
tok.. tok.. tok..
Bagus membuka pintu, karena kebetulan dia yang berada paling dekat, di ruang tamu sedang mengerjakan aquriumnya.
Pria tampan itu seketika mematung, ketika pintu di buka, seolah waktu berhenti berputar . Matanya terkejut ,begitu bertatapan dengan mata almond berbulu mata lentik nan panjang itu. Ia bekerja keras selama seminggu ini menghindarinya, kini malah hadir tepat di depan matanya.
" sial' bathinnya merutuki dirinya sendiri.
Bagus berusaha mengendalikan irama jantung nya yang berdetak tidak karuan, dengan cara menyapanya, menyapa dengan caranya yang biasa dia lakukan sebelum perasaan aneh ini hadir.
" Hai... ada apa kemari? " , bagus bersumpah ini pertama kalinya dia merasa konyol, seolah bertarung dengan irama jantung nya yang terus bertalu keras tidak mau bertalu dengan irama normal.
***
dag dig dug..
Rupanya sama yang indah alami. Orang yang sering muncul dalam mimpi dan menjadikan rona pipi memerah jika mengingat mimpi itu, kini hadir di depan matanya.
Indah menggigit bibir, mereka diam. Kenapa tiba tiba mulutnya seolah tidak dapat mengucapkan kata. hanya menikmati bagaimana rasa jantungnya bertalu sangat keras, seolah akan keluar jika tidak segera dia halangi dengan telapak tangannya.
Tentu saja telapak tangannya sudah berada di depan dada, hal ini benar benar terjadi padanya. ini sama persis apa yang di rasakan saat pertama kali Indah bertemu dengan Fahri, persis seperti ini. apa jangan jangan hatinya sudah terjatuh dengan pria gondrong ini.
Indah berdehem, tidak dapat menyembunyikan rasa canggung.
" Please, tolong jangan seperti ini" bisiknya dalam hati memarahi diri sendiri.
" kak Armannya ada? " balas indah.
" wait, bukan kah tujuannya kemari bukan mencari Arman atau Bagus, hanya butuh kertas hvs saja" teriak bathin menyalahkan alasan datang kemari. Seolah takut terjadi salah paham, ini pertama kali dirinya mendatangi pria dimana mereka tinggal.
" E.. maksud aku tidak bertemu kak Arman atau siapapun, hanya ingin tanya apakah diantara kalian ada yang punya kertas hvs " seloroh gadis itu cepat, berlomba dengan detak jantung nya yang juga sedang berjuang untuk lebih cepat lagi.
" hhh" gadis itu kemudian menghela nafas, merasa lega, sudah mengungkapkan tujuan yang sebenarnya kemari.
Semua nampak canggung di mata Sherly, sehingga temannya Indah merona karena malu. Sherly mencubit pinggang Indah. Indah memelototi Sherly sekilas, pandangannya berkata" Apaan sih, sakit tau".
" kamu apaan sih, kenapa bicara begitu cepat, lihat tuh di depan kamu, jadi bengong kan kakak ini" bisik Sherly lirih. Pandangan Indah segera melihat ke depan, dan sekilas Bagus memang bengong, tapi kemudian menyadari nya dan segera Bagus mempersilahkan dua orang tamu yang tak di undang itu masuk dan juga menyuruhnya duduk.
" Sebentar ku panggilkan Arman" ucapnya sambil lalu ,kemudian mengetuk pintu kamar Arman.
" Ada yang nyari kamu" katanya, membangkitkan Arman dari berbaring sambil ber WA ria dengan Nella.
Arman membuka pintu kamar lalu mengayunkan kaki menemui tamu. Bagus mengikuti nya di belakang.
" Eh.. kalian,... ada apa kemari? " tanya Arman menyapa sekaligus menanyakan tujuan dua gadis itu mencarinya. Bagus berdiri di samping Arman, menatap kedua gadis dan mendengarkan percakapan.
Kedua gadis itu pandangannya hanya fokus ke Arman.
" Kami tadi ke konter fotocopy , hendak membeli kertas Hvs, jauh jauh jalan kaki, tapi sesampainya malah konter fotocopy nya tutup, trus akhirnya kemari karena butuh kertas hvs itu. apa kakak punya?" Indah bercerita menjelaskan pada Arman.
Terlihat Sherly berdiri di belakang Indah, tangannya memainkan ujung bajunya, sembari was was.
__ADS_1
Arman menoleh ke samping,
" Kamu masih punya kertas Hvs Gus? bertanya pada Bagus.
" Udah habis kemarin" jawab Bagus.
Sherly terlihat kecewa, bahunya terkulai sembari menghela nafas pasrah.
Indah sekilas melihat Sherly tapi dia juga tidak bisa membantunya lagi.
Kembali Indah melihat ke depan, berbicara pada Arman lagi.
" Apa kakak punya solusi, kasihan Sherly " dengan rasa iba.
" Ehm..... " Arman nampak berpikir,
" Ya udah aku antar ke toko buku di dekat kampus aja, kayaknya jam segini belum tutup"
Sherly nampak menghela nafas lega, bibirnya memamerkan senyumnya yang merekah.
" Tuh Sher, kak Arman mau anterin kamu ke toko buku. "
Sherly mengangguk cepat berulang kali, persis ayam yang sedang mematuk makanannya.
