
"Aku mau pulang, Pak, aku ngga bisa berada di sini," ulangnya.
"Kamu seharusnya memikirkan hal itu tadi malam." Balas Garin.
Garin berbalik lagi dan Amar bangkit dari tempat tidurnya, wajahnya tampak panik.
“Jangan pergi!” serunya.
Garin ragu-ragu. "Maafkan aku, Amar. Aku ngga bisa membantumu lebih."
"Kamu bisa melepaskanku, Pak. Aku ngga menyakiti siapa pun. Dan jika aku kembali ke penjara, aku pasti akan mati. Aku tahu itu sepasti aku tahu langit itu biru." Suaranya semakin bergetar.
"Ya, tapi aku ngga bisa melakukan itu." Jawab Garin.
"Tentu bisa. Kamu seorang camat, kamu bisa membantuku membuat alasan seperti aku hanya keluar untuk membeli sesuatu dan ibuku...." Ucapannya menggantung. Air matanya tampak menggenang.
Mau tak mau Garin merasa kasihan pada pria itu, tapi tugasnya jelas. "Maaf," katanya lagi, dan dia mulai menyusuri koridor. Amar pindah ke jeruji, menggenggamnya kuat.
"Aku memiliki informasi ...."
"Katakan pada polisi nanti, begitu mereka mengantarmu ke atas untuk mengurus dokumen." Sahut Garin.
"Tunggu!" ucap Amar lagi.
Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuat Garin berhenti sekali lagi.
"Ya?"
Amar Ulah berdehem. Tiga pria lainnya yang berada di sel sebelah telah dibawa ke atas, tapi dia melihat sekeliling untuk memastikan bahwa dia tidak mengabaikan keberadaan orang lain. Dia memberi isyarat dengan jarinya agar Garin mendekat, tapi Garin tetap di tempatnya dan menyilangkan tangannya.
“Jika aku memiliki informasi penting, apakah kamu akan membantuku untuk keluar dari sini?” tanya Amar.
Garin menahan senyumnya. "Itu bukan tanggung jawabku, kamu tahu itu. Aku ngga bisa membantumu untuk kesalahan yang kamu lakukan, aku sarankan kamu untuk berbicara dengan petugas yang akan memeriksamu nanti."
"Bukan. Bukan seperti itu, Pak. Kamu pasti sudah pernah tahu cara kerjaku. Aku ngga bersaksi, dan aku tetap anonim. Kamu pasti tahu itu kan, Pak?"
__ADS_1
Garin tidak berkata apa-apa.
Amar melihat sekeliling, memastikan dia masih sendirian dan hanya ada Garin di sana.
“Aku ngga ada bukti atas apa yang akan aku katakan, tapi itu benar dan kamu pasti ingin mengetahuinya.” Dia merendahkan suaranya, seolah menceritakan sebuah rahasia. "Aku tahu siapa yang melakukannya malam itu. Aku tahu."
Nada yang dia gunakan dan implikasinya yang jelas membuat bulu kuduk Garin tiba-tiba berdiri.
"Apa yang kamu bicarakan?" ucap Garin dingin.
Amar menyeka bibirnya lagi, tahu dia mendapat perhatian penuh dari Garin sekarang.
"Aku ngga bisa memberitahumu lebih jauh lagi kecuali kamu membantu melepaskanku dari sini."
Garin bergerak menuju sel, merasa kehilangan keseimbangan. Dia menatap Amar sampai pria itu mundur dari jeruji.
"Beritahu aku apa?"
"Aku butuh kesepakatan dulu. Kamu harus berjanji padaku bahwa kamu akan mengeluarkanku dari sini. Katakan apa saja sebagai alasan pada petugas dan kamu pasti bisa membuat mereka tidak punya bukti bahwa aku berada di jalanan semalam."
"Ngga ada kesepakatan, ngga ada informasi. Seperti yang aku katakan, aku ngga bisa kembali ke penjara, aku pasti mati di sini, dan ibuku dia seorang diri." Amar mengiba.
Mereka berdiri saling berhadapan, tak satu pun dari mereka memalingkan muka.
"Kamu tahu persis apa yang aku bicarakan, bukan, Pak?" kata Amar akhirnya. "Apa kamu ngga ingin tahu siapa yang melakukannya?"
Jantung Garin mulai berdebar kencang, dan tanpa sadar tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Pikirannya berputar.
"Aku akan memberitahumu jika kamu membantu melepaskanku," tambah Amar.
