
Indah melirik sekilas ke samping, tak ada sahutan dari Bagus. Indah memang sengaja berkata demikian, dan sengaja ingin mengetahui respon pria itu terhadap pernyataan yang dia lontarkan. Hati kecilnya menangis, tetapi apa boleh buat, dirinya harus menegarkan diri, supaya sakit hati yang dia alami berlahan akan terkikis , sedikit demi sedikit dan kemudian hilang dan terbiasa.
Bagus hanya diam, sembari mengepalkan tangannya, dan selanjutnya pria itu terlihat menarik nafas berat seolah hendak berbicara sesuatu, tetapi ragu.
Indah berpikir dan penasaran, "apa yang akan Bagus katakan, kenapa seolah terlihat tertekan? "
Indah tak enak hati, gadis itupun bingung, hingga akhirnya memutuskan untuk menutup rapat mulutnya dan melanjutkan makan. Tak berselang lama, pria itu berdiri , memberikan uang kepada ibu indah, tanpa berkata apa apa, kakinya diayun keluar dari warung.
***
flashback
" Gus, apakah kamu ingat surat ini? " tanya Wanda, ketika mereka berada di depan apotek, setelah menyerahkan surat ijin magang kepada pemilik apotek tersebut.
Gadis itu memperlihatkan sebuah surat dengan amplop berwarna pink.
Bagus mencoba mengingat kembali, tetapi tidak berhasil. Bayangan di otak nya menunjuk samar, bahwa Bagus pernah melihat surat tersebut. Pria itupun mengerutkan dahi,
" Aku.. aku seperti pernah melihat nya, tapi kayaknya aku lebih banyak lupa,.. ehm.. maaf" balas Bagus, dengan tak enak hati.
Wanda terlihat kecewa, dan Bagus semakin penasaran, "surat penting kah itu?", pikir pria itu.
Wanda kemudian menyodorkan surat itu, dan menyuruh Bagus membacanya.
" Surat apa ini? " ucap Bagus seketika, sembari mulai membuka amplop dan mengambil kertas berwarna sama dengan amplop tersebut, berwarna merah muda.
Bagus telah selesai membaca, pria itu terkejut dengan isinya, tetapi tak terlalu banyak membuat dirinya terkejut. Di tatap nya Wanda kemudian, dengan perasaan yang berkecamuk. Bagus tidak menyangka bahwa Wanda menyukainya sejak dulu. Ya.. dulu memang sempat dirinya juga terkagum dengan sosok Wanda yang feminim dan lembut, tetapi perasaan itu hanya sekedar kagum, tidak ada perasaan cinta apapun, hanya menganggapnya teman.
" Aku tidak membaca surat ini waktu itu, dan aku tidak berpikir itu dari kamu, aku kira Rendy yang mengerjaiku , maaf ya" ucap pria itu meminta maaf.
Wanda tersenyum sebagai responnya,
" Aku juga minta maaf, dan setelah kamu tau, aku gak keberatan kok, kalo kamu mengatai aku cewek agresif,... aku rela di anggap demikian. "
Bagus terbelalak, Tidak ada di pikiran sama sekali untuk berkata demikian, seperti apa kata Wanda, dirinya paham betul tentang menghargai perasaan orang lain. Hingga tak sadar berkata,
" Tidak,.. aku tidak seperti apa yang kamu pikirkan, aku tau kamu mungkin terpaksa... eh... " mulutnya segera berhenti, kenapa dirinya jadi bicara aneh..
Wanda sedari tadi menyimak dan memperhatikan raut muka ,saat pria itu berbicara, sedikit merasa kecewa, ekspresi pria ini biasa saja, tak menampakkan sesuatu yang lain dalam wajahnya.
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, tiba tiba merasa malu dan menyesal atas sikapnya yang terlalu berlebihan.
" Maaf kan aku Wanda, aku... aku tidak ada perasaan yang spesial terhadap kamu , aku ...aku sudah menganggap kamu sebagai teman dari dulu. " ucap Bagus terus terang sesuai kata hatinya.
__ADS_1
Wanda terlihat menunduk, perlahan air matanya hadir membasahi pipi. Bagus bingung harus bagaimana, bukan maksudnya menyakiti gadis yang ada di hadapan nya ini.
" kenapa, kenapa kamu tidak menyukaiku, bukankah kita sangat dekat, dan kamu juga tidak punya teman perempuan lain kan selain aku, hiks.. hiks... "ucap Wanda, gadis itu nampak tertekan dan sedih. Bagus semakin merasa tak enak hati.
" Wanda... maaf... sebetulnya jodohku telah di tentukan oleh orang tuaku sejak dulu , jadi aku tidak mungkin mencintai wanita lain." balas Bagus dengan berat hati.
Mendengar ucapan Bagus, Wanda kembali menatap pria itu, sorot matanya penasaran dan tidak percaya, Bagus seperti sengaja berkata bohong kepadanya, tetapi pria itu menghiraukan nya.
