
" Indah, bolehkah aku peluk kamu? " Suara bagus terdengar berat, karena bercampur nafsu yang mulai hadir.
Indah tersentak, dia tahu Bagus juga pasti kedinginan, sedangkan mereka tidak miliki selimut.
Dengan ragu , gadis itu mengangguk berat, kulit wajahnya nampak memerah ,karena kedinginan,
juga canggung.
Perlahan Bagus mendekatkan tubuh mereka, hingga bersentuhan, dan Bagus mengulurkan salah satu tangannya memeluk indah, sementara satu tangannya lagi, berada diatas kepala gadis itu.
dug.. dug.. dug...
jantung mereka bertalu tak beraturan, darah perlahan mendidih, mengalir ,membuat rasa dingin itu mulai menghilang, seolah terbakar api. Bagus sengaja memejamkan mata, melawan hawa nafsu yang semakin menggerogoti, sangat sulit, bahkan sampai menggigit bibirnya.
Terasa kepala Indah bergerak gelisah dalam pelukannya, spontan Bagus merespon melihat nya, lalu menatap wajah mungil itu. Kedua mata saling bertemu,
" Masih dingin? " ujar pria itu menanyakan kondisi Indah, khawatir.
Spontan begitu saja Indah menganggukkan kepala, karena canggung.
Bergerak sesuai inisiatif di otaknya, tangannya yang diatas kepala gadis itu, dia masukkan di bawah kepala Indah, seperti bantal. Badannya bergerak lebih mendekat, kini mendekap gadis itu erat,
" Sudah terasa hangat belum? " tanyanya lagi, suaranya semakin memberat, dirinya tak tahan dengan serangan hormon di dalam tubuhnya yang menyerang dengan gencar.
Indah diam tak menjawab apapun, bibirnya kaku tidak bisa bersuara karena syok di peluk, ini pertama kali baginya , bersentuhan dengan seorang pria. Gadis itu menunduk dalam dekapan hangat Bagus, tiba tiba Sebuah kecupan, dia rasakan diatas kepalanya, lembut.
" Oh Tuhan, kenapa perasaan ini muncul, kenapa aku tidak bisa menolak " bathinnya menjerit untuk menolak, tetapi ada sesuatu lain yang menyuruhnya untuk menuruti, sesuatu lain itu menang.
Kedua anak manusia itu sudah terjebak dalam lingkaran api gairah. otaknya tidak bisa lagi diajak ke jalur kewarasan. Nafas Bagus terdengar memburu, kasar, seolah tergesa gesa.
Tangannya bergerak dengan tenaga, mengangkat tubuh Indah keatas tubuhnya. Gadis itu terkesiap, matanya membelalak lebar, pipinya bersemu merah, perlahan warnanya menjalar sampai meracuni seluruh wajahnya hingga ke telinga.
Tangannya mendorong belakang kepala gadis itu, hingga wajah mereka menempel, bibirnya spontan meraih bibir gadis itu, lalu mengecup .seolah merasakan ledakan emosi yang menggebu gebu, bagus mencium lebih dalam, meraup bibir mungil itu dengan rakus. Indah menyambut ciuman hangat itu. Mata mereka terpejam, menyambut ledakan emosi nafsu yang dahsyat.
" Gila.. ini sudah gila.. " bathin mereka berteriak, tetapi tubuh tidak mau merespon dengan cepat. Ada dorongan yang besar memerangkap mereka hingga keduanya tak berdaya, malahan seolah senang dan ingin terus melakukannya tanpa mau berhenti.
Keduanya dalam lingkaran api gairah, otaknya berselimut nafsu. Ditambah lagi suasana yang dingin dan temaran, mendukung mereka untuk berbuat lebih. Hingga mereka lupa jika harus bernafas.
Keduanya kemudian berhenti, untuk mengambil nafas. bahkan nafas mereka tersengal sengal, seolah baru saja berlari dengan kekuatan penuh.
Mata mereka saling mengamati, perlahan kesadaran mereka pulih dan kembali ke jalur yang benar. Tanpa berkata apapun, Bagus menurunkan tubuh gadis itu yang di atasnya ke samping. lalu menyeringai kemudian mengacak rambut gadis itu.
Bagus merasa bahagia, dan semakin gemas ketika melihat bagaimana wajah merah Indah terlihat, itu nampak imut dan menggemaskan dengan rambut yang acak acakan.
__ADS_1
" Mau mencoba? " tanyanya seketika, merasa ingin lagi, seolah merasa belum puas. jantungnya masih belum berdetak dengan frekuensi normal.
Indah hanya terbengong, tidak mengerti apa maksud pria itu. Kini bagus beralih membawa badannya bangun ke atas tubuh Indah, siap menindih. Pria itu kembali menciuminya dengan rakus, dari dahi hingga turun sampai ke leher.
Indah baru sadar apa yang di maksud kan Bagus.
" Tidaak.. " gadis itu memekik sedikit ketakutan. Membuat Bagus merasa kecewa, perlahan dirinya pun menyesal, menyesali tindakan nya.
Hembusan nafas sedikit kasar dan panjang keluar dari mulut juga hidung nya. Kemudian kembali memposisikan badannya ke samping, turun dari atas tubuh Indah, membelakangi gadis itu. Apa yang dirinya lakukan, itu pun sama apa yang indah lakukan. Keduanya saling membelakangi.
