
Saras menghela napas tajam, seolah dia masih sulit mempercayainya. "Aldi juga begitu. Tapi dia ngga bisa mengatasinya. Aku bilang padanya bahwa kami masih bisa mengadopsi seorang anak, dan menurutku itu hal yang masih memungkinkan, tapi dia menolak untuk mempertimbangkannya karena keluarganya."
"Kamu bercanda...."
Saras menggelengkan kepalanya. "Seandainya aja begitu. Melihat ke belakang, aku rasa aku seharusnya ngga terkejut. Ketika kami pertama kali berkencan, dia sering mengatakan bahwa aku adalah wanita paling sempurna yang pernah dia temui. Begitu sesuatu terjadi, itu membuktikan jika dia keliru, dia rela membuang semua yang kami punya." Saras menatap cangkir kopinya, lalu berbicara hampir pada dirinya sendiri. "Dia meminta cerai, dan aku keluar dari rumah kami seminggu kemudian."
Garin meraih tangannya tanpa berkata apa-apa dan mengangguk agar dia melanjutkan ceritanya.
"Setelah itu... yah, itu ngga mudah. Itu bukan hal yang bisa kamu bicarakan di semua tempat, kamu tahu. Keluargaku, dan aku berbicara dengan dua sahabatku tentang hal itu. Mereka adalah penasihatku dan mereka banyak membantuku, hanya mereka itulah yang tau permasalahanku.
Dan sekarang kamu...."
Setelah kata-kata itu Saras terdiam.
Di bawah cahaya lampu, Garin mengira dia belum pernah terlihat Saras secantik ini. Rambutnya menangkap serpihan cahaya dan membuangnya seperti lingkaran cahaya.
"Aku kenapa?" Garin akhirnya bertanya.
“Bukankah udah jelas?”
"Ngga terlalu." Jawab Garin.
"Aku hanya berpikir kamu harus tahu. Maksudku, sebelumnya... Seperti yang udah aku bilang, aku ngga ingin hal buruk itu terjadi lagi...." Saras membuang muka.
Garin dengan lembut membalikkan wajah wanita itu kembali padanya. "Apa menurut kamu aku akan melakukan itu?"
Saras memandang Garin dengan sedih.
"Garin...mudah untuk mengatakan bahwa itu ngga penting saat ini. Yang aku khawatirkan adalah gimana perasaan kamu nanti, setelah kamu benar-benar sempat memikirkan hal ini. Katakanlah kita tetap bertemu satu sama lain dan segalanya berjalan baik sampai saat ini.
Tapi..., bisa kamu dengan jujur mengatakan bahwa itu ngga masalah bagi kamu? Bahwa memiliki anak ngga penting bagi kamu? Fakta bahwa Raka ngga akan pernah memiliki seorang pun saudara laki-laki atau perempuan yang akan berlarian dan bermain di sekitar rumah dengannya?"
__ADS_1
Saras berdehem untuk menjernihkan tenggorokannya sebelum melanjutkan kata-katanya. "Aku tahu aku agak terburu-buru di sini, dan jangan berpikir bahwa dengan menceritakan
semua ini, aku mengharapkan kita akan menikah.
Tapi aku harus memberitahu kamu kebenaran, agar kamu tahu apa yang akan kamu hadapi—sebelum ini menjadi lebih serius.
Aku ngga bisa membiarkan ini berlanjut lebih jauh kecuali aku yakin bahwa kamu ngga akan berbalik dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Aldi.
Jika hubungan ini ngga berhasil karena alasan lain, baiklah. Aku bisa menerimanya. Tapi aku ngga bisa menghadapi lagi apa yang sudah aku alami sekali."
Garin memandang ke arah cangkirnya, melihat cahaya terpantul di sana. Dia menelusuri pinggiran cangkir itu dengan jarinya.
"Ada sesuatu yang sebaiknya kamu ketahui tentang diriku juga," ucap Garin. "Aku mengalami masa yang sangat sulit setelah Maudy meninggal. Bukan hanya karena dia meninggal—tapi juga karena aku ngga pernah tahu siapa yang menjadi penyebab kematiannya malam itu. Itu tugasku, baik sebagai suaminya maupun sebagai seorang pejabat kota ini. Ngga hanya polisi, aku juga menyelidiki sendiri, berbicara dengan orang-orang, tetapi siapa pun yang melakukannya lolos, dan itu menggerogoti diriku seperti sesuatu yang ngga bisa kamu bayangkan. Aku merasa seperti gila dalam waktu yang lama, tapi belakangan ini..."
