Jejak Takdir

Jejak Takdir
Penangkapan Alex


__ADS_3

Raka. . .


Bayangan putranya yang tiba-tiba membawa kenyataan pada apa yang sedang terjadi.


TIDAK...


Tetap saja, dia berdebat selama beberapa tarikan napas sebelum akhirnya menghembuskan napas dengan keras.


Dia meraih ponselnya dan dan berbicara di sana. Dengan gerakan yang terlatih, ia menarik pergelangan tangan Alex yang terangkat, lalu menggerakkan tangannya ke belakang punggung Alex. Setelah menyarungkan senjatanya, dia melakukan kuncian pada kedua tangan Alex sehingga membuat pria itu meringis, lalu menariknya berdiri.


"Kamu akan membayar segalanya...," Garin mulai menyeret Alex menuju mobilnya, dan Toni, yang terdiam di tempat, tiba-tiba meledak dalam aktivitas, seperti sarang semut yang baru saja diinjak.


"Ini ngga benar. Aku akan menelepon pengacaraku! Kamu ngga berhak masuk ke sini seperti ini meskipun kamu seorang camat dan menodongkan senjatamu pada kami!"


Dia terus berteriak lama bahkan setelah Garin selesai dengan dua panggilan di telepon. Garin terus menekan tubuh dan kepala Alex ke bagian belakang mobilnya. Alex tidak banyak bereaksi terhadap tekanan yang diberikan Garin.


Hanya dalam beberapa menit, Sutrisno dan tiga orang polisi tiba.


"Jangan sampai melepaskannya, atau aku benar-benar akan menghabisinya dan menggantikan tempatnya di penjara," ancam Garin saat polisi mulai mengambil alih Alex dari kungkungan Garin.


Sutrisno mengambil waktu untuk berbicara dengan salah satu dari tiga polisi itu sebelum mereka membawa Alex ke mobil.


Garin menatap Alex dengan tajam saat pria itu melintas dihadapannya dengan tangan terborgol.


Dia ingin menembaknya.


Sumpah , dia benar-benar ingin melakukannya.


Dan satu langkah salah, dari siapa pun yang sedang berada di sana, maka dia akan melakukannya.


Tapi itu salah.


"Dan kamu salah dalam caramu menanganinya ini." ucap Sutrisno setengah berbisik saat ia mendekati Garin.


Berapa banyak peraturan yang dia langgar? Setengah lusin?


Membiarkan Amar pergi, mengabaikan peraturan, tidak meminta bantuan, langsung mencabut senjatanya dan mengarahkannya ke kepala Alex....Dia akan mendapat masalah lebih karena ini, dan bukan hanya teguran dari Sutrisno atau partai. Tapi secara hukum juga.


Setelah Sutrisno berbicara dengan keluarga Numan, dia membawa Garin pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Sutrisno masuk ke mobil Garin untuk dapat berbicara dengannya. Garin berkendara dengan kecepatan sedang kali ini. Garis putus-putus berwarna kuning datang ke arahnya, lewat secara ritmis dari pandangan.


Di dalam mobil, Garin maupun Sutrisno tidak berbicara hingga mereka tiba di jalan raya. Mata Garin tetap terpaku pada jalan. Walaupun Alex sudah ditahan, itu tidak meredakan perasaannya.


Aku tidak peduli. Alex akan masuk penjara, apa pun yang terjadi padaku. Alex akan membusuk di penjara seperti dia membuatku membusuk selama dua tahun. Pikiran-pikiran itu terus berbicara dalam benak Garin.


"Jadi, apa yang akan di tuduhkan pada Alex kali ini?" Sutrino bertanya datar.


Namun pertanyaan Sutrisno tidak mendapat tanggapan. Sutrisno terdengar menarik napasnya beberapa kali. Mereka terus saling diam hingga sampai di kantor polisi dimana Alex telah di dudukkan dalam pemeriksaan.


Alex sedang tertawa saat Garin melewatinya untuk ke ruangan lain.


Garin berbalik, menahan amarah yang meluap-luap dalam dirinya mendengar suara tawa Alex. Anehnya Alex terlihat tenang.


"Pak Camat, aku akan memberitahumu sebuah rahasia kecil. Aku tahu kamu ngga akan menembak. Kamu ngga bisa melakukannya, kan?" Ucap Alex dari bahunya.


