang dengan serius.
__ADS_1
"Wow!" Saras menjedah kecapannya.
"Aku benar, kan?
"Hmm.. ya, soto balung cak Andre memang mantap," acungan jempol dari Saras.
"Aku pernah mencoba membuatnya sendiri, tapi citarasanya jauh berbeda," ujar Nursy.
"Ya, banyak masakan seperti itu. Terasa sangat enak saat dibeli tapi jika dimasak sendiri rasanya menjadi berantakan."
"Tapi, temanku bilang dia pernah memakan bakso yang terkenal lezat di pinggiran kota ini. Pelanggannya sangat ramai, sehingga dia harus antri hampir 30 menit untuk semangkuk bakso."
"Pasti bakso yang sangat enak dan terkenal," balas Saras sembari menyeruput balung di tangannya.
"Umm... Kata temanku, dia secara ngga sengaja melihat ke dalam panci kuah bakso dan menemukan ceilanah dalam di sana!" Wajah Nursy menjadi dramatis.
"Hah! cielanah dalam milik siapa!?"
"Aku dengar itu pakaian dalam dari jin yang membuat bakso itu bisa menjadi laris. Katanya jin dalam kuah bakso akan meneteskan air liurnya sebagai penyedap kuah bakso. Makanya jadi sangat laris." Nursy berkata dengan penuh keyakinan.
"Ih, itu menjijikkan sekali," Saras bergidik.
"Ya, temanku itu seorang indogo, karena itulah dia bisa melihat berbagai kejanggalan yang ngga terlihat oleh kita sebagai awam."
"Contohnya seperti apa?"
"Misalnya, ketika kita melihat kebun pisang maka kita hanya akan melihat itu sebagai kebun pisang biasa, tapi temanku itu bisa melihat dan mempersepsikan bahwa kebun itu adalah rumah para dedemit, seperti sebuah area luas dengan jeruji besi," terang Nursy.
"Oh astaga, sayang sekali kita membicarakan ini disiang bolong seperti ini."
"Kenapa?" Nursy terheran.
"Ya, jika kamu menceritakan kisah ini lebih malam lagi maka suasana akan lebih mendukung."
"Kamu ngga takut?"
"Takut pada cerita hantu-hantuan?"
"Ya,"
"Mungkin sedikit takut, tapi itu selalu menarik."
__ADS_1
Pembicaraan dua wanita itu terus berlanjut pada hal-hal random lainnya. Hingga makan siang mereka pun habis tak bersisa.