
Ketika Raka dan Saras keluar dari sekolah setelah sesi bimbingan, Garin seperti biasa, ia tengah bersandar di mobilnya, tetapi kali ini dia hampir tidak melihat Saras saat Raka datang berlari untuk memberinya pelukan.
Setelah menjalani rutinitas kebiasaan mereka seperti biasa - bertukar cerita tentang pekerjaan dan sekolah, dan sebagainya - Raka naik ke mobil tanpa diminta. Tidak lama kemudian Saras muncul dan mendekatinya, Garin terlihat menjauh.
"Memikirkan cara menjaga warga tetap aman sejahtera, Pak Camat? Kamu terlihat seperti mencoba menyelamatkan dunia," katanya dengan santai.
Garin menggelengkan kepala. "Hehhe ngga juga, hanya sedikit sibuk aja."
"Aku bisa melihat itu."
Sebenarnya, hari Garin tidak terlalu buruk. Sampai akhirnya dia harus menghadapi Saras. Sebelumnya di dalam mobil, dia telah berdoa kecil-kecilan di sepanjang jalan agar dia melupakan seberapa konyolnya dia terdengar beberapa hari yang lalu, setelah pertandingan.
"Bagaimana Raka hari ini?" tanya dia, menahan pikiran-pikiran itu.
"Raka punya hari yang hebat. Besok aku akan memberikannya beberapa buku kerja yang sepertinya sangat membantu. Aku akan menandai halamannya untukmu."
"Oke," kata dia dengan singkat. Ketika Saras tersenyum padanya, dia bergeser dari satu kaki ke kaki yang lain, berpikir betapa cantiknya wanita itu terlihat.
Dan apa yang mungkin Saras pikirkan tentangnya.
Garin memaksa kedua tangannya ke dalam saku.
"Aku senang berada di pertandingannya," kata Saras kemudian.
"Aku juga." Timpal Garin.
"Raka bertanya apakah aku akan datang lagi untuk menontonnya bertanding. Kamu ngga keberatan, kan?"
"Ngga sama sekali," kata Garin. "Tapi aku ngga tahu pukul berapa dia bermain. Jadwalnya di tempel di kulkas rumah."
Saras menatapnya dengan seksama, bertanya-tanya mengapa pria itu tiba-tiba terlihat begitu jauh. "Jika kamu lebih suka aku ngga pergi, cukup katakan saja."
"Oh ngga, ini baik-baik saja," kata dia. "Jika Raka memintamu untuk datang dan menonton, maka tentu saja kamu harus datang. Jika kamu ingin, tentu saja."
"Apakah kamu yakin?" Tanya Saras.
"Iya. Aku akan memberitahumu besok pukul berapa pertandingannya." Kemudian, sebelum dia bisa menghentikannya, dia menambahkan, "Selain itu, aku ingin kamu pergi ke sana juga."
Garin tidak mengharapkan untuk mengatakannya. Tapi tdak diragukan lagi dia ingin mengatakannya. Namun di sini, dia lagi-lagi berbicara berlarut-larut tanpa kendali...
"Kamu ingin?" tanya Saras lagi.
Garin menelan ludah. "Iya," katanya, berusaha keras untuk tidak merusak semuanya sekarang.
Saras tersenyum. Di dalam dirinya, dia merasa ada kegembiraan.
__ADS_1
"Maka aku akan ada di sana, pasti. Ada satu hal, bagaimanapun..."
"Apa itu?" Garin bertanya.
Saras menatap matanya. "Apakah kamu ingat ketika kamu bertanya padaku tentang kipas angin?"
Dengan kata 'kipas angin', semua perasaan yang dia rasakan selama akhir pekan tiba-tiba datang kembali, hampir seperti dia mendapat hantaman di perut.
"Iya?" kata Garin dengan hati-hati.
"Aku memiliki waktu bebas pada malam Jumat, jika kamu masih tertarik."
Hanya butuh sebentar bagi kata-kata itu untuk tersambung.
"Aku tertarik," katanya, tersenyum lebar.
Dia nyaris saja melompat setinggi mobilnya karena gembira.
Setelah berpamitan dengan senyuman serba salah, Garin berhasil menyusul Raka masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudinya dengan baik dan benar.
Mesin mobil dinyalakan dan....
BRAK...!
