Jejak Takdir

Jejak Takdir
Izin Untuk Raka


__ADS_3

Keesokan pagi. Beberapa menit sebelum pertandingan sepak bola dimulai, Saras tiba. Dengan mengenakan jeans, t-shirt longgar, dan sendal jepit legendaris, juga kacamata hitam, dia mencolok di tengah keramaian orang tua yang sibuk. Meskipun tampak santai dan elegan, dia tetap berada di luar perkiraan Garin.


Sementara itu, Raka, yang sedang bermain bola dengan teman-temannya, melihat kedatangan Saras di sisi lapangan dan berlari mendekat untuk memberinya pelukan. Lalu dia menggenggam tangan Saras dan mengajaknya ke arah Garin.


"Kamu lihat, Ayah," ucapnya beberapa saat kemudian. "Ibu guru Saraswati ada di sini."


"Ya, kamu benar," jawab Garin sambil mengusap rambut Raka.


"Ibu Saraswati tampak tersesat, jadi aku pergi menjemputnya."


"Apa jadinya dia tanpa bantuanmu, jagoan?" Garin berbicara sambil menatap Saras.


"Kamu cantik dan menawan, dan aku ngga bisa berhenti memikirkan kejadian tadi malam." Tidak, Garin tidak mengatakan itu. Hal yang mungkin tidak mungkin akan terjadi. Yang didengar Saras kemudian adalah, "Hei--apa kabar?"


"Baik," jawabnya. "Tapi masih terlalu dini untuk memulai pagi akhir pekanku. Rasanya seperti aku berangkat kerja."


Dari balik bahunya, Garin melihat tim mulai berkumpul, dan dia menggunakan itu sebagai alasan untuk menghindari tatapan Saras. "Raka, ayah rasa pelatihmu baru aja sampai...."


Kepala Raka berputar dan dia mulai kesulitan dengan kausnya sebelum Garin membantu melepaskannya. Kemudian Garin menyelipkan kaus itu ke bawah lengannya.


"Di mana bolaku, Yah?" Tanya Raka.


"Bukannya kamu baru aja menendangnya beberapa saat yang lalu?"


"Ya."


"Lalu dimana itu?"


"Aku ngga tahu."


Garin berlutut dan mulai membantu merapikan pakaian Raka. "Kita akan menemukannya nanti. Menurutku kamu ngga memerlukannya sekarang."


“Tapi pelatih bilang kami harus membawanya untuk pemanasan.”


"Coba pinjam aja dari salah satu temanmu di sana."


Lalu apa yang akan mereka gunakan? Ada nada khawatir dalam nada bicaranya.


"Kamu akan baik-baik aja. Ayo. Pelatih sudah menunggu."


"Apa Ayah yakin?"


"Percayalah kepadaku."


"Tetapi--"


"Lanjutkan. Mereka menunggumu."


Sesaat kemudian, setelah berdebat apakah ayahnya benar atau tidak, Raka akhirnya bergegas menuju timnya. Saras menyaksikan semuanya dengan senyum bingung, menikmati interaksi mereka.


Setelah Garin kembali ia menunjuk ke tas.


"Apakah kamu ingin secangkir kopi? Aku bawa termos."


"Terima kasih, untuk kamu aja, ayo aku temani. Aku tadi sudah minum bandrek sebelum ke sini."


“Jamu?”

__ADS_1


"Minuman jahe, sebenarnya."


"Dengan roti bakar dan jeli?"


"Ngga, aku sarapan dengan singkong rebus dan nasi Padang. Kenapa?"


Garin mengangguk. "Hanya penasaran."


Lalu Saras membantu garin untuk mendapatkan segelas kopi. Kerjasama yang luar biasa. Saat Saras membuka kopi sachet, dia kesulitan saat akan merobek bungkusnya dan Garin berhasil membantu sehingga Saras dengan mudah dapat menuang kopi ke dalam gelas.


Kemudian saat dia mencoba mencari tombol untuk membuka keran termos dia menekan ke arah yang salah, dan Garin kembali sukses membantunya. Dan kopi berhasil mendapatkan air panasnya.


Dan bagian terbaiknya, Garin lupa membawa sendok pengaduk, dan Saras menemukan solusinya. Dia mensterilkan badan bolpoin yang dibawanya dengan air dari termos, lalu menggunakannya untuk mengaduk kopi.


"Ini kopi umur panjangmu," Saras menyerahkan kopi setelah seluruh proses pembuatan terlewati.


"Terima kasih, aku akan baik-baik aja.. tolong berdoa saat aku mulai minum."


Mereka berdua terbahak pada kekonyolan mereka sendiri.


Tepat saat Garin mengangkat gelasnya , peluit dibunyikan dan tim mulai berkumpul di tengah lapangan, bersiap untuk pertandingan.


