Jodoh Terpaksa ,Karena....

Jodoh Terpaksa ,Karena....
bagaimana


__ADS_3

Tok...tok...tok...


terdengar pintu di ketuk yang membuat kedua orang wanita yang berada di dalam menoleh ke arah pintu yang terbuka perlahan yang memunculkan sosok wanita paruh baya yang masih cantik apalagi dengan pakaian nya saat ini dan juga senyuman nya.


"Ibu...?"


"Ayo sayang...kamu sudah siap kan!


kita keluar sekarang,semua sudah menunggu kamu!"jawab ibunya sambil mendekat ke arah Irene yang bangkit dari duduknya dan terpaku memandang Ibunya saat mendengar ucapan Ibunya barusan.


"Apakah dia sudah datang Bu?"tanya Irene seolah tahu.


"Sudah...


ayo!"ibunya mengangguk dan menggandeng Irene menuju luar kamar yang di ikuti Asti dari belakang Irene tapi saat sudah berada di luar kamar Asti pun beralih ke sisi kanan Irene ,sedangkan Bu Ratna di sisi kiri Irene sambil mengapit tangan Irene.


Jangan di tanya perasaan Irene saat itu,rasa senang juga gugup bercampur aduk tidak karuan,dengan jantung yang berdegup tidak beraturan Irene melangkah perlahan sambil menunduk diapit sahabat dan Ibunya yang tidak berhenti tersenyum sambil berjalan menuju ruangan yang sudah menunggu kedatangan Irene.


Sementara mereka yang menunggu kehadiran Irene semua pandangan tertuju ke arah datangnya Irene yang diapit oleh Ibunya dan teman nya dengan menunduk.


Terlebih Andra yang tentu sangat tidak sabar ingin melihat Irene,secara mereka sudah lumayan lama tidak bertemu secara langsung,banyak yang tidak tahu jika mereka hanya pernah bertemu satu kali saja,walaupun sudah sering ngobrol via Videocall tapi tentu beda.


Pandangan Andra tidak beralih saat yang di tunggunya muncul,walau Irene masih menundukkan wajahnya tapi tidak membuat Andra berhenti memandang,apalagi hati dan jantungnya selalu berdebar tidak karuan selain ada rasa bersalah,takut juga rindu yang tertahan.


Irene pun akhirnya sampai di hadapan semua rombongan,dan di persilahkan duduk oleh Rafi di kursi yang sudah di sediakan diantara orangtuanya,sementara Asti berada di belakang Irene.


"Baiklah...


karena sang calon bidadari Andra sudah hadir di hadapan kita semua,maka kita persilahkan untuk memberikan jawaban ,apakah lamaran keluarga Pak Adrian di terima atau tidak!"


ucap Arif yang memecah ketegangan Andra.


Arif pun menyerahkan mikropon ke arah hadapan Irene sambil membungkukkan badan nya.


Irene yang di sodorkan mikropon tidak langsung menerima tapi malah melihat kekiri dan ke kanan dimana Ibu dan ayahnya berada.


Arif yang melihat itu langsung menghampiri Pak Galang.


"sepertinya nona Irene masih bingung,jadi sebaiknya Pak Galang menanyakan langsung pada Irene tentang lamaran keluarga Pak Adrian!"


Dan Arif pun memberikan mikropon ke Pak Galang dan langsung di terima.


"Baik...


terima kasih Pak MC!


Nak...


tadi Pak Adrian sudah mengutarakan maksudnya jika beliau meminta Irene untuk menjadi istri dari putranya yaitu nak Andra.


apakah kamu menerima nya?!"tanya Pak Galang bertanya pada Irene yang duduk di sebelahnya yang masih saja menunduk,posisi duduk pak Galang pun agak nyerong agar bisa sedikit menghadap Irene tapi juga tidak membelakangi tamu.


Irene yang mendengan pertanyaan ayahnya pun menoleh ke arah ayahnya dan meraih mikropon dari tangan ayahnya.

__ADS_1


Irene pun mulai mengatur napasnya yang kurang teratur akibat rebutan dengan suara jantungnya.


"makasih ayah...


tapi...


Irene gak bisa menerima lamaran ini!"


dengan sedikit terbata Irene mengucapkan kalimat tersebut melalui mikropon yang jelas terdengar oleh para hadirin yang ada di ruangan tersebut hingga terdengar keriuhan akibat terkejut dengan ucapan Irene ,begitupun Asti dan orangtuanya Irene.


Terlebih Andra yang panik juga mama Indira yang gelisah serta Indri yang melotot bengong.


sedang pak Adrian terdiam tidak percaya.


