
Beberapa hari sebelum Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, setelah pertandingan sepak bola terakhir liga 1 musim itu, Garin bertanya kepada Saras apakah dia ingin bergabung dengannya untuk perayaan dengan kostum bertema satwa dan fauna. Sebagai camat, Garin akan secara resmi membuka acara perayaan tersebut bersama pejabat pada jajarannya di pagi hari sebelum kemudian membaur dalam perayaan di saat sore.
Saat itu adalah hari ulang tahun Jones, dan Raka kembali meminta izin untuk menginap.
"Perayaan seperti apa itu?" Saras bertanya.
"Kamu bisa melihat beragam satwa dan fauna secara langsung dan juga virtual, kamu juga bisa menghadiri acara pemilihan maskot baru tahun ini.
"Maskot baru, wah... kedengarannya akan menjadi hari yang bersejarah. Inikah yang dilakukan orang-orang di kota kecil?”
"Kita bisa melakukan itu atau kamu bisa memilih untuk duduk di teras rumahku, mengunyah oreo, dan bermain ludo."
Saras tertawa. “Aku pikir aku akan mengambil opsi pertama aja.”
"Aku pikir juga begitu. Boleh aku menjemputmu jam empat sore?" Tanya Garin.
"Aku akan menunggu dengan napas tertahan. Makan malam di tempatku setelahnya?" Saras menawarkan.
"Kedengarannya bagus. Keliatannya kamu juga harus tahu, kalau kamu terus membuatkanku makan malam, kamu akan membuat lidahku ketagihan dan manja." Gurau Garin.
"Ngga apa-apa," katanya sambil mengedipkan mata. "Sedikit memanjakan ngga akan menyakiti siapa pun." Balas Saras.
Pilihan telah ditentukan, Saras akan ikut menghadiri hari perayaan saat sore dan dilanjutkan dengan makan malam di apartemennya.
Dan rencana itu akhirnya benar-benar terlaksana dengan lancar.
"Jadi, bisakah kamu memberitahu aku," kata Garin kepada Saras ketika mereka berjalan kaki menuju gedung perayaan malam itu, "apa yang paling kamu rindukan dari kota besarmu dulu?"
"Galeri, museum, konser. Restoran yang buka lewat jam sembilan." Jawab Saras.
Garin tertawa. "Tapi dari itu semua, apa yang paling kamu rindukan?"
Saras melingkarkan lengannya ke lengan Garin. "Aku rindu Mak Birundasih Coffee & Kitchen. Kamu tahu-- itu kafe kecil tempat dimana aku bisa duduk dan menyesap teh sambil membaca koran atau portal berita online di akhir pekan, atau sekedar bergosip kecil dengan pemiliknya.
Menyenangkan sekali bisa melakukan hal itu di tengah pusat kota.
Rasanya seperti oasis kecil, karena setiap orang yang berpapasan denganmu di jalan selalu terlihat seperti sedang terburu-buru entah kemana.
Ngomong-ngomong selain tempatnya, aku juga merindukan pemilik tempat itu, namanya Mak Birundasih, dia berasal dari seberang, seorang wanita yang ulet dalam usahanya, selain mengelola kafe kecil itu dia juga tengah merintis karirnya sebagai seorang YouTuber dengan sekitar dua puluh dua ribuan subscribers saat aku pindah ke sini."
Mereka berjalan dalam diam selama beberapa saat.
"Kamu tahu, kamu juga bisa melakukan kebiasaanmu itu di sini," Garin akhirnya menawarkan.
"Beneran?"
"Tentu. Ada tempat seperti itu di jalan Kartini Merdeka disana."
"Aku belum pernah melihatnya."
"Yah, itu bukan sebuah kafe ternama." l
"Kalau begitu, ada apa aja di sana?"
Garin mengangkat bahu. "Itu pom bensin, tapi di depannya ada bangku yang bagus, dan aku yakin jika kamu membawa teh celup sendiri, mereka bisa membantumu mengambilkan secangkir air panas untukmu."
Saras terkikik. "Kedengarannya menarik."
