
Indah memasukkan bulat bulat bakso ke dalam mulutnya, sehingga pipinya mengembung sebesar bakso. Lalu mengunyah nya pelan, sedikit demi sedikit. Pesanan baksonya datang terlebih dahulu sebelum Bagus membawakan dua gelas teh hangat untuk mereka berdua.
Gadis itu melamun, menatap ke depan, tepat di mangkok sambal. Mulutnya diam dengan pipi mengembung. Hingga tak menyadari kedatangan Bagus, bahkan sampai bagus meletakkan gelas teh yang masih panas, dan duduk di samping nya lalu memperhatikan tingkahnya.
Sebenarnya sudah tak tahan gadis itu ingin menangis sejak tadi, sejak Bagus mengatakan mereka hanyalah teman. Dirinya berusaha keras mengendalikan diri, supaya airmata itu tidak jatuh ke pipi, hanya menggenang di mata.
Untunglah airmata itu bisa dengan mudah hilang dengan cara mengerjap- ngerjapkan matanya, lalu menghibur hatinya .Melupakan ucapan Bagus tadi, mengambil handphone nya, lalu sibuk memotret sana sini, berselfiria dan mengupload nya di akun sosmed miliknya.
Komentar komentar yang muncul dari postingannya, dengan segera bisa mengubah suasana hati yang tadinya mendung menjadi ceria kembali.
Kembali gadis itu melamun, jarinya berhenti di atas tuts hape. Ini kali kedua, dirinya mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Sejelek itukah wajahnya, sehingga orang yang dia sukai sama sekali tidak melirik sedikit pun padanya.Bathinnya tersenyum miris.
Suara kilat menyambar terdengar begitu keras. Gadis itu tersentak, memegang erat handphone, dan seketika memeluk tubuh, juga menyembunyikan kepalanya di ketiak orang di samping nya begitu saja. Membuyarkan lamunan sekaligus melupakan sakit hatinya walaupun sekejap.
Bagus terkikik pelan, tanpa bermaksud menutupi. Memamerkan sederetan gigi putih bersihnya. Indah beringsut mundur, melepaskan pelukannya dari tubuh pria itu. Rona merah langsung menyebar di kedua pipi hingga merambat ke telinga.
" Maaf" katanya dengan mulut yang masih menyimpan bakso.
Bagus masih terkikik tapi perlahan mulai terhenti. Tangannya terulur, lalu memukul mukul pelan atas puncak kepala Indah.
***
Mata itu terus memperhatikannya sejak tadi , sejak dia kembali dengan dua buah gelas teh hangat, lalu menaruhnya ke meja. Sembari duduk, matanya tidak lepas sedikit pun menatapnya. Gadis itu nampak menggemaskan dengan pipi mengembung, ingin tertawa, tapi mata gadis itu berkaca kaca." Apa yang terjadi padanya ". Dia mengurungkan tawanya dan berganti dengan rasa penasaran.
Bagus kini tak bisa menahan tawanya bahkan sampai terkikik , tapi dengan sengaja pelan, melihat tingkah Indah yang mudah sekali berganti ekspresi. Seperti seorang aktris profesional, yang pandai memainkan emosi.
"Apaan sih, emang anak kecil apa, di elus elus kepalanya, najis ih.. " responnya atas perlakuan Bagus ke dirinya. lalu menepis segera tangan pria itu dan mengusap usap kepalanya, seolah beneran najis.
"Emang, kamu kan masih anak anak" sahut Bagus asal, membuat gadis itu semakin mendengkus dan mencebikan bibir.
Bagus tertawa lagi.
Indah mengunyah cepat makanan di mulut nya , dan segera minum teh yang masih agak panas. Mulutnya terbakar, gadis itu mengernyit.
"Astaga.. panas" pekiknya, mengeluh.
Bagus berdecak, sambil menggelengkan kepala nya.
" Persis anak kecil " celetuk Bagus sengaja, ingin menggoda gadis manja dan konyol itu. Tapi jujur Bagus suka , tingkahnya selalu membuat dirinya terhibur.
" Ih.. sebel deh.. " Indah merajuk, kemudian beranjak keluar dan berjalan cepat hendak menuju kost kostannya.
Bagus hanya tertawa, sama sekali tidak bermaksud menyusul gadis itu.
Di tengah jalan, gadis itu menangis sambil memaki maki Bagus.
__ADS_1
" Benci sama kak bagus, benci.. benci.. kenapa laki laki sama saja, menganggap aku seolah mainan yang bisa bikin mereka tertawa... " keluhnya sambil menghentak hentakkan kaki di jalan.
***
Angin meniupkan hawa dingin, langit mendung sehingga gelap, tidak ada bintang sedikitpun, apalagi cahaya dari rembulan. Gerimis mulai berjatuhan, sesekali nampak cahya kilat tanpa suara.
" Indah" suara memanggilnya, gadis itu segera menoleh ,tak lupa dengan cepat tangannya menghapus air mata.
Sherly menyusul, berlari mengejar Indah.
" Kamu kok gak nungguin aku sih" ucap Sherly , ngambek. Keduanya melangkah pelan.
Indah ingin membalas kata kata Sherly,
" A.. " satu huruf vokal keluar dari mulutnya, terdengar serak. Indah mengurungkan membalas kata kata Sherly. Suaranya masih serak karena baru saja menangis.