Pikiran mereka langsung ke beberapa hari kebelakang ,mungkin itu yang membuat Irene menolak,itu yang ada di kepala mereka.


"Irene...!"


Asti berteriak tertahan.


"Nak...!"cuma itu yang keluar dari mulut Bu Ratna.


sedangkan pak Galang hanya terdiam saja.


Seolah mereka tidak ingin meyakinkan jawaban Irene barusan.


Irene yang melihat reaksi orang-orang setelah mendengar ucapan nya juga bingung,padahal sebenarnya Irene belum selesai bicara cuma karena lidahnya seolah tercekat keluarga akibat menahan rasa haru juga gugupnya yang berbaur air mata yang dia tahan agar tidak keluar,walaupun itu air mata bahagia.


tapi ucapan Irene tersebut hanya terdengar oleh ibunya saja.


"oohh..." jawab Bu Ratna sambil mengusap-usap bahu Irene untuk memberi kekuatan pada Irene yang terlihat grogi sambil mengangguk dan menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum.


"tenang...tenang semuanya...


maaf untuk nona Irene,tolong diulang dan di perjelas lagi tadi jawaban nya!"jawab Rafi yang juga sebenarnya terkejut saat mendengar ucapan Irene sehingga menimbulkan suara gaduh.


Irene yang di tanya pun kembali melirik ibunya yang dibalas anggukan serta senyuman dukungan.


Irene pun berdiri sambil memegang mikropon lagi tapi masih dengan posisi menundukkan wajahnya.


"Baik saya ulangi dan saya tegaskan...


yaaa...saya tidak akan menerima lamaran Andra!"


Irene terjeda hingga membuat para hadirin terdiam seolah menahan napas.


"kalo bukan Andra sendiri yang bicara dan meminta saya untuk menjadi istrinya!"


ucap Irene dengan tegas dan mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arah para tamu yang akhirnya mengeluarkan napas lega hingga terdengar keriuhan lagi.


Begitupun dengan Indira dan Pak Adrian serta Indri yang tersenyum lega.


Sementara Andra terdiam apalagi saat Irene mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Ma syaa Allah...


ini beneran kamu Irene yang aku lihat tiga bulan yang lalu.


kamu ternyata cantik sekali !"bathin Andra sambil menelan ludah sambil terus menatap Irene yang sudah duduk kembali.


"Andra..


ayo kamu bicara!"mama Indira menyenggol tangan Andra.


Andra pun menoleh ke arah mamanya sambil sesekali melirik ke arah Irene yang kembali menunduk sambil memainkan jari-jarinya.


"ma...


itu beneran Irene kan?"Andra malah bertanya.


"iyaa lah itu Irene...


masa kamu lupa sama calon istri kamu sendiri,gimana seeh!"bisik Indira yang terlihat kesal karena Andra bertanya hal yang tidak penting di saat seperti ini.


"Bagaimana tuan Andra?


nona Irene menginginkan anda langsung yang mengutarakan niat anda untuk meminta nona Irene!"tanya Rafi yang membuat Andra menoleh kaget.


"Baiklah"ucap sambil berdiri dan meraih mikropon dari tangan rapi dengan tersenyum yang membuat Irene terpesona.


jujur,didalam hati Irene pun mengakui saat pertama melihat wajah Andra di ruangan itu,ada rasa tidak percaya juga senang.


"ma syaa Allah..


ternyata Andra ganteng banget,perasaan dulu saat pertama ketemu biasa aja.


yaa Allah tenangkan hati ini,sepertinya hamba beneran jatuh cinta sekarang!"Irene bermonolog sendiri dalam hatinya sambil terus mencuri pandang ke arah Andra sambil menahan senyum senang karena jaim.


"Bismillah..


Assalamualaikum semuanya.


terima kasih sebelumya juga saya minta maaf kepada kelurga pak Galang selaku orangtua Irene,terlebih juga kepada Irene sendiri .


sesuai permintaan dari irene,dan dari hati yang paling dalam,saya meminta kamu untuk menjadi istri saya!


bagaimana....?"ucap Andra sambil terus memandang Irene dengan senyum menggoda dan penuh harap.


Andra pun memberikan mikropon ke arah Irene yang sudah berdiri di hadapan Andra walau masih berjarak sekitar satu meter atas arahan Rafi selaku pemandu acara.


Irene pun menerima mikropon sambil tersipu malu saat jarak mereka begitu dekat hingga jantung mereka pun tidak bisa diajak kompromi seolah ingin melonjak keluar saking kencangnya debaran itu.


"Baiklah...


saya menerimanya!!!"


"Alhamdulillah..."terdengar suara riuh dari dalam ruangan disertai tepukan tangan untuk melampiaskan kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2