***
Suara jarum jam berdetak, terdengar keras di telinga, mereka hanya berdua, duduk di ruang tamu, saling berhadapan dan saling menghindari tatapan satu sama lain.
" Kamu sudah makan? " tanya Bagus sengaja , untuk mencair kan suasana.
" Sudah " jawab Indah berbohong.
Tak berselang lama, perut Indah berbunyi. Indah mendesis, warna merah muncul di wajahnya dan merambat ke telinga.
Tersungging senyum di bibir Bagus, menampilkan sederetan gigi putih bersih nya sekilas. Indah semakin tidak punya muka, ingin rasanya masuk ke lubang jika itu ada di hadapan nya saat ini juga.
" Perut kamu tidak mau berbohong" ucap cowok itu, sembari terkekeh lirih.
sebuah cengiran sebagai jawaban dari Indah.
" Ya udah, yuk keluar ,kita cari makan ,kebetulan aku juga belum makan" ajak Bagus kemudian berdiri dan berjalan hendak keluar. Indah terpaksa mengikutinya, karena memang perutnya sangat lapar, tapi sayang dia lupa membawa dompetnya.
" kak Bagus" panggilnya saat mereka mulai meninggalkan kost kostan. Indah berjalan di belakang Bagus.
Bagus menoleh ke belakang,
" ada apa? "
" Aku lupa bawa dompet " ucap Indah sembari menggaruk belakang lehernya yang sebetulnya tidak gatal.
" Biar aku yang bayar" jawab Bagus mantap. lalu kembali mengayunkan langkah kakinya lebih cepat.
__ADS_1
Sekilas Indah terbengong , teringat bahwa biaya rumah sakit waktu itu juga Bagus yang membayarnya.
Indah sadar dari bengongnya, kemudian berlari kecil menyusul Bagus, mensejajarkan langkah.
" Oh iya kak, biaya rumah sakit juga kakak yang bayarin waktu itu, berapa kak , aku mau ganti, besok ya"
" Oh.. itu, iya.. notanya masih ada di dompet aku" jawab Bagus santai.
" Besok ya kak, sekalian bayar ganti rugi aquarium itu juga. "
" oke gak papa" balas pria itu lagi.
" aku jadi gak enak, banyak hutang sama kakak, hehehe.. "
Dengan bercakap cakap akhirnya mereka melupakan rasa canggung yang tadi mereka alami. Keduanya terus berbincang sampai tiba di warung Bakso.
Kebetulan warung bakso itu ramai, sehingga hanya ada satu bangku yang masih kosong. Mereka duduk di bangku tersebut bersebelahan. Tak berselang lama mereka duduk, seloroh seseorang terdengar.
" Pacarnya ya Gus? " sebuah suara dari seseorang yang berdiri di sebelah pedagang bakso , akan membayar notanya. Terlihat Pedagang Bakso sedang menghitung dengan kalkulator.
" Bukan ,hanya teman" jawab Bagus.
deg..
jantung Indah berdentum keras satu kali, dan dentuman itu seolah mampu menghancurkan seluruh jiwanya, remuk seketika. Hatinya sakit, ya.. sangat sakit, sehingga mengambil nafas pun sangat susah saat ini. Dia berjuang keras memasok udara ke paru paru. sedikit lama tetapi akhirnya dapat menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas secara pelan. Kini kembali normal.
Bagus menoleh ke samping, gadis itu masih menunduk dan terlihat pucat.
Tangan Bagus seketika terulur dan merangkul bahu gadis itu.
" Kenapa, apa kamu sakit? " tanya nya kemudian.
Indah menyadari dan segera mendongak memandang Bagus, melihat bagaimana bentuk matanya, bentuk hidungnya bahkan bentuk bibirnya.
Dilihat secara dekat seperti ini, bagus terlihat sangat tampan dan manis.
Begitupun Bagus, baru kali ini bisa mengamati semua indra yang tersusun di wajah Indah dan ternyata itu adalah rangkaian yang sempurna dengan bola mata almond yang berbulu lentik, rambutnya sedikit panjang, membingkai wajahnya yang mungil dan sangat mengemaskan.
Hanya sekilas tetapi keduanya saling terpesona. Teman, hanya teman, ya.. mereka hanya teman, karena Bagus tidak mau jatuh cinta pada siapapun sebelum bertemu dengan wanita yang akan di jodohkan dengan nya oleh ayahnya.
Walaupun saat ini belum, tapi Bagus yakin semua itu pasti akan terjadi, mengingat bagaimana sifat ayahnya itu.
" brengsek" makinya kesal dalam hati, merutuki sifat ayahnya yang otoriter dan ketidakberdayaan untuk selalu patuh pada orang tuanya sendiri.
" ehm... tidak.. tidak apa apa kok, cuma udara nya agak dingin, jadi.. " kata kata yang di ucap kan indah belum selesai ketika Bagus menyelanya.
" ya udah, aku pesankan teh hangat untuk mu " ucap pria itu, sembari berdiri dan berjalan ke pelayan warung, untuk segera membuatkan teh hangat untuk nya.
Tak berselang lama, bagus datang dengan membawa dua gelas teh hangat.
( bersambung)
__ADS_1