Sherly mendengar dan mengetahui, lalu menghentikan langkah mereka, di lihatnya wajah Indah lebih dekat, masih ada bekas air mata di pipi.
" Kamu kenapa Indah, kamu.. kamu menangis? " ucap Sherly dengan ragu.
Indah menghela nafas panjang, mengontrol emosinya, berdehem mengembalikan nada suaranya seperti biasa.
" Gak, cuma serak aja, tadi lupa minum, habis makan bakso" jawab Indah dengan jeda.
Sherly terlihat kurang yakin. Indah sengaja cuek, mengelak, memalingkan muka, agar temannya itu tidak akan menemukan fakta , kalo dia memang menangis, kemudian kembali mengayunkan kaki.
"pasti enak dengan suasananya yang dingin dingin begini" ucap Sherly dengan kedua tangan berada di saku sweater nya, membayangkan menikmati hidangan berkuah dengan bulatan bulatan tepung bercampur dengan daging.
Indah diam, teringat kembali kata kata Bagus yang membuat hatinya kecewa dan sedih.
"Kamu makan Bakso dengan siapa? " lanjut Sherly.
" Pasti dengan kak Bagus ya? "
Sherly menghela nafas kesal, karena Indah tidak membalas perkataan nya dari tadi.
Indah malah mempercepat langkahnya. Sherly menyusul segera, sambil teriak memanggil.
" Indah... Indah tungguin dong"
***
Pukul 12 malam, mata Indah belum bisa terpejam. tatapannya menerawang kejadian di kedai bakso tadi, gadis itu merasa marah juga benci sama Bagus, pria itu secara halus telah menusuk hatinya, walaupun sebenarnya itu tidak terjadi, karena Indah tidak mengungkapkan perasaan nya itu. Tetapi, kata "hanyalah teman", seolah itu kata penolakan terhadapnya.
Mulai besok, Indah bertekad menjauhi Bagus. Malu, marah, juga sedih, itu sudah cukup untuk di jadikan alasan kalo pria itu harus dia hindari. Seperti halnya sikapnya yang menjauhi Fahri.
__ADS_1
" kenapa juga sih aku suka sama dia.., cowok kumal,.. dekil.. malas.. ihhh... gak level banget sama kriteria cowok idamanku... huh.... " Indah ngedumel jengkel, dengan mulut yang mengerucut.
Dua kali,.. dua kali sudah dia mengalami kekecewaan dalam hal percintaan. Betapa miris hidup nya. Sampai kapan dia akan terus patah hati dan menjomblo. lagi lagi bathinnya meringis miris.
Keesokan pagi nya, dunia seakan mempermainkan nya kembali, padahal Indah sudah lebih pagi dari biasanya datang ke warung untuk sarapan. Sengaja menghindar dari Bagus. Tetapi ternyata dirinya malah berbarengan datang ke warung itu dengan Bagus. Seolah mereka janjian, padahal tidak.
Ibu Indah si pemilik warung, baru saja buka dan sedang sibuk membersihkan meja, kemudian menyusun mangkok, piring lalu mengatur wadah wadah yang berisi lauk pauk itu pada etalase.
Langkah Indah sempat terhenti, menunggu Bagus masuk terlebih dulu ke warung.
"Pagi.. " sapa Bu Indah, sembari menyusun gelas di nampan.
"Pagi bu' jawab Indah. Bagus langsung duduk di bangku biasanya, lalu mencomot gorengan yang ada di piring, di depan sebelah Indah.
" Tumben kalian datang nya lebih awal?"
" Ibu baru saja buka dan belum selesai berberes" ucap pemilik warung itu.
Indah tersenyum nyengir, sembari sedikit malu malu. Lalu sengaja mengambil handphone nya, menutupi rasa canggung yang sebenarnya sekarang sedang melanda.
Bagus melirik gadis itu sembari ngemil gorengan,
" Udah kelaparan kali bu, tadi malam hanya setengah porsi saja makan bakso" sambar Bagus, sewot.
Indah melirik sekilas bagus dengan tatapan sewot,kemudian melanjutkan kembali menatap layar hape , hanya ada tulisan tulisan dari atas sampai bawah. Rupanya Indah tengah membaca novel di apk noveltoon.
" nah.. betulkan bu, apa yang saya bilang " lanjut Bagus senang, seolah tebakan nya benar.
" Kalo bicara jangan asal ya,.. " sahut Indah tanpa berpaling dari layar handphone.
Pemilik warung hanya tersenyum konyol dengan tingkah kedua anak muda itu.
" Kalian mau pesen apa? " lanjutnya.
***
Hampir satu jam, Indah telah selesai makan, dan keluar dari warung setelah membayar. Teringat hutang nya pada Bagus, gadis itu kembali masuk dan meminta nomor handphone Bagus.
" Kak Bagus, minta nomor hapenya dong, nanti aku kabari kalo mau transfer bayar hutang. "
Bagus mengelap mulutnya dengan tissue, ritual makannya telah usai, cowok itu segera menyebutkan nomor hapenya yang di dengarkan oleh Indah dan di simpan ke handphone gadis itu.
" Makasih " ucap Indah lalu kembali keluar.
Bagus berdiri , membayar, hendak keluar. Ketika suara motor Arman dan suara temannya itu menyapa Indah.
__ADS_1
Tangannya mengepal seketika, ada rasa tidak suka yang tiba tiba merasuki hatinya. Apakah dia cemburu?
( bersambung)