"Bolehkah aku bertanya padamu?"


"Selama ini bukan tentang sarapanku," balas Saras.


“Mungkin terdengar aneh.” ujar Garin.


"Kenapa itu ngga mengejutkanku, ya?"


Rahang Saras terbuka. "Permisi?"


"Kamu tahu, setelah mandi. Kepalamu dibalut atau langsung ditata?" Garin memperjelas pertanyaannya.


Dia menatapnya dengan cermat. "Kamu lucu sekali."


"Itu yang mereka bilang."


"Siapa yang bilang begitu?"


"Mereka."


"Oh." Gumam Saras sedikit putus asa pada jawaban pria dihadapannya itu.


Peluit dibunyikan lagi, dan pertandingan dimulai.


"Apa kamu benar-benar membungkus kepalamu?" Garin bersikeras untuk mendapatkan jawaban.


"Ya," katanya akhirnya sambil tertawa bingung. "Aku membungkus kepalaku dengan handuk."


Dia mengangguk, puas. “Aku pikir juga begitu.”


"Apa kamu pernah berpikir untuk mengurangi kafein?" Saras balik bertanya.


Garin menggelengkan kepalanya. "Hmm, belum pernah."


"Kamu harus melakukannya." Saran Saras.

__ADS_1


Dia mengambil minuman lagi untuk menyembunyikan kesenangannya. “Aku akan mencobanya.”


Empat puluh menit kemudian pertandingan usai, dan meskipun Raka sudah berusaha sebaik mungkin, timnya kalah, namun ia tidak terlihat terlalu kecewa karena hal itu.


Usai bertepuk tangan dengan pemain lain, Raka berlari menuju ayahnya, temannya Jones tepat di belakangnya.


"Kalian berdua bermain bagus tadi," Garin meyakinkan kedua anak laki-laki itu.


Terdengar gumaman ucapan terima kasih yang teralihkan dari mereka berdua sebelum Raka menarik t-shirt ayahnya.


"Hai ayah?"


"Ya?"


"Jones bertanya apa aku boleh menginap di rumahnya."


Garin memandang Jones untuk konfirmasi. "Apa benar kamu ingin mengajak Raka untuk menginap di rumahmu?"


Jones mengangguk. "Ibuku udah mengizinkan, tapi kamu bisa berbicara dengannya jika kamu mau, Pak. Dia ada di sana. Ubay juga akan datang."


"Ayo, Ayah. Tolong izinkan aku untuk menginap? Aku akan mengerjakan tugasku begitu sampai di rumah," tambah Raka. "Aku juga akan melakukan yang ekstra."


Garin ragu-ragu. Itu baik-baik saja... tetapi pada saat yang sama, ternyata tidak. Dia senang jika ada Raka di dekatnya. Rumah itu sepi tanpa dia. "Baiklah, kalau kamu benar-benar ingin pergi--"


Raka tersenyum penuh semangat, tidak menunggu dia selesai. “Terima kasih, Ayah. Kamu yang terbaik.”


"Terima kasih, Pak Garin," kata Jones dengan wajah berbinar. "Ayo, Raka. Ayo beritahu ibuku kalau kamu udah dapat izin juga."


Mereka berlari-lari, saling mendorong dan melewati kerumunan sambil tertawa sepanjang jalan. Garin menoleh ke Saras, yang memperhatikan mereka pergi.


"Apa aku kelihatan sangat putus asa karena dia ngga akan bersamaku malam ini?"


"Benar-benar hancur," Saras setuju dengan anggukan.


"Padahal kami punya janji untuk menonton Upin Ipin the movie bersama, lho."


Saras mengangkat bahu. "Pasti sangat buruk jika dilupain begitu aja."


Garin tertawa. "Dia lebih memilih temannya daripada aku, ngga diragukan lagi. Ini pasti yang disebut patah hati. "Yah, karena aku sendirian dan semuanya..."


"Ya?" Tanya Saras pada ucapan Garin yang menggantung.


"Yah...maksudku..."


Alisnya terangkat dan dia menatapnya dengan curiga. "Kamu ingin bertanya padaku tentang kipas angin itu lagi?"


Garin menyeringai. Dia tidak akan pernah membiarkannya hidup seperti itu lagi. “Kalau kamu belum ada rencana untuk melakukan pun...,” katanya dengan nada pura-pura percaya diri.


"Apa yang ada dalam pikiranmu?" Selidik Saras.


"Kali ini bukan permainan biliar."


Saras tertawa. "Gimana kalau aku membuatkanmu makan malam di tempatku?"


“Bandrek dan singkong rebus juga nasi Padang?” Garin bertanya.


Saras mengangguk. "Tentu saja. Dan aku berjanji akan mengenakan handuk itu di kepalaku saat menghidangkannya."

__ADS_1


__ADS_2