Bagus kemudian berdiri, sudah tidak berkenan dengan suasana nya yang seperti sekarang, apalagi menjelaskan ucapan nya, masa bodoh, Wanda percaya atau pun tidak.
" Kalo urusan kamu telah selesai, mari ku antarkan kamu pulang! " ajak pria itu. Sikap nya berubah dingin dan kaku.
flashback selesai.
****
Di kampus.
Arman dan Nella sedang berdiri di bawah pohon di depan ruang biologi,menunggu Bagus datang. Jam kuliah pertama adalah praktek di ruang biologi. Ketika terlihat temannya muncul, mengayunkan kakinya mendekati mereka, Arman segera menyapa nya, dan bertanya
"Tumben lama Bro, jalanan macet?, perasaan kamu udah keluar duluan tadi" tanya Arman.
" Gak, gak ada macet, cuma tadi sempat ngantri di warung" balas Bagus berkata bohong.
" Nih" balas Bagus, sembari menyerah sebuah makalah ke tangan Arman.
ketiga nya melangkah masuk, nampak Nella memperhatikan Bagus saat mereka duduk di ruangan itu, mendapati wajah pria itu terlihat murung. Nella kemudian berbisik pada Arman, memberitahukan hal itu.
Akhir akhir ini temannya itu memang tampak murung, baik di kost kost an ataupun di kampus, seolah sedang mendapatan masalah, Arman menjadi penasaran , masalah apa yang sedang di alami temannya itu.
****
pov indah( malam itu)
"Aku tak mau memikirkan cinta ini terus menerus. Perasaan cinta memang tidak bisa di paksakan, sedekat apapun hubungan kita, seberapa lama kita berteman, bahkan walaupun hampir setiap hari bertemu, kalo memang tidak ada cinta, ya memang itu kenyataan nya. "
" hiks.. hiks... " ( Indah menangis, perasaan nya sangat sedih dan kecewa)
"Kak Wanda cantik, Anggun dan pintar, mereka terlihat serasi saat bersama. "
"Mungkin kak Bagus memang sengaja, tapi.. kenapa dia berbohong, apakah aku jelek, apakah dia malu mempunyai teman seperti aku ini. Yah memang, rambut ku pendek, bahkan aku berdandan seperti cowok, oh.. benar.. kak bagus malu punya teman seperti aku.. hiks.. hiks.. dia malu karena wanita idamannya sedang bersamanya.. "
" hiks.. hiks... jahat sekali... lelaki itu memang tidak punya perasaan, seenaknya saja menyakiti hati perempuan."
__ADS_1
" Tetapi kak Bagus sangat baik padaku, dia selalu membantuku selama ini, bahkan dia juga yang menyelamatkan aku waktu kecelakaan itu, aku... aku sangat berhutang budi padanya, aku tidak mau membencinya,... aku ingin membalas hutang budi itu,... walaupun dia selalu membuat perasaan ku sakit. "
"Ya kami hanya teman... , aku harus bisa Terima itu"
****
Di kost kost an Putra
"Kenapa Gus, akhir akhir ini aku lihat kamu sering melamun , belum lagi wajah kamu di tekuk, kamu punya masalah" ucap Arman, bertanya pada Bagus yang sedang tiduran di atas kursi sofa di kost kost an.
Arman duduk di sebelahnya, sembari meletakkan secangkir kopi panas yang baru dia buat.
Bagus bangun, kemudian duduk, mengambil gelas Arman dan meneguk sedikit kopi di dalamnya.
" yah.... aku sedang pusing"
" pusing mikirin apa?, ayah kamu lagi? " sahut Arman.
" ya..boleh di bilang begitu, ayah ada sangkut paut juga."
Arman menoleh, sedikit bingung.
" Maksud kamu? " tanyanya, sembari menautkan alisnya.
" Aku... aku suka sama cewek, dan aku cemburu lihat dia jalan dengan cowok lain. "
Arman kemudian paham, pria itu seketika terkekeh.
" itu artinya kami jatuh cinta Gus, ... hehehe... lalu apa kaitannya dengan ayah kamu? "
" masalahnya,.... ayahku akan ikut campur dengan jodohku,... aku yakin soal itu,... dia juga bilang padaku waktu itu. "
" Gila... ayah kamu kebangetan Gus. "
" itulah, dia selalu mementingkan bisnisnya, .. " balas Bagus, tatapannya berubah tajam menatap hal kosong di depannya, yang di halangi oleh dinding.
" Jadi kamu ragu untuk mengungkapkan cinta kamu ke cewek itu? "
" iya, aku takut pada akhirnya aku akan menyakitinya dengan meninggalkan nya pada saatnya nanti, aku gak mau dia terluka."
" aku paham Gus masalah kamu, ya.. kalo menurut ku, kenapa kami gak coba mengenalkan dia saat kalian pacaran, siapa tahu ayah kamu berubah pikiran? "
" aku gak yakin Man, aku gak yakin ayah bakal setuju, seperti kakakku dulu. "
__ADS_1
( bersambung)