Garin menggigit bibirnya, wajahnya memerah. Tetap kendalikan, katanya pada diri sendiri. Tetap kendalikan....


Namun Alex melanjutkan.


"Katakan padaku, apa kamu masih berkencan dengan gadis yang bersamamu di Gajafly? Aku hanya ingin tahu, karena--"


Polisi berusaha meredakan situasi dengan memperingatkan Garin.


Dengan itu Garin melepaskan genggaman tangannya di kerah Alex dengan kasar, karena tidak siap, Alex melesat jatuh ke lantai dengan posisi terjengkang. Dan tanpa terduga sebuah tendangan Garin mendarat telak di dadanya. Seperti manekin rusak, Alex meringis kesakitan tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.


"Sudah. Sudah, ayo...," Sutrisno menarik tubuh Garin menjauh.


Alex dibantu polisi kembali berusaha duduk di kursinya. Sementara Garin mengawasinya dari jarak beberapa meter.


Sebuah senyuman mengejek terlihat di wajah Alex.


Selama sisa pemeriksaan, Alex tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk Garin. Dia menjawab setiap pertanyaan petugas yang memeriksanya tanpa banyak berdebat.


Bahkan setelah Sutrisno menarik paksa Garin ke ruangan lain. Alex dengan patuh berjalan menuju selnya.


"Jadi, apa yang terjadi?" tanya Sutrisno.


Beberapa menit sebelumnya, Garin muncul bersama Sutrisno di sel tempat Alex di tahan. Setelah polisi menguncinya di dalam, Alex meminta bertemu pengacaranya.

__ADS_1


Butuh usaha ekstra untuk Sutrisno dapat membawa Garin pergi dari sana. Saat Garin dan Sutrisno menaiki tangga, polisi yang berjaga melirik sekilas ke arah mereka, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa penasaran.


"Menurutku itu sudah tampak cukup jelas, bukan?" jawab Garin.


"Ini bukan waktunya atau tempat untuk bercanda, Garin. Aku butuh jawaban dan aku membutuhkannya sekarang, dimulai dengan Amar. Aku ingin tahu alasanmu, kenapa kamu melepaskannya, dan apa maksudnya dengan masalah hidup dan mati itu. Lalu, aku ingin jawaban mengapa kamu keluar dari sini dan mengapa Alex dikurung di bawah?"


Sutrisno menyilangkan tangannya dan bersandar di meja.


Selama lima belas menit berikutnya, Garin menceritakan apa yang terjadi. Rahang Sutrisno ternganga, dan pada akhirnya, dia mondar-mandir di ruangan itu.


"Astaga, kamu membuatku sangat repot dengan polisi-polisi itu hari ini, ayo kembali ke kantor kita." Ajak Sutrisno.


Setelah menemui kepala polisi untuk beberapa penjelasan, Sutrisno berjalan ke mobil di mana Garin menunggunya.


"Beres untuk sekarang," ucapnya.


Garin tidak menanggapi apapun.


"Kamu mungkin camat yang paling merepotkan di negara ini, kamu tahu itu?" ucap Sutrisno kesal karena tidak mendapat respon apapun dari lawan bicaranya.


"Apa aku boleh menyalakan radio?" tanyanya saat Garin mulai menyalakan mesin.


Tanpa jawaban lagi. Sutrisno membanting dirinya ke sandaran kursi. "Aku pasti gila karena menyayangimu berlebihan."


Garin menoleh sesaat saat dia mengucapkan kata-kata itu.


"Jangan menatapku begitu, aku memang menyanyangimu seperti seorang saudara, ya.. Kamu teman yang seperti saudara untukku. Sial! Harusnya aku ngga perlu mengatakan ini." umpat Sutrisno seorang diri.


Dia mebuang wajahnya ke arah jendela, mengalihkan pikirannya pada deretan toko disepanjang jalan.


"Eh, itu... Bisa kamu berhenti sebentar untuk gorengan?" tanya Sutrisno.


Tapi, mobil terus melaju.


"Sial.. Sial...sial!" rutuknya dengan menjambak rambutnya sendiri.


"Sudah, terus aja menyetir sampai ke kantor, aku akan diam.. Aku ngga akan berbicara apapun denganmu lagi sampai mobil ini terparkir di sana dan kita hanya akan berbicara setelahnya."


"Oke," jawab Garin.

__ADS_1


__ADS_2