Ada penyesalan dalam diri mereka kini. Telapak tangan Indah meremas seprey, dengan perasaan campur aduk, dirinya mencoba memejamkan mata, bermaksud agar segera terlelap.
***
" Brengsek" Bagus memaki dirinya sendiri dalam hati, tidak seharusnya terjadi hal demikian, kalo saja dirinya lebih tahan,....
" Aghhh....." mengumpat, menyesali, khilaf..itulah kata yang tepat. Pria itu kini bingung, Malu pada Indah, yah..sangat malu dan merasa bersalah.
***
Pagi yang di nanti nantikan akhirnya tiba, Sinar matahari masuk menembus melalui sela sela pagar kayu. Bagus mengerjapkan mata, dan menghalau dengan telapak tangan sinar matahari yang menimpa wajahnya. kemudian bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi, membersihkan diri.
Keluar dari kamar mandi, di suguhi dengan pemandangan yang begitu menyenangkan. melihat bagaimana wajah gadis itu sedang tertidur pulas, nampak lelah dan tanpa dosa. pria itu tersenyum lembut, lalu menghampiri Indah dan membisikkan tepat di telinga gadis itu supaya bangun.
Gadis itu menggosok matanya ,hingga kotoran mata itu hilang dan mata terbuka sepenuhnya.
Bagus cepat cepat menyingkir, berdiri dan berjalan keluar,
" Cuci muka dulu, baru kita sarapan, sebelum kita pulang! " ujarnya sebelum melangkah memesan makanan.
hooaammm
"jam berapa sekarang? " gumam gadis itu sembari meraih handphonenya di samping bantal.
" Sudah terlambat kuliah" gumam gadis itu lagi, meletakkan handphonenya lagi di tempat semula, dan kembali memejamkan mata.
Bagus masuk ke dalam rumah penginapan, sambil membawa satu kantong hitam yang berisi nasi bungkus dan juga gorengan. Berdecak dan menggelengkan kepala, ketika mendapati indah masih belum bangun.
" Hei... kebo... mau sampe kapan disini, bener gak mau pulang? " ucapnya, lalu meletakkan bungkusan nasi ke atas meja, dan kembali keluar untuk membeli minuman.
Setelah kepergian Bagus, gadis itu bangun dengan malas, menyeret langkahnya ke kamar mandi. Mencuci muka dan merapikan penampilan. Lima menit kemudian Bagus masuk lagi, dengan dua botol air mineral.
" Tidak ada teh hangat "ujarnya, lalu menarik kursi dan duduk untuk sarapan. Indah menyusul tak lama kemudian. Keduanya kini mulai menikmati sarapan, sesekali mata mereka bertemu, dan wajah mereka bersemu merah, kejadian tadi malam, masih hangat di dalam ingatan mereka.
__ADS_1
Hingga mereka selesai, masih saling bungkam, begitu pun saat mereka melaju pulang dan tiba di depan rumah kost kostan Indah.
Sepanjang jalan tadi, indah tak berhenti memikirkan peristiwa semalam, dan menduga kalo mereka bertindak dengan adanya dasar saling suka, teringat bagaimana mata bagus saat memandangnya, hangat dan lembut.
" Makasih ya" ucap pria itu sebelum berbalik.
Indah termenung , pikiran nya tak tenang dan ingin mengatakan apa hal yang menganggu otaknya.
" Kak bagus suka sama aku? " celetuk gadis itu begitu saja, mulutnya tak bisa jika harus menyimpan lama lama untuk mengatakan apa yang dipikirkan.
Bagus menoleh, terkejut dan tercengang.
Merasa tidak yakin dengan apa yang dia rasakan selama ini, Pria itu tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Apalagi memikirkan masa depannya kelak.
Pria itupun memilih mengingkari perasaannya daripada berkata jujur kalo dirinya suka sama Gadis ini. masa depan sebagai dokter lebih penting dari urusan yang lain. Egois.. Pria itu pria egois..
Bagus terkekeh, seolah ucapan Indah adalah sebuah lelucon.
"Apa yang kamu pikirkan? " balasnya.
Indah kecewa mendengar jawaban itu, hatinya perlahan sakit.
" Lalu kenapa kakak menciumku, melakukan perbuatan itu kepadaku. "
" Kamu jangan berpikir yang macam macam, aku cuma memikirkan keselamatanmu. "
Indah tercengang, matanya mulai berkaca kaca. Bagus tidak tega melihat hal itu, hatinya pun terluka. tetapi pria itu kekeh, tidak mau berkata jujur, kalo sebenarnya sudah lama dirinya mencintai indah.
" Maafkan aku Indah"bathinnya teriris,meminta maaf, merasa sangat bersalah.
Indah tak sanggup, perlahan air mata itu menetes membasahi pipi, bibirnya bergetar menahan tangis, lalu meletakkan telapak tangan, membungkam mulutnya.
Gadis itu menggeleng sedih, dan sangat marah, tetapi mulutnya tak sanggup memaki pria di depannya yang telah membuat hatinya hancur berkeping-keping. Indah segera memarkirkan sepeda motor, sembari menangis sesegukan, memalingkan muka dan berjalan cepat masuk ke kost kost an.
Sementara Bagus menyaksikan dengan mematung, sampai gadis itu tidak nampak lagi oleh mata.
***
note author.
Bagus jahat banget ya... ðŸ˜ðŸ˜, gue sumpahin lo menyesal.
( bersambung)
__ADS_1