
...🔔Rasa sakit adalah bagian dari kehidupan. Kadang-kadang itu merupakan bagian yang besar, dan kadang-kadang tidak...🎑...
Pagi itu, Gajakarta terbangun untuk menghadiri pemakaman seorang Maudy Zefanya.
Itu adalah hari Kamis, di rumah ibadah di pusat kota Gajakarta. Di sebuah gedung yang bisa menampung hampir lima ratus orang, tapi itu tidak cukup besar. Orang-orang berdiri dan beberapa sudah berdesak-desakan di pintu luar, memberikan penghormatan dari tempat terdekat yang bisa mereka dapatkan.
Kehadiran mereka mengingatkannya akan betapa besar dampak kepergian tragis seorang istri camat Gajakarta, seorang wanita muda bernama Maudy, seorang ibu dari Raka Antonio, yang telah membentuk komunitasnya.
Dia mengingat ketika hujan mulai turun pagi itu. Bukan hujan deras, tetapi hujan yang terus menerus, hujan yang dibarengi cahaya panas lembut yang mendinginkan bumi.
Kabut mengambang tepat di atas tanah, seperti hantu dan bayangan kecil terbentuk di jalan. Dia melihat panjang dan luasnya parade payung hitam, dipegang oleh orang-orang yang berpakaian hitam, bergerak perlahan, seolah orang-orang yang berkabung berjalan di atas salju.
Dia melihat Garin Antonio duduk tegak di barisan depan kerumunan di dalam ruangan. Dia memegang tangan Raka. Anak itu baru berumur lima tahun saat itu, cukup besar untuk mengerti bahwa ibunya telah meninggal, tetapi belum cukup besar untuk mengerti bahwa dia tidak akan pernah melihatnya lagi. Dan kebingungannya lebih terlihat daripada kesedihannya.
Ayahnya duduk dengan bibir tegang dan pucat saat satu orang datang setelah yang lain, menawarkan tangan atau pelukan.
Meskipun dia tampak kesulitan untuk melihat langsung orang-orang, anak itu tidak menangis dan tidak gemetar. Dia tetap membiarkan tangan ayahnya menggenggam erat tangan mungilnya.
Sebagain besar orang berbalik dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Dia tidak akan pernah melupakan bau itu, bau dupa cendana yang terbakar dan lilin yang menyala, saat dia duduk di baris belakang. Beberapa orang melantunkan kalimat-kalimat doa dengan nada lembut di sisi peti jenazah.
Dia juga akan selalu ingat, seorang wanita duduk di sampingnya, diikuti sejenak kemudian oleh suaminya. Di tangannya dia memegang selembar tisu, yang digunakan untuk menghapus sudut matanya. Suaminya meletakkan tangannya di lutut, pandangannya tegak lurus. Ekspresi duka yang mereka bawa.
__ADS_1
Ruangan dalam seilah bergerak lambat sendu. Berbeda dengan bagian luar bangunan, di mana orang-orang masih terus berdatangan, di dalam lebih sunyi, kecuali suara-suara napas dari orang-orang yang bergerak pelan . Tidak ada yang berbicara, tampaknya tidak ada yang tahu harus mengatakan apa.
Itu adalah saat dimana dia merasa seolah-olah mendapat dorongan akan muntah.
Dia melawan mual, merasakan keringat mengalir di dahinya. Tangannya terasa lembab dan tak berguna. Dia tidak ingin berada di sana. Dia tidak ingin datang. Demi apapun, dia ingin bangun dan pergi.
Tetapi dia tetap tinggal. Entah kenapa...
Setelah doa utama dimulai, dia merasa sulit untuk berkonsentrasi. Jika ada yang bertanya kepadanya hari ini apa yang dikatakan oleh pemuka agama atau apa yang dikatakan oleh saudara Maudy dalam pidatonya kala itu, dia tidak akan bisa memberi tahu apapun. Dia ingat, bagaimanapun, semua kata-kata itu tidak menghiburnya, hanya melintasi pendengarannya tanpa tercerna.
Yang bisa dia pikirkan hanyalah bahwa Maudy Zefanya seharusnya tidak mati. Dia masih muda. Dia masih sangat sehat. Dia seorang ibu dari seorang anak balita. Dia seorang istri yang berbahagia, walau tidak di hari itu. Dan dia juga tahu dengan pasti, Maudy masih menyimpan seribu mimpi untuk masa yang akan datang.
Setelah rangkaian ritual selesai, ada prosesi panjang menuju Gajakarta Memorial Park, rombongan pelayat diiringi oleh pasukan pengamanan lengkap, dia tahu itu adalah fasilitas dan bentuk penghormatan bagi setiap pejabat negara di sana. Pengaman dengan kendaraan roda dua dan empat dan sejumlah personil diantara kerumunan.
Di area parkir kendaraan, dia menunggu sampai sebagian besar orang mulai menghidupkan mobil mereka, menapaki jalan lalu akhirnya memasuki barisan, mengikuti mobil yang ada tepat di depannya. Dengan lampu depan dinyalakan.
Seperti robot, dia juga menyalakan lampunya. Mengikuti barisan seperti yang lainnya.
Saat mereka mengemudi menuju pemakaman, hujan mulai turun dengan lebih deras. Penghapus kaca mobil bergerak cepat, membersihkan air hujan dari sisi ke sisi. Langit berduka, hatinya juga menderita.
Ketika jarak ke pemakaman itu hanya tersisa beberapa menit lagi.
Orang-orang memasuki area parkir dengan teratur, turun dari mobil-mobil mereka, payung hitam terbuka, kaki-kaki melangkah melewati tanah berlumpur dan melalui genangan, berkumpul dari segala arah. Berjajar di tenda yang terbuka. Menjejalkan diri mereka untuk dapat berdiri lebih dekat dengan lubang terbuka yang akan menjadi tempat dibaringkannya jasad Maudy untuk selamanya, lembut dalam peluk bumi.
__ADS_1
Dia mengikuti dengan buta kemana kakinya mengarah dan kemudian berdiri bagian belakang dari kerumunan.
Dia melihat Garin dan Raka lagi, ayah dan anak itu berdiri dengan kepala tertunduk, hujan membasahi mereka. Seorang pria memayunginya dengan setia. Tidak benar-benar mampu memayungi keduanya.
Sesaat kemudian pembawa peti jenazah bergerak membawa peti ke liang lahat, yang dikelilingi oleh ratusan karangan bunga.
Dia kembali berpikir bahwa dia tidak ingin berada di sana. Dia tidak seharusnya datang. Dia tidak berada di tempat yang benar.
Tapi dia ada di sana.
Didorong oleh dorongan tak nyata, dia tidak punya pilihan. Dia perlu melihat Garin, perlu melihat Raka. Perlu melihat keduanya.
Bahkan pada saat itu, dia tahu bahwa kehidupan mereka akan selamanya terkait satu sama lain.
Maudy Zefanya, dalam segala kebaikan dan keindahan yang dia bawa ke dunia ini, telah pergi untuk selamanya.
Dia harus berada di sana, lihatlah.... Dia ada di sana.
Dari semuanya, dia juga-lah yang berada di sana, dan menutupi tubuh diam Maudy dengan daun pisang di hari naas itu.
Hujan di hari itu, duka di hari itu, sisipan tangis dan doa di hari itu, telah menjadi nestapa di hatinya. Tidak akan lupa, tidak akan lupa, tidak akan... Untuk selamanya.
Selamanya...
__ADS_1