
"Bu Saras memberiku oreo Blackpink dan juga susu," ujar Raka riang.
"Wah, itu oreo yang seperti apa?" Garin bertanya, mencoba memperhatikan pendekatannya tanpa terlihat terlalu jelas.
"Oreo. Yang bagus--dengan selai bewarna merah muda, bukan selai putih seperti yang pernah Ayah belikan terakhir kali."
“Oh, baiklah, tapi kamu ngga boleh terlalu sering meminta yang seperti itu, ya...” katanya.
"Hmm, bagaimana lesnya?" Garin mengalihkan percakapan.
Raka mengerutkan alisnya. "Apa?"
"Bu Saras membantumu mengerjakan tugas sekolahmu, kan?"
"Oo, itu menyenangkan, kami bermain-main."
"Permainan?"
"Akan kujelaskan nanti," kata Saras sambil melangkah maju, "tapi kami udah memulainya dengan baik."
Mendengar suaranya, Garin berbalik menghadap sumber suara dan kembali merasakan kejutan yang menyenangkan.
Dia mengenakan rok panjang dan blus lagi, tidak ada yang mewah, tetapi ketika dia tersenyum, Garin merasakan perasaan aneh yang sama seperti yang dia alami saat pertama kali bertemu dengannya. Garin sadar bahwa dia belum sepenuhnya menghargai betapa cantiknya wanita itu terakhir kali.
Ya, dia mengenali kenyataan bahwa wanita itu menarik, dan ciri-ciri yang sama langsung terlintas di wajahnya, rambut sehalus jagung, wajah yang bertulang halus, mata berwarna coklat-- tapi hari ini entah bagaimana dia terlihat lebih lembut, wajahnya lebih lembut. ekspresi hangat dan hampir akrab.
Garin menurunkan Raka ke tanah.
"Jagoan, kamu mau menunggu ayah di dekat mobil sementara ayah ngobrol dengan Bu Saras beberapa menit?"
"Oke," sahut Raka dengan mudah.
Kemudian, mengejutkan Garin, Raka melangkah dan memeluk Saras, yang membalas pelukan Raka dengan pelukan yang hangat sebelum pria kecil itu bergegas pergi.
Begitu Raka pergi, Garin memandangnya dengan rasa ingin tahu. "Kalian berdua sepertinya cocok."
"Kami bersenang-senang hari ini."
"Kedengarannya begitu. Jika aku tahu kamu sedang makan kue dan bermain game, aku ngga akan terlalu mengkhawatirkannya."
"Hei... terserahlah," katanya. "Tetapi sebelum kamu terlalu khawatir, aku ingin kamu mengetahui permainan yang melibatkan membaca. Kartu flash."
__ADS_1
"Kupikir ada lebih banyak cerita di baliknya. Bagaimana kabarnya hari ini?"
"Bagus. Perjalanannya masih panjang, tapi bagus." Dia berhenti.
"Dia anak yang hebat, dia benar-benar hebat. Aku tahu aku udah mengatakan itu sebelumnya, tapi aku ngga ingin kamu melupakannya karena apa yang terjadi di sini. Dan jelas sekali dia memujamu."
"Terima kasih," katanya sederhana, bersungguh-sungguh.
"Terima kasih kembali."
Ketika dia tersenyum lagi, Garin berbalik, berharap dia tidak menyadari apa yang dipikirkan Garin sebelumnya dan pada saat yang sama berharap dia menyadari.
"Hei, ngomong-ngomong, terima kasih untuk kipas anginnya," dia melanjutkan setelah jeda, mengacu pada kipas angin berukuran industri yang dia turunkan di ruang kelasnya pagi itu.
"Ngga masalah," gumamnya, terpecah antara ingin tetap di sini dan berbicara dengannya dan ingin melepaskan diri dari gelombang kegugupan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Untuk sesaat, tak satu pun dari mereka mengatakan apa pun. Keheningan yang canggung berlangsung hingga Garin akhirnya menggerakkan kakinya dan bergumam, "Yah... kurasa sebaiknya aku mengantar Raka pulang."
"Oke." sahut Saras.
“Ada beberapa hal yang harus kami lakukan.”
"Oke," katanya lagi.
"Bukan itu yang terpikirkan olehku."
"Baiklah kalau begitu." Dia berhenti, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku.
"Kurasa sebaiknya aku mengantar Raka pulang."
