
Berada di kamar yang sama dengan Garin benar-benar membuat Saras gugup kali ini. Saras tahu itu bukan pertama kalinya mereka berada dalam satu ruangan dan hanya berdua. Tapi ini, tentang ruangannya.
"Aku akan mandi, setelah itu giliranmu," ucap Garin.
Saras menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Hanya butuh sekitar sepuluh menit untuk Garin menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi, dan dia pun keluar dengan terlihat segar.
Saras masih duduk terdiam di ranjang saat Garin menghampirinya untuk menyerahkan sebuah handuk dan pakaian.
"Giliranmu untuk membersihkan diri, pakaian ini masih baru. Dia membeli tanpa sempat memakainya," jelas Garin. Ekspresi wajahnya datar.
Saras dengan cepat menangkap maksud Garin, dia menerima handuk dan pakaian itu lalu mengikuti Garin yang mengarahkannya ke kamar mandi seolah-olah pria itu benar-benar khawatir ia akan tersesat.
Di depan pintu kamar mandi. "Apa kamu ingin aku keluar dari kamar ini sementara kamu mandi?" Tawar Garin untuk kenyamanan Saras.
Saras menggeleng. "Ngga perlu, kamu bisa melakukan semua keperluanmu di sini sementara aku mandi."
"Baiklah," ucap Garin.
Dengan itu Saras berlalu ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Dan Garin bergerak ke ranjang, duduk di tempat yang hampir sama dengan posisi duduk Saras sebelumnya. Lima menit, dia berada dalam posisi itu sekitar lima menit, sebelum kemudian beranjak ke dapur untuk membuat dua gelas coklat panas.
Saat ia kembali ke kamar dengan dua cangkir coklat panas di nampan, Saras masih berada di kamar mandi. Garin meletakkan nampan itu di nakas dan kembali duduk. Dia kembali duduk di sisi ranjang, meraih ponselnya dan memeriksa sejumlah panggilan dan pesan yang masuk ke nomornya.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Saras keluar dengan penampilan baru dan menyebarkan aroma segar yang sama dengan sabun mandi yang Garin gunakan. Aroma maskulin.
"Dimana kita akan mengobrol selanjutnya?" Tanya Saras sembari berjalan mendekat, seolah pertanyaan itu telah ia siapkan selama berada di kamar mandi.
Tapi kemudian matanya menangkap keberadaan cangkir yang ada di atas nakas sebelum Garin membalas pertanyaannya.
"Duduklah di sini," Garin menepuk tempat di sisi kirinya. "Kita bisa minum secangkir coklat sebelum benar-benar beristirahat."
"Baiklah," jawab Saras singkat.
Saat duduk di sebelah Garin, ketegangan kembali terasa bagi wanita itu. Ketenangan yang ia bawa dari dalam kamar mandi perlahan menguap. Saras memperhatikan Garin dari sudut matanya. Pria itu lebih pendiam dari biasanya, dan itu membawa kegugupan bagi Saras.
"Untukmu," Garin menyodorkan secangkir coklat ke tangan Saras.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Saras.
Untuk beberapa saat, ruangan itu kembali sunyi. Garin telah menghabiskan setengah isi cangkirnya dan meletakkan cangkirnya kembali di atas nakas.
"Sudah cukup larut, di sini ada kamar tidur tamu tapi itu sudah terlalu lama ngga digunakan, jadi aku berpikir untuk kamu tidur di sini atau di kamar Raka, dia memiliki ekstra bed. Umm.. aku ngga yakin kamu lebih nyaman di mana...," ucap Garin ragu-ragu.
"Kelihatannya aku telah menerima tawaran basa-basimu, dan sekarang kamu ngga punya cukup persiapan untuk menampungku," canda Saras, dia hampir merasa kesulitan untuk menelan coklat hangat dari cangkirnya sejak ketegangan terus melandanya, dan kini ia berharap suasananya dapat segera mencair.
"Aku bersungguh-sungguh untuk menawarimu ke sini, tapi.... aku baru menyadari—-,"
"Aku memilih kamar Raka," potong Saras sebelum Garin dapat menyelesaikan kalimatnya.