Saat mereka menyeberang jalan, mereka tertinggal di belakang sekelompok orang yang jelas-jelas merupakan bagian dari perayaan tersebut. Mengenakan pakaian bertema tumbuhan dan hewan, mereka tampak seperti baru saja keluar dari pedalaman rimba—seorang pria dengan kepala singa yang kebesaran dan seorang wanita dengan rok daun tebal dan baju dipenuhi ranting berjalan berdampingan.
Sementara Garin sendiri mengenakan kostum beruang kuning yang paling terkenal sedunia, dan Saras... wanita itu selalu memiliki cara untuk tampil memukau, ia mengenakam celana hitam dan sepatu bot kulit kerah tinggi, dan topi bertepi lebar, dengan atasan kemeja hijau muda dengan rompi coklat tua juga sepasang sayap dipunggung, dia menyulap dirinya menjadi peri hutan yang modis. Jenis kostum yang tidak pernah singgah di benak Garin sebelumnya.
Di tikungan mereka terbagi menjadi dua kelompok terpisah, menuju ke arah berlawanan. Garin dan Saras mengikuti kelompok yang lebih kecil.
__ADS_1
"Kamu selalu tinggal di sini, kan?" Saras bertanya.
"Kecuali tahun-tahun aku kuliah, aku tinggal dekat kampusku di wilayah timur."
“Apakah kamu ngga pernah ingin pindah? Untuk merasakan sesuatu yang baru?”
"Seperti kafe Mak Birundasih?"lirik Garin.
Saras menyenggolnya sambil bercanda dengan sikunya. "Tentu bukan hanya itu aja. Kota besar memiliki semangat, rasa kegembiraan yang ngga dapat kamu temukan di kota kecil."
"Aku ngga meragukan pendapatmu. Tapi sejujurnya, aku ngga pernah tertarik pada hal-hal seperti itu. Aku ngga membutuhkan hal-hal itu untuk membuatku bahagia. Tempat yang tenang dan menyenangkan untuk melepas penat di penghujung hari, indah dilihat, beberapa teman baik. Apa lagi yang bisa aku harapkan?"
"Gimana rasanya tumbuh besar di sini?" tanya Saras lagi.
"Apakah kamu pernah melihat Pertunjukan Andrea Hirata? Laskar Pelangi?"
"Siapa yang belum pernah mendengar itu?"
"Yah, kira-kira seperti itu. Tentu saja Gajakarta ngga terlalu kecil dan klasik, tapi suasananya seperti kota kecil, di tempat yang kelihatannya nyaris selalu aman. Aku ingat saat aku masih kecil—tujuh atau delapan--dan aku biasa pergi bareng teman-temanku untuk memancing atau menjelajah atau sekadar bermain dan aku akan pergi sampai waktunya makan malam.
Dan orang tuaku ngga akan khawatir sama sekali, karena mereka memang ngga perlu merasa begitu.
Dihari yang lain, kami berkemah di tepi sungai sepanjang malam dan pikiran bahwa sesuatu yang buruk mungkin terjadi pada kami ngga pernah terlintas dalam pikiran kami. Itu adalah cara yang luar biasa untuk tumbuh dewasa, dan aku ingin Raka memiliki kesempatan untuk tumbuh dewasa seperti itu juga."
"Kamu akan ngebiarin Raka berkemah di tepi sungai sepanjang malam?"
"Mungkin ngga," jawab Garin. “Segala sesuatunya udah banyak berubah, bahkan di kota kecil ini.”
Ketika mereka sampai di tikungan, sebuah mobil berhenti di samping mereka. Di ujung jalan, sekelompok orang berjalan mondar-mandir di depan berbagai kandang hewan kecil dan juga beberapa stan tanamam yang beragam.
"Kita berteman, kan?" Garin bertanya.
"Menurutku begitu." jawab Saras.
"Apa kamu keberatan kalau aku bertanya padamu?"
“Seperti apa mantan suamimu?”
Saras melirik ke arah Garin dengan heran. “Mantan suamiku?”
“Aku bertanya-tanya tentang hal itu. Kamu ngga pernah menyebut dia selama kita berbicara.”