Saras mengangguk dengan serius. "Kamu udah mengatakan itu tadi."
"Ya?"
"Ya."
Saras menyelipkan sehelai rambut tergerai ke belakang telinganya. Untuk alasan yang tidak bisa dia jelaskan, dia menganggap ucapan selamat tinggal yang diucapkan pria itu menggemaskan, hampir memesona.
Dia berbeda dari pria-pria yang dikenalnya di Cijengkol, pria seperti Aldi yang berbelanja di gerai Versaset Plaza Cijengkol sepertinya tidak pernah kehilangan kata-kata. Pada bulan-bulan berikutnya setelah perceraian, Saras mulai melihat mereka seperti potongan karton pria sempurna.
"Baiklah, kalau begitu," kata Garin, dia tidak ingin menyadari apa pun kecuali kebutuhannya untuk berangkat pergi.
__ADS_1
"Terima kasih lagi ya..." Dan dengan itu, dia mundur ke arah mobilnya, memanggil Raka saat dia berjalan pergi.
Gambaran terakhirnya adalah Saras berdiri di halaman sekolah, melambai ke arah mobil yang mundur dengan senyuman samar di wajahnya.
🎵Bagaikan mutiara bola matamu
Bagaikan kain sutra lesungnya pipimu
Cantiknya kamu (kamu)
Eloknya kamu (kamu)
Semua yang ada padamu membuat aku jadi gelisah
Sampai aku terjaga dari mimpiku
Terpesona aku terpesona
Memandang memandang wajahmu yang manis
Terpesona aku terpesona
Menatap menatap wajahmu yang manis🎵🎸
Garin mengikuti lantunan syair lagu dari radio Semart FM yang ia putar. Lagu Terpesona yang dinyanyikan pertama kali oleh grup vokal bernama New Nazareth yang berasal dari Talaud, Sangihe, Sulawesi Utara.
Lagu yang diciptakan oleh Samuel Takalide yang merupakan motor penggerak dari New Nazareth dan juga diketahui merupakan komposer sekaligus pengaransemen lagu di dalam grup vokal tersebut, jelas lagu tersebut digandrungi banyak kalangan.
Lagu berjudul Terpesona banyak diputar di berbagai platform media sosial usai beberapa pasukan militer menjadikan lagu tersebut sebagai yel-yel.
Lagu tersebut juga banyak diputar di jejaring sosial sebagai lagu latar, dimana warganet membuat video berjoget dengan diiringi lagu Terpesona.
Dari lirik lagunya, Terpesona menceritakan seorang laki-laki yang begitu terpesona dengan kecantikan wanita, lirik lagu yang begitu mewakili perasaan Garin saat itu.
Sementara Garin asik mengemudi sembari berdendang, Raka duduk dengan tenang memainkan tokoh superhero kesukaannya. Sapidermawan.
Pahlawan super fiktif dari studio Wafer Comics yang diciptakan duet oleh penulis ternama Tabir Surya dan artis Xialin Kei. Sapidermawan telah menjadi salah satu pahlawan super yang paling terkenal di dunia.
Alin Zayn, Aktris (terpilih karena namanya mirip dengan artis penulis komik tersebut) yang pertama kali memerankan sosok manusia setengah sapi dari komik Mangatoon ke layar kaca dan merambah ke layar lebar. Wanita berzodiak Virgo itu tampil perdana dalam film Sapidermawan memerankan tokoh bernama Kiana Putar dan para penonton usia remaja langsung dapat terhubung ke peran identitas ganda sang superhero.
Serial Sapidermawan menceritakan tokoh utama wanita bernama Kiana Putar, siswi SMA di balik identitas Sapidermawan, seorang remaja yang di gambarkan masih labil dan penuh obsesi, korban bully dalam perebutan kotak hadiah dan di selimuti kesepian.
__ADS_1
Sapidermawan di gambarkan sebagai superhero remaja yang mandiri, tidak seperti pahlawan remaja lainnya yang berasal dari latar belakang kaya raya. Dengan demikian dia harus belajar secara mandiri dan menyadari bahwa "seiring datangnya rezeki, maka itu adalah waktunya berbagi, seteguk dua teguk dapat menyelamatkan anak bangsa,"– kata kata yang selalu tertulis di panel akhir setiap komik dan film Sapidermawan.
Raka adalah salah satu anak dimuka bumi ini yang tidak mampu menolak pesona kedermawanan seorang Sapidermawan, sang superhero.