Mulut Garin terbuka, lalu tertutup saat segalanya--semua kenangan--berlari kembali, tumpah ke tubuhnya seperti air dari bak cuci yang meluap. Rasanya sulit dipercaya, tidak masuk akal. Namun... bagaimana jika Amar mengatakan yang sebenarnya?
Bagaimana kalau dia tahu siapa yang membunuh Maudy?
"Kamu harus bersaksi," hanya itu yang terpikir olehnya untuk diucapkan.
__ADS_1
Amar mengangkat tangannya. "Ngga mungkin. Aku ngga melihat apa-apa, tapi aku mendengar mereka berbicara. Dan jika mereka mengetahui bahwa akulah yang memberi tahu, aku sama saja sudah mati. Jadi aku ngga bisa bersaksi. Aku ngga akan melakukannya."
Jika aku sampai menjadi saksi, aku akan bersumpah aku ngga ingat memberitahumu apa pun. Dan kamu juga ngga akan bisa memberi tahu mereka dari mana kamu tahu semua itu. Ini hanya bisa antara kita-- kamu dan aku. Tapi..."
Amar mengangkat bahu, matanya menyipit, mendapatkan kesempatannya untuk mempermainkan Garin dengan sempurna.
"Sekarang kamu ngga perlu terlalu peduli soal hukum itu, kan? Kamu hanya ingin tahu siapa yang melakukannya, dan aku bisa membantumu. Dan semoga aku mati tersedak jika aku ngga mengatakan yang sebenarnya." Sambung Amar lebih percaya diri.
Garin meraih jeruji, buku jarinya memutih.
"Beri tahu aku!" dia berteriak.
"Keluarkan aku dari sini," jawab Amar, entah bagaimana tetap tenang meskipun Garin meledak-ledak, "dan aku akan memberitahumu nanti."
Untuk waktu yang lama, Garin hanya menatapnya.
"Aku berada di Laponta," Amar akhirnya memulai, setelah Garin menyetujui tuntutannya. "Kamu tahu tempatnya, kan?"
Amar tidak menunggu jawaban. Dia mengusap rambutnya yang berminyak dengan punggung tangannya. "Ini sudah beberapa tahun yang lalu atau begitu, aku ngga bisa mengingat kapan tepatnya, dan aku sedang minum-minum. Di belakangku, di salah satu meja, aku melihat Heri Panoo. Kamu kenal dia?"
Garin mengangguk. Salah satu dari sekian banyak orang yang terkenal di departemen yang ia datangi itu. Pria tinggi dan kurus, wajah bergelembung dengan banyak bopeng bekas jerawat, tato di kedua lengannya, salah satunya wajah seorang wanita dengan rambut mengembang, yang lainnya tengkorak dengan pisau yang menancap.
Pernah ditangkap karena kasus penyerangan, perampokan dengan pemberatan, berurusan dengan barang curian. Diduga sebagai pengedar narkoba. Setahun setengah yang lalu, setelah tertangkap mencuri mobil, dia dihukum di Lapas kelas tiga Penjara Gajamarah, wilayah bagian utara Gajakarta. Dan dia belum akan bebas selama empat tahun kedepan.
"Heri terlihat agak gelisah, menggerak-gerakkan minumannya, seolah-olah ia sedang menunggu seseorang. Saat itulah aku melihat mereka masuk. Keluarga Numan. Mereka berdiri sebentar di pintu, mencari-cari hingga mereka menemukannya. Mereka bukan tipe orang yang ingin aku dekati, jadi aku ngga menarik perhatian mereka. Hal berikutnya yang aku tahu, mereka duduk di hadapan Heri. Mereka berbicara sangat pelan, hampir berbisik, tetapi dari tempat aku berada, aku bisa mendengar setiap kata yang mereka ucapkan."
Punggung Garin menjadi kaku mendengar cerita dari Amar. Mulutnya terasa kering, seolah-olah ia telah berada di luar dalam panas selama berjam-jam.
"Mereka mengancam Heri, tetapi pria itu terus berkata bahwa dia belum mendapatkannya. Saat itulah aku mendengar Alex angkat bicara--sebelumnya, dia membiarkan saudaranya yang bicara. Dia memberi tahu Heri bahwa jika uangnya ngga ada hingga akhir pekan, maka dia harus berhati-hati, karena ngga ada yang bisa bermain-main dengan Numan bersaudara."
Garin mengedipkan mata. Wajahnya pucat.
"Ia mengatakan hal yang sama akan terjadi pada Heri seperti yang terjadi pada Maudy Zefanya."
...*******...
__ADS_1