Saras diam saja, tiba-tiba berniat berjalan mendahului Garin menuju ruang perayaan di depannya.
"Kalau kamu ngga mau menjawab, kamu ngga perlu menjawabnya," Garin menawarkan. "Aku yakin itu ngga akan mengubah kesanku terhadapnya."
“Dan kesan apa itu?” Saras menghentikan langkahnya.
"Bahwa aku ngga menyukai pria itu."
Saras tertawa. "Kenapa kamu bilang begitu?"
“Karena kamu ngga menyukainya.”
"Kamu cukup tanggap."
"Itulah sebabnya aku berada pada posisiku saat ini di Gajakarta." Garin mengetuk pelipisnya dan mengedip pada wanita itu. “Aku dapat menemukan petunjuk yang diabaikan oleh orang biasa.”
Saras tersenyum, meremas lengan pria itu ekstra. "Baiklah...mantan suamiku. Namanya Aldi Bakar dan kami bertemu tepat setelah dia menyelesaikan gelar MBA-nya. Kami menikah selama tiga tahun. Dia kaya, berpendidikan tinggi, dan tampan..." Dia mencentangnya, satu demi satu, dan ketika dia berhenti, Garin mengangguk.
"Mmm...Aku mengerti kenapa kamu ngga menyukai pria itu."
"Kamu ngga membiarkan aku menyelesaikan ceritaku."
__ADS_1
“Masih ada lagi?”
"Apa kamu benar-benar ingin mendengar ini?"
"Maafkan aku. Lanjutkan."
Saras ragu-ragu sebelum akhirnya melanjutkan.
"Yah, selama beberapa tahun pertama, kami bahagia. Setidaknya, aku bahagia. Kami punya apartemen yang indah, kami menghabiskan seluruh waktu luang kami bersama, dan aku pikir aku tahu siapa dia. Tapi ternyata ngga. Ya, ternyata aku ngga benar-benar mengenal dia seluruhnya.
Pada akhirnya, kami selalu bertengkar, kami hampir ngga berbicara sama sekali, dan... dan itu ngga berhasil," Saras menyelesaikannya dengan cepat.
"Seperti itu?" Garin bertanya.
"Seperti itu aja," balas Saras.
"Apa kamu pernah melihatnya lagi?"
"Ngga, ngga pernah lagi."
"Apakah kamu mau?"
"TIDAK."
"Itu buruk, ya?"
"Lebih buruk."
"Maaf aku mengungkitnya," ujar Garin.
"Ngga apa-apa. Toh, aku lebih baik tanpa dia."
"Jadi, kapan kamu tahu bahwa hubungan kalian itu benar-benar udah berakhir?"
“Saat dia menyerahkan surat cerai padaku.”
"Kamu ngga menyangka surat jenis itu akan datang dalam hidup rumah tangga kalian ?"
"Ngga, ngga pernah sama sekali."
"Aku tahu aku ngga menyukainya." Garin juga tahu bahwa Saras belum menceritakan semuanya padanya.
Saras tersenyum penuh penghargaan.
"Mungkin itu sebabnya kami rukun. Kami saling berbagi dalam berbagai hal dan cukup terbuka."
"Kecuali, tentu saja, tentang keajaiban kehidupan di kota kecil, bukan?"
"Aku ngga pernah bilang aku ngga suka di sini." Sela Saras
"Tetapi pernah ngga kamu membayangkan dirimu tinggal di tempat seperti ini?" Tanya Garin.
"Maksudmu selamanya?"
"Ayolah, kamu harus mengakuinya itu juga ide bagus." Garin menyeringai.
"Ya. Aku pernah mengatakan itu." Ujar Saras.
"Tapi itu bukan untuk dirimu sendiri, Maksudku, dalam jangka panjang. Maksudku, itu hanya percakapan umum waktu itu."
"Aku kira itu tergantung." Ucap Saras.
"Tergantung apa?" Garin tertarik.
__ADS_1
Saras tersenyum padanya. “Tentang apa alasanku untuk tetap tinggal.”
Menatap mata pria dihadapannya, dia tidak bisa tidak membayangkan bahwa kata-katanya adalah sebuah undangan atau janji.