Jejak Takdir

Jejak Takdir
Hari Saras Dan Ibu


__ADS_3

...°°°⛲🌸Jika suatu hari kamu merasa ingin menangis... Panggil saja aku....


...Aku tidak berjanji untuk membuatmu tertawa, tapi aku bisa menangis bersamamu....


...Jika suatu hari kamu ingin kabur......


...Hubungi aku....


...Aku tidak akan menghentikan larimu, tapi aku bisa ikut denganmu....


...Jika suatu hari kamu tidak ingin mendengarkan siapa pun....


...Telepon aku....


...Aku berjanji untuk berada di sana bersamamu, aku berjanji untuk mencoba diam....


...Tapi, jika suatu saat kamu meneleponku... Dan tidak ada jawaban... Datang menemuiku ya.......


...Ibumu... ...


...•••••••°°°°°°°🌸°°°°°°°•••••••...


Menjelang sore, perutnya membaik dan ada kemeriahan yang menanti. Saras dan ibunya kembali ke jalanan untuk melanjutkan pesta yang tertunda.


Saras menatap ibunya dari atas kacamata hitamnya. "Bu, jangan bahas itu lagi."


"Aku ngga akan melakukan apa pun," jawabnya membela diri. Kemudian, merendahkan suaranya seolah berbicara dengan dirinya sendiri.


"Aku hanya berasumsi kamu telah memutuskan untuk pergi keluar. Kamu sering melakukan itu, kamu tahu...."


Selain berkubang dalam jurang keprihatinan yang tak berdasar, ibu Saras juga bisa bermain dengan sempurna sebagai orang tua yang diliputi rasa bersalah. Ada saat-saat ketika Saras membutuhkannya, sedikit dikasihani tidak pernah menyakiti siapa pun—tapi sekarang bukan salah satunya.


Saras sedikit mengernyit saat dia meletakkan kembali bingkai ditangannya. Pemilik stand, seorang wanita tua yang duduk di kursi di bawah payung besar, mengangkat alisnya, jelas menikmati pemandangan kecil itu. Kerutan di dahi Saras semakin dalam. Dia mundur dari stand saat ibunya melanjutkan, dan setelah beberapa saat, ibunya mengikutinya.


"Apa yang salah?"


Nada suaranya membuat Saras berhenti dan menghadap ibunya. "Ngga apa-apa. Aku hanya sedang ngga ingin mendengar betapa khawatirnya ibu terhadapku. Lama kelamaan akan terasa membosankan."


Mulut ibunya terbuka sedikit dan tetap seperti itu. Melihat ekspresi terluka ibunya, Saras menyesali kata-katanya, tapi dia tidak bisa menahannya. Lagipula tidak hari ini.


"Dengar, maafkan aku, Bu. Seharusnya aku ngga membentakmu."

__ADS_1


Ibu mengulurkan tangan dan meraih tangan putrinya. "Apa yang terjadi, Saras? Dan jujur aja, kali ini—aku sangat mengenalmu. Sesuatu telah terjadi, kan?"


Dia meremas tangan Saras dengan lembut dan Saras memalingkan muka. Di sekeliling mereka, orang-orang asing sibuk dengan urusan mereka, tenggelam dalam percakapan mereka sendiri.


"Ardi akan menikah lagi," katanya pelan.


Setelah memastikan dia mendengar dengan benar, ibu perlahan memeluk putrinya dengan erat. "Oh, Saras... maafin ibu," bisiknya.


Tidak ada lagi yang bisa dikatakan.


Beberapa menit kemudian, mereka duduk di bangku taman yang menghadap ke tanah lapang, di ujung jalan tempat orang banyak masih berkerumun. Mereka bergerak ke sana tanpa sadar, mereka hanya berjalan sampai tidak bisa melangkah lebih jauh, lalu menemukan tempat duduk itu.


Di sana, mereka berbicara lama sekali, atau lebih tepatnya Saras berbicara. Ibunya hanya mendengarkan, tidak mampu menutupi kekhawatiran yang dia rasakan. Matanya membelalak dan sesekali berlinang air mata, dia meremas tangan Saras belasan kali.


"Oh... itu mengerikan banget" katanya untuk yang kesekian kalinya. "Hari yang mengerikan."


"Aku pikir begitu."


"Yah ... apakah akan membantu jika aku memberitahumu untuk mencoba melihat sisi baiknya?"


"Ngga ada sisi baiknya, Bu."


"Tentu ada."


