Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 34 ( kecemburuan)


__ADS_3

Siang itu, Bagus sengaja menemui Dita. Pria itu membuat janji terlebih dahulu sebelum mereka bertemu di suatu tempat. Mereka bertemu di pemberhentian bus( halte), yang berada di pinggir jalan.


" Jadi Wanda sudah pulang ke Jakarta? " ucap pria itu dengan terkejut, seolah dirinya menyesal.


" Iya" tegas Dita, sembari berdiri menyandarkan punggung di pohon, dan melipat kedua tangan di dada.


" Kemarin aku yang mengantarnya pulang ke Jakarta" lanjut Dita.


" kenapa tiba-tiba mendadak?, apa ada sesuatu yang penting? "


Dita kini menatap marah pada Bagus,


" Apa kamu tidak tahu, kenapa kak Wanda sampai pulang ke Jakarta? "


Bagus bertambah terkejut dengan ekpresi dan tatapan Dita kepadanya.


" Apa aku menyakitinya, aku rasa kami siang itu baik baik saja,aku hanya meninggalkannya karena ada keperluan, dan aku juga sudah berjanji akan mengantarkan dia pulang, tetapi ketika aku tiba, Wanda sudah tidak ada di sana. "jelas Bagus panjang lebar, sembari mengedikkan bahu.


Dita berdiri dengan benar dari bersandar, lalu melangkah mendekati Bagus yang tak jauh dari posisinya, kedua jarinya mengepal.


"Kamu sengaja menyakiti kakakku, kamu tau kan kalo kakakku menyukaimu, apa kamu tidak mikir telah membuat dia cemburu!" ucap Dita dengan nada yang begitu emosi.


Bagus mengerutkan dahinya, lalu berdiri tegak bersitegang dengan Dita.


"Sayangnya aku tidak merasa demikian, aku malah mencurigai Wanda telah berbuat brutal di ruangan itu. " Balas Bagus santai tetapi nadanya tegas dan mengancam, tatapannya sinis membalas tatapan Dita.


Dita nampak terkejut,


" Apa maksudmu menuduh kakakku berbuat brutal! " balas Dita dengan penuh emosi.


Bagus mendekatkan mulutnya ke telinga Dita, membisikkan kata katanya.


" Wanda kan yang telah menyobek pakaian pakaian itu, karena hanya ada dia di sana" ucap Bagus penuh penekanan, kemudian kembali ke posisinya semula.


Mulut Dita membuka, matanya sekilas melebar,


" A.. apa? " sahut Dita, terkejut tak percaya , hingga tergagap dalam pengucapan. Gadis itu kemudian menunduk, mencoba mencerna apa ucapan Bagus barusan dan mengingat kembali cerita Wanda kepada nya. Tak berselang lama, Dita bisa mengambil kesimpulan,


Gadis itu memandang kembali Bagus, yang sedang menyalakan pematik, bermaksud membakar benda panjang yang sudah berada di mulutnya.


"Sejauh mana hubungan mu dengan Indah" sambar Dita, yang membuat Bagus mengurungkan aktifitas, dan menatap ke gadis itu.


" Aku tau, kalian tak hanya sekedar berteman, bahkan sampai sudah melakukan perbuatan menjijikkan" lanjut Dita mencibir seolah jijik.

__ADS_1


Bagus membuang benda panjang itu seketika ke jalan, matanya membelalak dan seketika mencekal krah baju Dita.


Dita sangat terkejut, jantungnya berdetak kencang karena takut dan tak percaya, lelaki yang di kenal nya sangat baik, mampu bertindak demikian kepada nya.


" Hei lady, mulutmu busuk" sambar Bagus, lalu melepaskan tangannya di krah baju gadis itu.


Pria itu berjalan menjauh, dan menaiki sepeda motornya kembali.


" Kakakku depresi... " cerocos Dita dengan cepat. membuat Bagus menolehkan kepala, kini menjatuhkan pandangan padanya kembali. Hatinya terkejut dengan pengakuan Dita tentang Wanda.


" kakakku depresi melihat pakaian itu" Ucap Dita melanjutkan.


Bagus tercenung lama, mencerna ucapan Dita, sampai sampai bibirnya tak bisa berkata kata, ketika Dita mengambil motor dan melaju meninggalkan tempat itu dan dirinya.


***


Di kamar kost kost an, Indah sedang membersihkan lantai kamarnya yang penuh dengan remah remah kue kering. wajahnya terlihat muram karena gadis itu sedang kebingungan dengan masalah keuangannya yang sudah menipis untuk jatah minggu ini.


