
...🥀Aku berharap suatu hari, seseorang akan memeluk kamu selama 20 menit , dan hanya itu yang dia lakukan. Dia tidak membiarkan pelukan itu hilang....
...Dia bahkan tidak melihat wajahmu. Dia bahkan tidak mencoba mencium bibir dan lehermu. Semoga yang dia lakukan hanyalah memelukmu, tanpa sedikit pun rasa egois.🌹...
...☕☕☕☕☕☕☕...
Saat ini, jawaban atas pertanyaan itu membuat Saras takut lebih dari yang bisa ia katakan.
Saat dia akhirnya keluar dari kamar tidur, semua lampu sudah menyala. Garin kembali dari dapur sambil membawa dua cangkir kopi.
"Kupikir kita mungkin memerlukan ini," katanya sambil mengangkat cangkir itu sedikit lebih tinggi.
"Menurutku itu mungkin ide yang bagus," Saras menyetujui.
Cara dia mengatakannya terasa aneh bagi Garin, dan membuat Garin ragu-ragu.
Saras membuat dirinya nyaman di sofa, dan setelah beberapa saat, Garin meletakkan cangkir di meja ujung dan duduk di samping Saras. Untuk waktu yang lama, Saras hanya meminum kopinya dalam diam. Sampai akhirnya Garin meraih tangannya.
"Apakah kamu baik-baik aja?" Garin bertanya.
Saras dengan lembut memutar kopi di gelasnya. "Ada sesuatu yang belum aku beritahukan padamu," katanya pelan.
Ruangan kembali menjadi sunyi.
Garin bisa mendengar suara mobil yang melintasi jalan di depan apartemen itu.
Suara tetasan air dari sisi belakang kulkas berdenting, lampu gantung bergoyang tertiup angin dari jendela yang terbuka, ada deritan kecil di sana, juga bayangan menari-nari di dinding.
__ADS_1
Saras menarik satu kakinya ke atas dan menyilangkannya ke bawah. Garin mengetahui wanita sedang mengumpulkan pikirannya, dia memperhatikannya dalam diam sebelum meremas tangan Saras untuk memberinya dukungan.
Dan hal itu tampaknya membawa Saras kembali ke masa sekarang. Garin melihat cahaya lampu gantung berkedip-kedip di matanya.
"Kamu pria yang baik, Garin," katanya, "dan beberapa minggu terakhir ini sangat berarti bagiku." Saras berhenti lagi.
Garin tidak menyukai suara ini dan bertanya-tanya apa yang terjadi selama beberapa menit dia berada di kamar tidurnya. Ia memilih untuk tetap memperhatikan dan diam.
"Apa kamu ingat ketika kamu bertanya padaku tentang mantan suamiku?" Tanya Saras.
Garin mengangguk.
"Sebenarnya aku belum menyelesaikan cerita keseluruhannya. Ada lebih dari sekedar hal yang aku ceritakan padamu, dan... dan aku ngga tahu persis bagaimana mengatakannya."
"Mengapa?"
Sebagai seorang pejabat dia terbiasa memperhatikan, sejumlah gagasan terlintas dalam benak Garin-- apakah mantan suaminya telah bersikap kasar, dan pria itu telah menyakitinya secara mendalam selama mereka berhubungan dalam hal fisik, atau hal seperti perselingkuhan, membuatnya meninggalkan hubungan yang terluka dalam beberapa hal. Perceraian selalu menyakitkan, namun penampilannya saat ini menunjukkan bahwa ada hal yang lebih dari sekadar itu.
Garin mencoba mengulas seuntai senyuman, berharap mendapat tanggapan, tetapi tidak ada apa-apa.
Keheningan sedikit memanjang.
"Dengar, Saras," akhirnya Garin berkata, "kamu ngga perlu memberitahuku apa pun yang ngga kamu inginkan untuk diberitahukan. Aku ngga akan menanyakannya lagi. Itu urusanmu, dan aku sudah cukup belajar tentang di masa lalumu. beberapa minggu terakhir ini sudah cukup untuk mengetahui orang seperti apa dirimu, dan itu yang terpenting bagiku. Aku ngga perlu tahu segalanya tentang kamu--dan sejujurnya, aku ragu apa pun yang kamu katakan akan mengubah caraku merasakan apapun tentangmu."
Saras tersenyum, tapi matanya menolak untuk membalas tatapan Garin. "Apa kamu ingat ketika aku bertanya tentang Maudy?"
"Ya." Jawab Garin.
__ADS_1
"Apa kamu ingat hal-hal yang kamu katakan tentang dia?" Tanya Saras kembali.
Garin mengangguk.
"Aku juga mengingat semua hal yang kamu katakan tentang dia." Untuk pertama kalinya, Saras menatap mata Garin dalam percakapan itu. "Aku ingin kamu tahu bahwa aku ngga akan pernah bisa seperti dia, aku ngga akan pernah bisa seperti Maudy."
Garin mengerutkan kening. "Aku tahu itu," katanya. "Dan aku ngga mengharapkan kamu untuk--"
Saras mengangkat tangannya. "Bukan itu, Garin--kamu salah paham. Aku ngga mengatakan bahwa kamu tertarik padaku karena aku seperti Maudy. Aku tahu bukan itu masalahnya...., tapi aku juga ngga sepenuhnya tahu."
"Lalu ada apa?" Garin bertanya.
"Apa kamu ingat ketika kamu memberitahu aku betapa baiknya Maudy sebagai ibu? Dan betapa kalian berdua sangat ingin Raka memiliki saudara kandung?" Saras berhenti tetapi tidak mengharapkan jawaban. "Aku ngga akan pernah bisa seperti itu. Itulah alasan Aldi meninggalkanku."
Tatapan mata Garin akhirnya terpaku pada matanya. "Aku ngg bisa hamil. Tapi itu bukan dia, Garin. Aldi baik-baik saja. Tapi aku....."
Garin tetap diam.
Dan kemudian, seolah-olah kalimatnya tidak menyampaikan maksudnya, kalau-kalau Garin tidak mengerti, Saras menyampaikannya kembali sejelas mungkin. "Aku ngga bisa punya anak. Selamanya."
Garin tidak berkata apa-apa, dan setelah beberapa saat, Saras melanjutkan.
"Kamu ngga akan dapat membayangkan bagaimana rasanya mengetahui kenyataan ini. Rasanya ironis sekali, kamu mengerti? Aku menghabiskan awal usia dua puluhan dengan berusaha untuk ngga hamil. Aku biasanya panik jika lupa meminum pil KB. Aku bahkan ngga pernah berpikir bahwa aku mungkin ngga akan dapat memiliki seorang anak."
"Bagaimana kamu mengetahuinya?" Tanya Garin.
"Kami berhubungan badan secara rutin. Bahkan semakin intens saat kami mulai merencanakan untuk memiliki seorang bayi. Hanya saja ngga terjadi apapun pada tubuh ini. Kami akhirnya masuk untuk melakukan serangkaian tes. Saat itulah aku mengetahuinya."
__ADS_1
"Maaf," hanya itu yang terpikir oleh Garin untuk diucapkan.