"OPPPPPP! OOPPPP!!! YAAAAAH!" pekik pak Somad sambil berlari, satpam sekolah yang merangkap tukang parkir itu sembari memegang kepalanya yang mulai terasa berdenyut tiba-tiba.
"Hey, kamu baik-baik aja, jagoan?
"Aku oke, Ayah," sahut Raka tampak tenang.
Garin memeluk lega putranya dan bersegera turun dari mobil.
Ketika dia berbalik, dia mendapati Saras yang berdiri dengan sebelah tangannya menutupi mulutnya sendiri. Garin memejamkan mata, berdoa sejenak agar pak Tarnow pesulap kenamaan ada di sana saat itu dan bertepuk tangan tiga kali, jadi apa Prok.. Prok.. Prok...
Saat Garin kembali membuka mata, ia masih melihat Saras berdiri di tempat yang sama. Seketika dadanya terasa sesak dan napasnya melambat.
"Bapaaaak, kuhama ieu teh bapakkk..., aduuuh" seru panik pak Somad dengan wajah pucat dan jantung berdebar tidak karuan.
(terjemahkan masing-masing aja ya..)
Garin tersentak dan segera berjalan tergesa ke arah belakang kendaraannya untuk melihat kerusakan apa yang telah ia buat.
"Maaf, Pak, aduh ngga sengaja.... Tadi sedikit melamun," ucap Garin dengan meringis canggung.
"Walaah, Bapak Camat ieu teh, selpi dulu atuh Pak... Nanti biar saya saja yang menyingkirkan tong sampahna," pak Somad berseru girang. Ia segera mengeluarkan ponsel merk Somay kesayangan dari kantong celananya.
__ADS_1
"Hayu Pak Camat, senyumnya... Ciiisss!"
Kemudian pak Somad memeriksa hasil jepretannya. Karena menurut pak Somad senyumnya kurang lebar pada jempretan pertama, mereka kembali mencoba mengambil foto kedua dan ketiga. Dan sesi foto tersebut berakhir setelah jepretan ke dua belas. "Punten, Pak Camat.. Ijin, saya kirim ke WA mak di kampung hela nya' Pak. Meni kasep pisan ieu teh"
"Silahkan, Pak."
Beberapa menit kemudian pak Somad telah selesai dengan tong sampah yang tersangkut di bemper belakang mobil Garin.
Setelah berterima kasih dan menyelipkan beberapa lembar uang bergambar pahlawan di tangan pak Somad, Garin bersegera masuk ke mobil. Dia bersyukur pak Tarnow ternyata berhasil melenyapkan Saras dari hadapannya sehingga ia dapat kembali bernapas dengan normal.
"Apa Ayah merusak mobil kita?" tanya Raka saat Garin kembali berhasil duduk dengan baik di belakang kemudi.
"Hmm, hanya lecet sedikit," Garin mengangkat kedua bahunya.
"Sayang sekali, padahal aku ingin mobil baru," ucap Raka dengan wajah lesu.
Garin menatap tak percaya pada pria kecil di sampingnya itu, lalu menggeleng pasrah.
Mobil melaju perlahan membelah keramain di sore hari, Gajakarta tidak pernah benar-benar mengalami macet di jalan raya, tapi sore hari selalu lebih ramai dibanding jam-jam lainnya.
"Kamu ingin kita makan apa untuk malam ini?" tanya Garin memecah keheningan.
"Aku ingin yang manis," sahut Raka.
"Cake?"
"Bukan, itu daging."
"Bistik?"
"Bukan, tapi makanan yang ngga boleh bisik-bisik pesannya."
"Ha? Apa ada makanan yang seperti itu?"
"Teriaki."
"Apa!?"
"Teriaki!"
Garin menginjak pedal rem dan menepi. " Kamu ingin aku meneriaki apa?" Ia bertanya sembari memandang ke sisi kiri dan kanan jalan dengan cepat.
Raka menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Memasang wajah prihatin untuk ayahnya. "Beef Teriaki, aku harap Ayah segera mengerti."
"Aaaa....," Garin ternganga.dan mengangguk-angguk paham. "Baiklah."
__ADS_1
Garin kembali pada kemudi dan berkendara untuk menemukan restoran yang tepat. Sembari terus berpikir dan mengingat-ingat lagi apa ada doanya hari ini yang terpeleset dan membuat Tuhan salah paham.