
" Tambah Sukses ya bisnis kamu sekarang,.. hahhaha " ujar Jatmiko meledek Darma temannya.
" alhamdulillah... bisnis kamu juga makin maju Miko,.. hehehe.. " Sahut Darma balas meledeknya.
" Punya istri... " balas Miko, mengelak.
" Oh.. iya, kamu masih di kedinasan daerah kan? " lanjut Darma.
" Betul, aku gak bisa berkutik dengan tugas"
" Jalan jalan terus dong tiap hari.. "
" Hahahaha.. bisa aja kamu.. " balas Jatmiko sembari menepuk pundak Darma pelan. mereka terlihat saling menikmati obrolan antar sahabat dekat.
" Ngomong ngomong bakal punya momongan lagi nih kayaknya,.. " Ucap Jatmiko, bersenda gurau, sedikit melirik ke arah istri Darma, Yeni. Darmawan tertawa sedikit tersipu malu, lalu membalas,
" Yah.. alhamdulillah.. "
" Ngomong ngomong anak kamu berapa? " sambung Darma, melanjutkan perbincangan, membalik pertanyaan kepada temannya.
" Anakku dua, perempuan semua, yang satu udah nikah dan baru melahirkan bulan kemarin, yang satu masih kuliah di bandung. "
" Di bandung?di kampus mana? "
" Di kampus negeri, UNPAD"
"Oh iya, kebetulan putraku juga kuliah di sana, mengambil jurusan kedokteran, sebentar lagi mau ke tahap program profesi"
" Wah hebat kamu,.. yang satu pembisnis , yang satunya calon Dokter... " Balas Jatmiko memuji kedua putra Darma. Respon Darma terlihat sedikit tidak senang.
" Ya... alhamdulillah.., kalo putri kamu ? " balas Darma , berbalik tanya pada Jatmiko, menghindari topik membahas kedua putranya.
" Putri aku yang pertama sekarang bidan, dan yang bungsu ngambil jurusan manajemen bisnis". tutur Miko, membalas.
"Mengikuti jejak ibunya dong" Sambung Darma.
" Ya.. begitulah... anak kami yang ragil sifatnya manja, tetapi tekun. ngomong ngomong kamu masih menetap di bali? "
" Ya... tapi kami seringnya tinggal di jakarta, pulang ke Bali jika saat sedang jenuh aja, atau saat hotel ramai"
" Lantas siapa yang mengelola hotel yang di bali"
" Aku percayakan pada asistenku. "
Tak lama Indah keluar dengan keadaan yang segar karena habis mandi. Kemudian Jatmiko memanggilnya.
" Nduk, kesini sebentar! "
Indah berjalan memenuhi panggilan Bapaknya, dengan sedikit rasa gugup, " Ayah mau kenalin aku sama tamunya kayaknya" bathinnya.
Gadis itu sopan, menyapa para tetua yang ada di situ juga mencium punggung tangan dari semuanya satu persatu.
Darma nampak kagum dengan cara sopan Indah menyapanya, dan juga gadis itu terlihat ramah dan baik, pikir Ayah Bagus tersebut.
" Nduk, kenalin, ini teman ayah, namanya Om Darma, dan sebelahnya Tante Yeni"
Indah tersenyum ramah memberi respon,
" Selamat sore Om, tante, Saya Indah. " Balas Indah menyapa mereka berdua.
Setelah berbasa basi cukup lama, akhirnya Darma pamit untuk pulang.
" Makasih ya telah mampir ke toko kami" ujar Miko berterima kasih dengan ramah begitu pun Riyanti.
" Sama-sama , InsyaAllah kalo besok besok kami ke Jogja lagi, akan sempatkan mampir"
" Heheheh.. kalo ada waktu mampirlah ke Jogja"
__ADS_1
" Pasti, kalo sehat dan ada rejeki, .. eh... aku kok jadi kepikiran, gimana kalo kita besanan, kita buat perjodohan anak kita." Ujar Darma dengan penuh minat.
Jatmiko dan Riyanti sedikit terkejut, dalam pikiran mereka belum ada rencana untuk menikah kan Indah dalam waktu dekat. Keduanya saling memandang, seolah sedang bermusyawarah melalui tatapan mereka.
" Aku sih, manut Bapak aja. " ucap Riyanti pasrah untuk urusan ini pada Suaminya, karena tugasnya sebagai kepala rumah tangga.
****
Hari sudah malam, ketika Indah membaringkan badannya keatas kasur di kamarnya.
Bunyi ketukan pintu terdengar tak lama setelah gadis itu akan memejamkan matanya, seharian ini dia agak kelelahan.
"Nduk,?, sudah tidur belum, Bunda mau bicara sebentar" ucap Riyanti, meminta ijin masuk ke kamar putrinya.