"Yah, kamu bisa yakin bahwa mereka ngga akan tinggal di sini setelah mereka menikah. Ayahmu akan membuat mereka dilapisi ter dan bulu ayam."


Terlepas dari suasana hatinya, Saras tertawa. "Terima kasih banyak, Bu. Jika aku bertemu dengannya lagi, aku pasti akan memberitahunya kemungkinan itu."


Ibunya berhenti. "Kamu ngga merencanakan itu, kan? Menemuinya, maksudku."


Saras menggelengkan kepalanya. "Ngga, ngga, kecuali aku ngga bisa menahann lagi agar dia tahu bahwa dia ngga diterima di kota ini."


"Bagus. Setelah apa yang dia lakukan padamu, seharusnya kamu ngga akan melakukan hal bodoh itu."


Saras hanya mengangguk sebelum bersandar ke bangku.


"Jadi, apa ibu mendengar atau memiliki kabar dari Kim akhir-akhir ini?" Saras bertanya, mengubah topik pembicaraan.


"Dia ngga pernah mengangkat panggilanku saat aku menelepon."


Ibunya mengikuti arahan Saras tanpa mengeluh. "Aku bicara dengannya beberapa hari yang lalu, tapi kamu juga tahu gimana keadaannya. Terkadang, hal terakhir yang ingin kamu lakukan adalah berbicara dengan orang tuamu. Dia ngga pernah lama berbicara di telepon."

__ADS_1


"Apakah dia berteman dengan seseorang?"


"Aku yakin iya."


Saras menatap ke arah jalan raya, memikirkan kakaknya sejenak. Lalu, "Bagaimana kabar Ayah?"


"Sama. Dia menjalani pemeriksaan awal minggu ini dan dia tampaknya baik-baik aja. Dan dia terlihat lelah seperti biasanya."


"Apakah dia masih berolahraga?"


"Ngga sebanyak yang seharusnya, tapi dia terus berjanji padaku bahwa dia akan serius tentang hal itu."


"Katakan padanya bahwa aku bilang dia harus melakukannya, harus berolahraga secara rutin."


"Aku akan sampaikan itu pada ayahmu. Tapi dia keras kepala, kamu tahu itu. Akan lebih baik jika kamu yang memberitahunya langsung. Jika aku yang memberitahunya, dia pikir aku cerewet."


"Apakah ibu memang cerewet?"


"Tentu saja ngga," jawab ibu cepat. "Aku hanya khawatir tentang dia."


Di sisi jalan, sebuah sedan hitam mengkilap perlahan-lahan menepi untuk berhenti , dan mereka berdua duduk diam, menonton. Sebentar lagi, matahari akan tenggelam untuk membiarkan hari ini menjejaki malam dan cahaya hangat matahari akan perlahan tergantikan oleh gemerlap lampu-lampu, baik lampu penerangan jalan maupun dari lampu-lampu kendaraan yang memenuhi kedua sisi jalan.


Saras telah mengetahui bahwa jika dia terlambat untuk membuat janji, dia dapat mengklaim bahwa dia "terjebak di keramaian jalan raya". Semua orang di kota mulai dari dokter hingga hakim akan menerima alasan itu tanpa pertanyaan, hanya karena mereka telah mengalaminya sendiri.


"Senang mendengarmu ketawa lagi," gumam Ibunya setelah beberapa saat.


Saras melirik terkejut ke arah ibunya.


"Jangan kaget begitu. Ada saat-saat di mana kamu ngga terkejut loh. Lama sekali."


Ibunya menyentuh lutut Saras dengan lembut. "Jangan biarkan Ardi menyakitimu lagi, oke? Kamu sudah move on-- ingat itu."


Saras mengangguk hampir tanpa kentara, dan ibunya melanjutkan dengan monolog yang sudah hampir dihafal Saras sekarang.


y"Dan kamu juga akan terus bergerak. Suatu hari kamu akan menemukan seseorang yang akan mencintaimu apa adanya--"


"Bu . . ." Saras menyela, merentangkan kata itu dan menggelengkan kepalanya. Percakapan mereka akhir-akhir ini sepertinya selalu kembali ke sini.


Untuk sekali ini, ibunya menangkap dirinya sendiri. Kemudian dia meraih tangan Saras lagi, dan meskipun Saras menariknya pada awalnya, dia bertahan sampai Saras mengalah.


"Aku ngga bisa menahannya jika aku ingin kamu bahagia," katanya. "Bisakah kamu mengerti itu?"

__ADS_1


Saras memaksakan senyum, berharap itu akan memuaskan ibunya.


"Ya, Bu, aku mengerti."


__ADS_2