
Esok harinya....
Irene keluar kamar langsung menuju dapur dan duduk di meja makan,mengambil makanan untuk sarapan nya .
Saat sedang fokus menyuap tiba-tiba muncul Ibunya dari kamar dengan pakaian khas Ibu-ibu pengajian,kerudung lebar dan baju abaya syar'i dan tidak lupa tas yang sudah terselip di tangan.
"Kamu sudah bangun Ren..."tanya Ibu Ratna sambil ikut duduk di kursi meja makan di sebelah Irene,dan menuang minum lantas meminum nya.
"Ibu mau kemana udah rapi dan cantik gitu?"
"Ibu mau ke acara pengajian,tapi bukan yang di komplek kita,di komplek tetangga,biasa ...pengajian bergilir antar majlis taklim!"
"Oohh...
Ayah udah berangkat Bu?"tanya Irene sambil terus mengunyah makanan nya.
"Ayah kan gak pulang dari kemarin,masa kamu gak sadar kalo dari kemarin kamu gak ketemu Ayah!"
"Oohh iyaa yaa...hehe"kekeh Irene dengan sedikit malu.
"pergi kemana Bu..
berapa hari perginya!"tanya Irene lagi.
"Ayah bilang nya satu Minggu,ada acara penting di Kalimantan,tapi gak tahu acara nya apa,yang jelas pasti itu ada hubungan nya dengan pekerjaan"
Dan Irene pun cuma mengangguk-angguk saja.
"ooh iyaa Ren..
__ADS_1
kamu mau pergi gak hari ini?"tanya Bu Ratna dengan serius menatap Irene.
"Gak ahh Bu...mau dirumah aja,masih pingin istirahat ini total badan dulu...
kenapa gitu Bu?"
"Ga pa pa... Ibu cuma mau bilang dan ingetin kamu..dan tolong kali ini kamu ikutin yaa..."Bu Ratna terus memandang Irene dengan penuh harap.
"soal apa itu Bu?"Irene pun jadi merasa takut di pandang seperti itu oleh Ibunya
"hhmm....gini,kamu kan sekarang udah lulus kuliah,artinya kamu sudah masuk usia dewasa,dan kemungkinan untuk menikah juga sudah cukup matang.
maksud Ibu,tolong kalo kamu mau keluar rumah itu sudah harus terbiasa pake jilbab,menutup aurat dengan sempurna."Bu Ratna terjeda lagi bicara nya,dan Irene pun hanya fokus mendengarkan.
"Dulu... Ibu sama Ayah sekolahin kamu ke SMP Islam agar kamu mengenal pake kerudung itu tujuan nya apa,tapi kamu hanya pake saat sekolah doang,begitupun saat SMA,Ibu dan Ayah berharap kamu mulai terbiasa pake jilbab saat keluar rumah,tapi itu kadang-kadang doang kamu lakuin,juga saat kuliah...
Ibu sama Ayah sebenernya nya sedih,karena merasa gagal mendidik kamu dalam hal agama,padahal itu hal terpenting yang akan Allah tanyakan di akhirat kelak,tanggung jawab orang tua kepada anak akan Allah minta pertanggung jawaban nya."Bu Ratna pun menunduk dan mengusap wajahnya seolah ada rasa penyesalan dan kekecewaan di hati nya atas sikap diri nya.
"Bu...maafkan Irene yang belum bisa membuat Ibu dan Ayah bangga,Irene sadar Irene salah karena suka membantah dan menyepelekan nasihat Ibuu soal pake kerudung dan menutup aurat.
tapi in Sya Allah...mulai saat ini Irene janji akan melakukan itu,
Irene sayang sama Ibu juga Ayah,jadi Irene pun gak mau Ibu Ayah masuk neraka gara-gara Irene"
Dan Irene pun mencium tangan kanan Ibunya,terlihat Ibunya menyeka sudut matanya dengan kirinya,dan mengusap kedua pipi anak nya.
