
Aku mengalami malam tanpa tidur lagi, dan betapa pun aku ingin kembali tidur, aku sadar aku tidak bisa. Tidak, sampai aku bisa memberitahumu bagaimana hal itu terjadi.
Kecelakaan itu tidak terjadi seperti yang kamu bayangkan, atau seperti yang Garin bayangkan. Bukan seperti dugaannya, aku belum minum sesuatu yang membuat mabuk malam itu. Aku juga tidak berada di bawah pengaruh obat apa pun. Aku benar-benar sadar.
Apa yang terjadi dengan Maudy malam itu, sederhananya, adalah sebuah kecelakaan.
Aku sudah memikirkannya ribuan kali dalam pikiranku. Dalam lima belas tahun sejak hal itu terjadi, aku merasakan deja vu pada saat-saat yang aneh--saat membawa balok-balok kayu ke mobil bak beberapa tahun yang lalu, misalnya.
Dan perasaan itu masih membuat aku berhenti pada apa pun yang sedang aku lakukan.
Yang aku lakukan, meski hanya sesaat, dan aku mendapati diriku ditarik kembali ke masa lalu, ke hari ketika Maudy Zefanya meninggal.
Aku sudah bekerja sejak pagi hari itu, menurunkan batang-batang kayu yang sudah dibentuk ke atas palet untuk disimpan di gudang setempat, dan aku seharusnya pulang saat pukul setengah empat sore.
Namun pengiriman pipa plastik yang terlambat datang tepat sebelum waktu tutup, majikanku pada hari itu adalah pemasok sebagian besar toko di kota sisi timur Gajakarta, dan dia bertanya apakah aku tidak keberatan tinggal lebih dari satu jam atau lebih untuk hari itu.
Aku tidak keberatan, itu berarti lembur, satu setengah jam, cara yang bagus untuk mendapatkan uang ekstra yang sangat dibutuhkan. Apa yang tidak aku perhitungkan adalah seberapa penuh trailernya, atau bahwa aku akan melakukan sebagian besar pekerjaan itu sendirian nantinya.
Seharusnya ada empat orang yang bekerja, tapi satu orang sakit pada hari itu, yang lain tidak bisa tinggal karena putranya sedang bermain pertandingan bola dan dia tidak ingin melewatkannya.
Itu menyisakan kami berdua untuk melakukan pekerjaan di sisa sore itu, dan awalnya masih baik-baik saja. Namun beberapa menit setelah trailer itu masuk, pria lain yang bersamaku mengalami cedera pergelangan kaki, dan hal berikutnya yang kuketahui, aku sendirian.
Suhu hari itu cukup panas walau hari telah beranjak sore. Suhu di luar berada pada angka 36 derajat lebih, dan di dalam gudang bahkan lebih panas, lebih dari seratus derajat yang aku rasakan dan lembab. Aku sudah menghabiskan waktu delapan jam, masih ada dua jam lagi untuk terus bekerja.
Truk-truk berhenti sepanjang hari, dan karena aku tidak bekerja di sana secara rutin, sebagian besar pekerjaanku bersifat melelahkan.
__ADS_1
Tiga orang lainnya bergilir menggunakan forklift, jadi mereka mungkin bisa istirahat sesekali. Tapi itu bukan aku. Tugasku adalah menyortir balok-balok kayu itu dan kemudian mengangkutnya dari bagian belakang trailer ke tempat pintunya dapat dibuka, memuat semuanya ke dalam palet sehingga forklift dapat memindahkannya ke dalam gudang.
Namun pada akhirnya, karena aku satu-satunya orang di sana, aku harus melakukan semuanya seorang diri. Pada saat aku selesai, aku sudah lelah. Aku hampir tidak bisa menggerakkan lenganku, punggungku terasa kram, dan karena aku melewatkan makan siang, aku pun kelaparan.
Itu sebabnya aku memutuskan untuk pergi ke Warteg Sederhana Berjaya Senantiasa daripada langsung pulang. Setelah hari yang panjang dan melelahkan, tidak ada yang lebih baik di dunia ini selain nasi dengan sayur campur aduk, dan ketika aku akhirnya menunggangi vespaku, aku sempat berpikir dalam hati bahwa hanya dalam beberapa menit lagi, aku akhirnya bisa bersantai.
vespa milikku saat itu Vespa Sprint Veloce tua, stangnya sedikit penyok dan bannya sedikit bergoyang karena sudah tahunan dalam perjalanan.
Aku sudah menggunakan vespa itu beberapa tahun sebelumnya dan hanya membayar dua juta Rupiah untuk itu. Namun meskipun kelihatannya buruk, vespa itu berfungsi dengan baik dan aku tidak pernah mengalami masalah dengannya.
Mesinnya menyala setiap kali aku memutar kunci, dan aku sendiri yang memperbaiki remnya saat pertama kali membelinya, itulah yang benar-benar dibutuhkan saat itu.