Indah terpaksa bangun, lalu menyeret langkah membukakan pintu untuk sang Bunda. Dengan wajah lelah dan ngantuk gadis itu kembali berbaring tetapi dengan memperhatikan ibunya.
" Nduk, besok jadi kamu kembali ke Bandung? "
" Iya bun, kalo kelamaan di jogja malah nanti gak ada niat lagi buat kuliah di sana" Jawab Gadis itu polos, Riyanti tersenyum tipis, putri nya memang anak manja.
" Iya, udah pesen travel buat berangkat besok? "
" Sudah bunda. " jawab Indah lemas, matanya sudah setengah terpejam, dan sesekali tersentak seolah kaget.
Riyanti tau, anaknya sudah gak begitu respon jika di ajak bicara, tapi dia harus berbicara padanya sebelum kesempatan itu hilang, bila tidak dia lakukan sekarang. Dengan menghela nafas berat, wanita itu mulai menyusun kalimat yang pas sebelum di ucapkan, dan tentunya dengan sangat hati hati.
" Nduk,... Bapak ingin kamu menikah dengan putra teman Bapak " ucap Wanita itu dengan setengah ragu, dan juga sengaja melihat respon dari putri nya.
Indah setengah nyawanya sudah berada di alam mimpi, jadi gadis itu terlihat linglung, bingung tetapi masih bisa menanggapi.
" Maksudnya Indah di jodohkan? "
Riyanti mengangguk. sedikit tersenyum canggung.
Indah menggaruk kepalanya, pikiran masih setengah fokus.
" Bunda, indah masih kecil, belum mau nikah, lagian juga masih kuliah. " jawab Indah sedikit melenceng memahami maksud perkataan ibunya.
" Siapa yang mau cepet cepet nikahin kamu, nduk.. nduk... , sudah...ah.. bunda males ngejelasinnya, .. tidur sana... " akhirnya Riyanti menyerah membicarakan maksudnya, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas perjodohan ini. Wanita itupun melenggang meninggalkan kamar Indah, jadi Indah kembali ke alam mimpi.
***
Pagi menjelang, Indah masih malas bangun, akibat dari tamu bulanan wanita yang sedang berkunjung. Pukul 6 pagi, gadis itu baru saja membuka matanya, dan langsung masuk ke kamar mandi, membersihkan diri.
Kedua orang tuanya sedang berada di ruang makan, Jatmiko menanyakan hasil dari istrinya yang tadi malam sudah di tugas membujuk putri bungsunya yang manja.
" Gimana bu, anak kita mau di jodoh kan. " ucap pria berkacamata itu, yang masih terlihat gagah walaupun usianya sudah tak muda lagi.
" Mau apanya pak, lha wong bocahe turu" jawab Riyanti sembari menggoreng telur dadar kesukaan suaminya.
Jatmiko termenung, sejujurnya dirinya juga bingung bagaimana berbicara pada Indah. lalu kemudian terlintas di pikirannya, memikirkan sesuatu cara.
" Bu, apa Indah sudah punya pacar? " tanyanya seketika, membuat Riyanti menoleh kepada nya beberapa detik, sebelum membalik telur yang sudah berada di atas teflon.
" Ibu sih kurang tau pak, tapi anak itu gak pernah cerita apapun soal laki laki. " kemudian Riyanti mematikan kompor, dan menempatkan telur ke atas piring, lalu menaruhnya di atas meja makan. Wanita itu sekilas nampak berpikir,
" Waktu itu dia pernah diantar sama laki laki, tapi laki laki itu adiknya fachri, masak iya, mereka pacaran? " ujarnya lagi.
" Gak mungkinlah, .. bapak yakin mereka gak pacaran, ... " sambar Jatmiko seolah yakin.
" Tapi kalo iya gimana pak? " sambung Riyanti merasa khawatir.
" Siapa yang pacaran sama kak Arman? " sambar Indah tiba tiba, ketika dia cukup yakin kedua orang tuanya sedang membicarakan arman.
Riyanti dan Jatmiko menoleh kearahnya,
" Sudah bangun nduk? " ucap lelaki itu kemudian, seolah kangen sama putrinya itu.
__ADS_1
Indah kemudian duduk dengan wajah merenggut.
" Jadi bener, Bunda sama Bapak jodohin Indah? " lanjut anak itu mendengus.
" Bapak gak enak sama Om Darma, kami sangat dekat nduk, lagian anaknya Om Darma itu calon Dokter. " jelas Miko dengan sabar.
" Apa hubungannya dengan itu? " nampak gadis itu tidak senang dengan apa yang orang tuanya rencana kan masa depannya.
" Indah, dengarkan bapak kamu dulu! " sahut riyanti agak kasar.
