Jejak Takdir

Jejak Takdir
Awal Pekan


__ADS_3

Pada hari Senin, Raka memulai proses menyesuaikan diri dengan rutinitas yang akan mendominasi sebagian besar hidupnya selama beberapa bulan ke depan.


Saat bel berbunyi dan secara resmi mengakhiri hari sekolah, Raka berjalan keluar bersama teman-temannya namun meninggalkan ranselnya di ruang kelas. Saras, seperti semua guru lainnya, pergi ke luar untuk memastikan anak-anak masuk ke mobil yang tepat dan naik ke bus yang benar.


Begitu semua orang sudah naik bus dan mobil-mobil sudah keluar, Saras berjalan ke tempat Raka berdiri. Pria kecil itu tampak menatap sedih pada teman-temannya yang pergi.


"Aku yakin kamu berharap kamu ngga harus tinggal, kan?"


Raka mengangguk.


"Ngga akan terlalu buruk. Aku membawa beberapa kue dari rumah supaya sedikit lebih mudah dan menyenangkan bagi kita berdua."


Dia memikirkan tentang itu. "Kue apa?" Raka bertanya dengan skeptis.


"Oreo Blackpink Edition tentunya. Dulu, ketika aku masih ke sekolah dan seusia denganmu, ibuku selalu mengizinkanku makan oreo ketika aku sampai di rumah. Dia bilang itu adalah hadiahku karena melakukan pekerjaan yang begitu baik."


"Nyonya Win suka memberiku irisan apel dan melon."


"Apakah kamu lebih suka memiliki buah-buahan untuk besok?"


"Heh, ngga mungkin begitu," katanya serius. "Oreo jauh lebih baik."


Dia menunjuk ke arah sekolah. "Ayo. Kamu siap untuk memulai?"


"Ya, aku rasa begitu," gumamnya. Saras mengulurkan tangan, menawarkan tangannya.


Raka mendongak ke arahnya. "Tunggu - apakah kamu punya susuu?"


"Aku bisa mendapatkan itu dari kafetaria, kalau kamu mau."


Dengan itu, Raka meraih tangannya dan tersenyum pada Saras sejenak sebelum mereka kembali ke dalam.


Pelajaran pertama untuk Raka di mulai, berjalan cukup lancar bagi Saras dan terasa berat untuk Raka.


"Um, Bu... Bisa kita cicipi oreonya sekarang?" tanya Raka malu-malu.


Dia telah melirik belasan kali pada bungkusan oreo dan sekotak susu putih yang terpajang di meja Saras dan berharap wanita itu akan menawarinya segera. Tapi itu belum terjadi sampai dia kemudian memutuskan untuk bertanya. Dalam hati kecilnya ia merutuki ketidak pekaan wanita itu. Meletakkan oreo dan susu di hadapan anak kecil adalah sebuah cara untuk menggoda, bukan?

__ADS_1


"Oh, kamu menginginkannya sekarang? Saras bertanya balik.


Tangannya meraih kotak susu dan bungkusan oreo, meletakkannya di meja Raka dengan tersenyum. "Milikmu!"


Pupil mata Raka membesar sesaat karena girang. "Umm, Bu... Apa kita bisa memiliki sebuah gelas?"


"Astaga, bagaimana aku bisa melupakan itu. Tunggu sebentar."


Saras bangkit dan berjalan keluar kelas.


Raka membeku. Ruangan kelas tiba-tiba terasa begitu senyap. Dia bahkan tidak berani memutar kepalanya untuk melihat ke sisi lain.


Beruntung Saras datang dengan cepat. "Hey, kamu takut sendirian?" tebak Saras dengan tepat.


Raka hanya menunduk. Merasa sedikit lega.


Segelas susu dalam gelas tinggi dan oreo yang telah berjajar di atas piring putih.


"Aku tahu cara makan oreo yang asik." ucap Saras ketika dia menyaksikan Raka memakan oreo dan meminum susunya begitu saja. Dia lebih mirip seorang jompo dengan biskuitnya dibandingkan seorang anak kecil dengan cara makan oreo seperti itu.


"Asik kaya apa?" tanya Raka kemudian.


Raka mengangguk.


"Pertama-tama, ambil oreonya." ulas Saras.


Raka mengikuti gerakannya.


"Diputaaaaar," Saras memberi nada pada kata-katanya dan Raka dengan serius mengikuti gerakan Saras.


"Dijilaaaaaaat," Saras menjulurkan lidah merah jambunya untuk menjilat selai merah muda pada oreo.


Dengan ragu-ragu Raka mengikuti gerakan itu.


Satu, dua, tiga jilatan... Saras kembali menangkupkan kedua sisi oreo dan Raka melakukan hal yang sama.