"kamu cantik sayang....jaga dirimu dan tubuh mu dan pandangan laki-laki yang haram melihat kamu dengan cara kamu pake jilbab,
Allah mewajibkan itu karena ada tujuan dan salah satu nya sebagai bukti perlindungan wanita dari mata lelaki nakal!"
__ADS_1
"Iyaa Bu..."
Dan mereka pun saling berpelukan sesaat.
"Yaa sudah Ibu berangkat dulu,acara nya udah mau mulai,kamu baik-baik di rumah yaa,kalo gak ada acara lain sebelum Dzuhur Ibu pulang!"
Mereka pun beriringan menuju pintu keluar,Irene mencium tangan Ibunya saat Bu Ratna berpamitan sambil melajukan motor matik nya.
"Assalamualaikum"pamit Ibunya.
"Waalaykumsalam,hati-hati Bu "sahut Irene sambil melambaikan tangan dan menutup gerbang,dan Irene pun masuk kerumahnya dan tidak lupa mengunci pintu.
Irene pun masuk kamar nya,dan keluar lagi dengan membawa pakaian kotor,Irene berniat mencuci pakaian,karena Irene yakin Ibunya belum mencuci,karena masih terlihat pakaian kotor di dekat mesin cuci,juga tidak ada terdengar teriakan Ibunya jika mau masuk kamar untuk ambil pakaian kotor nya.
Setelah merendam cucian,Irene membersihkan meja makan,mencuci piring dan merapihkan nya lagi.
Irene menyalakan mesin cuci dan sambil menunggu Irene menyapu,mengepel rumah.
Bagi Irene pekerjaan itu bukan hal aneh atau berat,Irene sudah terbiasa melakukan itu semua,selain ingin membantu Ibunya juga difikir Irene itu bukan pekerjaan berat karena isi rumah cuma tiga orang doang jadi tidak terlalu banyak yang harus di bersihkan.
Irene memang anak tunggal secara lahiriah,tapi menurut cerita orang tua nya,Irene dulu punya Kakak laki-laki,tapi meninggal saat usia dua tahun karena sakit,dan setelah kelahiran Irene pun Ibunya pernah hamil lagi tapi keguguran,maka jadilah Irene anak satu-satu nya,karena Ibunya trauma untuk punya anak lagi.
Tapi walau Irene anak satu-satu nya tapi orangtua Irene tidak memperlakukan Irene dengan manja,Irene tetap di ajarkan mandiri dalam segala hal,orang tua Irene tidak memakai jasa ART,dari Irene kecil semua di kerjakan oleh Ibunya yang memilih jadi Ibu rumah saja,sedang urusan mencari nafkah itu urusan kepala rumah tangga yaitu Ayah Irene yang bernama Pak Galang.
Pak Galang bekerja sebagai supervisor marketing di sebuah perusahaan hasil bumi dalam bentuk olahan,bukan hasil bumi mentah.
Pak Galang menaungi beberapa bawahan yang tentu bertugas memajukan perusahaan dalam bentuk penjualan.
Pak Galang orang nya tegas tapi santai,dia sangat menyayangi keluarganya,tapi soal dalam mengurus anak dan rumah,Pak Galang mempercayakan sepenuh nya ke istrinya,Pak Galang percaya bahwa istrinya adalah wanita yang di titipkan Allah untuk mengelola harta dunia nya yang akan membawa nya menuju harta surgawi nya,begitupun soal mengurus anak,tapi bukan berarti dia tidak membantu mengurus anak saat istri terlihat kerepotan,saat Irene bayi hingga SD Pak Galang selalu siaga membantu istrinya mengurus segala hal.
__ADS_1
Tapi setelah Irene memasuki usia remaja,Pak Galang mulai jaga jarak,tapi bukan berarti tidak sayang atau tidak peduli,tapi dia ingin anaknya mandiri,tidak tergantung atau meminta bantuan orangtua,apalagi jika sudah remaja,banyak hal tentang perempuan yang kurang di pahami kaum laki-laki,jadi Pak Galang menyerahkan semua pada istri nya selaku Ibu Irene yang pasti lebih paham urusan perempuan.