" Indah sudah punya pacar, indah gak mau menikah sama orang yang indah gak suka" balas Indah ngambek, gadis itu meletakkan lagi piring kosong yang tadinya akan di isi dengan nasi. Gadis itu kemudian berdiri dan lari, kembali ke kamarnya.
Jatmiko dan Riyanti, mereka saling pandang satu sama lain, nampak kebingungan.
" Gimana ini pak? " ucap Riyanti nampak tak berdaya.
" Kita biarkan saja dulu. "
****
Di dalam kamar, indah duduk diatas kasur, memasang handsetnya di telinga, mendengarkan musik. Hatinya kesal tetapi juga merasa bersalah terhadap kedua orang tuanya. Gadis itu duduk bersilah dengan memeluk boneka besar panda.
" Bapak dan bunda sungguh tega,... huh.. "
" kesel banget... ihh.. kenapa juga aku mesti jomblo..... " Gadis itu menggerutu dengan mulut mengerucut . lelah, kesal tetapi juga benci pada dirinya sendiri, gadis itu kemudian membawa badannya berbaring di atas kasur, dengan masih setia memeluk boneka nya.
Cklek...
pintu terbuka dengan tiba tiba, Indah segera memejamkan mata, berpura pura tidur, dia tahu siapa yang masuk ke kamarnya tanpa permisi.
Wanita yang melahirkannya itu kini menghampirinya setelah membuka pintu, lalu duduk di pinggir ranjang. Tangannya yang halus mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
" Nduk, bapak dan bunda minta maaf, kami tau ini membuat kamu terkejut dan kesal, .. yah.. memang.. kalo urusan jodoh itu urusan Tuhan, tapi kami sebagai orang tua, tidak ada salahnya memilih kan jodoh untuk kamu, syukur syukur kalo kamu suka sama jodoh yang kami pilihkan, tapi.. kalo kamu tidak suka, bunda dan bapak juga tidak akan memaksakan, ... bapakmu merasa tidak enak dengan teman dekat sendiri, kamu tau kan kemarin mereka nampak sangat akrab, tidak ada salahnya bapak kamu dan Om Darma mempererat persahabatan mereka, lagian setelah kami pikir pikir.. dari segi masa depan, setidaknya anaknya Om Darma itu akan memiliki pekerjaan yang mapan,... bla.. bla.. bla.... " Riyanti berkata dengan panjang lebar, hingga telinga Indah panas mendengarkannya.
gadis itu merasa bosan, dan akhirnya memutuskan untuk menanggapi apa yang sang Bundanya bicarakan. Gadis itu membuka mata dan bangun.
" Bunda... indah tau kemana arah pembicaraan bunda, indah juga tau maksud bapak dan bunda.... huh" gadis itu menarik nafas pasrah ketika selesai berbicara. Otaknya mulai bekerja mencari solusi, dirinya ingin menolak tetapi juga tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya. Indah sangat menyanyangi mereka. Gadis itu menarik nafas panjang lagi, kelihatannya dia harus segera memberi solusi yang menurutnya baik, bagi kedua orang tuanya juga tidak merugikan dirinya juga.
Setelah beberapa menit, akhirnya dirinya merencanakan negoisasi untuk solusi ini.
" Bunda.. beri Indah kesempatan, memang.. untuk saat ini Indah belum punya pacar, tolong beri indah kesempatan tiga bulan lagi untuk menjawab perjodohan ini. "
Riyanti nampak mengulum senyum, kecewa tapi juga tidak mau memaksakan.
"Hhhhh...., kenapa 3bulan, ibu dan bapak akan bingung kalo tiba tiba Om Darma menanyakannya"
Wanita Jawa itu tidak mau kalah dengan anaknya sendiri, ikut mengajukan negosiasi juga.
" Ahh.. bunda... .. tega banget sih,... ya udah beri Indah waktu 2 bulan."
" Gak.. bunda pengen nya secepatnya.. "
" Bunda... hiks.. hiks.. jahat deh, sama putrinya gitu. "
Sekilas Riyanti melirik ekspresi wajah putrinya itu yang memasang wajah memelas, tetapi wanita itu menguatkan diri tidak mau mengalah kali ini, wanita itu sengaja memalingkan wajahnya,
" Gak ada toleransi... " ucapnya dengan nada tegas.
" bunda... bunda kejam... uhhh... ya udah beri indah satu bulan deh.. " Rengek Indah dengan wajah yang menyedihkan, benar benar bingung dan tak berdaya.
Riyanti tersenyum puas, lalu menoleh dan menatap putrinya yang wajahnya sedang kacau.
" oke.. bunda setuju, satu bulan ya... "
( bersambung)
***
__ADS_1
note author
kira kira apa yang akan Indah lakukan ya.. 😄