Suaranya lembut ketika dia memandang mata wanita dihadapannya.
"Mungkin yang ingin aku sampaikan adalah bahwa aku ngga perlu waktu, Saras... Aku ngga tahu... Aku hanya tahu bahwa ada yang hilang dalam hidupku, dan sebelum aku bertemu dengan kamu, aku ngga tahu apa itu. Jika kamu menginginkan aku untuk memikirkannya lebih lanjut, aku akan melakukannya. Tapi itu akan aku lakukan demi kamu—bukan untukku. Kamu belum mengatakan apa pun yang dapat mengubah perasaanku terhadap kamu. Aku bukan pria seperti Aldi. Aku ngga akan pernah menjadi seperti dia."
Di dapur, timer berbunyi dengan suara ding, dan keduanya berbalik mendengar suara itu. Lasagna sudah siap, tetapi tidak ada yang bergerak. Tiba-tiba, Saras merasa pusing, meskipun dia tidak tahu apakah itu karena kopi atau kata-kata Garin. Dengan hati-hati, dia meletakkan cangkir kopinya di atas meja dan, setelah mengambil napas pelan, berdiri dari sofa.
Di dapur, dia berhenti sejenak untuk bersandar pada meja, kata-kata Garin kembali terlintas sekali lagi.
Aku ngga butuh waktu, Saras.
Kamu belum mengatakan apa pun yang bisa mengubah perasaanku terhadap kamu.
Bagi pria itu, dirinya bisa melahirkan atau tidak itu tidak penting. Dan yang terbaik dari semuanya, dia percaya pada pria itu. Pada kata-kata yang telah dia ucapkan, cara dia menatap...
Sejak perceraian, hampir saja Saras berpikir bahwa tak ada yang akan mengerti dirinya di antara orang yang dia temui.
Saras meninggalkan panci lasagna di atas kompor. Saat dia kembali ke ruang tamu, Garin masih duduk di sofa, menatap lampu gantung.
__ADS_1
Saras duduk dan meletakkan kepala di pundak Garin, membiarkan dia mendekatkan dirinya pada pria itu. Saat keduanya menatap lampu gantung bersama, dia bisa merasakan lembutnya pernafasan dada Garin. Tangan pria itu bergerak dengan irama, kulit Saras bergetar di mana pun Garin menyentuh.
"Terima kasih telah mempercayaiku," ucap Saras.
"Aku ngga punya pilihan." Bisik Garin.
"Kamu selalu punya pilihan." Balas Saras dengan suara pelan.
"Ngga untuk kali ini. Ngga kalau itu tentang kamu." Ucap Garin pelan.
Saras mengangkat kepalanya, dan tanpa sepatah kata pun, dia miencium Garin, menyentuhkan bibirnya lembut pada bibir pria itu, sekali, kemudian dua kali, sebelum menyatukan bibir mereka dengan lembut.
Tangannya merayap ke punggung Garin saat bibir mereka bersentuhan, dan dia merasakan lidahnya menyentuh lidah Garin, basah dan miemabukkan. Saras membawa salah satu tangannya ke wajah Garin, merasakan jenggot kasar di bawah ujung jari-jarinya, lalu menulusuri bagian itu dengan bibirnya.
Garin merespons dengan memindahkan bibirnya ke leher Saras, menggigit dan miencium dengan lembut, ia dapat merasakan napas hangat pria itu di kulitnya.
Mereka terlena pada kegiatan itu lama sekali, hingga akhirnya tiba-tiba terjadi pemadaman listrik, cahaya bulan dari luar mewarnai ruangan dengan bayangan yang lebih menggelap.
"Terima kasih PieLeN...," ucap Garin.
Saras terkekeh. "Tunggu sebentar, aku akan mengambil lilin."
"Tunggu!" Cegah Garin.
"Ya? Kamu takut gelap? Mau ikut denganku ke dapur?" Tanya Saras beruntun.
"Aku ngga takut apapun! Hm... maksudku, ya aku agak takut tapi aku suka gelap," jawab Garin.
"Itu agak aneh," ucap Saras sambil kembali duduk di sofa.
"Biarkan aja begini, kita tunggu sampai lampunya menyala lagi," ucap Garin.
__ADS_1
"Kamu ingin begini aja?" Tanya Saras meyakinkan.
Sepanjang malam, Garin berbisik padanya dalam kegelapan, tangannya selalu bergerak ke arahnya, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia nyata.