Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 10 (Status hubungan)


__ADS_3

Bagus melemparkan kerikil ke dalam kolam. Tak peduli jika itu akan memukul ikan yang ada di kolam , sekaligus membunuhnya. Biarkan saja, jika ikan itu mati, toh itu bukan urusan dia. Malahan dia akan merasa senang ,karena si tua bangka yang perhitungan itu pasti akan sibuk menekan kalkulatornya, menghitung berapa banyak kerugian yang dialaminya, ketika ikan- ikan di kolam itu mati. Kerugian membeli makanan ikannya, kerugian membayar karyawan yang merawat dan membersihkan kolam, dan mungkin ada banyak lagi kerugian-kerugian lainnya. Biasanya orang yang perhitungan itu apapun akan selalu diperhitungkan_ khan.., baik untung dan ruginya? "


" Cuih.. " Bagus muak dengan Ayahnya sendiri.


Inilah salah satu dari banyaknya sifat yang dia benci dari Ayahnya miliki. Pelit, serakah, bahkan tega menutup mata , melihat dan membiarkan anak sendiri hidupnya kesusahan. padahal dulu beliau adalah seorang Ayah yang penuh kasih sayang. Tapi semenjak memiliki Istri baru, sikapnya jadi berubah.


" Tua bangka sialan"


Bagus memaki kesal Ayahnya sendiri, merutuki nya, muak membayangkan wajah pria setengah baya yang usianya baru menginjak 53 tahun bulan lalu . Membayangkan bagaimana mulut nya tadi bergerak gerak mengomeli dia, melarang, memerintah. " Cuih..Persetan semua....


Rambut gondrongnya yang tadinya di ikat rapi ke atas, kini sengaja di uraikan, di acak acaknya sendiri dengan kesepuluh jari jari panjang dan kurus itu. Seolah hal itu bisa melampiaskan kekesalan hati pada orang tua kandungnya sendiri.


Bagus berdiri, lalu memungut ikat rambut yang tadi sempat ia buang, dan mengikatkannya kembali. Langkah nya panjang setengah tergesa -gesa sebab ada kerjaan lain yang selama ini dia tekuni menunggunya untuk di kerjakan.


" Mau kemana Gus?" tanya Ayahnya ketika berpapasan di depan hotel berbintang lima itu.


" Pulang! " jawab Bagus sinis, tidak ada sopan sopannya sama sekali.


Pria setengah baya itu hanya menatapnya datar, membiarkan sikap tidak sopan dari darah dagingnya sendiri.


***


Bagus melajukan motor milik Arman ke jalanan. Hiruk pikuk lalu lintas seolah bukan halangan untuk nya melajukan sepeda motor "ninja x "dengan cara ngebut, karena terdesak oleh waktu. Dia tidak peduli nyawanya akan terancam, tidak peduli fisiknya akan cacat, bila sang dewa keberuntungan tidak memihak kepadanya kali ini.


Kebebasan, yah... dia hanya ingin kebebasan hidup, kebebasan memilih masa depannya, kebebasan menjalani hidupnya dan kebebasan melakukan apapun yang dia mau.


Emosi mulai meluap ke ubun ubun, pria berumur 22 tahun itu seolah kesetanan, mengendarai sepeda motor nya dengan kecepatan penuh, memacu lebih kencang lagi, bahkan sampai bibirnya bergetar terbawa angin, karena saking kencangnya , hingga rambut nyapun demikian, ikut terbang terbawa angin. Dan Hampir saja helm yang dia pakai akan terbang juga karena lupa mengaitkannya.


Tak sampai 1 jam, Bagus sudah sampai di tempat kost- kost_annya. Bagus turun dari motor sembari badannya sempoyongan, dan hampir saja limbung. Tapi untung fisiknya kuat dan sehat, jadi hal itu hanya dia alami sebentar.


Tak berselang lama, Arman datang dari mengantar Indah ke Jogja. Ketika Bagus sedang duduk di atas kursi , belum sempat masuk ke dalam kamar apalagi berganti pakaian.


" Kamu baru sampai? " tanya Arman saat membuka pintu dan melihat Bagus tengah terduduk.

__ADS_1


" Gimana Ayah kamu, jadi pindahin jurusan kuliah kamu? " lanjutnya berbicara.