"Dicelupkan!" seru Saras girang sembari memasukkan oreonya kedalam susu di gelas dan menariknya kembali.

__ADS_1


Raka meniru dengan baik semua gerakan Saras.


Beberapa saat kemudian mereka asik mengulang kegiatan itu berkali-kali hingga oreonya habis dan kemudian melanjutkan pelajaran untuk Raka kembali dengan lebih bersemangat.


Sementara itu, di kantornya. Garin Antonio merunduk di belakang mobilnya dan meraih senjata yang berada di balik pinggangnya yang selalu ia bawa sekedar untuk berjaga-jaga. Dia berniat untuk tinggal di sana sampai dia tahu apa yang sedang terjadi.


Beberapa lemparan batu mengarah ke kantornya, suara teriakan dan kekacauan di luar telah berlangsung lebih dari setengah jam, Sutrisno tidak mengizinkannya untuk terlibat dan mengatakan bahwa ia dapat mengatasi itu semua, tapi naluri untuk mempertahankan diri selalu mengejutkan Garin dengan intensitas dan kecepatannya.


Adrenalin sepertinya memasuki sistemnya seolah-olah dia terhubung ke infus raksasa yang tidak terlihat. Dia bisa merasakan jantungnya berdebar kencang, dan telapak tangannya licin karena keringat.


Jika perlu, dia bisa menelepon mengatakan dia dalam masalah, dan dalam waktu kurang dari beberapa menit tempat itu akan dikepung oleh setiap petugas penegak hukum di daerah itu. Tapi untuk saat ini, dia menahan diri karena Sutrino melarangnya melakukan itu. Untuk satu hal, Sutrisno tidak merasa ancaman kerusuhan itu diarahkan padanya, tapi untuk tujuan provokasi semata. Ya, hanya, sekumpulan orang yang ingin memprovokasi.


Garin telah mendengar isu itu sebelumnya, dan Sutrisno telah siap dengan sejumlah pasukan keamanan yang bersiaga. Mendengarnya tidak diragukan lagi, Garin mengerti bahwa Sutrisno ingin kabar ini teredam, seolah-olah itu hanya berasal dari sekolompok orang dengan permasalahan yang tidak terlalu penting. Sebagian besar waktu, tidak ada yang peduli dengan demo-demo jenis itu. Lumrah terjadi pada setiap kantor pemerintah. Sekolompok orang merasa tidak puas lalu melakukan demonstrasi.


Meski Garin tahu pasti, kelompok yang datang kali ini bukanlah pelaku demontrasi biasa. Dan Gajakarta tidak memiliki masalah besar dengan para gelandangan, kesejahteraan yang hampir merata.


Tapi sekarang, di siang bolong, dia mendengar suara tembakan, bukan senjata kaliber besar, kemungkinan besar dua puluh dua dan dia menduga ada penjelasan sederhana, yang tidak menimbulkan banyak ancaman baginya.


Tetap saja, dia tidak cukup bodoh untuk mengambil risiko. Membuka pintu mobilnya, dia meluncur ke depan di kursi dan menjentikkan tombol di radio, untuk terhubung dengan seseorang di ruangan.


"Ini aku," katanya dengan tenang, perlahan. "Jika kalian sudah hampir selesai, aku ingin berbicara dengan wakilku, segera."


Setelah beberapa menit, Garin melihat kepala menyembul dari salah satu jendela depan. Sutrisno mendekat. "Segera teratasi, pergilah untuk menjemput Raka."


"Kamu yakin ngga membutuhkan bantuan lebih?"


"Tentu," angguk Sutrisno.


"Baiklah, aku pergi," pamit Garin.


Setelah itu, melalui jalur khusus Garin meluncur ke sekolah dengan lancar, menantikan bertemu putra semata wayangnya. Tentu saja anak laki-laki itu ingin mendengar semua tentang apa yang baru saja terjadi, tapi tentu Garin pertama-tama ingin mengetahui bagaimana keadaan anak itu.


Meski begitu, jauh di lubuk hatinya dia tidak bisa menahan perasaan senangnya membayangkan dapat bertemu Saraswati lagi. Ketegangan dua puluh menit yang lalu sudah tidak ia rasakan lagi.


"Ayah!" Raka berteriak sambil berlari menuju Garin. Garin menurunkan dirinya ke posisi untuk menangkap putranya saat dia melompat. Dari sudut matanya, dia melihat Saras mengikutinya dengan cara yang lebih tenang. Raka mundur untuk melihatnya.


"Apakah Ayah memiliki cerita menarik di kantor hari ini?"

__ADS_1


Garin menyeringai dan menggelengkan kepalanya. "Belum sejauh ini, tapi aku belum selesai. Bagaimana kabarmu di sekolah hari ini?"


"Bagus. Bu Saras memberiku kue." sahut Raka riang.


__ADS_2