"Oh, oke...," ucap Garin sedikit terkejut.
"Aku akan menghabiskan coklat ini sebelum ke sana," ucap Saras.
"Baik." Jawab Garin singkat.
Saat Garin hendak meraih cangkirnya di atas nakas, Saras menyodorkannya cangkir kosong. "Sudah habis..."
Itu membuat Garin urung meraih cangkirnya sendiri dan beralih meraih cangkir kosong dari tangan Saras dan menaruh cangkir itu di atas nakas.
"Ya, itu.... ,"Ucap Garin.
"Ya?"
"Aku memiliki tissue di dapur dan ruang makan kalau kamu ingin membersihkan sisa coklat di wajahmu, aku ngga memilikinya di sini," ucap Garin tak enak hati.
Dia mulai merasa menyesal tidak memiliki tissue yang cukup disetiap ruangan.
"Kamu ngga pernah menonton film romantis?" Tanya Saras kemudian.
Pertanyaan Saras membuat Garin terlihat kosong sesaat. Saat itulah Saras mendekatkan wajahnya dan mengusapkan bibirnya dengan lembut ke bibir Garin. Sekali, dua kali, tiga kali..., dan yang ke empat kalinya ciuaman itu mendapatkan sambutannya. Saat mulutnya terbuka, dia merasakan lidah Garin menyentuh lidahnya lagi, lengan Saras bergerak meremas rambut pria itu.
Saat ciumman itu meningkat ada perasaan mendesak di dalamnya, gayirah yang hampir membara hingga membuat mereka berdua terengah-engah. Dan mereka memutuskan untuk berhenti di sana.
Mereka tidak banyak bicara setelahnya, Saras hanya berbaring di samping Garin dengan kepala di dadanya saat Garin mengusap rambutnya dengan lembut.
__ADS_1
Saras merasa Garin ingin menyendiri dengan pikirannya. Saat dia memandang sekeliling kamar tidur, dia menyadari untuk pertama kalinya bahwa mereka dikelilingi oleh foto-foto Maudy, termasuk satu di meja tempat tidur yang bisa dia raih dan sentuh.
Tiba-tiba gelisah, dia juga melihat file manila yang pernah disebutkan Garin sebelumnya, yang berisi informasi yang dia kumpulkan setelah Maudy meninggal.
Benda itu tergeletak di rak, tebal dan ditata dengan baik, dan dia mendapati dirinya memandangi benda itu sambil kepalanya naik dan turun setiap kali Garin menarik napas.
Akhirnya, ketika keheningan di antara mereka mulai terasa menindas, Saras mengangkat kepalanya dan berbaring di bantal menghadap Garin.
"Apa kamu baik-baik saja?" Saras bertanya.
"Aku baik-baik saja," katanya, tanpa menatap matanya.
"Kamu agak pendiam."
"Hanya berpikir," gumam Garin.
“Kuharap hal-hal baik.”
"Hanya yang terbaik." Garin menelusuri lengan Saras dengan jarinya. "Aku mencintaimu," bisiknya.
"Aku pun mencintaimu." balas Saras lembut.
"Maukah kamu tinggal bersamaku sepanjang malam?" tanya Garin.
"Apakah kamu ingin aku melakukannya?"
"Sangat."
"Apa kamu yakin?"
"Sangat yakin."
Meski masih sedikit gelisah, Saras membiarkan Garin menariknya mendekat. Garin menciumnya lagi, lalu memeluknya hingga akhirnya mereka berdua tertidur.
Di pagi hari, ketika Saras terbangun, butuh beberapa saat baginya untuk menyadari di mana dia berada. Garin mengusap tulang punggungnya dan dia merasakan tubuhnya mulai merespons.
Ada sesuatu yang berbeda kali ini. Bukan hanya cara pria itu mencium dan berbisik padanya, tapi cara dia memandang menunjukkan betapa seriusnya hubungan mereka.
__ADS_1
Itu, dan fakta bahwa suatu saat ketika dia sedang tidur semalam, Garin diam-diam telah menyimpan foto-foto dan file manila itu ke tempat yang tertutup.