Jadi aku naik ke vespaku tepat saat matahari akhirnya terbenam. Pada senja hari seperti itu, matahari melakukan hal-hal lucu dengan membungkuk ke bawah di barat.
Langit berubah warna hampir dari menit ke menit, bayangan menyebar ke seluruh jalan seperti jari-jari panjang, mirip seperti jemari hantu, dan karena hanya ada sedikit awan di langit, ada saat-saat ketika cahaya menyilaukan menembus helm dan aku harus memicingkan mata agar bisa melihat ke mana aku pergi.
Siapa pun orangnya, ia mempercepat dan memperlambat, menginjak rem setiap kali sinar matahari berpindah, dan lebih dari sekali membelok melintasi garis putih ke seberang jalan.
Aku terus bereaksi, menginjak rem sendiri, tapi akhirnya aku muak dan memutuskan untuk membuat jarak antara aku dan dia. Jalannya terlalu sempit untuk dilalui, jadi aku malah memperlambat vespaku, berharap orang itu akan menjauh.
Namun siapa pun pengemudinya justru melakukan hal sebaliknya. Dia juga melambat, dan ketika jarak di antara kami kembali dekat, aku melihat lampu rem berkedip-kedip seperti lampu Natal, lalu tiba-tiba berubah menjadi merah. Aku menginjak rem sendiri dengan keras, banku berdecit saat vespaku berhenti. Dan mobil itu meninggalkanku dibelakangnya.
Menurutku, saat itulah takdir turun tangan. Kadang-kadang, aku berharap aku menabrak mobil itu, sehingga aku harus berhenti dan Maudy Zefanya bisa pulang.
Tetapi karena aku ketinggalan--dan karena aku sudah muak dengan pengemudi di depanku--aku mengambil belokan kanan berikutnya, menuju Jalan Budi Utama, meskipun itu menambah sedikit waktu tambahan, waktu yang sekarang aku harap dapat aku dapatkan kembali.
__ADS_1
Jalan itu melewati bagian kota yang lebih tua, tempat pohon beringin tumbuh subur dan rimbun, dan matahari sudah terbenam cukup rendah sehingga silau akhirnya hilang.
Beberapa menit kemudian, langit mulai gelap lebih cepat dan aku menyalakan lampu jauh.
Jalannya berbelok ke kiri dan ke kanan, dan tak lama kemudian rumah-rumah mulai menyebar. Pekarangannya lebih besar, dan tampaknya lebih sedikit orang yang berada di sana.
Setelah beberapa menit, aku berbelok lagi, kali ini ke Jalan Kartini Merdeka. Aku mengenal jalan ini dengan baik dan menghibur diriku dengan mengetahui bahwa dalam beberapa kilo meter lagi, aku akan tiba di Warteg Sederhana Berjaya Selamanya.
Aku ingat menyalakan discman, memasang headset sederhana di telinga dan memainkan tombolnya, tapi aku tidak mengalihkan pandangan dari jalan. Mencari lagu kesukaanku. Pikiranku, aku jamin, sedang fokus pada perjalanan.
Jalannya sempit dan berkelok-kelok, tapi seperti yang aku katakan, aku tahu jalan ini seperti punggung tanganku sendiri. Otomatis aku mengerem vespa saat memasuki sebuah tikungan jalan.
Saat itulah aku melihatnya, dan aku cukup yakin aku semakin melambat. Tapi aku tidak tahu pasti, karena semua yang terjadi selanjutnya berjalan begitu cepat sehingga aku tidak bisa bersumpah apa pun.
Aku muncul di belakangnya, jarak di antara kami semakin dekat. Dia pergi ke samping, di bahu jalan berumput. Aku ingat dia mengenakan kemeja putih dan celana pendek biru dan tidak berjalan terlalu cepat, seperti meluncur dengan santai.
Di lingkungan ini, rumah-rumah berada di lahan seluas setengah hektar, dan tidak ada seorang pun di luar. Dia tahu aku datang di belakangnya, aku melihatnya melirik sekilas ke samping, mungkin cukup untuk melihatku dari sudut matanya, dan dia bergerak setengah langkah lebih jauh lagi dari jalan raya.
Kedua tanganku berada di atas setang kemudi. Aku memperhatikan semua yang aku miliki dan berpikir aku berhati-hati. Dan begitu pula dia.
Namun, tak satu pun dari kami yang melihat anjiing itu.
Seolah-olah sedang menunggunya, makhluk itu keluar dari celah pagar ketika dia berada tidak lebih dari dua puluh kaki dari vespaku. Seekor anjiing hitam besar, dan aku berada beberapa meter di belakanganya, aku dapat mendengar geraman ganasnya saat ia menyerang tepat ke arahnya.
Hal itu pasti membuatnya lengah karena dia tiba-tiba mundur, menjauh dari anjing itu, dan melangkah terlalu jauh ke jalan.
__ADS_1
Vespaku dengan berat sekitar 147 kg yang sedang melaju menabraknya dengan telak saat itu tanpa sempat aku kendalikan.