" Apa aku pulang aja ke Jogja? " bathinya bergumam miris.


" Pasti bunda marah kalo aku bilang sekarang, ... tapi.. aku udah gak ada uang lagi... gimana ini.. " gumamnya lirih, dengan ekpresi sedih dan kebingungan.


Pagi menjelang, gadis itu bangun dan memastikan hari ini benar jadwal masuk kampusnya. Dengan wajah ceria dia pergi ke warung untuk sarapan.


" Pagi Indah" sapa Arman padanya. Indah tersentak sebelum menjawab.


"pagi kak Arman" balasnya.


Indah celingukan melihat keluar melalui jendela warung tersebut.


" Nyari Bagus ya Indah? " tanya Arman, membuat gadis itu berhenti melongok keluar, dan kembali duduk seperti semula.


" hehehehe... nyari kak Nella.., tumben ... " jawab Gadis itu yang kemudian di sela.


" Nella gak bakal datang" sambar Arman dengan nada kesal.


" kenapa? " sahut Indah cepat.


Arman diam tak menjawab, malas dan kesal memikirkan gadis itu, sehingga sama sekali tak tertarik membahasnya.


" Kalian bertengkar? " lanjut indah.


" Iya" balas Arman datar, kemudian menyendok makanan paginya.

__ADS_1


Indah menghentikan mulutnya untuk terus bertanya, walaupun hatinya ingin tahu tentang mereka. Dengan pikiran penasaran, gadis itu bungkam sembari melanjutkan sarapannya.


Selesai sarapan, Arman dan Indah sama sama mengendarai motor ke kampus, mereka berbincang sembari melaju.


" Kak Arman, boleh tanya gak" ucap Indah sembari melaju. mereka bersisihan di jalan melaju kan motor masing masing.


Arman menoleh,


" Apa, tanya aja"


"Aku mau pulang nanti sore ke Jogja, tapi gak ada uang buat naik travel, kakak mau gak anterin aku pulang nanti sore"


Arman mengerutkan dahi, nampak sedang berpikir, tidak lama, kemudian memberi jawabannya.


" Boleh, hari ini aku gak ada praktek, nanti bisa antar kamu pulang. "


Indah tersenyum lega dan juga hatinya senang, ada yang bersedia membantu mengatasi kesulitan nya.


Mereka tiba di kampus, Arman memakirkan sepeda motor berdampingan dengan motor Indah. Terlintas dalam pikiran gadis itu, perihal hubungan Arman dengan Nella saat ini sedang bertengkar. Seakan dirinya menyulut api di antara hubungan mereka, Indah merasa tak enak hati memikirkan hal itu, rasa rasanya Sakit jika membayangkan dirinya ada di posisi Nella saat ini, hatinya sedikit menyesal mengajak Arman untuk mengantarkan dirinya pulang.


"Kak Arman" panggil Gadis itu, Arman yang sedang berdiri menunggu nya, segera menoleh.


" Apa gak apa apa jika Kakak nganter aku pulang ke Jogja, nanti aku takut kak Nella cemburu "


Arman sedikit tersentak, memang hal itu mungkin akan membuat Nella semakin cemburu. Pria itu menjadi ragu , jika akan mengantarkan Indah pulang.


Tetapi di sisi lain, Arman merasa tak enak hati, bagaimana pun Indah masih saudara, dan dia butuh bantuan saat ini, tak enak jika dia menolaknya. Tetapi bagaimana dengan Nella, sejujurnya Arman menyesal beberapa hari ini melihat kekasihnya murung, apa dia perlu meminta persetujuan Nella terlebih dahulu untuk mengantarkan Indah ke Jogja, bathin pria itu bingung .


" Bagaimana kalo aku nyuruh Bagus buat antar kamu ke Jogja? " begitu saja pikiran itu muncul dan keluar begitu saja dari mulut Arman.


" Jangan" sambar Indah cepat.


" Kenapa? "


" Aku... aku terlalu sering merepotkan dia, aku gak enak sama kak Bagus "


Mereka diam, Arman sedang mencari jalan lain untuk membantu Indah, mengantarkan gadis itu pulang tanpa menimbulkan kesalahpahaman hubungan nya dengan Nella.


" Kalo begitu,... nanti aku telpon kak fachri, untuk memesankan travel untuk mu".


" ehmm... iya dech, gak apa apa, nanti biar Indah ngomong sama Bunda aja kalo gitu. "


( bersambung)

__ADS_1


__ADS_2