Jejak Takdir

Jejak Takdir
Apa kamu melihat sesuatu?


__ADS_3

Setelah berpamitan pada nyonya Cilawagi, Garin dan Saras menuruni tangga beranda dan kembali ke jalan berkerikil. Garin menggandeng tangan Saras lagi saat mereka mendekati jalan. Seolah-olah masih terpesona oleh cerita Nyonya Cilawagi, Garin maupun Saras tidak mengatakan apa pun selama beberapa waktu.


"Aku senang kita pergi ke sana," Saras akhirnya membuka pembicaraan setelah beberapa waktu mereka saling bungkam.


"Jadi kamu menyukainya?" Tanya Garin.


“Semua wanita menyukai cerita romantis.”


”Tapi itu ngga sepenuhnya romantis, kan?” Tanya Garin lagi.


” Hmmmm.. ya, tapi tetap aja ada bagian romantis yang bisa dinikmati," balas Saras.


"Bagian mana yang menurut kamu yang termasuk romantis?" tanya Garin.


"Itu....., mungkin dipotongan kisah Mawar dan Nangka di hulu kapal," nada suara Saras tidak yakin.


"Bukan potongan setelah bagian itu?" Garin menahan senyuman pada pertanyaannya sendiri.


"Uft, kamu menyimak dengan sangat baik, ya?" Saras tertawa. Ia mendorong bahu Garin menjauh.


"Ya, aku hanya berpikir itu cukup romantis melukis seseorang yang kamu sukai....," sambung Garin.


"Dan tanpa pakaian?" cibir Saras.


"Itu dibolehkan dalam seni, kan?" Garin mengangkat bahunya.


"Baiklah, aku setuju.. Bagian itu juga sangat romantis," ucap Saras.


Garin mengangguk-angguk setuju. Pkirannya sejenak berkelana sedikit jauh. Agak tersesat.

__ADS_1


Mereka kemudian berbelok di tikungan dan mendekati jalan utama. Di depan, mereka bisa melihat sungai di antara rumah-rumah, mengalir tanpa suara, bersinar hitam.


"Apakah kamu siap untuk makan sesuatu?" Saras menawarkan.


"Sebentar lagi," jawab Garin, melambat, lalu akhirnya berhenti.


Dia menatap Saras. Dari balik bahu wanita itu, dia bisa melihat ngengat beterbangan di sekitar lampu jalan yang bersinar. Garin menatap ke kejauhan, ke arah sungai, dan Saras mengikuti pandangannya tetapi tidak melihat sesuatu yang aneh.


"Apa itu?" Garin bertanya.


"Hah!" Saras segera memegang erat lengan Garin. Pikirannya seketika melayang pada kisah nyonya Cilawagi.


"Apa kamu ngga melihat sesuatu di sana?" Garin menunjuk pada aliran sungai yang tenang.


"Aku ngga lihat apapun di sana," Saras memasang wajah curiga.


Dia melepaskan cengkramannya di lengan pria itu.


"Nyebelin," sungut Saras.


Sekilas Garin membayangkan ekspresi Saras begitu mirip dengan anak bebek, imut.


Garin menggelengkan kepala, mencoba menjernihkan pikirannya. Dia ingin mulai berjalan lagi tetapi ternyata dia tidak bisa.


Sebaliknya dia mengambil langkah ke arah Saras, menariknya dengan lembut ke arahnya. Saras mengikuti petunjuknya, perut wanita itu menegang. Saat Garin mencondongkan tubuh ke arahnya, dia memejamkan mata, dan saat wajah mereka mendekat, seolah-olah tidak ada hal lain yang penting di dunia ini.


Ciuman itu berlanjut dan berlanjut, dan ketika kedua bibir mereka akhirnya berpisah, Garin memeluknya. Dia membenamkan wajahnya di leher Saras, lalu menciuum lekuk bahunya.


Kelembapan lidah pria itu membuat wanita itu menggigil, dan dia mencondongkan tubuh ke tubuh pria itu, menikmati pelukan aman dari pelukan Garin seiring dengan apa yang terjadi di sekitar mereka.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mereka berjalan kembali ke apartemen Saras, berbicara dengan lembut, ibu jari Garin bergerak lembut di punggung tangan guru Raka itu.


Begitu masuk, Garin menyampirkan jaketnya ke sandaran kursi saat Saras berjalan ke dapur. Dia bertanya-tanya apakah wanita itu tahu dia sedang mengawasinya.


"Jadi, makan malam apa?" Dia bertanya.


Saras membuka pintu lemari es dan mengeluarkan panci besar yang dilapisi kertas timah. "Lasagna, roti Perancis, dan salad. Bolehkah?"


Kedengarannya bagus. Boleh aku membantumu melakukan sesuatu? Tanya Garin menawarkan diri.


"Sudah cukup matang," jawab Saras sambil memasukkan loyang ke dalam oven. "Aku hanya perlu memanaskannya sekitar setengah jam. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa menyalakan lampu di setiap ruangan. Dan menyeduh teh atau kopi--ada di meja."


"Oke, ngga masalah," sahut Garin.


"Aku akan bergabung denganmu di ruang tamu beberapa menit lagi," seru Saras sambil menuju kamar tidur.


Di kamar tidur, Saras mengambil sisir rambut dan mulai menyisir rambutnya.


Meski dia ingin menyangkalnya, ciuman mereka membuatnya merasa sedikit gemetar. Dia merasakan bahwa malam ini adalah titik balik dalam hubungan mereka, dan dia takut. Dia tahu bahwa dia harus memberi tahu Garin alasan sebenarnya runtuhnya pernikahannya, tetapi hal itu tidak mudah untuk dibicarakan. Terutama pada seseorang yang dia sayangi.


Meskipun dia tahu bahwa Garin juga peduli dan memiliki ketertarikan padanya, tidak ada yang tahu apa tanggapan atau apakah itu akan mengubah perasaan pria itu saat bersamanya kelak. Bukankah pria itu pernah mengatakan bahwa dia berharap Raka dapat mempunyai saudara laki-laki atau perempuan? Akankah Garin bersedia melepaskan harapan itu demi dirinya?


Saras menemukan bayangannya di cermin.


Dia tidak ingin melakukan ini sekarang, tetapi dia tahu jika hubungan mereka ingin berlanjut lebih jauh, dia harus memberitahunya. Lebh dari apapun, dia tidak ingin sejarah terulang kembali. Dia tidak bisa melalui hal itu lagi.


Saras selesai menyisir rambutnya, memeriksa riasannya karena kebiasaan, dan, memutuskan untuk menghadapi Garin dengan jujur, mulai meninggalkan kamar tidur.


Tapi bukannya keluar dari pintu, dia tiba-tiba duduk di tepi tempat tidur.

__ADS_1


Apakah dia benar-benar siap untuk ini?


__ADS_2