" Aku memohon padanya, jadi dia masih bisa mentolerir alasan ku untuk tetap lanjut ke jurusan kedokteran "


Balas Bagus.


" Pasti ada syaratnya? " Arman menebak dan seolah yakin tebakannya itu benar tentang ayah Bagus.


" Yah... mana mungkin tua bangka itu tidak meminta syarat" Sambung Bagus membenarkan Arman.


Bagus menghela nafas panjang. lalu berdiri dan hendak ke kamar, tapi kemudian terhenti dan meletakkan sesuatu diatas meja.


" Oh iya, ini kontak kamu" ucap bagus tiba tiba ingat dan mengembalikan kontak motor itu.


" Makasih ya.. " lanjutnya, kemudian berjalan ke dalam kamarnya.


" Gila kamu Gus, kesurupan atau gimana, sampai segitu nya ngebut, untung gak kenapa napa" Ucap Arman saat Bagus sedang mengganti pakaian di dalam kamarnya.


"Sorry, ku lampiaskan tadi kekesalan ku, yah...tetapi setidaknya sekarang merasa lega. "


"Bukannya aku gak boleh Gus, tapi itu bisa nge bahaya in nyawa kamu sendiri. "


"Aku gak mau kehilangan teman baik kayak kamu " Sembari menepuk - nepuk pundak Bagus, lalu berlalu menuju kamarnya.


Bagus memejamkan mata, bersandar pada kursi sofa. Sampai kapan dia terus berseteru dengan orang tua nya sendiri, Orang tua satu satunya yang dia miliki. Kenapa dulu dia mengijinkan Ayahnya menikah lagi. Bathin Bagus mengeluh, merasa kecewa dan menyesal.


Memilih kuliah kedokteran adalah keinginan almarhumah ibunya dan juga cita citanya. Untuk saat ini memang dia belum mampu membiayai sendiri kuliah nya itu, jadi dia lebih menekan ego dan emosinya, menuruti dan mendengarkan apa yang Ayahnya inginkan, hanya itu jalan satu satunya untuk mewujudkan impiannya dan impian sangat ibu yang sudah meninggal dunia.


***


Arman tiba tiba duduk di samping nya, Bagus sedikit tersentak dari lamunan.


"Aku akan jadi ojolnya Indah ketika dia mulai kuliah lagi" Ocehan Arman dengan wajah pasrah. Bagus menoleh dan memandang serius, ingin tau apa maksud dari ocehan Arman barusan di katakan.

__ADS_1


" Kakak ku yang memintanya "


"Kamu mau lakuin? " Sahut Bagus.


" Iya... Aku gak bisa nolak, demi citra baik kakakku di depan mertuanya" jawab Arman.


Bagus tersenyum kecil,


" Selamat bro.. semoga akan ada hal baik yang kamu alami. " Sambung Bagus, sembari menepuk pundak Arman, kemudian bangkit dan berdiri.


" Kamu gak cemburu? " lanjut Arman sembari mendongak menatap Bagus yang kini menjulang di depannya.


Bagus tersenyum konyol,


" Apa hubungannya? " sembari mengayunkan kaki membuka pintu dan berada di teras kost kostan.


"Aku sama dia hanya kebetulan saja bertemu, gue gak ada perasaan sama dia sama sekali" Aku Bagus gamblang.


" Dan aku hanya kasihan sama cewek itu" sambung Arman., lalu menyusul Bagus di teras.


Keduanya kini mulai mengayunkan kaki , hendak menuju warung terdekat untuk mengisi perutnya.


" Lalu bagaimana hubungan kamu dengan Nella? " tanya Bagus ketika mereka berbelok akan sampai ke warung makan langganan mereka.


" Ya... masih dalam tahap pdkt... " jawab Arman.


" Hati- hati, bisa saja usaha pdkt kamu gagal , kalo dia lihat kamu dekat dengan Indah,.. saran aku, mending kamu segera " tembak" dia dulu sebelum semuanya terlambat"


" Ehm.... iya juga... tapi aku masih takut kalo dia nolak bro,.... aku gak mau sampai kedekatan aku sama dia jadi renggang, gara gara aku nyatain perasaan suka sama dia. " balas Arman.


kedua laki laki muda itu kini telah sampai, dan mereka duduk lalu memesan makanan.


***

__ADS_1


__ADS_2